Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Catatan awal Juni

Hai, Blog!

Lama sekali rasanya tak bersua dengan blog ini. Akhir-akhir ini hampir selalu dalam kondisi ingin menulis tapi tak tahu apa yang harus ditulis. Padahal jika saja ada sedikit kemauan, ada banyak hal yang bisa diabadikan dalam kapsul-kapsul kalimat. Misalnya soal bibit anggrek yang membusuk di minggu kedua karena buruknya pengetahuan soal menanam anggrek, soal kolam ikan yang setelah dikuras dan dibersihkan malah menjadi genangan air dan sarang nyamuk, atau hal-hal lainnya.

Minggu lalu, Bang Juhri dan keluarganya datang berkunjung ke rumah. Silaturahim, makan bersama, dan berbagi cerita dengan bapak saya. Intinya kenalan dan nyari yang ijo-ijo, katanya. Bang Juhri adalah salah satu kenalan waktu kerja di Makkah. Lebih tepatnya sesama petugas tapi jabatannya lebih tinggi. Alhamdulillah-nya komunikasi kami berjalan baik dan silaturahim tetap terjaga. Waktu ke mari, ia nanya, enakan hidup di kota atau di sini (kampung)? Saya bilang, enaknya hidup di kampung adalah bisa tetap hidup kenyang tanpa perlu ngeluarin duit. Tapi sedihnya, saya gak punya teman di kampung. Sekolah SD sampai kuliah jauh dari kampung membuat saya ngerasa teralienasi di kampung sendiri.

Kalau dipikir-pikir, inilah waktu terlama saya tinggal di rumah. Dulu waktu SD, saya tidak tinggal dengan orang tua kecuali di akhir-akhir, lalu langsung masuk pondok sampai tamat SMA. Selama-lamanya liburan pondok paling hanya 2-3 minggu. Lalu pindah ke Bandung, ke Kairo, ke Bekasi. Pulang ke rumah benar-benar hanya seperlunya. Sementara sekarang saya sudah hitungan bulan tinggal di rumah, dari halaman depan berisi rumput liar sampai terisi beberapa pot tanaman baru bahkan muncul tunas baru. 

Ada kalanya kangen ingin kembali hidup di tempat sibuk yang mobilitasnya tinggi. Tapi kangen itu masih sesaat dan selalu kembali teralihkan betapa nikmatnya menikmati mode slow living di perkampungan. Di pagi manapun, tak perlu akhir pekan, bisa lari pagi ke daerah pegunungan menikmati matahari pertama kali muncul, menikmati kabut di antara pepohonan berembun, menyaksikan petani berangkat ke sawah, menyaksikan tanaman yang ditanam sendiri tumbuh mekar, membaca tumpukan buku yang belum pernah terbaca, menikmati sore hari bercengkrama dengan tukang bakso atau siomay yang hampir pasti selalu lewat depan rumah, dan seterusnya. Sesekali pergi ke kebun yang beberapa tahun ini tidak terurus. Rumputnya sudah sangat tinggi dan terlalu menyeramkan untuk diterobos. Saking lama tak terurusnya, kata tetangga harus hati-hati sama keberadaan ular bahkan babi hutan. Kadang saya berpikir tanah ini akan diapakan nantinya. Apakah bikin perkebunan, atau villa, atau tempat wisata? Tak tahu.

Satu hal yang saya sadari entah sejak kapan adalah bahwa kehidupan saya hari demi hari terasa tak ingin banyak memikirkan beban. Misalnya dalam urusan berdoa, dulu kalau doa minta A pasti keukeuh minta A. Tapi kalau sekarang, gaya doa saya selalu "saya pengen A, tapi gak tau nih menurut Allah A ini terbaik gak ya? Gak apa-apa kalau nanti dapetnya B atau C, karena pasti itu yang menurut Allah lebih baik dari A." Mungkin karena tidak ingin kecewa sama ekspektasi sendiri kali ya, jadi dalam banyak hal sekarang ini selalu mengondisikan ekspektasi. 

Termasuk dalam hal asmara? Bisa jadi. Ada masa kita sangat selektif memilih siapa, tapi belakangan ini lebih sering selektif dalam menentukan jawaban, pentingkah melibatkan perasaan sekarang ini?

Minggu ini saya sedang ngerjain proyek Balai Bahasa dan Dinas Pariwisata yang sedang melakukan penelitian persebaran bahasa daerah di tempat wisata. Misalnya para penutur bahasa non-sunda di daerah berbahasa Sunda. Proyek ini cukup menyenangkan dan nampaknya akan tetap menyenangkan sampai proyek ini berakhir di pertengahan bulan ini. 

6 Juni 2021.    

Komentar