Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَحَبَّةَ أَعْلَى مَقَامَاتِ الْعِبَادَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita, memberi kita hidup, memberi kita iman, dan memberi kita kesempatan untuk mendekat kepada-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta kepada kita semua yang berusaha mengikuti jejak langkah beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam perjalanan kita sebagai seorang hamba menuju Allah, seringkali kita terjebak dalam dua cara berpikir yang berbeda dalam beribadah.
Ada orang yang beribadah seperti seorang pekerja. Ia menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan semata-mata karena takut hukuman. Ia salat karena takut dosa. Ia berpuasa karena takut dimurkai Tuhan. Hubungannya dengan ibadah seperti hubungan seorang pekerja dengan majikannya: bekerja karena takut upah dipotong atau takut mendapat sanksi.
Namun dalam tradisi para ulama dan ahli tasawuf, ada tingkatan yang lebih indah dari itu. Yaitu tingkatan seorang kekasih.
Pada tingkatan ini, seseorang beribadah bukan hanya karena takut, tetapi karena cinta. Ia tidak hanya menjalankan yang wajib dan menjauhi yang haram, tetapi ia juga mencari-cari kesempatan untuk melakukan lebih banyak kebaikan. Ia memperbanyak amalan sunnah, sedekah, dzikir, dan doa, bukan karena diwajibkan, tetapi karena ingin mempersembahkan sesuatu yang indah kepada Tuhan yang ia cintai. Seorang yang mencintai tidak pernah merasa cukup dengan yang minimal. Ia selalu ingin memberikan yang terbaik.
Karena itu para ulama pernah mengatakan:
Seseorang yang hanya takut azab Tuhan akan berhenti pada kewajiban dan larangan. Tetapi seseorang yang mengharapkan cinta dan rida Tuhan akan memperbanyak amalan-amalan sunnah dan kebaikan yang tidak diwajibkan.
Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidak ada cara seorang hamba mendekat kepada-Ku yang lebih Aku cintai selain dengan menjalankan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
Perhatikan urutan yang sangat indah dalam hadis ini. Pertama: menjalankan kewajiban. Kedua: menambah dengan amalan sunnah. Ketiga: lahirlah cinta Allah kepada hamba tersebut.
Ini menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam bukan hanya soal kewajiban, tetapi juga soal kedekatan dan cinta. Urutan ini juga selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 31:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah (Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.”
Ayat ini memberikan satu prinsip yang sangat dalam, bahwa cinta kepada Allah tidak cukup hanya dengan perasaan. Cinta harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah Nabi, menjalankan ajaran beliau, dan meneladani akhlak beliau.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa orang yang beribadah hanya karena takut neraka itu seperti seorang budak yang bekerja karena takut dipukul. Sedangkan orang yang beribadah karena cinta kepada Allah itu seperti seorang yang merdeka, yang melayani dengan penuh rasa syukur, hormat, dan kekaguman.
Artinya, kualitas ibadah seseorang tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak amalnya, tetapi juga oleh apa yang ada di dalam hatinya. Kalau hati kita dipenuhi rasa takut semata, ibadah terasa berat. Namun jika hati kita dipenuhi rasa cinta, ibadah justru terasa indah.
Untuk memahaminya, bayangkan hubungan antara anak dan orang tuanya. Orang tua biasanya memberikan aturan kepada anaknya. Mereka meminta anaknya merapikan tempat tidur, makan dengan teratur, dan bersikap baik kepada orang lain. Kadang seorang anak melakukan semua itu karena takut dimarahi. Tetapi ada juga saat-saat ketika seorang anak melakukan sesuatu bukan karena diperintah. Ia membuatkan ibunya segelas teh. Ia memijat pundak ayahnya yang lelah. Ia membantu pekerjaan rumah tanpa diminta. Itulah bentuk perhatian dan cinta.
Orang tua tidak pernah mewajibkan itu. Mereka juga tidak akan menghukum jika anak tidak melakukannya. Tetapi ketika anak melakukannya dengan tulus, hati orang tua tentu merasa bahagia. Seringkali justru dari hal-hal kecil seperti itu, orang tua memberikan hadiah yang tidak pernah dibayangkan oleh anaknya.
Begitu pula hubungan kita dengan Allah. Salat lima waktu adalah kewajiban. Puasa Ramadan adalah kewajiban. Zakat adalah kewajiban. Tetapi salat malam, sedekah tambahan, membaca Al-Qur’an, memudahkan urusan orang lain, memperbanyak zikir, semua itu adalah cara seorang hamba menunjukkan cintanya kepada Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mengubah cara pandang ibadah dari sekadar kewajiban menjadi ungkapan cinta memang tidak mudah. Sebab kita hidup di dunia yang serba transaksional. Kita terbiasa dengan logika untung-rugi: ada harga, ada imbalan, ada sebab, ada akibat. Karena itu terkadang kita tanpa sadar berpikir bahwa nikmat yang kita terima adalah “upah” dari amal yang kita lakukan. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kita bisa bernapas setiap hari bukan semata-mata karena kita rajin salat. Kita bisa memiliki kesehatan, pekerjaan, dan keluarga bukan semata-mata karena amal kita. Semua itu pada hakikatnya adalah rahmat dan kasih sayang Allah yang begitu luas. Ibadah kita bukanlah alat untuk membeli kebaikan Tuhan. Ibadah kita adalah cara kita berterima kasih kepada-Nya. Karena itu para ulama mengajarkan kepada kita adab yang sangat tinggi dalam berhubungan dengan Allah.
Ibnu Athaillah Al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam berkata:
مَا أَرادَتْ هِمَّتُكَ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ مَا كُشِفَ لَها إِلَّا وَنادَتْها هَواتِفُ الحَقِيْقَةِ: الَّذي تَطْلُبُهُ أَمامَكَ
"Jangan sampai kamu merasa puas hanya karena mendapatkan keajaiban atau ketenangan saat beribadah. Ingatlah, yang seharusnya kamu cari bukanlah keajaiban itu, melainkan Allah sendiri. Jangan sampai kamu malah sibuk mengagumi 'hadiah-Nya' dan melupakan 'Pemberinya'."
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Semoga kita semua diberikan kelembutan hati agar bisa melihat Allah bukan hanya sebagai Tuhan yang Maha Mengatur, Menghukum, atau Mengadili, tapi juga sebagai Al-Waduud, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim, Tuhan Yang penuh cinta dan kasih sayang, sehingga ibadah yang selama ini kita jalani bukan hanya karena memenuhi kewajiban, tapi juga sebagai bentuk ungkapan cinta kita kepada Allah Swt.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ
وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Jamaah Jumat rahimakumullah
Di penghujung bulan Ramadan ini, mari kita bertafakur dan membawa pulang satu refleksi penting, apakah salat, puasa, dan zakat kita selama ini hanyalah "setoran" rutin agar kita selamat dari ancaman Allah, ataukah itu adalah "surat cinta" kita untuk Allah?
Jika ibadah hanya kita jalankan sebagai kewajiban yang dingin dan mekanis, mungkin ia hanya menyelamatkan kita dari dosa. Tetapi jika ibadah itu lahir dari kerinduan kepada-Nya, dari hati yang ingin dekat dengan-Nya, maka ia akan mengangkat kita ke derajat yang lebih tinggi, derajat seorang hamba yang dicintai oleh Tuhannya.
Maka sebelum Ramadan benar-benar pergi meninggalkan kita, marilah kita menengadahkan hati kita kepada Allah, memohon bukan hanya ampunan-Nya, tetapi juga agar Allah menanamkan dalam hati kita rasa cinta kepada-Nya, cinta yang membuat ibadah terasa ringan, cinta yang membuat kita selalu rindu kembali kepada-Nya dalam setiap aktivitas yang kita jalani.
اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا
Ya Allah, cintakanlah kami kepada iman dan jadikankanlah ia tampak indah di dalam hati kami.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ
Ya Allah, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta pada amal yang mendekatkan kami pada cinta-Mu.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Komentar
Posting Komentar