Kenapa Lc harus pulang cepet?

Gara-gara sering kondangan, saya baru tau kalau di dunia ini ada beberapa perempuan yang pengen nikahnya pas lagi datang bulan. Katanya biar bisa pake kutek dan gak harus hapus makeup ketika waktu dzuhur atau asar buat jeda salat. Sementara bagi pengantin laki-laki, mereka pengennya nikah ketika istri barunya tidak sedang datang bulan. Kenapa ya? Duh, aku masih polos. Kondangan belakangan ini jadi rutinitas akhir pekan. Sewaktu Salman meminta alasan baik supaya jadi motivasi agar cepat-cepat pulang alatul, jawaban saya adalah di Indonesia banyak kondangan dan itu baik. Karena di acara kondangan kita bisa melihat orang-orang hadir dalam versi terbaiknya. Dari mulai penjaga buku tamu, penjaga prasmanan, staff WO, juru foto, teman-teman pengantin cewek, dan anak dari ibu-ibu teman keluarga yang ketika berpapasan dengan keluarga kami, mereka akan bertanya, “ini teh Aa yang di Mesir tea? Oh kenalin, ini anak Ibu yang bontot. Belum pernah ketemu ya?” Acara nikahan yang notabenenya acara kedu

Berteman dengan orang-orang S3


Pernah suatu waktu ada mahasiswa S3 jadi penghuni rumah Darrasah dan jadilah ia sebagai senior yang paling kami segani. Ya iyalah, anak S3. Mau bercanda aja takut ditampol disertasi. Sampai suatu waktu, seorang anak rumah mendapatinya sedang nonton Youtube dan tontonanya adalah Rumah Uya Kuya. Seketika haibahnya sebagai mahasiswa S3 yang disegani itu runtuh dan kami pun mulai berani bercandain tanpa khawatir ditampol disertasi. 

Atau dulu pernah juga serumah dengan mahasiswa S3 yang beberapa minggu lalu baru resmi jadi doktor. Teman-teman saya yang tahu saya serumah dengan beliau seringkali menanyakan hal yang sama: dia di rumah suka bercanda gak? Saya sendiri cukup canggung dan sungkan untuk bercanda atau ngobrol basa-basi pada waktu itu. Bahkan hanya seperlunya. Tapi sejak tahu ia suka memutar lagu Doel Soembang kenceng-kenceng sambil masak terong balado, dan ia berkaraoke ria tanpa pertimbangan apakah Doel Soembang sedang menangis karena ada yang suaranya jauh lebih sumbang darinya, kami jadi cukup cair untuk ngobrol dan bercanda. 

Hal serupa juga terjadi ketika kami berinteraksi dengan Mas Fardan. Sebagai guru dari segala guru bimbel, kami semua anak-anak satu rumah menghormati Mas Fardan. Bahkan kalau kita ngumpul dan ledek-ledekan soal jomblo dan kisah-kisah ambyar anak rumah, misalnya soal Rai yang baru saja kandas (lagi), atau Faishol yang selalu ditakdirkan bertepuk sebelah madzhab, tak ada satupun yang cukup berani untuk ngeledek Mas Fardan, anak S2 yang teman-teman seusianya sudah punya anak dua. Satu-satunya celah untuk bisa membully Mas Fardan adalah ketika Manchester United kalah tanding. Bahkan saya yang gak ngerti bola pun akan langsung paham kapan waktu pembullyingan itu tiba. 

Jika ada yang bertanya apa salah satu kelebihan kuliah di Mesir, salah satu jawabannya adalah kesempatan kita untuk berbaur dengan orang-orang berilmu jauh lebih besar dibanding jika kuliah di dalam negeri. Bukan mustahil, tapi kalau kuliah di negeri sendiri kayanya hampir mustahil bagi anak S1 ngekos bareng anak S2 atau S3. Sementara di Mesir, atau umumnya di luar negeri, kemungkinan itu terbuka lebar. Keuntungannya tentu saja banyak. Kalau kebetulan punya senior rumah yang baik dan ilmu-oriented, kualitas IQ kamu akan melesat melampaui anak-anak seangkatanmu yang satu rumah kompak seangkatan semua dan mabar-oriented semua. 

Beberapa hari ini saya ngeh betapa nikmatnya punya pengalaman ketemu dengan banyak orang-orang S3 di Mesir. Pertama kali kenalan dengan orang S3 itu dengan Dr. Yuli Yasin, gara-garanya bantuin beliau bikin pamflet dan banner untuk sidang promosi doktornya. Perkenalan singkat itu jadi manjang sampai sekarang. Beberapa kali makan di rumahnya, nginep, bahkan waktu lebaran 2015 dapet baju lebaran dari beliau.

Kalau soal belajar, idola saya Dr. Cecep Taufiqurrahman dan Dr. Iin Suryaningsih. Saya seneng dengan kegigihan mereka dalam belajar, manajemen waktu, menyusun prioritas, bahkan dalam banyak hal saya belajar dari keduanya bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain, bagaimana cara melihat sesuatu secara koheren dan komprehensif, dan banyak hal lainnya. Khususnya Bu Iin, begitu saya memanggilnya, tidak banyak perempuan sepertinya yang sudah berumah tangga dan bisa tuntas studi dengan waktu yang cepat dan efisien. 

Saya bukan orang berdarah bisnis yang ketika melihat suatu masalah sebagai peluang yang bisa jadi duit. Tapi cara pandang itu berubah justru setelah ketemu dengan Jeff Schultz dan Jr. Wright yang keduanya punya Ph.D ekonomi dan administrasi bisnis. Saya ketemu keduanya secara terpisah tapi keduanya punya kesamaan dalam memberi pengaruh. Mereka jadi alasan kenapa saya kursus public relations, belajar marketing communication, belajar reksadana, dan banyak hal.

Ada juga Dr. Nijat Orujov, yang dengannya kami pernah ngopi di Groppi Downtown sampai jam 3 dini hari sampai diusir pelayannya karena kafe harus tutup. Nijat punya gelar doktor di bidang kimia. Disertasinya soal bagaimana cara membuat semen dengan bahan dan proses yang ramah lingkungan. Seandainya saya gak ketemu Dr. Nijat, kayanya gak bakalan saya kepikiran soal semen dan bahan bangunan sampe segitunya. Dari karena pertemuan itulah, saya jadi menyimpulkan bahwa tinggal di luar negeri memang bisa membukakan wawasan di banyak hal, karena kesempatan untuk ketemu orang-orang yang berbeda juga sangat memungkinkan.

Jika dibuat list, ternyata banyak juga orang-orang S3 yang pernah saya temui. Saya catat sampai 14 Duktur. Tidak hanya ketemu dan kenal, tapi juga pernah duduk bareng berjam-jam, ketemu berulang, bahkan masih berbagi kabar sampai sekarang. Kalau hanya sekadar ketemu salaman dan kenalan, mungkin lebih dari itu. 

Di minggu terakhir saya di Mesir, saya dapat topi dari Dr. Ali. Dr. Ali ini semacam Pensosbudnya Kedutaan India di Mesir. Saya kenal beliau sudah lebih dari setahun, berawal dari pameran karya seni di kedutaannya. Lalu singkat cerita, saya jadi kenal keluarganya, nemenin anaknya ngegambar, jadi sering makan di rumahnya, bahkan di awal pandemi lalu, saya tinggal sampai seminggu di rumahnya. Pertemuan dengan Dr. Ali menjadi pertemuan terakhir saya bertemu orang S3 di Mesir. Bahkan ketika pesawat saya sedang menuju Jakarta, sempat-sempatnya saya kepikiran, bakal nemu pengalaman ketemu orang-orang S3 lagi gak ya? 

Beberapa hari lalu saya main ke rumah Bu Iin, ngobrol dari dzuhur sampai isya serasa kuliah 6 SKS. Padahal mah cuma ngobrol studi tokoh (bahasa lain dari ghibah), tapi seru aja kalau ngobrolnya sama orang berilmu mah. Lalu kemarin saya mampir juga ke rumah kyai pondok, Dr. Abun Bunyamin. Ngobrol seriusnya mah bentar, yang lama mah ditanya-tanya "sudah pengen nikah belum?". Dari sekian banyak yang nanya soal itu, hanya pertanyaan dari kyai saya yang bikin deg-deg-ser. Takut dikasih cucunya. gkgkgk...

Di kampungku gak ada orang S3. Sedih deh.

02 November 2020  
 
 

Komentar