Ada cerita apa dua minggu di Pare?

Suatu pagi, anak-anak di penginapan tidak bisa mandi karena air tidak mengalir. Kebetulan saya adalah satu-satunya yang sudah mandi pagi itu. Kira-kira ada tiga puluh orang penghuni penginapan itu yang hari itu berangkat ke kelas tanpa mandi pagi. Usut punya usut, ternyata air mati bukan karena ada pemutusan aliran oleh pemerintah, tapi karena colokan jetpump-nya saya cabut dan saya ganti untuk nyolok dispenser. Saya gak tahu kalau colokan itu adalah colokan jetpump air satu penginapan. Bagian terparahnya adalah ada salah satu anak yang lagi buang air dan tiba-tiba airnya mati sebelum WC-nya di-flush. Anak-anak heboh sampai Pak Tara, rekan saya, harus ngakutin air pake ember dari kolam renang. Itulah salah satu dosa saya ketika jadi pembimbing anak-anak selama di Pare beberapa waktu lalu.    Pada 20 Mei lalu, saya membersamai anak-anak SMP tempat saya mengajar dalam sebuah program intensif bahasa Inggris di Pare, Kediri, selama dua pekan. Dua minggu tersebut punya banyak cerita dan &qu

Landasan Manajemen Pendidikan

Manajemen menjadi landasan bagi pendidikan karena :

  1. Manajemen memiliki pengertian sebagai sesuatu yang mempunyai pengertian kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan
  2. Punya pengertian proses untuk pencapaian tujuan
  3. Dapat dilihat dari kerangka belajar sistem
  4. Dapat dilihat dari segi kepemimpinan
  5. Dapat dilihat dari segi komunikasi
Fungsi manajemen pendidikan

1. Perencanaan (planning), terdiri dari penataan tujuan, pedoman, dan dasar pengendalian
Ciri dari perencanaan :
  • Perhitungkan kualitas
  • Jangka panjang
  • Integrasi dengan ekonomi dan pengembangan masyarakat
  • Disajikan dalam wacana yang sangat rinci
2. Pengorganisasian (organizing), berfungsi sebagai pengatur Sumber Daya Pendidikan
3. Pelaksanaan (actuating), dalam hal ini sangat diperlukan skill kepemimpinan
4. Pengawasan, cirinya antara lain monitoring setiap kegiatan, yang merupakan proses dasar secara esensial dibutuhkan

Organisasi adalah sekumpulan orang dengan ikatan tertentu yang merupakan wadah untuk mencapai cita-cita mereka.

Tahapan Organisasi Pendidikan

  1. Tingkat Tinggi, bisa disebut juga sebagai pemerintah pusat
  2. Tingkat Madya, administrasi bertugas memutuskan, manajemen bertugas memajukan, mengontrol keberlangsungan proses, dan prosesing alokasi unit
  3. Tingkat Terdepan, meneruskan keputusan Madya, memadukan sumber daya madya dan mengontrol pelaksanaan, mendidik, mengajar, serta melatih siswa
Deskripsi Konsep

  • Kegiatan, praktik, manajerial
  • Esensi falsafah
  • Esensi teori manajemen
  • Esensi prinsip manajemen
  • Sumber daya pendidikan
1.      Pengertian Landasan Manajemen
            Landasan secara bahasa dapat diartikan sebagai fondasi, dasar, asas, patokan dan standar. Manajemen berasal dari bahasa Inggris, yaitu to manage yang berarti mengatur, mengelola, melaksanakan dan memperlakukan. Menurut George R. Terry manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan serta penilaian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya. Sedangkan menurut pendapat lain[1], manajemen adalah kekuatan utama dalam organisasi yang mengatur dan mengorganisasi kegiatan-kegiatan subsistem serta menghubungkannya dengan lingkungan.
            Jadi, landasan manajemen adalah suatu proses untuk mengorganisasi dan meakai sumber-sumber dalam rangka menyelesaikan tujuan yang sudah ditentukan dan dijadikan sebagai dasar pendidikan.

2.      Manajemen sebagai Landasan Pedidikan
Manajemen dijadikan landasan dalam pendidikan karena :
a.       Manajemen pendidikan mempunyai pengertian kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan. Seperti kita ketahui tujuan pendidikan itu merentang dari tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan kompleks, tergantung lingkup dan tingkat pengertian pendidikan mana yang dimaksud. Maka cara untuk mencapai tujuan itu tidak dapat dicapai satu orang saja, tetapi harus melalui kerjasama dan melalui orang lain dengan segala aspek kerumitannya.
b.      Manajemen pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian. Perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, berapa lama, berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biaya yang diperlukan.
c.       Manajemen pendidikan dapat dilihat dengan kerangka berfikir sistem. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian, dan bagian-bagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran.
d.      Manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari segi kepemimpinan. Dengan kata lain bagaimana ia menggerakan orang lain untuk bekerja lebih giat dengan mempengaruhi dan mengawasi, bekerja bersama-sama dan memberi contoh. Jadi, manajemen yang ingin berhasil harus memahami teori dan praktek kepemimpinan serta mampu dan mau untuk melaksanakan pengetahuan dan kemauannya itu.
e.       Manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari segi komunikasi. Komunikasi dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha untuk membuat orang lain mengerti apa yang  kita maksudkan, dan kita juga mengerti apa yang dimaksudkan orang lain  itu. Jika dalam kerjasama pendidikan tidak ada komunikasi, maka orang lain yang bekerja sama itu saling tidak mengetahui apa yang dikerjakannya atau apa yang diinginkan teman sekerjanya.

3.      Fungsi Manajemen Pendidikan
Fungsi pokok manajemen pendidikan sangat diperlukan dalam proses mengelola pendidikan supaya proses pendidikan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Adapun fungsi pokok manajemen pendidikan yaitu : perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling).
a.       Perencanaan (planning)
Perencanaan merupakan aktifitas memilih, menentukan dan menghubungkan fakta-fakta serta membuat asumsi mengenai mana yang akan datang yang dianggap penting untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan.[2]
Perencanaan adalah memlih tujuan dan cara terbaik untuk mencapai tujuan dari beberapa alternatif yang kemudian diputuskan.[3]
Jika dihubungkan dengan pendidikan, perencanaan adalah fungsi pertama dan utama dalam manajemen pendidikan yang merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang.[4]
Menurut Combs (1982:1) perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien sesuai kebutuhan dan tujuan para murid dan masyarakat. Kemudian Philip H. Combs mengemukakan lima ciri perencanaan pendidikan :
a.       Perencanaan pendidikan harus berpandangan jangka panjang
b.      Perencanaan pendidikan harus terperinci
c.       Perencanaan pendidikan harus diintegrasikan dengan rencana ekonomi yang lebih luas dan perkembangan masyarakat
d.      Perencanaan pendidikan harus merupakan suatu bagian integral pengelolaan pendidikan
e.       Perencanaan pendidikan harus memperhitungkan bagian kualitatif, karena perkembangan pendidikan bukan perluasan secara kuantitatif saja.[5]

b.      Pengorganisasian (organizing)
Organizing berasal dari kata organize yang berarti menciptakan struktur dengan bagian-bagian yang diintegrasikan, sehingga hubungan yang satu dengan yang lainnya saling terkait. Sedangkan organisasi diartikan sebagai gambaran tentang pola-pola, skema, bagan yang menunjukan garis-garis perintah, kedudukan karyawan, hubungan-hubungan yang ada, dan lain sebagainya.[6]
Dengan demikian, pengorganisasian merupakan pengaturan seluruh sumber daya pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan.

c.       Pelaksanaan (actuating)
Pelaksanaan atau actuating meupakan fungsi manajemen yang terpenting dan paling dominan dalam proses manajemen. Dalam pelaksanaan, tidak dapat dilepaskan dari
fungsi manajer sebagai pimpinan, maka diperlukan sebuah kepemimpinan.  Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan kelompok dalam upaya menyusun dan mencapai tujuan.[7]

d.      Pengawasan (controling)
Pengawasan merupakan salah satu kunci akan keberhasilan dalam keseluruhan proses pendidikan.[8]Pengawasan merupakan monitoring terhadap kegiatan-kegiatan. Tujuannya adalah untuk menentukan harapan-harapan yang nyata dicapai dan dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap segala penyimpangan yang terjadi. Pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi. Proses dasarnya terdiri dari tiga tahap, yaitu menetapkan standar pelaksanaan, pengukuran pelaksanaan dibandingkan dengan standar dan menentukan kesenjangan antara pelaksanaan dan standar.[9]
Menurut Mulyasa (2002:20) manajemen pendidikan sebagai segala yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Manajemen merupakan komponen integral yang tidak dapat dipisahkan dari komponen pendidikan secara keseluruhan. Alasannya tanpa manajeen tidak mungkin pendidikan di sekolah dapat dicapai secara efektif dan efisien.
                                                  
4.      Hubungan Organisasi, Administrasi dan Manajemen dalam Pendidikan
Organisasi adalah sekumpulan orang dengan ikatan tertentu yang merupakan wadah untuk mencapai cita-cita mereka, mula-mula mereka mengintegrasikan sumber-sumber materi maupun sikap para anggota yang dikenal sebagai manajemen dan akhirnya baru mereka laksanakan kegiatan-kegiatan untuk mencapai cita-cita tersebut. Baik manajemen maupun pelaksanaan kegiatan itu disebut administrasi.[10]
Hubunga antara organisasi, administrasi dan manajemen dalam pendidikan dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar diatas menunjukkan bagaimana hubungan antara organisasi, administrasi, dan manajemen. Organisasi sebagai kelompok orang yang mengikatkan diri secara formal adalah wadah yang menampung kelompok manusia. Didalam kelompok, manusia melakukan administrasi dalam bentuk kerja sama. Dan di dalam administrasi terjadi proses pengaturan. Proses pengaturan inilah disebut dengan manajemen. Manajemen yang ada didalam organisasi biasanya bertingkat dari yang terdepan sampai yang tertinggi.
                          
Jika disekolah adalah sebuah organisasi, maka didalam sekolah terjadi kegiatan kerja sama administrasi untuk mencapai tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan, kerja sama yang ada harus diatur sehingga semua sumber daya pendidikan bersifat harmonis, dan sinergis. Untuk itu dilakukan kegiatan pengaturan manajemen. Kepala sekolah sebagai manajer tertinggi bertugas menentukan strategi dalam mencapai tujuan pendidikan. Strategi yang ada diterjemahkan menjadi program kerja oleh semua wakil kepala sekolah sebagai manajer madya. Pelaksanaan program kerja dilakukan oleh guru dan segenap pegawai tata usaha dengan pengawasan guru senior yang ditunjuk sebagai pengawas pelaksanaan. Dengan demikian tercipta sebuah sistem organisasi yang terus bergerak mencapai tujuan. Demikianlah hubungan antara organisasi, administrasi, dan manajemen.    

5.      Konsep Dasar Manajemen Pendidikan
1.      Kerangka Konsep
Untuk seorang manajer, suatu teori tentang manajemen sangat berfungsi dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul. Oleh karena itu, falsafah, asumsi, prinsip-prinsip dan teori tentang manajemen merupakan landasan manajerial yang harus difahami dan dihayati oleh manajer. Keterkaitan cara pandang tentang manajemen, falsafah, asumsi, dan prinsip, serta teori-teori dijadikan dasar kegiatan manajerial.
2.      Deskripsi Konsep
a.       Esensi Falsafah Manajemen
Setiap jenis pengetahuan, termasuk pengetahuan manajemen mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistomologi), dan untuk apa (aksiologi). Pengetahuan manajemen tersebut disusun. Ketiganya berkaitan satu sama lain (sistem). Ontologi ilmu terkait dengan epistomologi, dan epistomologi terkait dengan aksiologi dan begitupun seterusnya.
Dalam manajemen, falsafah manajemen pada hakikatnya menyediakan seperangkat pengetahuan untuk berfikir efektif dalam memecahkan segala permasalahan manajemen. Ini merupakan hakikat manajemen sebagai suatu disiplin ilmu dalam mengatasi masalah organisasi berdasarkan pendekatan yang intelegen.
b.      Esensi Teori Manajemen
Teori manajemen mempunyai peran atau membantu dalam menjelaskan perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktifitas, dan kepuasan. Karakteristik teori manajemen secara garis besar harus mengacu pada pengalaman empirik, adanya keterkaitan antara satu teori dengan teori lain, dan adanya pendekatan. 
c.       Esensi Prinsip Manajemen
Pentingnya prinsip dasar manajemen dalam praktek manajemen antara lain :
1.      Menentukan cara atau metode kerja
2.      Pemilihan pekerja dalam pengembangan keahliannya
3.      Pemilihan prosedur kerja
4.      Menentukan batas-batas tugas
5.      Membuat spesifikasi tugas
6.      Melakukan pendidikan dan pelatihan
7.      Menentukan sistem dan besarnya imbalan
Semuanya itu dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan produktifitas kerja.
d.      Sumber Daya Pendidikan
Banyak sumber daya manajmene yang terlibat dalam organisasi atau lembaga-lembaga, termasuk lembaga pendidikan seperti : manusia, sarana dan prasarana, biaya, teknologi dan informasi. Namun demikian, sumber daya paling penting dalam pendidikan adalah suber daya manusia. Bagaimana manajer menyediakan tenaga bakat, kreatifitas dan semangat bagi organisasi, kalu sumber dayanya tidak memadai dan bahkan tidak tersedia. Karena itu, tugas terpenting dari seorang manajer adalah menyeleksi, menepatkan, melatih dan mengembangkan sumber daya manusia.[11]
            Manajemen pendidikan tidak sama dengan manajemen bisnis yang mengejar keuntungan uang, tetapi bisa meniru manajemen bisnis dalam gerak dan dinamika untuk mempertahankan kehidupan dan kemajuan pendidikan. Manajemen pendidikan juga tidak sama dengan manajemen pemerintahan, sebab manajemen pemerintahan manusia dewasa yang relatif sudah faham akan budaya yang patut ditaati, sementara itu manajemen pendidikan menangani peserta didik yang sedang berkembang pada individu-individu yang serba unik. Untuk itu, diperlukan banyak strategi, pendekatan dan metode yang sesuai serta dibutuhkan pula sejumlah konsep agar perkembangan setiap peserta didik terealisasi secara lancar dan optimal.[12]  



[1] Hamalik (1991:20)
[2] Winardi (1979:149)
[3] Hasibuan (1996:93)
[4] Koswara (2002:40)                                       
[5] Afifuddin (2004:49)
[6] Hasibuan (2007:121)
[7] Koswara (2002:76) 
[8] Mulyasa (2002:22)
[9] Nanang Fattah (2004:101)
[10] Made Pidarta (1998:1)
[11] Nanang Fattah (2004:11-13)
[12] Made Pidarta (1997: 25)

Komentar