Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Berkunjung ke Rumah Adhi

Adhi punya obsesi supaya anaknya kelak jadi seorang poligot. Bisa bahasa Sunda, Indonesia, Arab, Inggris, Rusia, Perancis, Mandarin, Ibrani, Rumenia, bahkan mungkin bahasa pedalaman bangsa Mongol. Tujuannya ya tentu saja supaya anaknya jago main OmeTV. Sebenarnya Adhi ingin main OmeTV, tapi kemampuan berbahasa Arab tidak banyak dipakai di platform itu. Sebaliknya, Adhi punya kakak laki-laki yang jago bahasa Rusia, bahasa yang berseliweran dipakai para pengguna platform itu, tapi ia tidak mengoptimalkan kemahirannya itu untuk OmeTV.

Perkara OmeTV ini jadi guyonan di hari Minggu lalu ketika saya bersilaturahmi ke rumahnya Adhi di Subang. Adhi adalah salah satu teman satu angkatan di Mesir yang seringkali kita punya momen barengan. Berangkat ke Mesir bareng, berangkat ke Mekah bareng, dorong jamaah haji bareng, rosib bareng, cuma lulus kuliah dan kawin aja yang gak bareng. Ketika sampai ke rumahnya, kami makan bakso bareng. Sayangnya saya datang bukan di musim rambutan atau di musim ketika kebun hidorponiknya siap panen, jadinya kurang greget silaturahminya. 

Sambil ngobrol ngaler-ngidul soal susahnya nyari kerja di masa sekarang, Adhi menunjukkan petakan tanah kosong yang kelak ingin ia bangun sekolah di atasnya. Tanahnya lumayan luas untuk satu blok bangunan sekolah. Dengan penataan yang baik pasti lokasi itu akan menarik dan punya daya jual yang bagus sebagai lembaga pendidikan. Apalagi jika dipimpin oleh seorang alumni Azhar yang waktu di Mekah jadwal dorongnya paling padat dibanding yang lain. Adhi adalah gambaran Temus Masisir termabrur di angkatanku. Beres haji punya hape paling bagus, pulang langsung nikah, langsung renovasi rumah, punya motor bagus, beli tanah buat investasi meski baru bayar DP-nya, bangun peternakan kelinci dan kebun hidoponik, dan satu kampung manggil dia Aa Haji yang di jadwal pos ronda, nama ia paling gagah dengan segala gelarnya. Bahkan ketika ia menunjukkan tanah kosong di belakang rumahnya, "rencananya ke depan di sini pengen dibangun villa. Tanah yang itu buat peternakan kambing yang rapi dan bagus." Kurang mabrur apalagi coba?

Saya menemukan kesenangan ketika berkunjung atau bertemu seorang teman yang menceritakan rencana-rencana besarnya, juga intensinya yang berhasrat untuk menjadi orang pertama di keluarganya. Orang pertama yang jadi milyader, misalnya. Atau orang pertama yang jadi kyai, orang pertama yang jadi pejabat, atau yang jadi apapun yang orang tuanya belum lakukan. Lain cerita dengan teman-teman yang lahirnya sudah dalam kondisi ter-privilage. Orang tuanya sudah punya pesantren jadi ia hanya tinggal meneruskan, atau mengembangkan. Orang tuanya punya pabrik, orang tuanya punya jabatan bagus, cerita mimpi-mimpi anaknya biasanya terdengar tidak begitu menarik untuk disimak, setidaknya bagi saya. Kalau banyolan saya dengan Adhi kemarin mah, orang-orang yang lahir dari keluarga sederhana dan punya mimpi pasti menjalani hidupnya lebih serius dan lebih berjuang dibanding orang-orang yang sudah di zona nyaman sejak lahir. Berapa banyak anak kyai dan konglomerat yang sekolah di Mesir yang hidupnya nyantai-nyantai? Hahahaha ...

Sepulang dari rumah Adhi, saya punya kelinci baru yang sampai sekarang belum punya nama. Saya menyesal cuma minta satu ekor, jadinya kelinci itu nampak kesepian di kandang barunya. Mungkin saya harus main lagi ke rumah Adhi untuk minta kelinci lainnya. Hari-hari ini saya dan keponakan sedang bereksperimen kira-kira makanan apa yang paling disenangi si kelinci. Dari aneka rumput sampai cangkang pisang. Alhamdulillah sejauh ini ia nampak banyak makan, meskipun seringkali diganggu si Chiku, kucing penghuni rumah kami yang sedang ngebet kawin. Kelinci ini jenisnya betina, jadi mungkin itulah alasan kenapa Chiku sering datang ngegodain.

Terima kasih, Adhi, sudah menerima kunjungan saya. Semoga pas musim rambutan nanti, saya bisa berkunjung lagi.

Selasa, 15 Juni 2021. 

  

      

Komentar