Terima kasih, Washington, D.C.
Langkah kaki ke Washington, D.C. tidak pernah diawali oleh peta yang terencana rapi. Rangkaian peristiwa bergulir begitu saja, tanpa saya sadari bahwa hal-hal kecil itu diam-diam menggumpal menjadi satu bola pengalaman yang besar. Dulu, setiap hari di DC tampak biasa. Namun saat menengok ke belakang hari ini, barulah terasa bagaimana deretan peristiwa itu telah melempar saya ke suatu tempat, yang tak pernah ada dalam peta bayangan saya.
Saya masih ingat bagaimana sebuah notifikasi undangan wawancara dari KBRI DC menyala di layar ponsel, memunculkan kebingungan dan kegembiraan yang bercampur aduk. Notifikasi itu hadir di saat saya tidak lagi bermimpi untuk berkelana jauh dari kampung halaman. Notifikasi itu tidak hanya kembali membangunkan mimpi lama, namun juga mendesakkan kemungkinan baru.
Dari cecaran pertanyaan wawancara kerja, pengumuman diterima, proses mengurus paspor dan visa, sampai gemuruh mesin pesawat meninggalkan tanah Jakarta, pikiran saya masih tertinggal di belakang: bagaimana mungkin, bermodal pengalaman meneguk air Nil dan selembar ijazah bahasa Arab, saya bisa berkelana menuju jantung ibu kota Amerika?
Sejak pesawat itu mendarat, pertanyaan itu perlahan menemukan jawabannya. Saya mulai menyadari bahwa bekerja di lorong-lorong diplomatik ini adalah sebuah privilege yang dititipkan. Bukan privilege dalam pengertian sebuah kemewahan yang membuat seseorang berdiri lebih tinggi dari orang lain, melainkan sebuah kesempatan untuk berdiri cukup dekat dengan sesuatu yang selama ini hanya saya kenal dari berita, buku, dan layar digital.
Di tempat ini, kata “diplomasi” tidak lagi terdengar seperti istilah yang jauh dan abstrak. Ia punya suara. Ia punya wajah. Ia punya meja, ruang rapat, tumpukan dokumen, percakapan yang berlangsung hingga larut, dan orang-orang yang datang dengan kepentingan yang berbeda tetapi duduk di ruangan yang sama.
Saya punya privilege untuk menyaksikan bagaimana sebuah hubungan antarnegara dibangun dari hal-hal yang kadang tampak begitu kecil. Dari sebuah pertemuan yang berlangsung tidak lebih dari beberapa puluh menit. Dari selembar kertas yang berpindah dari satu meja ke meja lain. Dari kalimat yang harus dipilih dengan hati-hati karena satu kata dapat mengubah makna seluruh pernyataan. Dari seseorang yang masih memeriksa naskah beberapa menit sebelum sebuah acara dimulai. Dari percakapan singkat di lorong setelah sebuah rapat, ketika dua orang berhenti sejenak untuk membicarakan sesuatu yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam notulensi.
Saya punya privilege untuk menyaksikan bagaimana sebuah pernyataan publik yang pada akhirnya hanya terdiri dari dua atau tiga kalimat, ternyata lahir dari perdebatan berjam-jam. Kalimat yang tampaknya sederhana adalah hasil dibaca berulang-ulang, dipertukarkan, dikoreksi, dipertanyakan kembali, lalu ditimbang dari berbagai sudut. Sebuah kata dipertahankan karena dianggap penting. Kata lain dihapus karena dianggap terlalu ambigu, atau tajam membahayakan. Sebuah frasa diganti agar tidak menimbulkan tafsir yang berbeda. Pada akhirnya, publik mungkin hanya membaca beberapa baris di layar. Tidak banyak yang tahu berapa banyak percakapan yang telah berlangsung sebelum kalimat-kalimat itu akhirnya menemukan bentuknya.
Pertemuan yang tampak singkat di meja pertemuan sering kali memiliki ekor yang panjang di belakangnya. Ketika para pejabat memasuki ruangan dan kamera mulai merekam, sebagian besar pekerjaan sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelumnya. Ada telepon yang dilakukan, jadwal yang disusun ulang, draft bemail yang direvisi, bahan yang dibaca, posisi yang dipertimbangkan, kemungkinan yang dihitung, dan ada orang-orang yang bekerja di belakang publikasi agar ketika pintu ruang pertemuan akhirnya dibuka, semuanya terlihat seolah-olah berjalan dengan sendirinya.
Saya belajar bukan hanya dari wajah yang hadir dalam foto, jabat tangan, bendera yang berdiri berdampingan, dan pernyataan resmi, tetapi juga dari wajah yang diam-diam membukakan pintu ruangan, menyiapkan monitor rapat, memasang kamera, menyiapkan teh panas, dan hal-hal lain yang sering kali tidak meninggalkan jejak.
Saya beruntung punya privilege untuk belajar langsung dari orang-orang di KBRI DC. Orang-orang yang mungkin tidak akan saya temui dalam perjalanan hidup saya jika saya mengambil jalan yang berbeda. Dari mereka saya belajar bahwa kompetensi tidak selalu hadir dalam bentuk suara yang paling keras di ruangan. Kadang ia terlihat dari seseorang yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Dari seseorang yang membaca satu dokumen berkali-kali sebelum menandatanganinya. Dari seseorang yang tetap tenang ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Dari seseorang yang memilih menyelesaikan pekerjaan tanpa merasa perlu menjelaskan kepada siapa pun bahwa ia telah melakukannya.
Mungkin itulah sebabnya saya menyebut pengalaman ini sebagai sebuah privilege.
Privilege terbesar bukanlah kesempatan untuk melihat dunia diplomasi dari jarak sedekat ini. Privilege terbesar justru berupa kesempatan untuk melihat manusia di balik pekerjaan itu. Melihat keraguan sebelum sebuah keputusan diambil. Melihat ketegangan sebelum sebuah pertemuan dimulai. Melihat kelegaan setelah sebuah persoalan menemukan jalan keluar. Melihat bagaimana orang-orang yang membawa nama negaranya tetap pulang ke rumah sebagai manusia biasa, dengan lelah yang sama, dengan cerita keluarga yang sama, dengan secangkir kopi yang mungkin mereka butuhkan setelah hari yang panjang.
Selama tiga tahun setengah menghirup udara Washington, D.C., ada banyak pertukaran yang terjadi dalam hidup saya. Wawasan baru, cara pandang, selera musik, rekomendasi buku, hingga resep makanan berpindah tangan. Perjalanan memang selalu bekerja dengan cara yang ajaib. Kita berangkat membawa diri sendiri, lalu pulang membawa bagian dari orang-orang yang ditemui. Ibn Battuta pernah menulis sebuah refleksi sederhana:
“Come, and we will walk strange shores and make them familiar. And on returning find our familiar shores strange.”
Gedung-gedung jangkung nan metropolis, stasiun Metro, gigitan angin musim dingin, dan guguran daun musim gugur di Washington yang dulu asing, perlahan bergeser menjadi akrab. Tempat-tempat yang semula hanya berupa titik pada aplikasi peta berubah menyimpan kenangan yang, mungkin, akan menagih dikunjungi. Nama-nama yang awalnya asing dan bukan siapa-siapa, ternyata pada akhirnya menjadi karib yang memperkaya saya sebagai manusia.
Washington, D.C. mungkin akan kembali menjadi deretan koordinat di peta. Ruang kerja saya akan ditempati orang lain. Kursi kerja saya akan menjadi bagian dari rutinitas orang lain. Percakapan akan berganti, pekerjaan akan terus berjalan. Namun, ingatan tentang orang-orang di KBRI Washington, D.C. tidak akan menguap. Suatu hari nanti, ketika takdir membawa masing-masing pihak ke kota, jabatan, atau alur hidup yang berbeda, satu hal akan tetap mengikat: kita pernah berbagi ruang, berbagi tawa, memikul beban pekerjaan bersama, dan saling melengkapi. Saya meninggalkan DC dengan lebih banyak hal daripada yang saya bawa ketika datang.
Terima kasih, Washington, D.C.
Terima kasih, keluarga besar KBRI Washington, D.C.
Perjalanan tidak pernah benar-benar membuat kita kehilangan rumah. Kadang-kadang, ia justru hadir untuk menunjukkan, betapa banyaknya tempat di dunia ini yang ternyata pernah kita sebut rumah.
Juli, 2026.



Komentar
Posting Komentar