Catatan awal Juni

Hai, Blog! Lama sekali rasanya tak bersua dengan blog ini. Akhir-akhir ini hampir selalu dalam kondisi ingin menulis tapi tak tahu apa yang harus ditulis. Padahal jika saja ada sedikit kemauan, ada banyak hal yang bisa diabadikan dalam kapsul-kapsul kalimat. Misalnya soal bibit anggrek yang membusuk di minggu kedua karena buruknya pengetahuan soal menanam anggrek, soal kolam ikan yang setelah dikuras dan dibersihkan malah menjadi genangan air dan sarang nyamuk, atau hal-hal lainnya. Minggu lalu, Bang Juhri dan keluarganya datang berkunjung ke rumah. Silaturahim, makan bersama, dan berbagi cerita dengan bapak saya. Intinya kenalan dan nyari yang ijo-ijo, katanya. Bang Juhri adalah salah satu kenalan waktu kerja di Makkah. Lebih tepatnya sesama petugas tapi jabatannya lebih tinggi. Alhamdulillah-nya komunikasi kami berjalan baik dan silaturahim tetap terjaga. Waktu ke mari, ia nanya, enakan hidup di kota atau di sini (kampung)? Saya bilang, enaknya hidup di kampung adalah bisa tetap hidu

Bertemu Pertemanan Baru


Sebulan terakhir ini saya punya teman baru namanya Ilham. Kita seumuran, tapi punya banyak perbedaan yang nampaknya gak mungkin kita bakal sefrekuensi. Ia punya banyak kebalikan dari saya. Ia soleh, imam masjid, al-hafidz, dan tidak tahu apa itu Victoria Secret. Satu-satunya kesamaan yang mengikat kita berdua hanyalah satu: Enzy Storia.

Enzy Storia tidak hanya sebagai sosok bintang televisi, tapi juga sebagai pengikat perbedaan di antara saya dan Ilham. Jika saya dan Ilham buka Youtube di waktu bersamaan, jelas terlihat bahwa histori pencarian kita berbeda, kanal langganan kita berbeda, tapi Tonight Show muncul sebagai satu-satunya frekuensi yang membuat kita jadi temenan. Bintang tamunya gak penting siapa, yang penting ada Enzy Storia. Sesimpel itu.

Melakukan proses pertemanan baru harus diakui bukan hal yang mudah. Bikin kenalan sih gampang, tapi bikin temen? Wuihh, makin tua makin selektif bos! Bahkan meski terikat oleh satu tempat kerja atau tempat tinggal pun belum tentu membuat kita benar-benar klik untuk jadi teman. Makanya gak heran ada orang yang makin berumur tapi temannya itu-itu aja. Bahkan ada yang udah beranak pinak, tapi tetep urusan curhat dan minjem duit mah sama temen yang ia temukan sejak waktu dulu mondok di pesantren. 

Satu teori mengatakan kalau pertemanan orang ngerokok biasanya lebih mudah terjalin dibanding mereka yang gak ngerokok. Mungkin karena banyak momen "ngadu bako" bersama, alias duduk bareng ngawangkong dan ngerokok bersama, jadinya momen itu bisa jadi benih-benih chemistry pertemanan.  Dari mencari kesamaan jenis rokok, merk, sampai obrolan politis kenapa 212 Mart tidak menjual rokok, bisa jadi kesamaan dalam memulai pertemanan baru. Tapi jika saya tidak merokok dan orang baru yang ingin saya jadikan teman juga tidak merokok, pendekatannya agak susah-susah gampang. Seperti yang terjadi antara saya dengan Ilham. Premisnya adalah gimana caranya agar saya bisa temenan dengan Ilham tapi saya bukan al-hafidz dan bukan ahli masjid? Saya tidak mungkin bahas rokok karena tidak ada rokok di antara kita. Atau karena ia orang soleh, tidak mungkin juga saya membuka pertemanan dengan pertanyaan “bagaimana kabar imanmu hari ini?”. Saya mau masuk lewat topik konflik Suriah tapi gak mungkin juga. Ya iyalah wong saya sendiri gak ngerti konflik Suriah kaya gimana, ngapain bahas yang saya sendiri gak ngerti. Mau mulai dengan pertanyaan soal pernikahan atau permantanan tapi khawatir itu jadi isu sensitif atau bahkan traumatis bagi lawan bicara, sampai akhirnya gak sengaja kita saling memergoki sedang nonton Enzy Storia. Duh, untung kepergoknya bukan pas Gisel. *loh

Selain Ilham, ada juga teman lain namanya Imad. Gak temenan banget banget banget sih, cuma tau aja bahwa orang itu namanya Imad. Agak selengean, pekerja keras, dan tidak suka mengeluh. Suatu hari saya dibonceng Imad keliling kompleks. Di sepanjang jalan kami berkelakar soal kriteria perempuan cantik. Lalu tiba-tiba kami lihat ada penjaga warung es kopi di pinggir jalan, lalu saya bilang, "cantik tuh tukang kopi!". Dan tiba-tiba Imad menepikan motornya tepat di depan pedagang itu, persis seperti pengendara drive thru mau order. "Sok bilang langsung! Tadi katanya cantik!" kata Imad. Saya malu dong, ya kan, lalu kami melanjutkan perjalanan. Itulah salah satu kekampretan Imad yang membuat kekampretanku makin terasah. Sekilas kelakuannya itu mengingatkan saya pada Ocad yang hidupnya penuh misteri. (Saya pernah menulis tentang Ocad di sini)

Biar kita jadi temen beneran, saya dan Ilham memutuskan untuk nge-gym bareng. Dan tentu saja kami menemukan banyak perbedaan lagi di tempat gym. Dia punya resolusi ingin kurus, saya sebaliknya. Dia memulai latihan dengan treadmill, justru saya menjadikannya terakhir. Pokoknya gitulah. 

Sejak gak hidup di Mesir lagi, saya ngerasa jadi anak Maba di Indonesia. Semuanya seperti memulai dari nol lagi, termasuk salah satunya pertemanan. Selamat Tahun Baru ;)

31 Desember 2020.  


Baca juga:

- Cintaku Beda Ormas

Nasehat untuk Maba dari Kakak yang Udah Dua Kali Rosib

Guru Bimbel, membantu najah atau mempercepat nikah?

Jika Masisir menikah dengan non-masisir

Seni menangani jamaah haji nyasar

Kenapa Masisir suka pencitraan?

Surat cinta untuk Adek yang gak lolos seleksi ke Mesir

Komentar