Kenapa Lc harus pulang cepet?

Gara-gara sering kondangan, saya baru tau kalau di dunia ini ada beberapa perempuan yang pengen nikahnya pas lagi datang bulan. Katanya biar bisa pake kutek dan gak harus hapus makeup ketika waktu dzuhur atau asar buat jeda salat. Sementara bagi pengantin laki-laki, mereka pengennya nikah ketika istri barunya tidak sedang datang bulan. Kenapa ya? Duh, aku masih polos.

Kondangan belakangan ini jadi rutinitas akhir pekan. Sewaktu Salman meminta alasan baik supaya jadi motivasi agar cepat-cepat pulang alatul, jawaban saya adalah di Indonesia banyak kondangan dan itu baik. Karena di acara kondangan kita bisa melihat orang-orang hadir dalam versi terbaiknya. Dari mulai penjaga buku tamu, penjaga prasmanan, staff WO, juru foto, teman-teman pengantin cewek, dan anak dari ibu-ibu teman keluarga yang ketika berpapasan dengan keluarga kami, mereka akan bertanya, “ini teh Aa yang di Mesir tea? Oh kenalin, ini anak Ibu yang bontot. Belum pernah ketemu ya?”


Acara nikahan yang notabenenya acara kedua mempelai, nyatanya lebih sebagai momen silaturahmi keluarga dan reunian teman-temannya orang tua pengantin. Teman pengantinnya mah dikit, paling temen kuliah/sekolah, sama temen kerja. Itupun kalo pengantinnya bukan pengangguran. Sisanya tentu saja temen-temen orang tuanya. Makanya, semakin berpengaruh orang tua pengantin, semakin besar kemungkinan bagi pengantin untuk dapat isi amplop yang besar. Lumayan loh bisa nutup biaya catering.


Lalu apa manfaatnya kondangan bagi Lc yang pulang cepet?


Jadi gini. Di acara nikahan inilah saya ketemu banyak “user” yang melakukan rekrutmen. Ada yang mengarah ke rekrutmen calon mantu, ada juga yang mengarah ke rekrutmen kerja. Soal rekrutmen calon mantu tidak akan saya bahas, karena itu yang kalian inginkan. Tapi soal rekrutmen kerja bagi Lc yang masih nganggur, itu yang kalian butuhkan. Misalnya ketemu temen orang tua yang nawarin ngajar di sekolah/pondok/yayasan, termasuk minta ngisi pengajian malam minggu dan acara maulid nabi. Tawaran ngajar memang paling sering, seolah-olah di jidat kita memang sudah terpahat titik hitam bertuliskan “ganteng-ganteng guru ngaji.”


Untuk yayasan baru lah, sekolah kekurangan guru lah, termasuk pesantren yang sebenarnya udah cukup guru tapi butuh yang ada Lc-nya demi kepentingan marketing. Asyem.


Ketemu juga guru waktu sekolah yang ternyata sekarang mengelola lembaga zakat, kenalan sama bapak dinas pemuda dan olah raga, ketemu pak camat yang bilang “jangan jadi Camat! Jadi diplomat aja!”, ada juga Kapolsek yang nawarin jadi penyuluh di penjara, dan lain-lain. Padahal, saya modal diem doang di situ. Manggut-manggut doang. Orang-orang itu gak tau kelakuan Lc ini kaya apa aslinya. Hanya karena ada pengalaman rebahan di Mesir, ternyata begitu di-masya-allah-in segitunya banget. 


Dan dari semua tawaran itu, sampai tulisan ini diposting saya masih pengangguran. Tepuk tangan.


Kesimpulan sementara saya, buat Salman dan teman-temannya yang bingung ketika tashfiyah dua maddah harus dilulusin apa rosibin, mendingan lulusin dan pulang aja. Untuk sementara waktu, hidup di Indo memang menyebalkan. Apalagi jika gebetanmu adalah adik tingkat dan ia masih beberapa tahun lagi di Kairo, pasti kangen gak karuan. Untung udah diputusin dulu (*eh gimana?) Tapi semenyebalkan apapun, kita semua akan mengalami fase menyebalkan ini. Terlalu sukses di Kairo tidak berarti akan auto sukses di Indonesia. Ada yang hidup di Kairo merasa lebih mujur dengan bisnis bagasinya, jualan totebagnya, usaha rumah makannya, tapi ketika pulang ke Indo, kita kembali memulainya dari nol. Memang tidak nol banget sih, mulai dari angka satu atau dua lah. Dari mulai membangun pertemanan, jaringan, pekerjaan, keuangan, dan lain-lain. Dengan pulang cepat dan tidak melakukan alasan “nambah setahun ah, bingung kalo pulang ngapain,” atau “lanjut S2 Azhar aja karena pulang juga gak tau mau apa,” setidaknya kita akan memulai titik nol kita lebih cepat dari yang lain. 


Saya ngerasa termasuk yang terlambat pulang. Meskipun keterlambatan itu tidak ada ruginya juga, tapi saya nemu satu nasihat yang cukup nampol: misal tiga bulannya kamu di Mesir meski disebut dalam rangka mencari ilmu, belum tentu lebih bermanfaat dari tiga bulannya kamu di Indonesia dan bantuin anak tetangga ngajarin Iqro 1 sampai lancar. 


Ya bener juga sih. Seminggu yang kuhabiskan dengan Nurai di Kairo cuma menghasilkan wawasan drakor dan info ada mat’am baru di Darosah. Tidak seperti seminggu yang kuhabiskan dengan anak tetangga. Apalagi kalau anak tetangganya baru lulus SMA. Duh~ 

Komentar