Sekelumit Cerita Membesarkan Anak di Amerika

Katanya, membesarkan anak di Amerika itu harus punya mental seperti membesarkan seekor burung: kalau anaknya sudah besar, orang tua harus rela melepasnya untuk terbang jauh. Sebab anak-anak yang dianggap sudah dewasa dan punya pekerjaan sendiri, mereka tidak akan lagi tinggal di rumah orang tuanya. Mereka akan menjadi 'manusia' sendiri dengan dunianya sendiri, cita-citanya sendiri, tujuan hidupnya sendiri, agamanya sendiri, prinsip-prinsip sendiri, bahkan bisa jadi, orang tua adalah "orang lain" yang dalam banyak aspek tidak bisa sembarangan berinteraksi, berintervensi, atau mengambil keputusan apapun soal hidup anaknya yang sudah dewasa. Saya berulang kali mendengar cerita itu ketika duduk makan dengan Pak Wakidi, pemilik rumah yang rumahnya saya sewa dan tinggali di Amerika. Anak pertamanya sudah tinggal dan bekerja sendiri di kota yang butuh 6 jam perjalanan pesawat dari DC. Jika Pak Wakidi ingin bertemu dengan anaknya, ia harus menghubunginya dulu, membuat janji d

Menata Kota = Menata Rumah



Tidak ada yang istimewa pagi ini. Segalanya berjalan dengan sangat sederhana. Angin menyapa, burung bernyanyi, matahari terbit, dan suara air sungai mengalir dengan ritme yag sama seperti kemarin. Bagiku, musim hujan atau musim kemarau sama saja. Untuk kampung yang berdiri di lereng gunung ini, dalam kondisi apapun, pagi hari atau malam hari tetaplah sangat dingin. Bahkan menusuk tulang bagi mereka yang tak biasa.
Purwakarta, di mata seniman
Sepenggal kata itu yang beberapa hari terakhir bergelantungan di saku pikiranku. Tidak ada yang aneh memang dengan kalimat pendek itu. Namun bagiku, sepertinya ada ribuan misteri di balik kausalitas kelahirannya. Sudah satu bulan lebih, kira-kira, kotaku ramai dengan umbul-umbul, baliho, spanduk, dan berbagai hiasan penuh jargon “Purwakarta Istimewa”. Entah sudah istimewa, akan istimewa, atau sedang istimewa. Yang pasti, program pemerintah ini sedang ramai-ramainya menjadi buah bibir masyarakat, terkait hari jadi Purwakarta yang kesekian ratusnya. Ah, tanpa umbul-umbul dan banyak pesta rakyat pun, bagiku purwakarta tetaplah istimewa. Meski manusia Nusantara masih ada yang mengerutkan dahinya ketika mendengar nama Purwakarta, kota perlintasan antara Bandung dan Jakarta ini sesungguhnya memiliki ribuan, bahkan jutaan pesona di balik namanya.

Beberapa waktu lalu, kakak ipar pertamaku terlihat sangat sibuk dari pada hari-hari sebelumnya. Katanya, ia jadi panitia yang harus menyiapkan ini dan itu di sekolah tempat ia bekerja, guna mengikuti acara Pawai Egrang di Purwakarta (Kota). Ya, ide bupatiku memang aneh-aneh, nyeleneh, dan “bikin repot”. Setahuku, satu sekolah harus menyiapkan sekitar 10-20 orang siswa untuk mengikuti pawai egrang, satu dari sekian banyak rangkaian acara hari jadi Kota Purwakarta. Bayangkan, jika satu sekolah minimal ada 10 egrang saja, dikali jumlah sekolah yang ada di purwakarta—setahuku jumlah SLTA saja ada 70-an, belum lagi SLTP dan SD, maka berapa banyak peserta Pawai Egrang ini? Jumlah yang banyak inilah yang katanya, tujuan akhirnya supaya dapat rekor MURI, setelah tahun lalu Purwakarta memegang rekor MURI sebagai penyelenggara pawai tumpeng terbanyak. Wah, keren sekali kotaku!
Kira-kira setelah solat asar, kakak ipar pertamaku itu sudah mandi, rapi, wangi, tentunya dengan ikat kepala yang sudah setia memeluk kepalanya. Tampaknya, wajahnya belum setenang penampilannya. Ia masih sibuk mencari baju kampret warna hitam yang lupa ditaruh di mana. Sontak saja, kakak pertamaku (istrinya) pun ikut sibuk mencari di lemari ini, lemari itu, bahkan ke lemari kakak ketigaku di rumah seberang. Aku pun jadi kena sasaran, karena bulan lalu aku pernah meminjamnya untuk suatu hal. Tapi seingatku, memang sudah dikembalikan. Akhirnya, kakak iparku yang keren itu berangkat menggunakan kaos oblong berwarna hitam, dan ditutup pakai jaket warna hitam, alasannya karena dingin, padahal supaya tidak ketahuan kalau dia dia tidak memakai kampret sesuai ketentuan. Pak Bupati, betapa merepotkannya programmu! 
Acara yang unik, tapi entah kenapa aku tidak tertarik untuk ikut mengikutinya. Mungkin, yang ku bisa lakukan untuk turut meramaikan acara ulang tahun Purwakarta ini hanya bisa dengan doa, semoga tidak ada kemaksiatan dalam semua perayaan ini, sehingga tidak mengundang hal-hal yang tidak diinginkan. (Sok Alim)
Kejadian itu yang kemudian mendorongku untuk segera mengalihkannya pada tulisan ini. Berharap, framentasi semacam ini tidak lekas hilang hanya sebatas momentum perayaan tanpa makna. Pawai Egrang, Pawai Tumpeng, atau apapun itu, bukan satu-satunya hal ‘istimewa’ bagi masyarakat Purwakarta. Sebagai bagian dari keluarga yang hampir semuanya PNS (Pegawai Negeri Sipil), aku tahu bagaimana roda pemerintahan berjalan, meski hanya mampu  kulihat dari beberapa sudut kacamata. Memang, seharusnya sebelum tulisan ini ditulis hingga aku berani katakana selesai, semua kacamata paradigma ada baiknya aku gunakan, agar Purwakarta-ku tak hanya istimewa dari satu sisi, tapi juga dari banyak sisi.
Berbagai macam SK turun satu per satu memenuhi keseharian masyarakat, yang pada akhirnya hanya mengarah pada satu tujuan : Purwakarta Istimewa. Meskipun jargon ini muncul belum satu tahun lamanya, tapi dari awal Pemerintahan hari ini berdiri, sudah tercium aroma-aroma yang mengarah ke sana. Jika diperhatikan, segala aturan, program, pembangunan infrasturktur dan sarana umum, kurikulum pendidikan, semuanya berkaitan erat dengan seni budaya. Mengapa harus dua hal itu?
Sebuah Negara ibaratnya sebuah rumah yang dihuni oleh sebuah keluarga. Segala hal yang berkaitan dengan rumah itu, sepenuhnya memang terserah si pemilik. Mau rapi, acak-acakan, mau bersih, mau kotor, bentuk rumah dengan design apapun, semuanya terserah empunya rumah. Disadari atau tidakpun, rumah merupakan deskripsi tentang bagaimana penghuni rumah itu berkarakter. Sebutlah seorang seniman sang pemilik rumah. Di gerbang depan rumah ada arca. Masuk sedikit ada penataan taman yang sangat rapi dan artistik. Ada kolam ikan dengan relief yang sangat Indonesia. Di beranda ada satu set kursi berukiran khas jepara. Pintunya kayu jati, dengan dinding bercorak mozaik. Masuk ruang tamu ada beberapa kendi dan guci, pandangan pun disambut dengan kain batik dalam sebuah bingkai. Lalu, bagaimana jika rumah ini adalah sebuah kota yang lengkap dengan penghuninya? Ada bupati sebagai kepala keluarga, pejabat pemerintah sebagai istrinya, Pegawai Negeri Sipil sebagai ‘pembantu’nya, dan masyarakat adalah anak-anak, cucu, cicit,dan lain sebagainya.
Maka, kembali kita tengok, bagaimana karakter kepala keluarga kita. Mungkin, beginilah jadinya jika suami ibu kita adalah seniman. Purwakarta menjadi kota seni, di antara rumah tetangga yang tidak dipimpin oleh seniman. Pertanyaanya, kepala keluargaku seniman bukan sih? Atau hanya sok menjadi seniman? Sampai sini pun, kita sudah dapat menyimpulkan betapa pentingnya memilih pemimpin, bukan semata karena formalitas, tapi lebih pada apa yang akan kita alami kelak ketika pemimpin pilihan kita menata ‘keluarga’ kita dalam satu rumah. Bukankah memilih jodoh juga bukan perkara yang mudah?
Seniman Pulang Kampung
Sahur tadi, sepiring nasiku tak hanya ditemani sayur tahu dan beberapa potong perkedel, tapi juga ada beberapa sendok lelucon milik Sule di ‘OVJ Sahurnya Indonesia’-nya Trans7. Katanya, janji itu ada 3 macam : janji in door, janji out door, dan janji door  to door. Ini menarik, menyinggung masalah kampanye, yang sedang gembar-gembornya di Purwakarta-ku, kebetulan. Katanya, kampanye termasuk kategori janji out door. Yang ada di benakku adalah, apakah ada yang kampanye menjanjikan kemajuan bagi seni budaya di kotanya, selain janji memberantas kemiskinan dan meningkatkan perekonomian rakyat? Maju boleh, malah harus, tapi ingat, jangan sampai lupa bahwa kita bisa maju karena ada yang mendorong. Apapun yang mendorong kita, mau orang, mau mesin, mau otot-otot di kaki, ataupun dorongan tekad, kita harus hargai itu. Bayangkan, kita terbang tinggi, tapi lupa daratan, ya jatuh.
Bagiku ini lucu, tapi bagi orang lain, aku tak tahu. Di desaku ada beberapa billboard berukuran besar, magang di pinggir jalan. Di sana ada beberapa orang narsis, lebih narsis daripada foto profilku di facebook. Satu hal yang membuat mereka terlihat sama adalah ada semangat optimis di wajahnya (lebih tepatnya , mungkin, sok optimis). Entah optimis akan berhasil membangun kotanya, atau optimis berhasil korupsi. Beberapa di antaranya memakai jas dan kemeja. Ada pula yang memakai celana jeans dan sabuk kulit branding papan atas. Semua itu disuguhkan di hadapan para petani kebun yang tak pasti upahnya, ibu-ibu penanam padi, anak-anak sekolah yang polos dengan seragamnya, santri bersarung yang tak dilepas-lepas, pak RW yang hanya kerja ketika nagih pajak, guru honorer di Madrasah Diniyah, Kuli Angkut Barang, dan beberapa lulusan SMA yang hendak menjadi calon mahasiswa dan calon pengunjung KUA. Dipikir-pikir, apa ada dalam adat sunda dari jaman nenek moyang, sebuah pakaian bernama celana jeans, sabuk kulit import, seragam jas, dan kemeja berdasi? Dipikir-pikir lagi, mungkin gak ya yang mejeng di billboard itu adalah foto narsisku di facebook? Rata-rata, calon pemimpin yang kampanye lewat media cetak di pinggir jalan itu gayanya klise, bahkan saling plagiat satu sama lain. Ada yang berfose sambil mengepalkan tangan, ada yang berfose Lebaran Style alias menyimpan kedua tangan di depan dada seperti Mojang Jajaka sedang sungkem, ada juga yang berfoto bareng anak-anak yatim, sambil memberi seplastik sembako ke orang miskin, atau mencangkul bareng beberapa petani di sawah. Ya Allah, maksudnya semua ini apa? Belum ada yang berfose ala cherrybelle, atau tarian lagu iwak peyek, atau apalah yang lebih unyu-unyu, divektorisasi misalnya.
Kembali ke laptop.
Tanpa menyinggung perkara ‘kepala keluargaku’ sekarang. Masa iya, rumah yang dari dulu warisan dari nenek moyang, yang penuh dengan kekuatan sangat batin, tiba-tiba akan direhab menjadi sebuah rumah yang sangat barat? Ibaratnya apa pantas secara logika, sebuah rumah bergaya Eropa berdiri di tengah persawahan yang di atasnya masih ada petani dengan kerbau-kerbaunya?
Sudah saatnya, kita sebagai kacang kembali mengingat kulit, kembali mengingat jati diri, ketika lahir kita berperan sebagai apa. Sudah saatnya pulang kampung, tidak terus menerus tinggal dalam paradigma yang sok kota. Beranggapan keren jika semuanya dirubah menjadi Eropa atau Amerika. Sebutlah Prancis terkenal sebagai pusat mode fashion, karena mereka itu memang itu budayanya. Kokoh dengan prinsip, bangga dengan budaya. Sehingga, tanpa diprogramkan supaya dikenal duniapun, etnis mereka dikenal orang. Sekarang pertanyaanya, jika kita melihat orang menggunakan jubbah, ada jenggotnya panjang dan lebat, terus memakai sorban di kepalanya, itu manusia mana? Jawabannya jelas bangsa Arab. Tapi jika kita memakai celana kampret, iket kepala, baju kampret, dan ‘beungeut cipleu’, kira-kira orang bule akan menyimpulkan kita sebagai orang sunda gak?
Kesimpulannya, jika seniman yang duduk di kursi keluarga kita lebih bangga memakai pakaian empunya rumah tetangga, lebih suka makan dari dapur milik rumah lain, lebih nyenyak tidur di kamar rumah seberang, lebih bisa tersenyum melihat anak-anak orang lain, maka kita patut curiga, jangan-jangan kepala keluarga kita selingkuh, dan wajib diusir dari rumah tercinta. Study Banding boleh, tapi aneh ya jika ada istilah Study Banding Rumah Tangga, atau Study Banding Istri.
.:: wa allahu a’lamu bi ash-showab ::. 

Komentar