Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Pendidikan dan Tanggung Jawab



Sebagaimana kita tahu bahwa pendidikan adalah bagian paling penting dalam kehidupan kita. Hal ini menjadi titik tolak yang secara intens akan membentuk manusia yang baik dan sempurna. Orang berpendidikan tentu akan berbeda dengan orang yang tidak berpendidikan. Bahkan di antara orang-orang berpendidikan pun, ada banyak perbedaan, sebagaimana berbedanya aspek-aspek pendidikan seperti tenaga pendidikan, peserta didik, metode, kurikulum, dan evaluasi. Membentuk manusia yang baik dan sempurna, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang menjadi faktor-faktor tantangan yang harus dilewati pendidikan itu sendiri, demi terwujudnya tujuan yang baik itu.  Maka dari itu, perlu adanya penanggung jawab untuk menangani masalah pendidikan ini.
Esensi pendidikan hari ini, rupanya harus dipikul tidak hanya oleh lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal, tapi juga menjadi tanggung jawab bagi orang tua, masyarakat, agama, dan pemerintah. Dengan begitu, ada sinergi sistem yang baik dan saling mendukung satu sama lain. Sebagai contoh, kita melihat bagaimana orang tua mendukung prospek pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka mendukung anak-anaknya untuk masuk sekolah dasar, dan terus mendukungnya untuk masuk pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan sewaktu-waktu, ada orang tua yang secara intens mengantar anak-anaknya ke sekolah dan konsultasi dengan lembaga terkait. Artinya, ada kerjasama antara orang tua dan pihak lembaga pendidikan untuk mewujudkan peserta didik (manusia) yang baik dan ‘manusia’.
Keluarga sebagai sarana pewaris budaya yang paling utama, secara sadar atau tidak telah memiliki tuntutan untuk memberikan pendidikan kepada generasi berikutnya (anak) sedini mungkin. Namun tidak sah rasanya jika pendidikan itu hanya ter-implementasi di dalam rumah. Karena pada kenyataannya, ada lingkungan masyarakat yang terkadang mampu memberikan pengaruh jauh lebih besar dibanding pengaruh yang diberikan keluarga. Artinya, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan pendidikan yang baik.
Masyarakat adalah satu elemen yang sangat majemuk dan universal. Tidak ada batasan pasti sejauh mana masyarakat memberikan pengaruh positif atau negatif terhadap potensi kemanusiaan seseorang. Pengaruh yang masuk bisa bersifat damai, masuk alam bawah sadar (penetratio pasifique), atau bisa juga berlangsung secara paksa (penetratio violence). Untuk menanggapi itu, perlu ada satu tata aturan yang kuat, di luar aturan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Jawabannya adalah agama. Agama sebagai satu sumber dan landasan paling penting dalam pelaksanaan pendidikan, baik teoretis  maupun teknis. Agama merupakan hal paling esensi-al yang dibutuhkan manusia secara universal. Membimbing arah langkah manusia menuju kebaikan, dengan unsur-unsur yang dimilikinya seperti adanya Tuhan, kitab suci, pembawa ajaran, dogma, dan aliran-aliran. Semua ini bertujuan untuk membentuk manusia yang baik, bermoral, dan ‘manusia’. Artinya agama juga memiliki tanggung jawab, dan agam secara realistis telah memberikan itu. Tanggung jawab yang diberikannya berupa adanya nabi/rasul yang membimbing akhlak manusia pada akhlak yang baik, adanya kitab suci yang menjadi pedoman interaksi dan cara menjalankan kehidupan, dan lain sebagainya.
Dan terakhir, yang selama ini dipandang paling berpengaruh oleh khalayak ramai dalam dunia pendidikan bagi masyarakat adalah peran pemerintah. Pemerintah sebagai pengayom masyarakat di tatanan daerah tertentu memiliki satu tuntutan untuk menjadikan masyarakatnya berpendidikan. Di indonesia, pemerintah telah membentuk Undang-undang tentang pendidikan ( UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab 1 Ayat 1), dan mewajibkan masyarakatnya untuk menempuh pendidikan dasar sekurang-kurangnya 9 tahun, dan bebas dari biaya. Dalam hal ini, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, menjadi pusat perhatian bagi banyak elemen. karena sekolah lah yang menangani secara langsung bagaimana pendidikan itu berjalan. tiada lain, bahwa promotor pendidikan di mana pun itu, adalah seorang guru. Dapat dibayangkan betapa besar jasanya seorang guru, sebagai ujung tombak pembentuk manusia yang baik dan sesuai harapan (perfect human being).

Komentar