Di balik pernikahan Teh Euis dan Mas Fardan

Di malam sebelum akad dilangsungkan, Teh Euis ngejapri Mas Fardan untuk segera beristirahat agar besok pagi lebih segar. Tapi Mas Fardan membalas pesan cinta itu dengan jawaban, "tapi besok jam tiga pagi ada MU maen!". Lah, mau akad masih mikirin MU? Dan benar saja jam tiga subuh ia kedapatan sedang nonton bola di saung pos ronda. Pertandingan MU dan akad nikah memang sama-sama penting.  Untungnya MU menang, jadi sedikit banyak nambah semangat buat Mas Fardan melangsungkan akad nikah. Waktu saya posting status Mas Fardan nonton bola pun, Teh Euis membalasnya dengan kalimat terdingin se-Banten, "ini pasti kelakuan Kak Fardan." Saya berfirasat, inilah yang akan jadi perdebatan pertama dalam biduk rumah tangga mereka. Teh Euis belum tau aja kalau selain urusan MU, masih ada One Piece yang juga jadi prioritas di hidup seorang Fardan. Siap-siap aja, Teh.   Pernikahan Mas Fardan dan Teh Euis membuat saya jauh lebih bahagia dibanding diskonan Shopee di tanggal cantik 21-01

Menyoal Masisirwati yang sepi narasi



Di pertemuan kedua sewaktu saya belajar PR di AUC, guru kami membuat sesi debat soal feminisme. Sebenarnya tidak ada keterkaitan antara topik feminisme dengan public relation atau marketing communication, karena materi utama waktu itu adalah soal negosiasi, komunikasi, dan bagaimana cara menyampaikan sekaligus menyanggah argumen yang berbeda. Tapi karena topiknya diserahkan kepada anggota kelas, terjadi voting, dan disepakatilah soal feminisme. Perlu dicatat bahwa di kelas itu ada 18 orang, cowoknya cuma tiga. Mungkin cuma dihitung dua, karena kadang kan saya bisa lebih perempuan dari perempuan. Huehehe... Semua perempuan itu adalah orang Mesir beragam usia, beragam latar belakang pendidikan dan status sosial, dan beragam pekerjaan. Lalu terjadilah forum diskusi yang membukakan mata saya bagaimana pandangan para perempuan (Mesir) soal banyak hal. Karena ngomongin isu ini, sedikit banyak juga mereka menyinggung soal politik, sosial, budaya, juga aspek agama. Ide-idenya menarik, dan nampaknya bagi saya, tak beda jauh dengan gagasan yang disampaikan Nawal Saadawy dalam buku-bukunya.

Yang saya suka dari ide-ide perempuan ketika bicara soal apapun adalah sudut pandangnya. Kadang kala, perempuan punya cara pandang yang sering kali terlewatkan oleh laki-laki. Mungkin karena mereka punya tabiat lebih detail, lebih kepo, lebih cerewet, jadi karakter bawaan itu sedikit banyak mempengaruhi. Lihat saja Najwa Shihab ketika mewawancarai narasumbernya. Dibandingkan dengan Karni Ilyas, Najwa seringkali punya sisi-sisi yang sering kali tidak disentuh oleh Karni ketika menggali informasi narasumbernya. Begitupun penulis-penulis perempuan seperti Dewi Lestari, Kalis Mardiasih, J.K. Rowling, cara mereka berimajinasi didukung oleh aspek-aspek detail yang tidak banyak saya temukan dalam tulisan-tulisan yang ditulis penulis laki-laki. 

Di dunia yang teramat luas ini, terlalu banyak bukti bahwa perempuan hebat dan berpengaruh itu eksis di dunia ini, tapi apakah bukti itu juga dapat kita temukan dengan mudah di dunia Masisir? Pertanyaan itulah yang perlu kita jawab bersama.

Tulisan ini berangkat gara-gara ke-trigger statusnya Mas Fardan yang mengkritisi tipisnya hal-hal substansial yang dibangun Masisirwati dalam kegiatan sehari-harinya. Entah itu dalam organisasi, kajian, atau sekadar geng-geng order makanan di Otlob dan icip-icip aneka jajanan kekinian. Beliau bilang, kawan-kawan mahasiswi di Indo dan di negara lain seringkali menyuarakan kebanggaannya sebagai perempuan, dengan cara turut bersuara tentang banyak isu. Isu humanisme dari kaca mata perempuan, kajian hermeneutika, aneka diskursus, termasuk sesederhana bedah film dan menafsirkannya dengan sudut pandang keperempuanannya. Jika hal itu bisa terjadi di tempat lain, kenapa tidak banyak terjadi di ekosistem Masisirwati? 

Kalau mau mengukur kualitas Masisirwati dari sisi akademisnya, persentasi kelulusan mereka selalu lebih tinggi dibanding laki-laki tiap tahunnya. Bahkan mungkin kalau mau menaikkan angka kenaikan tingkat di kuliah, pemerintah perlu meluluskan lebih banyak Maba perempuan dibanding laki-laki. Masisirwati yang mendapatkan Mumtaz dan Jayyid Jiddan juga sangat banyak dan pabalatak, meskipun faktanya masih banyak juga yang udah tingkat empat tapi masih dibimbelin aja. Tapi apa artinya Mumtaz dan Jayyid Jiddan itu jika tidak ada dinamika, tidak ada pergerakan, hanya diam tidak bersuara? Jika akhwat tidak memunculkan taring keberdayaannya, label Mumtaz dan Jayyid Jiddan itu cuma bermakna ngebahagiain Atdik dan Dubes doang. Dan ngebahagiain Atdik belum tentu bisa membangun peradaban atau mewariskan pemikiran buat generasi Masisir selanjutnya.

Kalau versinya Mas Fardan, ia menyarankan ide sederhana agar Masisirwati membedah tokoh-tokoh muslimah klasik atau kontemporer. Tidak perlu dalam makalah yang serius-serius, cukup sesederhana status sosmednya, atau tulisan blognya. Tapi nampaknya akan mustahil mau nyeletuk dan bercanda soal kajian historis tokoh muslimah, kalau kegiatan sehari-harinya tidak bergelut dengan isu-isu itu, tapi lebih sibuk soal hal lain. Misalnya sibuk dengan kekhawatiran kapan bakal kawin sementara teman-teman satu geng udah pada beranak pinak.  

Tadi malam saya bikin status di whatsapp begini, kenapa ya ada banyak nomor di kontak saya yang lebih sering me-repost konten/ide/gagasan/opini milik ustadz-ustadz dibanding me-repost kontennya ustadzah-ustadzah? Pertanyaan itu kan sebenarnya hanya cangkang retoris yang mempertanyakan di mana letak taringnya akhwat Masisir dalam membangun narasi publik. Saya mempertanyakan kenapa gak banyak diskusi publik yang diangkat oleh Masisirwati yang narasi-narasi itu sifatnya menarik sehingga memancing orang untuk ikut berdiskusi, ikut mengaminkan, atau sekadar me-repost. Tapi sayangnya, poin itu tidak sampai tepat sasaran di kepala orang. Ada yang malah fokus pada, harus nulis apa di status whatsapp, ada yang menafsirkan seolah-olah saya mengatakan: tidak ada akhwat yang becus nulis konten bagus, ada juga yang menafsirkan bahwa julid semacam itu tidak layak dilemparkan pada kemahabanyakannya Masisirwati hanya berdasarkan status whatsapp yang berseliweran secara random dalam lingkup yang terbatas. "Duh Mang Maul, dari pada julid mending banyakin sosial dulu. Maennya kurang jauh bang mbahahahaha", tulis akun @Kimmoeralbrohim di cuitan Twitternya. Lah, gua mah julid di depan muka. Situ julid pake nyebut nama saya tapi di belakang, gak mention akun Twitter-ku pula.  

Kembali ke sulut yang dipantik Mas Fardan, bahwa asumsi saya, kalaupun memang perempuan Masisir sering bersuara dan punya narasi yang empowerment, seenggaknya kita yang cowok dan tanpa harus ngesave semua nomor kontak nomor Masisirwati, akan tahu dengan mudahnya ada narasi apa yang sedang dibahas. Contoh sederhananya, saya gak ngesave nomor Mas Saiful Millah, gak akrab juga, hanya bertegur sapa kalau berpapasan di jalan, tapi bisa tahu ia sedang beropini apa atau sedang menelaah kajian apa hanya berdasarkan banyaknya orang yang menyanggah atau mengamini gagasannya itu di fitur repost yang ada di whatsapp. Saya gak kenal dan gak ngesave juga nomor Latifatun Nur Laili, tapi bisa tahu pendapat-pendapatnya hanya berdasarkan dengerin podcastnya. Saya bisa tahu Laili Maftukhah tanpa pernah sekalipun kenalan dan saling simpan nomor kontak hanya karena prestasinya ikut World Youth Forum. Saya tidak pernah berinteraksi dengan Zulfah Nur Alimah, Fiki Khoirul Mala, Iis Istianah, tapi saya bisa "kenal" isi kepala mereka hanya berdasarkan tulisan mereka di sosial media, di buku, atau di sesederhana repost-an orang lain yang tak sengaja lewat mata saya. Tapi ada berapa banyak Zulfa-Fiki-Iis di Masisirwati? Di buku "Peta Pemikiran Keislaman di Mesir: Studi Tokoh" terbitan Muntada dan KBRI, hanya ada 2 mahasiswi dari 13 penulis yang nulis di buku itu. Dua banding sebelas, apakah cukup mewakili keterlibatan perempuan dalam aktivitas ilmiah ini? Apakah hanya Nuansa Garini yang selama ini menyuarakan hal ihwal perempuan melalui APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan)? Apakah perdebatan di ruang SPA Wihdah hanya terjadi dalam forum sidang dan tidak ada satu pun yang tergugah hatinya untuk mengangkat isu itu di ruang lain? Apakah di masa pandemi ini tidak ada forum perempuan Masisir yang berinisiatif bikin Webminar bahas pandemi dari kacamata syariah-ushuluddin-lughoh versi perempuan? Girl Power yang dimiliki Masisirwati ini harus muncul menggelegar dan terdengar. Supaya apa? Supaya perempuan bisa menjadi subjek yang menguasai momentum. Jangan sampai ketidaksetujuan dengan lingkungan patriarki ini tidak hanya disebabkan oleh miskonsepsi si cowok yang ada di lingkungan Masisir, tapi justru karena disebabkan oleh perempuannya sendiri yang tidak banyak berkontribusi aktif, lebih milih diam di balik alasan tawadhu, menjaga diri, atau alasan apapun yang dibalut sedemikian rupa untuk tidak secara langsung mengakui kemalasannya untuk berpikir.      

Ada banyak narasi yang idealnya bisa dibicarakan oleh perempuan Masisir tapi tak pernah terjadi. Tentu saja bukan karena tidak mampu, tapi karena belum ada kesadaran inisiasi yang bersifat masif untuk melakukan itu. Kita gak pernah tahu apakah Masisirwati merasa nyaman atau tidak jika PPMI bikin kebijakan tertentu untuk anggotanya. Kita gak pernah tahu apa pendapatnya perempuan Masisir ketika ada oknum guru bimbel yang kurang ajar menodai perempuan lainnya. Kita gak pernah tahu sudut pandang perempuan soal jam malam yang pernah diberlakukan Wihdah. Sejauh ini tak ada yang mengangkat isu bagaimana soal interaksi mahasiswi dengan TKW, dan bagaimana peran Masisirwati yang katanya belajar banyak ilmu bisa memberikan manfaat bagi TKW-TKW di lingkungan kita. Jika tidak disuarakan, bagaimana dunia akan mengerti apa maunya dan apa idealnya lingkungan Masisir versi perempuan? Tak beda dengan pacar yang katanya lapar, pengen makan, tapi ditanya mau makan apa malah bilang terserah dan kita sebagai cowok harus menebak-nebak tanpa ada kesempatan untuk bisa salah. 

Sudah saatnya perempuan bersuara soal kebanggaannya sebagai perempuan, sebab Masisirwati bukan cuma Rahmah Rasyidah.

10 Juni 2020.

Komentar