Sekelumit Cerita Membesarkan Anak di Amerika

Katanya, membesarkan anak di Amerika itu harus punya mental seperti membesarkan seekor burung: kalau anaknya sudah besar, orang tua harus rela melepasnya untuk terbang jauh. Sebab anak-anak yang dianggap sudah dewasa dan punya pekerjaan sendiri, mereka tidak akan lagi tinggal di rumah orang tuanya. Mereka akan menjadi 'manusia' sendiri dengan dunianya sendiri, cita-citanya sendiri, tujuan hidupnya sendiri, agamanya sendiri, prinsip-prinsip sendiri, bahkan bisa jadi, orang tua adalah "orang lain" yang dalam banyak aspek tidak bisa sembarangan berinteraksi, berintervensi, atau mengambil keputusan apapun soal hidup anaknya yang sudah dewasa. Saya berulang kali mendengar cerita itu ketika duduk makan dengan Pak Wakidi, pemilik rumah yang rumahnya saya sewa dan tinggali di Amerika. Anak pertamanya sudah tinggal dan bekerja sendiri di kota yang butuh 6 jam perjalanan pesawat dari DC. Jika Pak Wakidi ingin bertemu dengan anaknya, ia harus menghubunginya dulu, membuat janji d

Resensi Buku Hijrah yang Mengubah


Sadarkah anda bahwa di dunia ini masih ada segelintir orang yang masih mengernyitkan kening ketika mendengar, lebih tepatnya melihat kehidupan santri? Pada kenyataannya, asumsi semacam itu masih ada. Anggapan bagaimana ketidakprospektifan seorang santri bagi masa depannya selain jadi ustadz, garapan cita-cita yang masih dinilai terbatas, jauh dari kata sejahtera (apalagi kaya raya),dan lain sebagainya. Maka, buku yang ditulis oleh H.R. Marpu Muhidin Ilyas, MA., dan Faturrahman S Kanday ini mencoba mengarah pada lokasi itu, sebagai salah satu bentuk jawaban bagiaman kesuksesan komunitas sarung mampu menembus apa yang tak ma(mp)u ditembus oleh khalayak ramai. Keberanian untuk mendobrak stigma-stigma semacam itu, memanglah sangat jarang sekali ditemui dalam kehidupan masyarakat kita. Meskipun buku bernotabene oto biografi ini hadir untuk mendobrak itu, dalam konteks sesungguhnya ada beberapa unsur yang masih perlu (dicoba) disempurnakan sehingga tidak terjadi ketimpangan makna dari pesan-pesan yang hendak disampaikan wacana sesungguhnya dari buku ini (meanings lag).

Secara garis besar, buku setebal 143 halaman ini bercerita tentang kehidupan sosok DR. KH. Abun Bunyamin, MA., sejak titik awal kehidupannya menggali debu-debu fi sabilillah, sampai pada akhirnya perjalanan panjang dan berlikunya menemukan pernikahan manis dengan sebuah Yayasan yang didirikannya sendiri, Yayasan Al-Muhajirin. Sampai titik inipun, pembaca dapat menilai bagaimana buku ini mendeskripsikan kehidupan komunitas sarung dalam dunia literasi kita, yang selama ini hanya dipandang sebagai suatu golongan penerus para ulama, yang juga masih diklarifikasikan masyarakat dengan hal-hal tabu, klenik, mitos, dogmatis, dan lain sebagainya.    

Kehidupan dalam buku ini dimulai pada awal tahun 1975, saat di mana rezim Orde Baru menguasai segala kebijakan, khususnya dalam bidang ekonomi dan politik. Keadaan pada masa itu yang dinilai serba sulit, dengan akses informasi yang terbatas, serta kebebasan publik yang terbungkam, menjadikan satirisme dalam buku ini sangat begitu terasa, terlebih ketika kentalnya mengaduk mesra dengan masa-masa Abun Bunyamin kecil. Keadaan memang tidak selamanya bisa disalahkan, karena ternyata, matahari masih ridla untuk terbit setiap pagi, ketika semakin hari pancasilasisasi semakin menyebar dan mengakar, sebagai satu tekad bagaimana hari esok itu begitu nyata. Semakin siang, matahari itu semakin menyala di dada Abun Bunyamin muda. Mengawali kariernya dalam ranah jihad al-fikr, sang tokoh dikisahkan tentang kehidupannya sebagai seorang santri di sebuah pondok pesantren, dengan ribuan mimpi dan bertumpuk-tumpuk cita-cita ia layangkan sebagai doa dari embun yang hendak berangkat mengecup matahari. 

Pemaparan yang disampaikan dari judul ke judul memang dinilai terlalu singkat, sehingga rasa naratif-sugestifnya tidak terasa, bahkan suasana yang sepertinya ingin dicapai pun tidak tercapai. Buku biografi, bagaimanapun memang tak lepas sebagai salah satu karya sastra non-fiksi. Namun, dalam penulisan buku ini, budaya bersastranya pudar, sehingga dinilai miskin harmoni. Pada akhirnya, buku ini hanya bisa dinikmati oleh mata yang biasa mencicipi wacana ilmiah, yang serius dan dogmatis. Bukankah akan lebih liteter jika tidak disampaikan secara ekspositoris?

Kita simpan dulu kaca mata sastranya. Kembali pada tekstual buku, yang juga bercerita langkah-langkah mimpi Abun Bunyamin muda mengenyam rintangan dan berbagi macam angin yang semakin hari semakin serius menggoyangkan batang pohon tekadnya. Proses bagaimana Abun Bunyamin muda mampu membentengi batas-batas keprihatinannya terhadap kehidupannya sendiri ketika rumah orang tuanya dibakar komplotan orang, mendapatkan guru pertama dalam mengaji yang juga ayahnya sendiri, mencicipi rasanya duduk di bangku kuliah IAIN Bandung, hijrah ke Purwakarta, dan secara sangat serius mengambil langkah yang menurutnya pasti demi mewujudkan segala cita-cita dan mimpi yang selama ini senantiasa ia titipkan pada doa-doa dan tekad kuat. 

Setelah keringat perjuangan disajikan dalam bentuk wacana yang 'masih' singkat dan padat, buku ini mulai becerita tentang karier Pesantren Al-Muhajirin, lembaga cikal-bakal Yayasan Al-Muhajirin. Dalam ruangan inilah mulai terjadi sekat antara profil DR.KH. Abun Bunyamin, MA., dengan Yayasan Al-Muhajirin. Kisah demi kisah dihidangkan tentang keadaan pesantren muda yang tumbuh tepat di pusat kota Purwakarta. Mulailah wacana bergeser pada aspek lain yang sepertinya masih tampak dipaksakan untuk dikait-kaitkan dengan sosok DR.KH. Abun Bunyamin,MA., sebagai cover dari buku ini. pada akhirnya, kesan yang timbul dari bagian kedua ini adalah promosi terselubung tentang Yayasan Al-Muhajirin yang kini menjadi Lembaga Pendidikan Islam terbesar di Purwakarta.

Kira-kira, kisah 19 tahun perjalanan Al-Muhajirin dirangkum dalam buku ini sebagai jejak dari mimpi-mimpi Abun Bunyamin muda. Inilah blue print yang perlu dipebaiki sehingga tidak ada paradigma tentang bad marketing yang dipaksakan hadir dalam buku yang bercerita tentang sosok yang selayaknya memilki kamar khusus ini. Ya, cita-cita yang besar memang selalu menagih pengorbanan yang besar pula. Namun dalam hal ini, sepertinya profil mendetail tentang Yayasan Al-Muhairin bukanlah salah satu bentuk perwujudan cita-cita yang tepat, karena masih banyak jalan menuju roma. Artinya, masih ada cara lain untuk mengungkapkan hal yang dimaksud, agar nilai pengorbanan Abun Bunyamin untuk hasil yang besar (Al-Muhajirin) tidak pudar dan tetap menyatu dalam nyawa cerita.  

Kerikil dalam Sepatu

Siapa yang tidak mencintai kenyamanan, kecuali memang ada yang benar-benar aneh di otak ini. Jikalah tujuan dari penulisan sebuah buku, terlebih jika buku tersebut dikenalkan di tengah masyarakat untuk dibisniskan, adalah kepuasan pembaca, maka sudah sepatutnya buku tersebut benar-benar nyaman dari perspektif manapun. No body is Perfect, kesempurnaan memang mustahil rasanya ada dalam sebuah buku, sekaliber penyajiannya menarik, toh masih ada buku dengan lem perekat yang tidak bagus, atau sampul dengan gambar yang sangat norak. Namun, bukan itu yang dimaksud, artinya ada beberapa bagian yang sebagaimana disinggung di atas, akan menjadi lebih nyaman jika direvisi, lalu kembali dihadirkan sebagai Hijrah yang Mengubah baru.

1. Sayur Tanpa Garam 

Lidah tak bisa bohong dalam hal makanan, dan intelektual tak bisa bohong dalam hal wacana. Statement pertama inilah yang kemudian berkembang menjadi pertanyaan demi pertanyaan yang semuanya menggantung, karena tidak tercapainya selera ketika rasa greget membaca buku ini.

Kembali pada fokus topik. Menurut anda bagaimanakah cerita dapat memikat mata dan memesona jiwa? Apakah karena latar belakang cerita, tokoh yang diceritakan, atau kepribadian penulisnya? Tentu bukan semua itu yang menjadikan cerita memilki tempat di hati pembacanya. Kita pasti pernah membaca buku yang sangat payah, namun ide dan inti ceritanya begitu cemerlang. Atau sebaliknya, ide dan inti cerita yang sederhana, namun disajikan begitu  eksotik. Lalu cerita mana yang menurut kita layak memahkotai singgasana jiwa? 

Saya jadi teringat sewaktu Mas Tas (panggilan akrab Tasaro GK) bercerita tentang saudaranya, yang kepala sekolah dan punya beragam cerita, menulis buku autobiograpinya sendiri dan mencetaknya.  “Lalu siapa yang mau baca?” ujar Mas Tas. Mau tak mau kita mesti percaya, bahwa penyajian cerita menjadi pionir dalam hal kepenulisan, khususnya dalam hal mengikat pembaca dan penulis dalam satu ikatan yang sifatnya sangat emosional, sehingga menggiring pembaca pada rasa dahaga akan karya penulis, juga mengangkat penulis pada kepuasan-kepuasan yang sulit digambarkan.

Sejujurnya, dalam kisah hebat inilah saya terkagum-kagum melihat hal-hal seperti  waktu sholat subuh si Ade cilik, gula merah Ma Oneh, bakul baju Ayi Atih, kapak kayu Ayi Udin hingga udara sejuk kaki gunung Manglayang. Mestinya semua ini mampu menghadirkan kembali gejolak imajinasi pembaca pada eksotika alam desa yang hijau di mata yang segar udaranya.  What a beautiful you are! Tidak syak pula bahwa kisah yang mengudara dari buku ini, penuh dengan unsur-unsur drama seperti konfrontasi, emosi dan berbagai macam aksi. Ya unsur drama --yang seharusnya  dari perutnyalah segala keagungan diksi berkelebatan-- sudah cukup untuk menciptakan satu tatanan dimensi baru melewati batas logis-empiris  otak : imajinasi. Sejadi-jadinya, segala teror dan aksi di dalamnya akan menaikkan bulu kuduk,  membawa reaksi ganjil tapi real. Namun mengapa gregetnya menguap begitu saja? Sekali lagi, kira-kira apa sebab yang membedakan harga segelas kopi hitam pahit di starbucks dengan segelas kopi susu manis di warung tepi jalan? Simpel saja, penyajian.

2. Paradoksial : Antara Biografi dan Brosur 

Simaklah salah satu endonsement buku tersebut yang dituturkan oleh Prof DR. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. : “Buku yang sedang anda baca ini adalah salah satu upaya untuk memberikan  informasi yang autentik tentang pesantren Al-muhajirin Purwakarta kepada masyarakat”. Sampai di sini, apa yang anda dalam benak anda ketika buku tersebut belum anda baca secara utuh?

Suatu ketika, buku yang mendadak menjadi fenomenal di Yayasa Al-Muhajirin itu dibedah dan dikaji proses kreatif yang ada di balik sampul berwarna kuningnya. Ketika bedah buku, sekilas buku ini tampak seperti biografi utuh sang tokoh, karena grafis sampulnya pula yang menjanjikan. Karena itulah yang tadinya diucapkan salah satu penulisnya, Faturahman S Kanday. Namun begitu menyelami isinya, rasa kecewa berkabung pada langit imajinasi untuk membedah buku ini sampai pada diksi per diksi.  Jika pernah membaca catatan "Ketika Jurnalis Jadi Cerpenis" karya Damhuri Muhammad, maka buku ini bisa digolongkan maksud catatan itu. Rasa jurnalis yang selalu bersandar pada fakta, dengan nilai-nilai marketing plann yang terselubung, begitu menonjol dalam buku ini. Seolah mengesankan bahwa betapa payahnya penulis menyajikan kisah yang apik ini untuk menyetara dengan kehebatan tokohnya. Singkat kata, buku ini memuat sajian yang terlalu sederhana. Ini semua dapat dirasakan di awal-awal kisah dan prolog cerita. Dari gaya bertuturnya terasa sajian plotnya begitu cepat. Adegan-adegan di dalamnya senyap, namun penanggalannya seperti tak pernah lewat, mencoba untuk sekronologis mungkin, sehingga membacanya tak ubahnya membaca sajian berita dan artikel-artikel monoton di koran. 

Saya tidak berani mengatakan ini sebagai buku biografi, karena tidak menceritakan sosok Abun Bunyamin dari saat kanak-kanak, atau setidaknya detail kisah yang mengandung nilai moral ketika kehidupan sosialnya berlangsung. Misalnya ketika tokoh menghadiri suatu acara, mengisi pengajian, proses perkuliahan di kampus, uniknya hidup di kobong, dan lain sebagainya. Namun di sisi lain, saya juga tidak berani untuk mengatakan ini brosur berbentuk buku tentag Yayasan Al-Muhajirin, yang dikait-kaitkan sebagai bentuk perwujudan cita-cita Abun Bunyamin "pra-sukses". Lalu buku apa ini, selain kumpulan kalimat-kalimat yang dipaksa disebut Biografi namun terkesan Brosur?

3. Proyek Buru-Buru 

Secara tekstual, buku ini merupakan bentuk revisi dari buku sebelumnya, Perjalanan 18 Tahun Al-Muhajirin, yang penyajiannya jauh lebih singkat daripada ini. lalu apa yang membedakannya selain tata kalimat dan diksi yang diperbanyak? Tampaknya, buku ini hadir karena memang ingin narsis dalam acara MILAD Pesantren yang ke sembilan belas, yang saat itu dihadiri oleh Menteri Agama, Suryadarma Ali. Katakanlah buku ini digodog dalam waktu yang lebih lama, tidak dikejar-kejar oleh dead line narsis, mungkin buku resensi ini takkan sepanjang dan semonoton ini.

Lihat, dengar, baca dan rasakan; Amin cilik yang mandiri, sholih, rajin, taat orang tua, sabar, tidak rewel dan getol menabung. Amin muda, si pencari kayu bakar, pedagang daun pisang, penggembala ternak, mengepulkan dapur ibunya, bergelut dengan kitab-kitab kuning dan surat-surat Al-quran. Amin dewasa yang aktif, enerjik,  jujur, visioner, kreatif juga mandiri. Singkat kata, bukankah kisah yang sedang kita baca ini adalah tokoh yang hebat? Andaikata pembaca malas tadi mau jeli dan bermasyuk-masyuk dengan kisah beliau, pasti akan rasakan bagaimana asinnya peluh si Amin kecil serta sendunya bisik-bisik doa si Amin yang sembab dengan air mata. Sebagai manusia normal, siapapun kita harus cium tangannya, hingga segala napas yang berhembusan di muka halaman-halaman buku ini mesti sadar, bahwa Al-Muhajirin berdiri tegak dengan pondasi beton yang diaduk dengan peluh sebagai airnya, rasa lapar (puasa dan tirakat) sebagai pasirnya, bisikan doa dan airmata sebagai semen dan kapurnya. Semua dari kita akan menjadi saksi hari ini bahkan di akhirat kelak, bagi jejak langkah si Amin; bocah desa yang luar biasa.

Sejatinya ini memang buku biografi; dimana fakta, data dan kebesaran tokoh menjadi ujung tombaknya. mengadilinya dari sisi penyajian cerita dengan kacamata sastra(?) mungkin saja terasa tidak adil. Namun, Pemaparan tadi bukanlah asal membuang ludah belaka. Hal ini dilatarbelakangi oleh menjamurnya buku-buku picisan di etalase-etalase toko buku kita, yang sialnya selalu laku keras. Sehingga pada akhirnya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi penulis biografi hari ini, di mana mereka ditantang untuk mengenalkan sang tokoh kepada si pembaca secara lebih intim dengan makna, teladan dan sari hidup yang diangkatnya. Sementara di lain pihak, buku biografi menjadi tidak menarik (lagi) bagi segmen pembaca kita yang indonesiana dan galau minta ampun. Alih-alih mereka mau membaca buku-buku hebat dan inspiring. Malah, yang laku di pasaran hari ini adalah novel-novel galau dan garing. Selera pasar memang terlalu dinamis, bahkan cenderung aneh. 

Sekali lagi, hal inilah yang menjadi tantangan utama para penulis biografi, membawakan cerita biografi tersebut jauh lebih dekat di hati pembaca. Layaknya Rokhiq Al-Makhtum milik Al-Mubarakfury, penulis hebat dalam tatanan kisah tokoh agung pada sajian diksi yang anggun tanpa menghilangkan unsur-unsur penting dalam penyajian sejarah pada umumnya. Atau seperti kecakapan Tasaro dalam serial Muhammad: Lekaki penggenggam hujan, di mana sejarah manusia agung Muhammad SAW tersebut dibesut kembali dengan paduan baru, dalam jalinan kisah fiktif heroik; Kashva sang pemindai surga, tanpa menghilangkan unsur-unsur utama dalam sejarah Nabi Muhammad SAW. Tapi, bagaimanapun juga buku ini telah berhasil mengenalkan sang figur diranah dunia percetakan yang luas. Pastinya buku ini layak untuk diapresiasi dan diperas sari hikmahnya.  

Judul: Hijrah yang Mengubah: Perjuangan Mewujudkan Pendidikan Islam Ideal Penulis: H. R. Marpu Muhidin Ilyas dan Faturohman iskanday Editor: Tasaro GK Ukuran: 14,7 x 20,5 cm  Jumlah Halaman: 143 halaman  Warna: BW  Target Pembaca: Guru, Dosen, Mahasiswa, Aktivis, Pelajar, Kaum Pesantren, dll. Terbitan Pertama: Februari 2012  ISBN: 978-602-19845-0-5  Harga: Rp 45.000.

Komentar