Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Diversitas dan Cinta


Manusia yang diciptakan dengan keanekaragaman suku dan bangsa, ras dan bahasa, adat dan budaya, menjadi warna yang unik untuk diperbincangkan. Sebuah diversitas yang tak ternilai harganya. Keberagaman ini menjadikan manusia saling mengenal satu sama lain, saling mengunjungi, membangun interaksi harmonis, bertukar budaya, berkomitmen, membangun keluarga, dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana dideskripsikan Q.S. Al-Hujurat Ayat 13.
Salah satu isu global yang hari ini menggaung adalah permasalahan perdamaian dunia. Huru-hara yang terjadi di banyak penjuru bumi, peperangan, pertumpahan darah, perselisihan yang berujung pada konflik, semua itu berderet bak santapan harian yang secara ekslusif disuguhkan media cetak, televisi, radio, dan media lainnya seolah bukan lagi hal yang tabu. Wacana semacam ini terdengar sangat kasar di telinga siapapun, orang manapun, bangsa manapun. Bagaimanapun keadaannya, dapat dipastikan bahwa hampir setiap manusia memiliki cahaya hati yang memancarkan perdamaian, dan merindukan kenyamanan. Tak perlu jauh menengok dunia yang begitu luas, tengoklah ke dalam terlebih dahulu. Perseteruan antar daerah masih hangat terjadi di bangsa yang kaya subur makmur loh jinawi ini.
Indonesia yang dianugerahi Allah dengan banyaknya suku tak menjadi kekuatan positif yang bisa dioptimalkan manusianya. Fenomena etnosentrisme dan kalangan primordialisme masih subur terjadi di beberapa bagian bangsa Indonesia, yang secara perlahan menjadi acaman bom waktu bagi sayap Bhineka Tunggal Ika. Solusi dari permasalahan perpecahan adalah butuh media perekat agar terjadi integrasi unsur-unsur budaya menuju satu Indonesia. Salah satunya dengan cinta. Cinta serupa tali pengikat dengan simpul yang kuat dan kokoh, sekaligus menjadi pembatas agar segala yang diikatnya tetap utuh. Dianalogikan persaudaraan adalah tubuh utuh dengan bagian-bagian tersendiri. Perpecahan, konflik, huru-hara, seolah satu bagian tubuh melukai bagian yang lain. Tapi dengan cinta, rasa saling menjaga dan menghargai akan muncul dan tumbuh subur, sehingga segalanya tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Muslim satu dengan lainnya ibarat sebuah bangunan, saling menopang satu sama lain.

Komentar