Catatan awal Juni

Hai, Blog! Lama sekali rasanya tak bersua dengan blog ini. Akhir-akhir ini hampir selalu dalam kondisi ingin menulis tapi tak tahu apa yang harus ditulis. Padahal jika saja ada sedikit kemauan, ada banyak hal yang bisa diabadikan dalam kapsul-kapsul kalimat. Misalnya soal bibit anggrek yang membusuk di minggu kedua karena buruknya pengetahuan soal menanam anggrek, soal kolam ikan yang setelah dikuras dan dibersihkan malah menjadi genangan air dan sarang nyamuk, atau hal-hal lainnya. Minggu lalu, Bang Juhri dan keluarganya datang berkunjung ke rumah. Silaturahim, makan bersama, dan berbagi cerita dengan bapak saya. Intinya kenalan dan nyari yang ijo-ijo, katanya. Bang Juhri adalah salah satu kenalan waktu kerja di Makkah. Lebih tepatnya sesama petugas tapi jabatannya lebih tinggi. Alhamdulillah-nya komunikasi kami berjalan baik dan silaturahim tetap terjaga. Waktu ke mari, ia nanya, enakan hidup di kota atau di sini (kampung)? Saya bilang, enaknya hidup di kampung adalah bisa tetap hidu

Apa yang dikangenin dari Cairo?

 

Sewaktu di Cairo, saya hampir selalu bawa sikat gigi di tas kecil. Alasannya karena saya sering tidak ada di rumah, menginap dari satu tempat ke tempat lain sehingga sikat gigi jadi alat wajib bawa. Bisa berhari-hari bahkan lebih dari seminggu gak pulang ke rumah. Bagi  saya yang hobinya keluyuran, diem lama di rumah adalah petaka. Ditambah diem lama tanpa ketemu teman ngobrol yang asik adalah azab. Dan itu yang sedang saya alami saat ini.

Hal yang barangkali belum ditemukan ketika tinggal di kampung halaman adalah tidak adanya teman sefrekuensi. Saya tinggal di kampung, literally kampung, yang tidak ada teman masa kecil. Sekolah dasar di kampung lain, lanjut di pondok, lalu ke Bandung, lalu Mesir bertahun-tahun, menjadi alasan masuk akal untuk tidak cukup kenal dengan kampung ini. Tidak hafal nama-nama tetangga, bahkan nama-nama sodara pun seringkali lupa. Teman sekolah pada jauh, teman kuliah lebih jauh, teman nongkrong pada jauh, calon istri apalagi. Nampaknya masih sangat jauh. Sedangkan orang-orang yang hadir sehari-hari, yang ditemui atau menemui, belum benar-benar membuat saya ngerasa eksaitid untuk terlibat. Misalnya bapak-bapak yang sering nongkrong di warung depan rumah, seringkali bicarain list di titik mana aja ada janda tinggal. Sekaligus dengan daftar duda yang ternyata jumlahnya banyak juga di kampung ini. Oke banyak orang suka janda, tapi sebagai obrolan tiap hari, aku literally mabok topik janda. 

Atau menjawab pertanyaan yang sama secara berulang. Di Mesir suka nemu nasi apa enggak? Ada pepohonan kaya di kita atau gimana? Sebelah mananya Mekah? Kemarin pulang dari sananya jam berapa? Pertanyaan-pertanyaan ini memang ringan untuk dijawab, dan menyenangkan-menyenangkan saja untuk dijadikan bahan basa-basi, tapi ada titik di mana jiwa saya berkata: come on, ib3at lii something challenging! I am ta3baan bigad! 

Senganggur-nganggurnya hidup di Cairo, saya bisa tidak sengaja menguping Mas Fardan lagi bicara sendiri di depan layar Zoom, atau Fatah rapat PPI Dunia dengan topik-topik yang aduhai. Saya dapat sesuatu dari ketidaksengajaan itu. Atau kalau sedang bosan, saya bisa nginep di rumah teman kafirku, rebahan nonton Netflix sambil liatin dia minum wine dan nyiapin jawaban bilamana ia tiba-tiba nanya kenapa saya mau-maunya solat di waktu subuh. Sedangkan di sini, di rumah yang katanya rumah itu sering perantau rindukan, saya lebih banyak mendengar gosip tetangga yang tidak selayaknya jadi obrolan. 

Seringkali saya menemukan petuah bahwa perantau yang baik adalah yang mau kembali pulang dan membangun tanah kelahirannya sendiri. Berulang kali, dari banyak mulut. Tapi saya jadi mikir, apa petuah ini ada di banyak folklore mana-mana, atau justru di Indonesia saja? Misalnya kita tengok American Dream yang dipegang orang-orang Amerika. Hidup mah boleh di mana aja, sing penting sukses. Atau Imam Syafei yang lahirnya di mana, berkiprahnya di mana, matinya di mana. Bahkan dalam nada yang sama, ada juga kyai yang berhasil mendidik banyak anak orang lain, tapi anaknya sendiri justru berhasil karena didikan kyai lainnya.
 
Saya tau gimana gak asiknya tiap bangun tidur harus liat muka Nurai apalagi Nofal, tapi saya kangen Darrasah. Bukan kangen lingkungannya yang kotor, atau tuan rumah yang jualan hashishnya makin hari makin laku keras, tapi kangen kehidupan di mana isi kepala saya bekerja pada frekuensi yang menyenangkan.

Rumah, 22 Oktober 2020.


Komentar