Seni Menyampaikan Substansi dalam Tulisan

Tesis: Meletakkan Ide ke dalam Kalimat Bagian terpenting dari sebuah argumen adalah substansinya, inti dari argumen, gagasan utama yang hendak dikomunikasikan, atau poin utama yang hendak dibuktikan. Hal ini seringkali disebut juga dengan sebutan Tesis: sebuah pernyataan argumentatif yang disajikan dalam satu kalimat deklaratif. Langkah pertama dalam membuat tulisan persuasif adalah dengan menuliskan satu kalimat utama yang menjadi ruh utama dalam argumen yang dibuat. Sebagai contoh, kalimat tesis yang bisa dibuat adalah: Pendidikan Lingkungan Hidup adalah Pelajaran Ideal untuk Mengenalkan Alam ke Siswa Didik Setelah punya pernyataan yang jelas dan substansial, tulisan argumen pun siap dibangun untuk memperkuat gagasan tersebut. Mode-Mode Penyampaian Sejak zaman Aristoteles, para retorikawan telah mengidentifikasi tiga mode utama penyampaian yang dapat kita gunakan untuk meyakinkan audiens. Aristoteles menyebutnya dengan istilah "bukti seni," karena mode-mode ini membutuhkan

Resensi Buku Pendidikan Karakter

Judul Buku : Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi

Penulis         : Heri Gunawan, S.Pd.I., M.Ag.

Penerbit     : CV. Alfabeta Bandung

ISBN : 978-602-9328-51-6 Tebal: pdk87 (xiv+330) 16x24 cm

Tahun Terbit : 2012


Wacana pendidikan karakter dalam ranah dunia kependidikan kita bukan lagi menjadi hal yang asing, mengingat keberadaannya yang telah hadir sejak UU tentang pendidikan nasional pertama kali digulirkan pada tahun 1946 (yang berlaku tahun 1947). Hanya saja, pada waktu tersebut, pendidikan karakter belum benar-benar diwacanakan dan tidak menjadi fokus utama dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan karakter, yang juga disebut sebagai pendidikan akhlak, dalam perjalanan sejarahnya masih digabungkan dengan mata pelajaran agama. Hal ini tentu bukan langkah efektif, mengingat beban yang harus dipikul seorang guru agama, antara materi agama yang sangat luas, dan tanggung jawab karakter yang harus dibentuk. 

Sebagaimana kita tahu, bahwa fenomena kriminalitas remaja dalam khazanah publik Indonesia tidak lagi menjadi hal yang tabu. Kasus narkotika, tawuran antarpelajar, perilaku seks bebas, merupakan sederet insiden-insiden yang mengancam dunia pendidikan. Secara nalar, kita tahu bahwa koruptor itu adalah orang pintar berlatar belakang pendidikan tinggi. Sedangkan pelajar yang tawuran adalah mereka yang masih dalam ruang lingkun binaan sekolah, lembaga pendidikan. Tapi mengapa orang berpendidikan itu terlihat melakukan aktivitas-aktivitas demikian? Mungkin jawabannya adalah, karena mereka tak berkarakter. Sanksi hukum rupanya belum menjadi satu-satunya  solusi efektif dalam penangan hal-hal semacam ini. Karena bagaimanapun, kasus-kasus itu lahir tidak hanya karena faktor salah-benar semata, namun lebih pada interpersonal, moral seseorang, dan hal-hal yang secara tidak langsung mendukung kasus-kasus itu terjadi, seperti kurangnya pengawasan orang tua, metode asuh yang salah, pendidikan formal yang kurang efektif mengajarkan moral, dan lain sebagainya. Mengingat hal demikian, pendidikan karakter yang sudah ada dalam wacana, dirasa sangat perlu untuk kembali diwacanakan. 

Pendidikan akhlak atau karakter bukan sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Ada aspek lain di luar itu yang urgensinya jauh lebih penting, di mana terdapat tuntutan bahwa objek pendidikan karakter harus mampu menanamkan kebiasaan (habitual) tentang pengetahuan yang baik dan yang salah itu, sehingga siswa paham (kognitif), dapat merasakan (afektif), dan terbiasa untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari (psikomotorik). Dalam kerangka prosesnya, pendidikan karakter berangkat dari tahap pengetahuan (knowing). Setelah tahu, ada aksi pelaksanaan (acting), sehingga dua hal itu jika dilakukan secara konsisten akan membentuk kebiasaan (habit) yang pada akhirnya tidak hanya berbicara soal pengetahuan, tapi juga masuk pada wilayah moral, emosi, dan persepsi diri. 

Buku “Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi” ini berusaha memaparkan secara rinci apa itu pendidikan karakter, dan bagaimana aplikasinya dalam lapangan. Secara komprehensif, buku ini memaparkan betapa pentingnya pendidikan karakter dalam rangka pembentukan manusia yang ideal. Dalam buku ini dibahas konsep pendidikan karakter, fitrah dan kepribadian manusia, berbagai macam metode dan pendekatan, pengembangan kurikulum, peran kepemimpinan kepala sekolah, strategi-strategi, pengintegrasian interdisipliner dalam proses pembelajaran, aplikasi dalam manajemen sekolah, pembinaan kesiswaan,  pengembangan silabus, dan pengembangan rencana pelaksanaan. 

Hanya saja, buku ini lebih dominan mengajarkan pendidikan karakter untuk diterapkan dalam konsep manajemen pelaksanaan sekolah semata. Secara kontekstual, perlu ada bagian yang secara khusus membahas tentang pelaksanaan pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga, sebagai pusat pewarisan budaya, kemudian di tahap lingkungan masyarakat, yang secara intens memberi dampak paling besar dalam proses pembentukan kepribadian seseorang.  

Bagaimanapun, pendidikan karakter tetap memiliki peranan yang sangat penting dalam khazanah pendidikan kita, demi terwujudnya masyarakat yang sadar karakter, berbudaya arif lokal, dan menjadi pribadi-pribadi ideal yang tidak hanya baik bagi dirinya, tapi juga untuk bangsa dan agamanya. Wa allahu a’lamu bi ash-showabu. 


Komentar