Di balik pernikahan Teh Euis dan Mas Fardan

Di malam sebelum akad dilangsungkan, Teh Euis ngejapri Mas Fardan untuk segera beristirahat agar besok pagi lebih segar. Tapi Mas Fardan membalas pesan cinta itu dengan jawaban, "tapi besok jam tiga pagi ada MU maen!". Lah, mau akad masih mikirin MU? Dan benar saja jam tiga subuh ia kedapatan sedang nonton bola di saung pos ronda. Pertandingan MU dan akad nikah memang sama-sama penting.  Untungnya MU menang, jadi sedikit banyak nambah semangat buat Mas Fardan melangsungkan akad nikah. Waktu saya posting status Mas Fardan nonton bola pun, Teh Euis membalasnya dengan kalimat terdingin se-Banten, "ini pasti kelakuan Kak Fardan." Saya berfirasat, inilah yang akan jadi perdebatan pertama dalam biduk rumah tangga mereka. Teh Euis belum tau aja kalau selain urusan MU, masih ada One Piece yang juga jadi prioritas di hidup seorang Fardan. Siap-siap aja, Teh.   Pernikahan Mas Fardan dan Teh Euis membuat saya jauh lebih bahagia dibanding diskonan Shopee di tanggal cantik 21-01

Nasehat untuk Maba dari kakak yang gak naik tingkat dua kali


Halo dedek-dedekku, semoga hari-harimu ke depan selalu menyenangkan, semenyenangkan hari pertama mendarat di Kairo. Ada haru, bahagia, antusias, campur aduk jadi satu perasaan yang nampaknya hanya bisa ditumpahkan dengan pengen buru-buru update stories. Gitu gak sih? Aku mah bakal gitu da kayanya. 

Jadi gimana Kairo? Udah sesuai ekspektasi? Makin hari kamu makin sadar bahwa hidup kita di Mesir takkan se-marvelous vlog Taqy Malik, atau selebgram-selebgram endorse baju gamis. Ayo mumpung belum jauh, tanya lagi niatnya. Ke sini mau ngapain? Kalau cuma mau nambahin rentetan panjang tukang bagasi, pulang aja! Supply and demand tukang bagasi udah gak seimbang, Masisir gak butuh tukang bagasi baru.

Bulan-bulan pertama di sini, udah nemu senior yang modus? Kalau kamu berparas cantik, pastilah nemu satu dua mah. Masisir yang rebahan sepanjang tahun pun kalau ada mahasiswi baru yang cantik, pasti langsung ngorejat, bikin pergerakan, strategi bimbing membimbing, antar-mengantar, sok-sok ngajak ke sana sini padahal di Mesirnya baru satu dua tahun. Tampil seolah udah tau segalanya, bahkan gak jarang ada senior kamu yang kalau di depan Maba, gayanya kaya orang kebanyakan nenggak solar. Haqqul yakin, Masisir yang hidupnya udah di atas 4 tahun di Mesir kebanyakan pada males nganter Maba, kecuali nganter adeknya, sodaranya, titipan keluarga, atau cantik banget. Udah senior mah ngapain nganter anak baru beli kusyari, naek perahu Nile, ke hadiqoh, udah mager buat begitu-begituan. Apalagi kalau tiap tahun modusin Maba tapi selalu berakhir dengan penolakan, makin males aja.

Kalau kamu Maba ganteng, kecil kemungkinan sih ada senior cewek yang modusin. Ganteng aja dianggurin, apalagi kagak. Duh ripuh. Cowok Maba yang ganteng paling jadi bahan gosip aja di antara ukhti-ukhti yang lagi ngerumpi. Jadi Maba cowok biasanya punya dilema, mau ngegaet cewe seangkatan tapi biasanya masih lugu dan belum pada pinter dandan. Ada yang cantik dan menawan tapi pastinya udah senior. Dilema kan apakah harus bertahan dengan teman seangkatan yang biasa aja atau mengorbankan idealisme dengan banting setir jadi brondong? Memang dilematis, dulu aku juga ngalamin. Loh … Makanya aku paham sih kenapa dulu Mang Utay seleranya sama yang …. ah sudahlah. 

Paragraf di atas kalau dibaca akhe-akhe dan ughtea-ughtea pasti bakal diprotes. Ih, kok tulisannya gak ada Azhari-Azharinya. Begitupun oleh aktivis feminisme, pasti dianggap sebagai cara berpikir yang sexist, bahkan orang-orang di lingkaranku akan bilang, “ternyata Mang Maul tak se-PKS yang kukira!”. 

Aku sering loh disebut PKS entah karena apa. Kadang digolongkan akhi-akhi wahabi, kadang Muhammadiyah, gak pernah disebut NU aja padahal sering banget ketindihan eureup-eureup pas tidur (?). Identitas kaya gitu biasanya jadi isu krusial ketika kamu jadi Maba. Senior-senior yang militan akan menanamkan itu sebagai hal yang penting, bahkan mungkin menghalangi kamu untuk mempelajari lingkaran-lingkaran di luar lingkaranmu saat ini. Saranku, jangan pilih-pilih teman kalau itu dalam rangka meningkatan kualitas otak. Semakin beragam lingkunganmu, semakin akan bijak dan dewasa dalam berpikir jadinya. Beneran. 

Selama aku hidup ngalamin dua kali rosib ini, aku bersyukur pernah serumah sama teman-teman lintas Ormas. Semuanya menyenangkan, meskipun ada lah beberapa yang kalau abis makan, piringnya gak dicuci.  Dan kayanya, definisi wasathy bisa kutemukan lewat pemahaman yang berbeda-beda itu. Ya meskipun pada akhirnya aku gak jadi ahbab syekh manapun, bahkan lebih cocok jadi ahbab mat’am aja keknya.Soal rosib dua kali, itu memang benar. Aku sih rapopo, gak ambil pusing soal itu. Plato bilang, alam di belakang materi itu jauh lebih besar dari yang termanifestasi dalam yang nampak. Rosib kan gak hina-hina amat ya, bukan pertanda bahwa yang rosib berarti otaknya gangguan mental atau nasibnya lebih buruk dari yang najah. Nambah dua tahun di Mesir tidak jadi perkara sia-sia sebab dalam dua tahun itu banyak hal menyenangkan yang aku alami. Misalnya begini, aku pernah menyambut matahari pagi pertama tahun 2017 di puncak Sinai karena waktu itu gak punya ujian, lalu hari berikutnya snorkeling manja-manjaan di Dahab. Seru kan? Coba kalau aku gak rosib dan waktu itu harus ujian, mana ada pengalaman basah-basahan di Dahab, sama teteh-teteh lagi. Hahahaha…  Lalu di waktu lainnya, aku bisa menyelesaikan kursus B1 bahasa Inggrisku dengan tentram, bisa bikin 139 potong Cutterme dalam satu tahun sehingga target 300 Cutterme dalam tiga tahun bisa tercapai, dan bisa membaca buku di atas 20 buku dalam setahun di luar muqorror. Artinya, bukan rosibnya kan yang masalah, tapi bagaimana cara kita menyikapi rosib tersebut. Lagian ngapain sih lulus cepet-cepet? Mau kawin? Kawin mah sejak Maba juga bisa. Yaelah~ 

Tapi jangan salah tafsir. Jangan berasumsi bahwa aku menghalalkan dan menganjurkan rosib. Tentu saja harus belajar dengan serius, biar gak dibenci KBRI. Beberapa orang memang ada yang sengaja rosib, tapi tak sedikit pula yang rosib karena lagi sial aja. Tau sendiri kan ujian di kampus susah-susah, semuanya serba dihafal. Dan buat orang dengan kemampuan menghafal terbatas sepertiku, ampun-ampunan dah. Ngafalin materi ujian gak semudah ngafalin aib orang.Poinku, jangan narget rosib. Tapi kalau sudah kepalang rosib, jangan diam dan pasrah. Harus ambil tindakan biar kekurangan itu (bagi yang menganggap rosib sebagai sebuah kekurangan) bisa tertutupi dengan kelebihan lain. 

Sewaktu aku Maba pun, aku punya kekhawatiran yang sama kok soal rosib. Rosib adalah momok yang menakutkan, apalagi jurusanku Bahasa Arab, senior Syariah Ushuluddin aja sok-sok ikut campur nakut-nakutin Maba yang mau ngambil Lughoh. Mau jurusan apapun, kalau rosib ya rosib aja. Gak ada jurusan yang mudah bagi pemalas, gak ada jurusan susah bagi yang rajin. Kalau ada senior ngasih saran atau masukan, dengerin aja. Iyain aja sesopan mungkin. Jadikan saran senior itu sebagai referensi. Kalau dirasa srek dan cocok, baru naikkan level dari referensi jadi panduan. Kalau gak setuju sama saran senior, jangan nyolot! Mahasiswa sekarang makin ke sini makin pada nyolot. Heran deh. Otaknya pada lumer pas kena Xray bandara. Tidak semua senior perlu didengarkan nasehatnya, karena tidak semua senior adalah orang-orang autosoleh ketika nambah tua.

Ada kelakuan senior kamu, mahasiswi, keknya baru satu atau dua tahunan di Mesir. Dia ngewhatsapp Baba Ragab, muhsinin Mesir yang sering ngasih bantuan buat mahasiswa, nanyain musa’adah kenapa belum turun. Kan malu-maluin ya. Miskin juga harus jaga nama negara, bukan ngemis gitu. Mungkin iya dia gak mampu, tapi kalo kaya gitu kan nama Indonesia yang kebawa. Nah, senior kaya gitu gak mungkin kamu tiru kan? Ada juga mahasiswa pacaran, ngakunya adek kakak, berobat ke dokter. Pas di ruang praktik, dokternya mau periksa tubuh si cewek bagian dalam. Cowoknya manteng aja di situ ngeliatin dengan alasan kakaknya. “Gak apa-apa, periksa aja perut ya.” Alesan si cowok pengen liat perut “adek”nya. Untung dokternya pinter, tau mana kakak kandung dan mana kakak ketemu gede. Ya terbongkar dan diusir lah. Senior macam apa yang kek gitu? 

Duh, sejak aku berteman dengan Marini dan Megong, kemampuan julidku makin terasah. 

Daripada fokus ngejar target biar gak rosib, mending ngejar ngembangin diri aja. Tentu saja lulus lancar empat tahun adalah hal yang sangat bagus, yang mana aku tak mampu mencapainya. Ada banyak senior-seniormu yang lancar kuliah tanpa rosib, udah Lc., bahkan udah S2, tapi masih belum jelas sebenernya dia tuh bakatnya apa sih? Keahliannya apa ya? Bisa diandalkan di bidang apa ya? Dia itu siapa? “Siapa”? Mau dibilang pinter bahasa Arab, tapi nerjemahin koran aja gak bisa. Mau dibilang pinter ceramah, tapi ngomong di depan publik aja belum pernah. Mau dihusnudzan-in pinter ngaji jago dakwah, tapi disuruh nulis satu artikel pun masih gelagapan. Artikel loh, bukan buku. Bahkan yang ceramah di status whatsapp aja ternyata gak jamin juga bisa menstrukturkan gagasannya dalam tulisan yang formal. Dibilang pandai berbisnis, tapi dia gak kaya-kaya. Yang udah pernah jadi ketua organisasi pun, tidak menjamin bahwa ia cakap dalam urusan manajemen dan pemecahan masalah. Yang kaya gitu banyak banget, dan lebih layak dikhawatirkan daripada soal rosib kuliah. Memangnya seberapa ampuh sih kalau gak punya skill tapi pengennya sembunyi di balik gelar Lc. dan nama Azhar?

Mumpung kamu masih mahasiswa baru, masih muda, masih bergelora, segera antisipasi nasib-nasib senior yang seperti itu agar kamu gak jadi penerusnya. Membaca kisah sukses Ustadz Abdus Somad dan Quraisy Shihab memang penting, tapi mempelajari senior-senior yang gagal juga tak kalah penting. 

Cobalah bikin target skill, misalnya tahun pertama fokus lancarin bahasa fusha. Menurutku gak perlu mahir berbahasa Amiyah, karena belum tentu berguna untuk jangka panjang. Fusha aja, bisa kepake sampai kamu jadi kyai haji nanti. Atau bikin target bisa apa kek gitu, jangan cuma bakat ngejagain jodoh orang mulu.

Sebenarnya senior-junior itu tidak ada. Yang ada adalah akhlak. Jika kamu mahasiswa baru, berakhlak baiklah kepada mahasiswa lama dengan prasangka baik bahwa mereka punya pengalaman lebih, wawasan lebih, ilmu lebih. Jika kamu mahasiswa lama, berakhlak baiklah kepada mahasiswa baru dengan prasangka bahwa mereka punya semangat belajar yang membara, punya pengalaman yang mungkin tidak pernah kamu miliki, punya ilmu yang lebih luas dari padamu. Ulama-ulama kan ngajarin kita gitu juga ya dalam hidup, husnudzan sama yang tua karena amal ibadahnya udah lebih banyak, husnudzan sama yang muda karena dosanya masih sedikit. 

Oh ya, ketika membaca tulisan ini, perlu dicamkan bahwa: 1) ini subjektif dan tidak mewakili suara senior, 2) aku bukan senior sukses, bukan senior berkeahlian khusus. Kalau memang aku punya skill, gak mungkin sampai bisa ngalamin dua kali ditinggal kawin. Jirr, dua kali ditinggal dan dua kali rosib. Hidupku gini-gini amat yak. 3) Tidak semua senior adalah ‘senior’ di dunianya. Saya adalah senior di bidang potong memotong kertas, tapi tidak di dunia bahtsul masaa’il. Jadi jangan jadikan pengalaman subjektif saya sebagai ukuran untuk pengalaman di bidang yang lain. 4) Mmmmm …. Saya jomblo nih. Tolong lah dibantu …. 

Sebagai penutup, aku cuma mau bilang semoga kamu betah di Mesir. Jangan pacaran lah ya, ngabisin duit. Sayang duitnya, daripada dipake biaya pacaran mending diinvestasiin buat ikutan daurah atau apa kek gitu biar jelas ada jejaknya. 

Eh, yang poin nomor empat itu serius. Ditunggu japriannya :)

23 Januari 2020.

Komentar

  1. satu kalimat di tengah langsung ngena ke saya kang, padahal saya masih belum juga dapat rezeki untuk berangkat kesana haha...
    Ga ada skill tapi mau sembunyi dibalik Lc dan nama besar azhar,, hadohh..

    BalasHapus

Posting Komentar