Di balik pernikahan Teh Euis dan Mas Fardan

Di malam sebelum akad dilangsungkan, Teh Euis ngejapri Mas Fardan untuk segera beristirahat agar besok pagi lebih segar. Tapi Mas Fardan membalas pesan cinta itu dengan jawaban, "tapi besok jam tiga pagi ada MU maen!". Lah, mau akad masih mikirin MU? Dan benar saja jam tiga subuh ia kedapatan sedang nonton bola di saung pos ronda. Pertandingan MU dan akad nikah memang sama-sama penting.  Untungnya MU menang, jadi sedikit banyak nambah semangat buat Mas Fardan melangsungkan akad nikah. Waktu saya posting status Mas Fardan nonton bola pun, Teh Euis membalasnya dengan kalimat terdingin se-Banten, "ini pasti kelakuan Kak Fardan." Saya berfirasat, inilah yang akan jadi perdebatan pertama dalam biduk rumah tangga mereka. Teh Euis belum tau aja kalau selain urusan MU, masih ada One Piece yang juga jadi prioritas di hidup seorang Fardan. Siap-siap aja, Teh.   Pernikahan Mas Fardan dan Teh Euis membuat saya jauh lebih bahagia dibanding diskonan Shopee di tanggal cantik 21-01

Surat Cinta untuk Siti



Teruntuk Adinda yang hatinya selalu bercahaya karena dzikir dan salawat, Siti.

Apa kabar, Siti? Semoga kamu gak bosen hidup jadi orang cantik seumur hidup. Malah aku yang bosen duluan nunggu jawaban, kapan kamu mau suka sama aku. Ah, aku mah apa atuh, Siti, cuma Mang Maul. Di dunia ini gak ada yang mau dilahirkan sebagai Mang Maul. Nulis surat cinta juga buat nolongin temen yang tiba-tiba suka jadi pengecut tiap di depan kamu. Aku terlalu baik buat kamu, Siti. Jadi gak usah suka sama aku. 

Melalui surat ini, aku ingin mewakili perasaan temanku yang suka sama kamu, Siti. Sudah dua tahun ini temenku menjomblo. Bukan karena gak laku, tapi lebih karena dia merasa ada yang belum selesai dengan mantannya. Semacam hati yang tertinggal, atau hati yang masih dipinjamkan. Bukankah yang lebih menyakitkan dibanding putus cinta adalah setelah putus tapi masih cinta? Tiap kali ia membuat status di twitter, dengan romantika diksi yang dimilikinya, ia memaksa dirinya sendiri untuk meminjam ingatan mantannya. Bahkan sudah bukan lagi meminjam ingatan, tapi secara gamblang bahwa ia rindu mantannya. Dan kamu adalah sosok sebagaimana yang digambarkan Raisa dalam lagunya, "wangimu saja bisa memindahkan duniaku, maka cintamu pasti bisa mengubah jalan hidupku."

Siti, temenku ini suka sama kamu. Ia ingin sekali bisa mengatakan itu langsung ke kamu. Tapi dia malu. Dan sebagai lelaki yang terkenal gak punya malu, ke-malu-annya itu malu-maluin. Aku yakin kamu sudah menangkap hal ini sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak hari pertama dia ngemodus. Modusnya memang murahan, sok-sok mau nganterin pulang ke Sakan padahal cuma nganter sampe depan Pasangrahan nungguin mobil tremco datang. Tapi percayalah, Siti, modus itu benar-benar keluar dari relung hati terdalamnya. Saya sangat memohon Neng Siti untuk menerima modusnya itu dengan tangan terbuka, dengan senyum manis, juga dengan balasan "syukron, Kak" yang lembut dan penuh sanjungan. Karena sejak modus pertama itulah, ia selalu pulang ke Pasangrahan dengan membawa senyum yang tak pernah hadir sebelumnya. 

Barangkali ia memang bukan Masisir yang sangat hebat. Tidak terlalu unggul soal muka, tidak pernah ada di instagram @pria_tampan_masisir, bukan dari golongan anak-anak masa depan yang selalu foto-foto di tempat yang tak pernah dikunjungi Masisir, bukan pula dari golongan peziarah kubur yang rajin, atau ahbab talaqi yang bijaksana. Bapaknya tidak punya SPBU, tidak punya yayasan, tidak juga punya uang jajan sebesar anak-anak pejabat DPR yang sekolah di Mesir. Ia  hanya lelaki biasa yang hanya sanggup berjanji untuk selalu membuat pasangan masa depannya bahagia. Bahkan minggu lalu, ketika kami masuk IKEA, mata dan pikirannya sangat sibuk memikirkan ekspresi apa yang akan muncul dari wajahmu ketika suatu hari nanti, ia hadiahkan rumah kecil yang akan menjadi istana rumah tangganya. Ia memikirkanmu tidak hanya tentang mengantarmu pulang ke asrama, atau bantuin nyiksik bawang ketika acara Keputrian, jauh dari itu, ia sudah berdiri di depan cermin dengan peci dan pakaian terbaiknya siap mengimami salatmu.

Siti, menjadi laki-laki yang jatuh cinta itu cukup aneh. Lelaki yang barangkali kamu kenal gagah, kuat, bahkan kasar sekalipun, tidak ada apa-apanya tatkala cinta jatuh dalam dirinya. Sesuatu yang sangat lembut, bak air yang mengalir perlahan di antara tumpukan bebatuan. Barangkali tak pernah kamu bayangkan betapa sulitnya bagi laki-laki mengungkapkan rasa sukanya. Apalagi jika yang dimaksud lelaki itu adalah perempuan salehah sepertimu. Alasan apa lagi yang akan membuat pria beriman mundur dari kesalehahan seorang perempuan? Kamu boleh caktik, kamu boleh kaya, tapi menjadi salehah adalah hal yang tak mampu ternilai dengan cantik fisik dan harta melimpah. Cantik dan kaya ada kadaluwarsanya. "Dia cantik, tapi ...", "Dia kaya, tapi ...", maka 'tapi' apa yang mampu meleburkan nilai calon istri yang salehah?

Maka, di sinilah peran teman asbak. Tatkala teman tak berani mengungkapkan rasa sukanya, aku merasa punya kewajiban untuk menyampaikan hal ini. Toh ditahan-tahan juga tidak akan menjadi kebaikan. Kata ustadz-ustadz mah, kebaikan itu harus disegerakan. Menunda-nunda kebaikan tidak menjamin akan menjadi kebaikan lain yang lebih besar. Apalagi kalau ditahan-tahan sampai kamu keburu dilamar orang lain, yang ada hanyalah penyesalan. Aku hanya tak mau punya teman yang tidak mengambil pelajaran dari para sahabat yang terkhianati pernah merasakan sakitnya ditinggal nikah. Bukankan ditinggal nikah adalah akibat dari menahan perasaan dan keberanian?

Tidak banyak yang ingin diungkapkannya, Siti, selain kalimat-kalimat penerimaan dan pengakuan. Boleh jadi kamu tertawa karena guyonannya, tapi lain cerita ketika tawamu terekam ingatannya. Kepuasannya bukan hanya soal mampu menyenangkan temannya, tapi juga kepuasan yang tak mampu dijelaskan oleh kalimat apapun. Kepuasan yang hanya terukir dari keakraban antara kamu dengannya. Tertawa dengan teman-teman sekamarnya memang terlihat menyenangkan. Tapi bisa membuatmu tertawa adalah kenangan seumur hidup yang tidak mungkin seketika hilang hanya dengan bergantinya waktu. Maka maukah kamu menyebutnya sebagai cinta terakhir? Cinta yang dengannya kamu akan menyandarkan segala keluh kesah, segala bahagia, segala duka, segala hal yang barangkali tak pernah kamu ceritakan kepada teman terdekatmu?

Siti, dia baru dua tahun jomblo. Kurun dua tahun, pundaknya memang sudah berdebu. Debu-debu serpihan harapan dan kenyataan itu perlahan mulai berterbangan disapu waktu tiap kali kamu bilang "kak, minta tolong dong!", "besok, Pasangrahan ada yang nyewa gak?", atau kalimat-kalimat lain yang menunjukkan bahwa dia itu ada dan dibutuhkan. 

Tak perlulah kamu mencari kesamaan-kesamaan di antara kalian. Toh kesamaan tidak menjamin persatuan. Tuh Jamil dan Ocid, sama-sama cowok tapi gak bisa bersatu. Cukuplah kamu memandangnya dengan perbedaan yang tidak kamu miliki. Perbedaanmu melengkapinya, perbedaannya melengkapimu. Dari saling melengkapi itulah, kalian akan saling menguatkan. 

Suatu hari, temanku ini datang menemuiku. Keluhnya, ia merasa tidak ada harganya di depan Masisirwati. Saya pikir dia cacat logika. Emang di Masisir doang? Di Indonesia juga kan semua pedekatenya berbuah kegagalan. Dia merasa kehilangan rasa percaya diri. Bayangkan, betapa sulitnya hidup menjadi seorang lelaki yang pada dirinya sendiri saja tidak percaya. Lanjutnya, ketidakpercayaannya itu perlahan mulai hilang. Katanya, kehadiran Siti mampu menyamarkan kesuraman masa depannya. Dalam setiap duduk dan renungnya, benang-benar rindu disulamnya menjadi jalan harapan, seperti menenun proses menuju bahagia. 

Lewat makhluk Tuhan yang namanya cinta itulah, temanku ini merasa menemukan rumahnya. Rumah tempatnya mengembalikan segala istirah, tempat meneduhkan segala keluh kesah, rumah yang membuatnya nyaman dan tentram meski masalah dan kebisingan hidup mengerumuninya. Dan rumah itu adalah kamu, Siti. Cinta itu adalah kamu. Zikir kerinduan yang ditabuhnya itu adalah kamu. Kamu adalah wanita yang harapnya dapat berbagi cerita dengan ibunya, duduk berdua di ruang tamu, membincang bagaimana menjadi istri yang baik sambil belajar bikin kue. Kamu adalah kamu, Siti. Ia mencintaimu bukan karena kamu adalah kombinasi dari banyaknya kesempurnaan, ia memilihmu karena kamu selalu tampil sebagai kamu. Dalam pilihan antara memperjuangkan rindu masa lalu atau memperjuangkan masa depan, kamu adalah sekat yang membuatnya begitu yakin bahwa mantannya tidak lagi kenangan, tapi sudah jadi masa lalu. Dan kamu, adalah masa depan yang Tuhan janjikan. 

Siti, empat kali empat enam belas. Sempat gak sempat, surat ini harus dibalas. Balasnya ke aku ya. Aku rela kok jadi asbakmu. Kamu boleh datang kapan aja buat buang puntung sisa-sisa cerita. Siapa tau, kali aja ini mah, kamu jadi sukanya ke aku. Hehe ....

Oh ya, temanku itu namanya .... kasih tau gak ya?

13 Desember 2016.
  

Komentar

  1. Urang jeung si ochid lain digimon nu bsa bersatu dengan berubah jogres euy

    BalasHapus
  2. Ini antara mang maul memang teman nya yg butuh, atau mang maul nya sendiri yg butuh jawaban. tapi mengatas namakan teman..wkwkkw
    Wallahu a'lam

    (Sitiii...segera balas pesan nya! ;) )

    BalasHapus

Posting Komentar