Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Perkembangan Pemikiran Manusia


Pengetahuan yang diketahui khalayak ramai dewasa ini rupanya terjadi tidak secara tiba-tiba seperti sekarang adanya, tetapi mengalami proses panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya dinyatakan sebagai sebuah pengetahuan dengan kebenaran yang bisa diuji. Perjalanan sebuah ilmu pengetahuan ini tak lepas dari proses perkembangan pemikiran manusia. Dengan modal rasa ingin tahu yang tinggi, manusia mendobrak dinding-dinding penasarannya tentang suatu hal. Perkembangan pemikiran manusia yang berbeda-beda dari masa ke masa rupanya mengalami beberapa tahapan yang perlu diketahui. Oleh karena itu, makalah ini hadir sebagai jawaban atas pertanyaan seperti apa proses manusia menjalankan pemikirannya dalam rangka melahirkan sebuah ilmu pengetahuan.

Perkembangan Pemikiran Manusia

Manusia sebagai makhluk yang berpikir dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong manusia untuk mengenal, memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, baik alam besar (makrokosmos), maupun alam kecil (mikrokosmos),  serta berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dari dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk memahami dan memecahkan masalah, menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan. Secara fisik, manusia memang lemah jika dibandingkan dengan hewan. Tetapi secara rohaniah, manusia memiliki akal budi dan kemauna yangs angat kuat.  Sebagai makhluk hidup, manusia memiliki beberapa karakteristik, antara lain :
a.       Memiliki organ yang kompleks dan sangat khusus terutama otaknya.
b.      Mengadakan pertukaran zat, ada zat yang masuk dan ada pula yang keluar.
c.       Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar.
d.      Memiliki potensi berkembang biak.
e.       Tumbuh dan bergerak.
f.        Berinteraksi dengan lingkungannya.
g.       Mati.
Ada beberapa tahap yang dilalui manusia dalam rangka mendobrak rasa ingin tahunya sampai akhirnya lahir sebuah ilmu pengetahuan. Diawali dengan tahap mitos, tahap penalaran, tahap pengalaman dari percobaan, dan akhirnya tahap metode keilmuan.  Berangkat dari pertanyaan ‘apa’, manusia menelusuri segala hal yang ingin diketahuinya. Hasrat ingin tahu yang tumbuh dalam dirinya membuat panca indranya fokus memperhatikan sebuah objek, mulai dari pengamatan, percobaan, hingga lahir  pengetahuan. Akhirnya, setelah tahu ‘apa’nya, manusia menjadi ingin tahu ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’, ‘apa’ itu bisa terjadi. Dengan hal seperti ini, rasa ingin tahu manusia membuat dan menyebabkan pengetahuan mereka berkembang dari waktu ke waktu. Selain itu, kerja otak setiap waktu yang mengalami banyak sekali proses pemikiran dan penemuan pengetahuan, mampu melahirkan akumulasi pengetahuan antara yang telah ada dan yang baru. Antara pengalaman dan pengetahuan baru berakulturasi dalam pikiran, sehingga daya pikir manusia terus berkembang tiada henti. 
Tahap Mitos
Pengetahuan-pengetahuan baru yang bermunculan dan merupakan gabungan dari pengalaman dan kepercayaan disebut mitos. Mitos ini dapat muncul karena beberapa hal yang secara lebih dominan dipengaruhi oleh kultur lokal yang belum begitu banyak mengenal tekonologi modern. Pada awal masa prasejarah, kemampuan manusia untuk menjawab rasa ingin tahunya masih terbatas oleh ketidaktersediaan alat, sehingga segala sesuatu yang terjadi di lingkungan mereka, dibuat alasan sendiri yang malah menjadi tradisi lisan yang  turun temurun dari generasi satu ke lainnya. Misalnya, mereka mereka-reka sendiri jawaban dari pertanyaan : Mengapa gunung meletus? Karena Yang Berkuasa sedang marah. Maka muncul pengetahuan baru yang disebut Yang Berkuasa. Dengan jalan pikiran yang sama muncullah anggapan adanya kekuatan adikodrati dalam pohon yang besar, matahari, kilat, gerhana, dan gejala alam lainnya. Mitos dapat timbul karena keterbatasan alat indra manusia, seperti alat penglihatan, alat pendengaran, alat pencium dan pengecap, dan alat perasa. Misalnya :
a.       Karena sebuah benda bergerak begitu cepat, mata tak mampu menangkapnya dengan jelas.
b.      Karena terbatasnya frekuensi yang bisa didengan manusia, diluar frekuensi yang mampu didengarnya menjadi sesuatu yang asing baginya.
c.       Manusia hanya mampu membedakan beberapa jenis rasa (asin, manis, asam, pedas, pahit), sehingga akan kesuitan membedakan benda yang memiliki rasa diluar itu.
d.      Kulit manusia hanya bisa merasakan panas dan dingin, sehingga tidak efektif jika dijadikan alat observasi yang tepat.
Alasan mitos diterima masyarakat pada masanya antara lain karena keterbatasan penginderaan, keterbatasan penalaran, dan merasa hasrat ingin tahunya sudah terpenuhi. Dalam alam mitos, penalaran belum terbentuk, yang bekerja adalah daya khayal, imajinasi, dan intuisi.
   Tahap Penalaran
Pada tahap teologi atau fiktif, manusia berusaha untuk mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu, dan selalu dihubungkan dengan segala hal yang bersifat gaib. Segala hal yang menarik perhatiannya selalu diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Pada tahap metafisika, merupakan tahap di mana manusia masih tetap mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi tidak menyandarkannya pada kekuatan gaib, tapi pada akalnya sendiri. Setelah mengalami proses mitos yang panjang, manusia sedikit demi sedikit membuka kesempatan bagi logikanya untuk berpikir, apakah hal yang terjadi itu benar-benar karena ada pengaruh gaib semata, atau dapat dijelaskan secara ilmiah. Maka lahirkan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan yang benar yang disebut penalaran. Penalaran ini murni proses berpikir, bukan perasaan.

 Tahap Pengalaman dari Percobaan
Karena perasaan tidak dapat dijadikan landasan kuat dalam melahirkan sebuah pengetahuan, dan tidak dapat diandalkan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, maka pengetahuan ini dapat dijadikan hipotesa yang kemudian dilakukan penelitian untuk memastikan kebenarannya. Ada beberapa faktor yang terjadi dalam proses pencarian kebenaran sebuah pengetahuan.
a.       Wahyu, adalah pengetahuan yang disampaikan Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-Nya. Dengan wahyu, manusia memperoleh pengetahuan dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa yang diwahyukan tersebut benar.
b.      Trial and error, adalah cara memperoleh pengetahuan dengan cara coba-coba dan untung-untungan. Cara ini telah dilakukan manusia sejak prba, dan membutuhkan waktu yang lama, sehingga bukan cara efisien untuk mencari kebenaran.

  Tahap Metode Keilmuan
Setelah manusia mengalami proses panjang untuk mendapatkan suatu informasi, maka ada saat mereka menyimpulkan hasil penelitiannya dengan kebenaran yang telah teruji dalam tahap percobaan. Jika pengetahuan yang dimaksudnya telah diakui olehnya benar, begitupun dengan masyarakatnya, maka pengetahuan itu sudah bisa diajarkan ke orang lain. 

Komentar