Di balik pernikahan Teh Euis dan Mas Fardan

Di malam sebelum akad dilangsungkan, Teh Euis ngejapri Mas Fardan untuk segera beristirahat agar besok pagi lebih segar. Tapi Mas Fardan membalas pesan cinta itu dengan jawaban, "tapi besok jam tiga pagi ada MU maen!". Lah, mau akad masih mikirin MU? Dan benar saja jam tiga subuh ia kedapatan sedang nonton bola di saung pos ronda. Pertandingan MU dan akad nikah memang sama-sama penting.  Untungnya MU menang, jadi sedikit banyak nambah semangat buat Mas Fardan melangsungkan akad nikah. Waktu saya posting status Mas Fardan nonton bola pun, Teh Euis membalasnya dengan kalimat terdingin se-Banten, "ini pasti kelakuan Kak Fardan." Saya berfirasat, inilah yang akan jadi perdebatan pertama dalam biduk rumah tangga mereka. Teh Euis belum tau aja kalau selain urusan MU, masih ada One Piece yang juga jadi prioritas di hidup seorang Fardan. Siap-siap aja, Teh.   Pernikahan Mas Fardan dan Teh Euis membuat saya jauh lebih bahagia dibanding diskonan Shopee di tanggal cantik 21-01

Aku Marini Maka Aku Ada


Belakangan saya mulai sadar bahwa saya telah melupakan satu nikmat yang belum pernah disyukuri. Nikmat itu adalah bisa hidup sezaman dengan Marini Harajani. Suatu kemujuran yang seharusnya juga disyukuri oleh Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir).

Marini adalah teman saya. Kami berangkat ke Mesir dengan pesawat yang sama, waktu yang sama, hanya beban bagasi saja yang berbeda. Meskipun baru dua tahun menjadi bagian dari Masisir, namanya melambung begitu cepat, bahkan tak perlu gerakan hashtag, ia bisa terkenal dengan sendirinya. Sebut saja Sahara dan Sofia. Mereka berdua adalah mahasiswi pascasarjana UGM yang sedang melakukan penelitian di Mesir. Waktu mereka cuma dua bulan dan tidak mengenal Marini sebelumnya. Tapi di bulan pertama, mereka sudah mengenal siapa Marini tanpa prosesi perkenalan. Hmmm,, siapapun yang tidak mengenal Marini, pastilah ia mengidap dosa besar. Meminjam istilah Edi Ah Iyubenu, dosa yang mendekati level syirik tak terampuni lantaran menampik realitas. 
Marini adalah realitas. Sosok mahasiswi yang aktif berkegiatan di manapun dan kapanpun. Jika tak percaya, silakan adakan lomba mengisi CV, maka ia akan menjadi peserta terlambat. Bukan karena tidak tahu bagaimana jawabannya, tapi karena terlalu banyak pengalaman yang harus ia tuliskan. Maka tak berlebihan jika Marini menjadi ahli waris sempurna

Keaktifan Marini dalam berbagai organisasi dan kegiatan, dapat kita saksikan melalui indera kita yang kemudian menjelma menjadi nalar bersama. Semacam ketidakabsahan sebuah acara jika tidak ada Marini di dalamnya. Di mana ada Marini, di situ ada acara. Dengan kata lain, Marini = acara. Jika diukur dengan kesangsiannya Descartes, Marini bisa jadi model teladan

Sebelum kita runtut kegiatan Marini secara random, kita perlu tahu bagaimana cara ia bertahan hidup dengan narsisme yang tertanam di benaknya. Marini adalah mahasiswi kedokteran di Cairo University. You know what I mean, kedokteran adalah jurusan kuliah paling gokil di manapun. SPP-nya gokil, mata kuliahnya gokil, dan hanya orang-orang bernalar matematis, menurut saya, yang duduk di kelas itu. Di mata saya, kedokteran adalah bidang kehidupan yang tidak bisa dianggap seni. Tidak seperti politik, ekonomi, atau kepemimpinan. Para dosen kedokteran pastilah tidak akan menerima orang-orang seperti saya, atau Mang Iwan, yang mungkin akan melihat darah sebagai cat air, atau usus manusia sebagai saluran inspirasi bagi keberlangsungan hidup Coreldraw. Kedokteran adalah keniscayaan yang membatasi kesangsian. Semacam penisbatan "Kamu lulus ujian, maka kamu keren", atau "kamu hafal penyakit dan obatnya, maka kamu ada". Kesangsian yang terbatas itu menanamkan stigma kaku dalam perspektif saya bahwa anak-anak kedokteran adalah anak-anak yang tidak asik untuk diajak nonton teater. 

Belakangan saya menyimpulkan bahwa jurusan kedokteran menjadi tren hedon bagi sebagian Masisir. Atau mak cik-mak cik yang setiap pagi melintas di depan rumah saya. Penampilan mereka, pergaulan mereka, dan cara mereka menikmati hidup tentulah tak sama dengan Usman Arrumy atau Irfan Mahbub yang cukup khidmat dengan kopi matsbut Fishawy. Saya melihat itu pada diri teman-teman Marini, bagaimana retorika yang mereka gunakan ketika berbicara, berpakaian, dan bersosialisasi dengan saya, sebagai laki-laki jomblo yang baik hati. Tapi saya tak melihat itu sepenuhnya pada diri Marini. Ia semacam anak kedokteran yang

Saya kira, aktif di berbagai kegiatan merupakan pelampiasan dari perkuliahannya yang membosankan. Dosennya melarang ia mengonsumsi mecin dan gula berlebihan sehingga ia mengarahkan emosinya pada organisasi-organisasi dan kegiatan yang dilakukan Masisir. Mungkin satu plot dengan dokter Tompi, ketika ia bosan melakukan operasi plastik, ia menjadi penyanyi di waktu senggangnya. Marini mengalami banyak syak dalam hidupnya. Ia meragukan banyak hal jika dirinya tak turut hadir di dalamnya. Karena keraguan yang bergumul di kepalanya, ia butuh berdiam diri dan bermeditasi untuk menyimpulkan kebenarannya. Meditasi yang dilakukannya bukan dengan cara berdiam diri di kamar selama satu minggu, atau mengasingkan diri di tengah gurun pasir. Baginya, meditasi kesangsian adalah turun tangan menjadi panitia acara, menjadi pengurus wihdah, dan menjadi demonstran multiplatform dalam aksi pelengseran Atdik Fahmy Lukman. 

Mojang Depok ini punya reputasi yang cukup baik di sosial media. Saya yakin, hampir semua aplikasi sosial yang dimiliki Masisir, juga terpasang dengan baik di ponsel cerdasnya. Maka tak heran jika banyak pihak yang memanfaatkan momentum baik itu untuk berbagai kepentingan. Seperti PPMI yang ingin program-programnya terpublikasi secara merata, atau acara IKPM dan Mumtaza. Keberhasilan tertingginya adalah ketika ia berhasil membuat mayoritas ponsel milik Masisir terisi foto Agussusanto, Hujaj, dan Rise ketika Pemilu Raya PPMI dan Wihdah. Marini membuat pesan broadcast berulang kali dalam sehari, melebihi kewajiban umat manusia untuk melakukan ibadah salat.

Sampai di sini kita harus mengakui betapa Marini telah mendobrak stigma anak kedokteran dengan metode kesangsian Descartes. Calon dokter yang 'harus' kaya dan penampilan modis ia ubah menjadi dirinya yang sederhana dan apa adanya. Timses Rise yang tak satupun mau jadi pengurus Wihdah nyatanya ia dobrak dengan eksistensinya sebagai pengurus Bidang Luar Negeri Wihdah PPMI periode ini.

Lalu setelah sekian banyak kesangsian yang Marini terjemahkan lewat kegiatan-kegiatannya, saya kira teori Descartes telah mengarahkan saya dalam banyak hal ketika membaca kehidupan Marini Harajani. Maka dengan begitu, kita hanya perlu mengambil ibrah bahwa anda perlu ragu untuk menjadi nyata. Diktum "Aku Marini Maka Aku Ada" telah mengajarkan saya, atau kita, tentang pertanyaan, apakah hidupmu cukup bermanfaat ketika mengaku sebagai Masisir?

Wa Allahu A'lamu bi Ash-shawab.
   
16 Februari 2015


Komentar

Posting Komentar