Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Menjadi guru yang Qurratul Uyun

Guru adalah profesi paling mulia. Kita harus percaya itu. Profesi apapun yang ada di dunia ini semuanya ada karena kehadiran guru. Karena guru mulia, sadar atau tidak sadar, guru memiliki tuntutan tanggung jawab mengenai gelar kemuliaannya itu. Disiplin waktu, komitmen kerja, taat aturan dan mau tak mau harus menjadi cerminan bagi anak didiknya. Seperti apakah guru mulia itu? berikut uraian singkatnya:

1. Guru yang mulia adalah guru yang mengorientasikan segala yang dilakukannya atas dasar iman kepada Allah. Karena ilmu yang baik adalah ilmu yang menghasilkan iman (Pesan QS. Al-Alaq :1). 

2.      Dengan beriman, maka seorang guru akan mendedikasikan dirinya sebagai satu insan yang lahir hanya untuk memakmurkan dunia, dengan menjadi cerminan bagi sesamanya. Karena iman yang baik adalah iman yang menghasilkan akhlak (Pesan QS. Al-Alaq:2).

3. Guru adalah orang tua bagi anak didiknya. Setiap orang tua pasti menginginkan kebaikan bagi anak-anaknya. Membuat baik seseorang bukan perkara yang mudah, karena kebaikan terletak pada hati. Oleh karena itu, guru harus menghilangkan penyebab-penyebab kerasnya hati, agar mudah meluluhkan hati anak didiknya, bahkan hati banyak orang. Caranya dengan mengurangi jam tidur (Pesan QS. Al-Mudassir).
 
4. Mengurangi jam tidur, bukan berarti begadang tanpa alasan. Tentu ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan seorang guru. Maksud mengurangi jam tidur di sini adalah, guru harus harus menggunakan waktu tidur malamnya untuk melaksanakan solat malam (Pesan QS. Al-Muzammil). 

5. Guru harus sibuk. Namun, sesibuk apapun jangan pernah lalaikan Allah (salat) (Pesan QS. At-Takasur). 

6. Para Filsuf muslim berpendapat bahwa yang penting itu bukan salatnya, tapi apa yang harus dilakukan setelah salat.  Maksudnya, pengamalan nilai-nilai salat itu sangat penting dan harus dilakukan oleh banyak muslim yang masih mengaku dirinya suka menunaikan salat. Begitupun guru, setelah solat, jangan abaikan nilai-nilai solat (Pesan QS. Al-Ma’un)

7.      Kata Ibn Abbas, guru yang mulia adalah guru yang mampu menjadikan dirinya sebagai guru yang Qurrota A’yun. Seperti apa guru yang enak dipandang itu?
a.       Murah senyum
Senyum adalah sedekah yang paling mudah. Dengan tersenyum, nilai diri kita di hadapan orang lain akan menjadi positif, terkesan ramah, dan santun. Tentu, senyum dimaksud adalah senyum yang wajar dan seperlunya. Sebagai orang tua kedua bagi anak didik di sekolah, atau di manapun itu, kita harus tersenyum. Membiasakan diri untuk tersenyum. Bukan hanya untuk meningkatkan nilai diri, tapi juga agar anak merasa dihargai oleh gurunya, merasa dekat, dan mereka pun tidak takut dengan kehadiran kita.

b.      Hati bersih
Senyum saja tidak cukup, tapi juga harus berperilaku yang ikhlas, ramah, sabar dalam mengajar, dan membuang jauh-jauh segala penyakit hati. Karakter anak memang berbeda-beda, sehingga wajar tak sedikit guru yang killer, sedikit-sedikit memarahi anak yang belum mampu menguasai materi pelajaran, dan lain sebagainya.

c.       Tangan dermawan
Mungkin, di antara kita masih ada guru yang masuk kelas hanya sekadar mengisi absen, lalu semangat hanya ketika jadwal gajian tiba. Tapi tidak begitu bagi seorang guru muslim yang baik.

d.      Berkata yang benar
      Dalam kelas, luar kelas, atau tempat manapun, guru berkewajiban menyampaikan ilmu. Penyampaian yang menarik memang sangat dianjurkan, agar proses belajar mengajar tidak menjenuhkan. Namun, setransformatif apapun, konteks yang disampaikan harus tetap sesuai dengan rambu-rambu, sehingga nilai-nilai kebenarannya tidak pudar. Guru adalah cerminan yang mengamalkan sifat Ash-shidiq-nya rasul. Seorang dokter melakukan kesalahan dalam praktiknya, maka yang rugi hanya satu pasien. Tapi seorang guru melakukan kesalahan dalam mengajarnya, maka yang rugi adalah satu kelas.

Komentar