Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Distance Relationship

Image taken from here
dalam jarak, kutitipkan cinta 
pada angkot-angkot, damri, taksi, dan tukang ojeg 
perjalanan kita tercatat menyusun sejarah kita sendiri 

e
jika rindu menyergap 
aku akan menghirup namamu lalu membaca 
senyuman yang kau simpan di saku jaketku 
bahkan, aroma tubuhmu masih menyatu dalam udara malam yang tak pernah hilang 

dalam jarak, kutitipkan rindu 
pada musim-musim, angin, hujan, panas, dan debu kota 
perbincangan kita tersimpan rapi di rak-rak cakrawala 
pada senja yang tertahan kenangan 
bayangan kita masih tertinggal di tempat-tempat yang pernah kita ziarahi 

dalam jarak, kusematkan doa 
karena doa adalah satu-satunya cara agar tetap memilikimu. 

2013

Komentar