Di balik pernikahan Teh Euis dan Mas Fardan

Di malam sebelum akad dilangsungkan, Teh Euis ngejapri Mas Fardan untuk segera beristirahat agar besok pagi lebih segar. Tapi Mas Fardan membalas pesan cinta itu dengan jawaban, "tapi besok jam tiga pagi ada MU maen!". Lah, mau akad masih mikirin MU? Dan benar saja jam tiga subuh ia kedapatan sedang nonton bola di saung pos ronda. Pertandingan MU dan akad nikah memang sama-sama penting.  Untungnya MU menang, jadi sedikit banyak nambah semangat buat Mas Fardan melangsungkan akad nikah. Waktu saya posting status Mas Fardan nonton bola pun, Teh Euis membalasnya dengan kalimat terdingin se-Banten, "ini pasti kelakuan Kak Fardan." Saya berfirasat, inilah yang akan jadi perdebatan pertama dalam biduk rumah tangga mereka. Teh Euis belum tau aja kalau selain urusan MU, masih ada One Piece yang juga jadi prioritas di hidup seorang Fardan. Siap-siap aja, Teh.   Pernikahan Mas Fardan dan Teh Euis membuat saya jauh lebih bahagia dibanding diskonan Shopee di tanggal cantik 21-01

Misteri Ocad


Aku gak tau kalo ketidakhadiran Ocad ketika muhadhoroh Daur Lughoh adalah bukan soal main futsal. Aku dan teman-teman asal saja bilang ke ustadznya kalo ia sedang sakit, atau di lain hari kami bilang bahwa ia masih di jalan terjebak macet. Padahal aku cuma asal saja, biar dia gak dialpain sama mufattis (ustadz tukang ngabsen). Kasian dia alpanya sudah banyak. Nanti dia gak bisa ikut ujian. Kalo begitu, kapan dia lulusnya? Untung saja Ustadz Humaidah selalu mengerti dan paham dengan retorika itu. Itulah salah satu kebaikanku kepada Ocad.

Dulu pas pertama kali kenalan sama Ocad, aku pikir dia seperti tokoh dalam novel-novel yang berisi tentang kisah menggapai impian. Dia terlihat perhatian ketika melakukan pendekatan perkenalan. Ocad selalu terlihat baik dan lugu. Tapi itu dulu. Ah, gak tau sekarang mah.


Waktu itu aku masih tinggal di daerah Mutsallas, jadi pulang bareng Ocad dari Pasangrahan yang ada di daerah Bawabah. Sambil jalan kaki, kita kenalan. Bahkan ternyata dia sudah perhatian sejak di bandara soetta Jakarta.

"Ane waktu itu liat antum pelukan sama abi antum!" katanya antusias.

Aku sih biasa aja, cuman terkejut aja. Kita baru juga kenalan tapi ekspresinya udah so eksaitid gitu. Ya udah akhirnya sejak saat itu, aku dan Ocad jadi temenan. Ditambah lagi karena kita satu kelas di Daur Lughoh, dia jadi sering cerita banyak hal. Akhirnya aku juga ceritain banyak hal ke dia. Dulu bahasa kita formal banget kalo ngobrol, masih antum-antum-an, bahkan gak ada euy di antara kita.

Di klub olah raga Siliwangi, Ocad ditunjuk jadi kiper. Aku gak tau sih alasannya kenapa. Entah karena badannya yang bongsor, atau jari-jari tangannya yang besar. Jadi inget jaman SD dulu, yang badannya besar pasti dijadikan kiper. Mungkin logika kita berpikir bahwa yang badannya besar akan menutupi lubang gawang lebih mudah. Kembali ke Ocad, pokoknya semenjak jadi kiper di siliwangi, Ocad jadi idola sesaat ketika pertandingan Jawa Cup. Gara-gara menuver di depan gawang dan teriakan meminta bolanya saja yang keren menurut aku. Sisanya hanya cewe yang tahu. Sejak saat itu, Neneng sama Arlind jadi suka nyuport gitu, cuma buat liat Ocad maen bola.

Soal Ocad, aku gak tau kenapa namanya Ocad. Nama aslinya Rasyad. Mungkin supaya terdengar lebih lucu, unik, atau mungkin itu panggilan sayang mamahnya. Kenapa ia gak milih nama Udin, Najmu, Sapri, Didin, Bonay, atau Mahmud yang lebih Islami. Mungkin dia sudah menyimpan mantra di nama itu. Buktinya pas anak-anak seangkatan ngadain acara tukar kado, dia dapet kado yang paling bagus di antara kita semua. Sebuah tasbeh yang dibungkus si dia dengan lope lope. Si dia itu idamannya Ocad, tapi kayanya si dia itu gak punya perasaan yang sama deh buat Ocad. Tapi serumit apapun kisah cinta mereka, acara tukar kado itu so sweet banget, soalnya kado Ocad juga kebetulah jadi jatahnya si dia. Ada gak istilah yang lebih tepat selain mereka jodoh?

Tapi masalah perjodohan mereka itu sampai sekarang masih jadi isu samar. Karena gara-gara kado itu, Ocad dan Adhi jadi sering ribut, bahkan mereka berdua sampai pisah rumah. Sebenernya Ocad sama Adhi ribut itu udah sering, bahkan sejak sebelum acara tukar kado. Kata temen serumahnya sih, Ocad suka ngejekin Eyang di rumah, dan Adhi suka belainnya. Barangkali pas acara tukar kado itu jadi klimaks buat Adhi melampiaskan emosinya, karena diam-diam, Adhi suka pm-pm-an sama si dia. Ah sudahlah, namanya juga asmara anak muda. Apalagi kalo anak mudanya itu Ocad, inkonsisten. Baru dikasih liat cewe turki lewat aja, hafalan mufrodatnya langsung ilang. Yang nyisa tinggal ya'ni ya'ni.

Tapi dibalik keluguan dan kepolosannya itu, Ocad adalah anak yang berbakti di mata orang tuanya. Hampir setiap hari ia berbalas emot sama ibunya. Bahkan kalo sehari aja gak wa-in ibunya, ibunya suka bilang, "lagi banyak duit Cad? tumben gak ada wa!". Atau di lain waktu, ibunya Ocad pernah marahin Ocad karena uang sebulan sudah habis sebelum waktunya. Kata Ibunya, "Lu udah gue ternak dari kecil, masih aja nyusahin!". Aku baru tahu kalau Ocad adalah manusia ternak. 

Aku gak tau sih ibunya itu kaya gimana, tapi kayanya gaul banget. Lebih gaul dari anaknya. Buktinya kalo Ocad gaul, gak mungkin potongan rambut bagian belakangnya bisa nyengsol. Tapi Ocad juga punya alasan buat bisa dibilang anak gahool. Dia hafal semua personil SNSD sama Suju. XO8 juga dia apal. Bahkan kalo pengen tau referensi drama korea yang bagus, Ocad punya jawabannya. Maklum, Ocad pernah jadi anak kosan yang kosannya tetanggaan sama salon banci. Banci-banci itu banyak berkontribusi dalam dunianya. Entahlah kontribusi apa yang mereka sumbangkan.

Oh ya, Ocad pernah cerita soal asbabunnuzulnya ia bisa pergi ke kairo. Ketika ia sedang kuliah di Bandung, tiba-tiba ia dapet kabar tentang studi di Mesir. Tanpa pikir panjang, ia telpon ibunya. Di pikirnya, Mesir itu akan seindah film AAC sama KCB. Ia bisa tinggal di Alex, kuliah di Hussen, tiap hari naik tasi lewatin piramid sambil bawa karung kacang kedelai. Akhirnya ibunya setuju, gara-gara mediator yang bilang ke bapaknya gini, "dengan tes atau tanpa tes, harganya sama kok pak!". Akhirnya Ocad meninggalkan dunia anak kosan dan memulai hidup baru di mesir. Tapi bayangan kehidupan impiannya itu buyar sejak bis yang ia tumpangi dari bandara mulai melewati kawasan Zahro. Dia mulai ragu dengan Mesir ketika ia liat keledai, sampah, coretan dingding, dan ia semakin tidak percaya tentang mesir karena ia tinggal di daerah Mutsallas. Sejak itulah Ocad sadar bahwa AAC dan KCB adalah kisah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama dan tepat, ia belajar untuk memakluminya.

Namanya juga waktu, banyak peristiwa yang sudah dilewati Ocad. Sejak kenalan di pinggir jalan itu, kita jadi temenan. Otomatis aja gak pake lama. Hampir mau jadi calon sahabat, tapi jadi temen biasa lagi. Belakangan, Ocad melakoni profesi baru sebagai pedagang online. Dagangin laptopnya, kameranya, laptop Si Ocin, sepatu futsal, dan iklanin keahliannya si Abdan yang bisa nyukur rambut karena udah kursus lewat youtube. Waktu itu pas dua bulan pertama, Ocad sangat antusias untuk jadi panitia SPA. Sejak saat itu juga aku berani ngutang sama dia. Begitu juga sebaliknya. Waktu itu Ocad jadi bagian publikasi karena dia punya kamera. Waktu itu kameranya belum dijual. Kalo pas lagi dekorasi acara, dia jagonya ngasih semangat buat kita. Khususnya buat Thoriq sama Bahar yang suka keliatan tepar kalo udah jam setengah dua belas malam, tapi makanan belum ada. Nyemangatinnya doang sih yang jago, pas giliran kita kerja, dia mah suka tidur. Ah udah aja.

Sejak kita naik kelas ke Mutawassit Tsani, aku dan Ocad pisah kelas. Dia sedih karena gak bisa bareng Ustadz Humaidah lagi. Waktu ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa Ustdaz Humaidah gak ngajar dia lagi, ia ganti semua foto profilnya pake foto Ustad Humaidah. Di WA, Fb, BBM, sampai halaman depan paspor kayanya. Sejak saat itu ia jadi sekelas sama Adhi. Aku gak tau sih mereka di kelas suka ribut atau enggak, yang pasti dia seneng bisa pisah kelas sama aku. Katanya sih jadi bebas dari mata-matanya Mang Iwan. Mang Iwan itu Gubernur KPMJB, ketua masyarakat Jawa Barat di Mesir, dan aku kebetulan tinggal sekamar dengannya. Maklum, Mang Iwan itu satu-satunya senior yang perhatian sama Ocad. Tiap hari dia nanya, "Ocad masuk daur lughoh gak?". Kalo mau jail, aku tinggal bilang aja kalo dia bolos, nanti pasti Ocad kena murka Mang Iwan. Tapi tanpa jail pun, Ocad emang sudah gitu takdirnya, kena marah Mang Iwan. Sejak saat itu, kita gak pernah sekelas lagi.

Mulailah sejak Ocad memutuskan untuk pindah rumah dari Asyir ke daerah Hussein-Darrasah, keputusannya itu membuat anak-anak angkatan jadi eksaitid. Dipikirnya Ocad mau jadi ahli taubat dan rajin ngaji. Tapi biasa aja sih, gak ada yang penting. Hanya saja, Ocad jadi agak belagu gitu kalo lagi di Pasangrahan. Suka sok-sok bilang, "Aduh udah malem, pulang ah takut ketinggalan bis," padahal sebelumnya ia suka nginep di Pasangrahan. Sejak pindah ke Hussen, Ocad juga jadi keliatan agak caleuy gitu. Sampai-sampai kita kira kalo dia dapet kena doktrin atau cuci otak sama Ezzat sama Amir juga di Hussen. Keputusan Ocad pindah ke Hussen itu adalah keputusannya sendiri, kayanya. Katanya, keputusan ini semata-mata hanya untuk memicu semangat belajarnya. Tapi tetep aja dia jarang masuk DL. Apalagi pas Mufattis bilang, absen lebih dari tujuh sama dengan gak ikut imtihan, ia bener-bener memanfaatkan tujuh hari itu buat sengaja alpa. Katanya sih 'chance never comes for second time'. Ia juga masih sering maen futsal sama anak-anak Siliwangi, maen tenis meja juga, tidur di Pasangrahan juga. Ah, ia kembali kembali pada dzatnya yang dulu.

Ocad mau masuk kuliah jurusan Syariah, katanya mau jadi bisnisman yang syar'i supaya kalo gak punya duit, dia bisa usaha sendiri bukan wa-in ibunya. Sebagai teman, aku hanya bisa mendukungnya, mendoakannya, dan melaporkan kemalasannya kepada Mang Iwan. Hanya itu yang bisa kulakukan.

Itulah misteri Ocad yang penuh teka-teki seperti misteri ilahi. Kita tak pernah tahu hari esok dia bakalan berbuat apa. Semoga saja hidupnya berkah. Amin saja lah.

Kairo, 11 September 2014 

Komentar