Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Landasan Sosial Pendidikan


Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia dengan kelompok dan struktur sosialnya.
Objek penelitian sosiologi adalah tingkah laku manusia dalam kelompok, yang pada akhirnya memiliki sudut pandang sebagai hakikat manusia dan kebudayaan.
Secara sosiologis, pendidikan berarti pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Secara sosiologis pula, manusia hidup berkelompok menjadikan sosial budaya sebagai aspek terdekat.


Landasan Sosial Pendidikan berarti menggali konsep pendidikan dan kemudian ditransformasikan pada masyarakat dan kebudayaan.

 Sosiologi Pendidikan meliputi tiga hal yang menjadi cakupan bahasannya, yaitu :

  1. Manusia sebagai makhluk sosial
  2. Kontrol sosial dan pendidikan
  3. Kebudayan dan pendidikan 
  4. Sebagai kontrol sosial, sekolah berperan penting sebagai lembaga yang menggunakan tindakan positif dan negatif, memperkenalkan anak pada tokoh, transmisi kebudayaan, dan mengadakan kumpulan sosial. 
Fungsi sosial budaya bagi pendidikan antara lain :

  • Mewujudkan masyarakat yang cerdas
  • Transmisi budaya
  • Pengendalian sosial
  • Meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan YME
  • Analisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat

Konsep Pendidikan :

  1. Sekolah dan Masyarakat tak bisa dipisahkan
  2. Perlu badan kerja sama antara sekolah dan tokoh masyarakat
  3. Proses sosialisasi anak perlu ditingkatkan
  4. Dinamika kelompok dimanfaatkan untuk belajar
  5. Kebudayaan menyangkut keseluruhan cara hidup
Dampak konsep pendidikan :

  • Nilai sosial-budaya
  • Kesadaran aspirasi pandangan hidup
  • Dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi
1.      Pendahuluan
            Dari judul pembahasan, tersirat dua pertanyaan.  Pertama, bagaimana relevansi pendidikan sebagai sebuah konsep hubungannya dengan masyarakat kebudayaan? Kedua, apakah kondisi sosial dan budaya sangat mempengaruhi pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, bisa ditempuh dengan dua hal: pertama, menggali konsep pendidikan dan kemudian ditransformasikan pada masyarakat dan kebudayaan. Kedua, menangkap dinamika masyarakat dan kebudayaan yang berkembang kemudian menjadikannya sebagai pengayaan khazanah pendidikan. Dengan melakukan dua upaya di atas, paling tidak dapat memberikan deskripsi yang hidup.
            Secara sosiologi, pendidikan berarti pewarisan budaya (transmission of culture) dari generasi tua kepada generasi muda agar hidup masyarakat berkelanjutan. Atau dengan kata lain masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang ingin disalurkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Agar identitas masyarakat itu tetap terpelihara. Nilai-nilai itu sendiri bersifat intelektual, seni, politik, ekonomi, dan lain-lain.
            Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap kegiatan manusia hampir tidak akan pernah lepas dari unsur sosial budaya. Sebab sebagian terbesar dari kegiatan manusia dilakukan secara kelompok. Artinya bahwa kegiatan tersebut dilakukan hubungan antar individu, antar masyarakat, individu dengan masyarakat, dan masyarakat dengan individu. Aspek sosial melekat pada diri individu yang perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik agar menjadi matang. Di samping tugas pendidikan untuk mengembangkan aspek sosial, karena aspek tersebut sangat membantu dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan dirinya. Maka segi sosial ini perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. (Made Pidarta: 1997: 151)
            Pada kenyataannya, bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju, dan memperlihatkan gejala desintegratif. Perubahan sosial yang cepat itu meliputi berbagai kehidupan dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial, seperti industry, agama, perekonomian, pemerintahan, keluarga, dan lai sebagainya, masalah itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan. (Abu Ahmadi, 1982: 14)
            Tidak hanya perubahan sosial, budaya pun berpengaruh dalam dunia pendidikan. Kita sekarang hidup di tengah revolusi yang mengubah cara kita hidup, berkomunikasi, berpikir, dan mencapai kesejahteraan. Perubahan ini tentunya sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Maka akan terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat langsung dari era globalisasi ini baik itu dalam segi ekonomi maupun politik, sosial, dan budaya. Beberapa persoalan tersebut antara lain:
1.      Ekonomi nasional akan semakin terintegrasi ke dalam ekonomi global. Globalisasi ekonomi yang ditandai dengan perdagangan bebas menyebabkan perekonomian suatu negara menjadi saling tergantung.
2.      Dalam era global, interaksi antar bangsa dan antar negara akan berlangsung semakin intensif, dan transparan.
3.      Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi komunikasi dan informasi, berlangsung amat cepat.
4.      Tantangan membangun masyarakat yang berpengetahuan.


2.      Pengertian Sosial Pendidikan
        Sosiologi, sebagai suatu cabang dari ilmu pengetahuan, memiliki lapang penyelidikan, sudut pandang metode, dan susunan pengetahuan. Objek penelitian sosiologi adalah tingkah laku manusia dalam kelompok. Sudut pandangnya ialah memandang hakikat masyarakat, kebudayaan, dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuan dalam sosiologi terdiri atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kehidupan sosial, kebudayaan, dan perkembangan pribadi.
        Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya.  Artinya bahwa mempelajari bagaimana manusia berhubungansatu dengan yang lainnya dalam kelompoknya dan susunan unit-unit masyarakat atau sosial disuatu wilayah serta kaitannya dengan lainnya. (Hamdani Ali, 1986:192).
        Sosiologi  merupakan ilmu yang membahas tentang interaksi atau hubungan dan pergaulan antara manusia yang satu dengan yang lainnya dalam kelompok dan struktur sosialnya.
        Kegiatan Pendidikan merupakan proses interaksi antara dua individu antar dua generasi, yang memungkinkan generasi muda mengembangkan diri. Kegiatan pendidikan terjadi di masyarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiyah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial didalam sistem pendidikan. (Tirtarahadja, 2005:95).
        Sosiologi pendidikan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas proses interaksi sosial anak-anak  mulai dari keluarga, masa sekolah, sampai dewasa serta dengan kondisi-kondisi sosio-cultural yang terdapat dalam masyarakat dan negaranya. (Abu Ahmadi, 1982:18).


3.      Sosiologi Sebagai Landasan Pendidikan
3.1  Sosiologi dan Pendidikan
Dalam proses sosial, ketika manusia melakukan interaksi sosial, manusia tidak terlepas dari konteks sosial yang disebut “ Lingkungan Sosial “.
Ibnu Khaldun dalam Kitab Muqaddimah (2004 : 525-526) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini mengandung bahwa seorang manusia tidak bisa hidup sendirian dan eksistensinya tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama.
Pendidikan mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Pendidikan adalah proses pengembangan pribadi ( mencakup pendidikan diri sendiri, pendidikan lingkungan, dan pendidikan oleh orang lain atau guru dalam semua aspeknya [ mencakup aspek jasmani, akal dan hati  ).
Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bersifat formal. Fungsi sekolah menurut Wuradji (1998) :
1)      Sekolah sebagai kontrol sosial
      Yaitu memperbaiki kebiasaan-kebiasaan jelek  pada anak-anak, baik ketika di rumah maupun di masyarakat.
2)      Sekolah sebagai perubahan sosial
      Yaitu menyeleksi nilai-nilai agar menghasilkan warga negara yang baik dan menciptakan ilmu serta teknologi baru.  
                                  
3.2  Kontrol Sosial dan Pendidikan
Kontrol sosial dalam arti luas, setiap usaha atau tindakan dari seseorang atau suatu pihak untuk mengatur prilaku orang lain. Sekolah memegang peranan penting dalam sosialisasi anak-anak. Ada 4 cara yang dapat digunakan sekolah, yaitu :
a)      Transmisi Kebudayaan, termasuk norma-norma, nilai-nilai, dan informasi melalui pengajaran secara langsung.
b)      Mengadakan perkumpulan sosial.
c)      Memperkenalkan anak-anak dengan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan  sebagai model yang dapat ditiru.
d)     Menggunakan tindakan positif dan negatif.

Aspek-aspek kebudayaan seperti adat-istiadat yang disampaikan turun-temurun dalam bentuk aslinya, tapi banyak juga yang mengakui perubahan terutama dalam masyarakat modern. Adapun UU RI no.20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 54 ayat 1 yang berbunyi :
1)      Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi, profesi, dan pengusaha serta organisasi kemasyarakatan dalam penyelanggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
2)      Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber pelaksana dan pengguna hasil pendidikan.

3.3  Kebudayaan dan Pendidikan
Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama, yaitu nilai-nilai. Sutan Takdir Ali Syahbana (1992) mengungkapkan bahwa konfigurasi budaya indonesia asli dibangun oleh 3 jenis nilai yaitu religius, solidaritas, dan etnis.
Pada dasarnya ada 3 cara yang dapat diidentifikasi, yaitu informal (dalam kelurga), nonformal (dalam masyarakat)dan formal (di sekolah). Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah pendidikan, utamanya sekolah dan masyarakat. (Tirtarahardja, 2005:100).



4.      Fungsi Sosial Budaya Terhadap  Pendidikan
1. Mewujudkan masyarakat yang cerdas
Mewujudkan masyarakat yang Pancasilalis yaitu yang memiliki cita-cita, demokratis dan beradab.
2.      Transmisi budaya
Membentuk generasi baru menjadi orang-orang dewasa yang berbudaya, terutama budaya nasional.
3.      Pengendalian Sosial
Untuk melindungi kesejathteraan individu dan kelompok
4.      Meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Untuk membuat anak-anak mengembangkan kata hati dan perasaannya  taat terhadap aturan-aturan agama yang dipeluknya.
5.      Analisis kedudukan Pendidikan dalam masyarakat.
Menganalisis hubungan sosial antara pendidikan dengan berbagai aspek masyarakat.
                                                                                 
5.      Dampak Konsep Pendidikan
q Konsep Pendidikan
    Keberadaan sekolah tidak dapat dipisahkan dengan masyrakat.
    Perlu dibentuk badan kerjasama antara sekolah dengan tokoh-tokoh masyarakat.
    Peroses sosialisasi siswa-siswi perlu ditingkatkan.
    Dinamika kelompok dimanfaatkan  untuk belajar.
    Kebudayaan menyangkut seluruh cara hidup dan kehidupan manusia.

q Hasil Proses Pendidikan
*  Memperoleh nilai-nilai sosial budaya
*  Memperoleh aspirasi pandangan hidup, cita-cita nasional dan tanggung jawab.
*  Memperoleh dinamika ilmu pengetahuan teknologi dan ekonomi. 

Komentar