Kenapa Lc harus pulang cepet?

Gara-gara sering kondangan, saya baru tau kalau di dunia ini ada beberapa perempuan yang pengen nikahnya pas lagi datang bulan. Katanya biar bisa pake kutek dan gak harus hapus makeup ketika waktu dzuhur atau asar buat jeda salat. Sementara bagi pengantin laki-laki, mereka pengennya nikah ketika istri barunya tidak sedang datang bulan. Kenapa ya? Duh, aku masih polos. Kondangan belakangan ini jadi rutinitas akhir pekan. Sewaktu Salman meminta alasan baik supaya jadi motivasi agar cepat-cepat pulang alatul, jawaban saya adalah di Indonesia banyak kondangan dan itu baik. Karena di acara kondangan kita bisa melihat orang-orang hadir dalam versi terbaiknya. Dari mulai penjaga buku tamu, penjaga prasmanan, staff WO, juru foto, teman-teman pengantin cewek, dan anak dari ibu-ibu teman keluarga yang ketika berpapasan dengan keluarga kami, mereka akan bertanya, “ini teh Aa yang di Mesir tea? Oh kenalin, ini anak Ibu yang bontot. Belum pernah ketemu ya?” Acara nikahan yang notabenenya acara kedu

Mesir dan orang-orang Asing yang mengubah


Waktu itu jam empat sore di Talaat Harb, Shen bilang butuh sesuatu untuk menghilangkan hausnya. Saya tawari ashob, minuman perasan batang tebu yang kebetulan nampak di muka salah satu kedai di jalan itu. “Minuman favorit orang lokal,” bujuk saya. Ia pun mengiyakan dan kami pun memesan dua gelas. Di saat menunggu ashob kami disajikan, terdapat stiker “laa ilaaha illa allah” yang menempel di dinding keramik tepat di depan wajah kami. Sudah nampak luntur dan sobek di beberapa sisinya, namun masih terbaca. “Ini apa dibacanya?” Tanya Shen. Lalu saya jawab. “Artinya?” Tanyanya lagi. Lalu saya terjemahkan. “Oh ternyata itu artinya” balasnya. “Memangnya kenapa?” Tanya saya penasaran. “Yang kutahu soal kalimat itu hanya dipakai orang sebelum membunuh.”


Itulah kali pertama saya menemukan sakit hati sebagai muslim. Saya hanya terkekeh waktu itu, sebisa mungkin untuk tidak nampak marah, dan harus punya banyak permakluman pada Shen, seorang Cina yang sejak lahir tidak pernah diperkenalkan agama, tidak hidup di lingkungan orang-orang beragama, dan sekilas mengenal Islam hanya dari media yang barangkali tidak secara sengaja ia cari tahu. 
Lalu di hari berikutnya, kami pergi ke Asyut dengan bis antarprovinsi. Tujuannya ingin menemui seorang pendeta yang pernah Shen temui sewaktu di Beijing. Entah pengalaman apa yang mereka punya, tapi menurut Shen, ia hanya ingin menepati janjinya untuk menemui sang pendeta bilamana ia berkunjung ke Mesir. 


Sesampainya di Asyut, ternyata kami masih harus menempuh 2 jam perjalanan (setelah 8 jam perjalanan dari Alexandria ke Asyut) ke daerah pedesaan. Sebuah kompleks gereja besar di antara Asyut dan Minya, di mana di kedua daerah itu masyarakatnya mayoritas kristen koptik. Bisa dibilang, di sinilah mayoritas penganut kristen hidup di negara ini. Dari pemandangan sekilas pun mudah sekali menemukan gereja dan simbol keagamaan kristen, tidak seperti di Cairo atau kota lainnya yang dengan mudah kita temukan simbol-simbol bertendensi Islam. 


Gereja ini namanya Diyar Sayyidah Adzraa al-Muharraq, diyakini sebagai gereja tertua di Mesir dan menjadi pusat dakwah yang kompleksnya luas bukan main. “Kamu nanti jangan ngaku muslim ya pas masuk, takut kenapa-napa!” Kata Shen membujuk. “Loh kenapa? Gak masalah kok” saya bilang. “Very dangerous!” Berulang kali ia bilang kalimat itu. “Bagaimana kalau kamu dicelakai, atau mereka berbuat sesuatu yang buruk?” Tanyanya lagi. Lalu saya ingat kalimatnya Quraish Shihab yang bilang, orang beragama akan mengutamakan kemanusiaan di atas keberagamaannya. Agama apapun dia kalau memang betul beragama, ia akan baik kepada siapapun. Saya bilang kalimat itu ke Shen.
Sampai akhirnya kami ketemu polisi dan dengan lugas saya bilang: saya mau mengantar teman saya ketemu seorang pendeta dan saya muslim. Apa boleh saya ikut masuk sini? Lalu polisinya dengan santai bilang, “boleh. Saya juga muslim kok.” 


Lalu kami pun bertemu pendeta yang dimaksud. Dengan baju kebesarannya, Ia mengajak kami keliling kompleks, menjelaskan banyak hal dari mulai sejarah gereja ini, sumur tua dengan teknologi pengangkut air yang sudah lapuk, sampai ke asrama rahib yang mirip dengan pesantren di Indonesia. “Gereja ini adalah tempat singgahnya Isa dan Maryam ketika lari dikejar Israil,” kata pendeta. Ia menjelaskan banyak cerita soal Isa, termasuk beberapa barang yang diyakini sebagai bak mandi tempat Isa kecil dibaptis, injil berbahasa koptik, buku tua berisi doa-doa berbahasa koptik, mimbar para imam zaman dulu, bahkan kami diajak masuk ke menara dan ruang bawah tanah yang punya lorong sepanjang 200 meter lebih untuk pelarian jika terjadi perang. Pertemuan itu diakhiri dengan jamuan makan dan beberapa buku seputar koptik yang ia hadiahkan ke saya. 
Saya mengingat pengalaman itu hari ini, sebagai salah satu kesimpulan dari tanya, apa yang beda dari saya hari ini dibanding enam atau tujuh tahun lalu ketika pertama kali jadi Masisir. Banyak hal yang terjadi di Mesir ini tidak hanya sebatas mengubah status “lulusan SMA” jadi “lulusan S1”, tapi mengubah banyak cara berpikir yang tak pernah terimajinasikan sebelumnya. Salah satunya pengalaman bertemu Shen yang membuat saya semakin ingin belajar agar lebih mantap punya alasan kenapa saya beragama dan kenapa saya Islam. 


Di lain hari, saya begadang sampai jam tiga pagi dengan Bang Ridzuan, begitulah saya menyebutnya, seorang pejabat kerajaan Malaysia (semacam asesor/evaluator) yang bertanggung jawab atas beasiswa pelajar Malaysia di luar negara. Ia datang ke Mesir setelah melakukan perjalanan ke Australia, Saudi, UK, dan Oman dengan misi yang sama: apakah pelajar Malaysia masih layak diberi beasiswa kerajaan? Apakah Mesir masih layak jadi tujuan studi rakyat Malaysia? Obrolan itu membuat saya banyak berpikir soal posisi saya sebagai warga Indonesia, juga soal langkah apa yang harus saya ambil selanjutnya. Bang Ridzuan yang lulus doktor dari Boston, bilang bahwa menurut pengamatannya alumni Mesir baik pelajar Malaysia atau Indonesia punya beberapa kesamaan yang tidak sebanding dengan lulusan Timteng lainnya. Dan saya tidak bisa menyanggah itu jika menjadikan saya sendiri sebagai contohnya. Kemampuan debat kita hanya teruji dengan supir tremco dan ammu baalah, bukan di ruang kelas atau forum ilmiah. Contoh Nahwu Shorf kita masih saja zaidun amron, bahkan hafalan quran empat juz pun, kalau salat masih pake innaa anzalnaa lagi dan lagi. Sekalinya nyoba al-Infithaar malah nyasar ke mana-mana. 


Satu hal yang saya sangat syukuri selama di Mesir ini adalah saya ketemu banyak sekali orang hebat, yang setiap orangnya punya cerita masing-masing dan punya sumbangsih masing-masing terhadap bagaimana cara saya berpikir dan memandang sesuatu. Bahkan cara saya bercita-cita. Orang-orang baru yang saya temui, dari ammu bawwab penjaga rumah, sampai bapak-bapak bergaji 15000$ sebulan, mengubah saya dalam banyak hal. Berkat orang-orang asing itulah saya jadi punya ketertarikan belajar komunikasi, belajar humas, mendengarkan “Arto Part”, menonton “Einsteins on the Beach”, membaca “1984”, menonton konser Ummu Kultsum, menonton “A Year of Living Dangerously”, minum teh dicampur susu murni tanpa gula, cara masak pasta, cara masak roti dosa dan ayam karahi, belajar saham dan reksadana, dan banyak hal lagi yang mungkin saja tidak akan saya temukan jika saya tidak hidup di Mesir. 


Barangkali ini tulisan terakhir saya di Mesir. Negeri ini sudah menjadi inspirasi bagi puluhan bahkan ratusan tulisan yang sudah tertulis, bahkan bagi calon tulisan-tulisan ke depannya. Seandainya saya bisa memutar waktu dan menjadi Masisir lagi dari nol, saya tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi sampai hari ini, karena bagian terburuknya pun telah membuat saya belajar banyak hal. Kecuali urusan asmara. Sue! 


Dan mungkin setelah ini, tulisan saya akan lebih banyak membahas tips dan trik ternak lele agar cepat untung. Ah sue lagi. 


Ikan tomat makan hiu, terima kasih Mesir, besok saya pamit pulang :)


04 Oktober 2020


Komentar

  1. Ditunggu tips ternak lelenya. Kalau berhasil panen 3 kali berturut turut, ana pengen bersanad sama antum.

    BalasHapus

Posting Komentar