Kenapa Lc harus pulang cepet?

Gara-gara sering kondangan, saya baru tau kalau di dunia ini ada beberapa perempuan yang pengen nikahnya pas lagi datang bulan. Katanya biar bisa pake kutek dan gak harus hapus makeup ketika waktu dzuhur atau asar buat jeda salat. Sementara bagi pengantin laki-laki, mereka pengennya nikah ketika istri barunya tidak sedang datang bulan. Kenapa ya? Duh, aku masih polos. Kondangan belakangan ini jadi rutinitas akhir pekan. Sewaktu Salman meminta alasan baik supaya jadi motivasi agar cepat-cepat pulang alatul, jawaban saya adalah di Indonesia banyak kondangan dan itu baik. Karena di acara kondangan kita bisa melihat orang-orang hadir dalam versi terbaiknya. Dari mulai penjaga buku tamu, penjaga prasmanan, staff WO, juru foto, teman-teman pengantin cewek, dan anak dari ibu-ibu teman keluarga yang ketika berpapasan dengan keluarga kami, mereka akan bertanya, “ini teh Aa yang di Mesir tea? Oh kenalin, ini anak Ibu yang bontot. Belum pernah ketemu ya?” Acara nikahan yang notabenenya acara kedu

Rasanya jadi Anak Poligami

Ada satu cuplikan menarik di serial World of Married. Ketika Lee Tae Oh bilang “aku mencintaimu” pada Yeo Da Kyung, ia menjawab ungkapan itu dengan satu kalimat bertenaga yang menamparnya begitu kuat. Da Kyung bilang, parfum yang kau berikan kepadaku adalah parfum yang sama yang kau berikan kepada perempuan lain. Lagu yang kau perdengarkan padaku, juga lagu yang sama yang kau perdengarkan kepada perempuan lain. Jadi kata cinta yang kau berikan padaku, tak lain adalah kata cinta yang sama yang kau bagi dengan yang lain. Tegasnya ini bukan soal kita, tapi soal kamu. *pip*boy detected.

Adegan itu membuat saya bertanya, apakah kita memang bisa jatuh hati dengan kadar yang sama kepada orang yang berbeda? Apakah ketika kamu bilang “aku sayang kamu” pada mantan yang pertama, yang kedua, yang ketiga, adalah “sayang” dengan intensi yang sama? Pertanyaan serupa yang juga muncul ketika membaca selembaran pamflet-pamflet seminar poligami yang selalu menghadirkan supermentor beristri empat. Beneran bisa ya mencintai orang berbeda-beda dalam waktu bersamaan?

Sewaktu tugas di Mekah, saya sekamar dengan orang Indonesia beristri dua. Hampir tiga tapi batal, katanya. Menurutnya, beristri dua itu resiko berantemnya sangat besar. Tapi kalau istri tiga, resikonya mengecil bahkan hidup lebih tenang, katanya. Saya gak paham apa yang ia maksud dengan resiko-resiko itu, karena seingat saya pernah punya pacar satu aja ribetnya minta ampun. Satu aja banyak maunya, apalagi kalau udah ngambek gak jelas, susah bedain mana karakter bawaan atau lagi tanda-tanda datang bulan. Gimana kalau tiga sampe empat? Kayanya saya bakal kehilangan hobi deh kalau harus habis waktu buat merhatiin empat perempuan yang semuanya punya potensi bakal ngambek gak jelas. Atau mungkin pacar dan istri beda kali ya. Tapi kan tetep aja perempuan mah mau sebagai pacar ataupun istri, gak akan banyak perbedaan? 

Di lain waktu, saya pernah ikut mempersiapkan sidangnya seorang senior di kampusnya. Karena intens ketemu sejak beberapa hari sebelum dan setelahnya, jadinya banyak ngobrol ke sana-sini. Dari urusan utama bikin banner sampai urusan remeh temeh lainnya. Senior ini kontra sekontra-kontranya sama poligami. Alasannya bukan menentang syariat, tapi ia merasa adil itu tidak sampai pada dirinya yang ditakdirkan lahir dari orang tua yang poligami. Mungkin keadilan yang diciptakan bapaknya terlanjur habis porsi untuk istri-istrinya sehingga tidak cukup memuaskan untuk sampai ke porsi anak. 

Saya agak nyambung ketika pembahasan poligami ini dalam bab perhatian orang tua ke anak. Banyak sekali pembahasan poligami hanya seputar istri-istri dan bagaimana memaknai keadilan di dalamnya, tapi tak banyak yang bahas keadilan terhadap anak-anaknya. Atau mungkin banyak, tapi wawasan saya soal itu masih sedikit. Jangankan banyak istri deh, satu istri dengan banyak anak aja selalu ada kemungkinan anaknya gak keurus, perhatian bapak buat semua anaknya belum tentu merata, bahkan perlakuan bapak ke anak sulung sama anak bungsu aja bisa jadi pembahasan mendalam soal keadilan berumah tangga ini. 

Gini deh, kalau kamu sudah menikah dengan satu istri dan punya anak, pasti ada jeda mikirnya dulu kalau dapet pertanyaan: milih istri atau anak? Nah bayangin ini istrinya ada beberapa dan anaknya lebih beberapa, proses mikirnya pasti lebih panjang. Kecuali emang bapaknya gak peduli sama anak, ya itu urusan lain. 

Soal buruknya hubungan bapak-anak akibat si bapak kebanyakan istri, saya temukan dari kisahnya Mahen (nama samaran) yang saya temui kira-kira setahun lalu. Mahen ini seorang pria Mesir dengan tiga kewarganegaraan: Mesir, Kanada, Perancis. Lahir di Mesir karena bapaknya Mesir, pindah ke Kanada ikut ibunya setelah bercerai dengan bapaknya, lalu pindah ke Perancis untuk sekolah dan menetap. Dalam setahun, ia bisa berkali-kali terbang dari Paris ke Cairo untuk urusan kerja. Tapi untuk ketemu bapaknya, paling sekali doang dan itupun hanya sesaat. Kini bapaknya tinggal di Cairo dengan istri ketujuhnya, sementara ia sendiri sudah tiga kali ganti istri di usianya yang masih muda.

Mahen bilang, hubungan ia dengan bapaknya memang tidak harmonis sejak kecil, karena energi orang tuanya terlalu habis untuk perdebatan soal poligami. Jika dalam seminggu harus berbagi badan dengan dua istri, dan masing-masing istri punya dua anak, kuantitas itu bagi Mahen tidak cukup memenuhi kebutuhannya membangun relasi yang kuat antar-ayah-anak. Itu pula yang jadi alasan kenapa dulu ia ikut ibunya ke Kanada, karena ketika tinggal dengan bapaknya, Mahen merasa tinggal dengan orang lain, dengan laki-laki yang kebetulan menyumbangkan kromosom Y-nya ke telur ibunya, tiap ketemu bilang sayang, tapi kata sayang itu tidak diterjemahkan menjadi tindakan-tindakan yang layaknya dibutuhkan seorang anak. 

Karena pondasi masa kecil yang tidak kuat itulah, ia merasa tidak punya perasaan bahwa ayahnya adalah rumah tempat ia kembali, tempat pulang, atau bahkan hanya sebagai tempat berteduh. Lalu dengan satirnya ia bilang, bapak saya mewarisi gen untuk menikahi perempuan berkali-kali, tapi ia tak pernah mengajarkan bagaimana cara pulih dari sakit hati akibat jatuh hati pada orang yang berbeda-beda. 

Di bagian sakit hati karena jatuh hati ini, aku merasa gue banget. Cuk!

Waktu itu saya iseng bertanya, apakah dari tiga mantan istri itu ada yang benar-benar cinta sejati? Dan jawabnya, ada. Cinta itu akan menjadi sejati jika padananya dengan emosi, bukan dengan napsu. Ada mantan istri yang ia nikahi karena cantik menawan, ada juga yang dinikahi lebih dari sekadar cantik menawan. Karena titik berangkatnya berbeda, Mahen punya alasan berbeda pula ketika ia berpisah dengan keduanya. Saya belum paham sih gimana maksudnya, tapi iyain aja lah. 

Bisa jadi, ada orang poligami karena napsu semata. Makanya suka muncul alasan “poligami biar suami gak zina”. Sebesar itu kah godaan bagi laki-laki yang sudah beristri untuk berzina? Terus kalau yang pengen zinanya si istri, apa dia harus poliandri? Ada juga alasan poligami karena perkara emosi, keterdorongan untuk membantu, menyejahterakan, dsb. Ya contoh saja Rasul yang poligaminya dengan janda-janda berumur. 

Jangan debat saya soal poligami ya, bukan anak Syariah. Jangankan saya yang bukan anak Syariah, anak Syariah di kamar saya aja kalo ditanya tentang hukum yang agak kontemporer dikit, jawabnya: “gak dipelajari di muqoror”, atau “bagian itu dimahdzuf duktur”. Yaelah.... 

Mahen dan senior saya itu hanya dua dari mungkin banyak orang yang tahu rasanya jadi anak tak terperhatikan dari seorang bapak yang poligami. Saya ngikut analoginya Quraish Syihab yang mengibaratkan poligami sebagai pintu darurat di pesawat. Hanya boleh dibuka ketika dibutuhkan, bukan sengaja dibuka bahkan dibikin strategi+tips+triknya di seminar-seminar. Bahkan di seminar poligami itu, ada satu materi yang judulnya: tips menaklukkan hati istri pertama agar mendukung poligami. Menaklukkan? Dominatif banget ya. 

‘Ala fikroh, poligami gak poligami sebenarnya bukan fokus tujuan saya sekarang ini. Karena jangankan poligami, hiji ge hese! Kari nyantol hiji ge kabur! Borokokok teh~

07 Agustus 2020. 

Komentar