Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Rudy Ramdani dalam antologi Syair Tanah Lahir


Perjalanan adalah tualang yang menyimpan banyak kata, pun makna, dalam setiap derap detiknya. Karenanya, perjalanan adalah guru waktu yang mengajarkan banyak hal tentang hidup dan kehidupan. Jika hidup hanyalah aktivitas menghabiskan umur, kepentingan materi, interaksi, dan terus terulang sampai kematian datang menjemput, maka perjalanan benar-benar tidak menemukan momentumnya dengan baik. Perjalanan adalah proses aktualisasi diri, perenungan, penghayatan, dan ‘semedi’ panjang dalam lorong-lorong pencarian. Tanpa perenungan dan penghayatan, hidup hanyalah catatan kosong tanpa jejak.

Barangkali, perjalanan pula lah yang menyebabkan lahirnya Syair Tanah Lahir. Bukan waktu sebentar untuk menunggu persalinan karya ini, karena nyatanya seluruh puisi dalam buku ini memiliki titimangsa yang panjang, tanpa pernah ada kelahiran ‘Syair Tanah Lahir’ lain sebelumnya. Sebelumnya, sosok Rudy Ramdani hanya muncul dalam buku-buku antologi bersama, proyek bersama, dan lembaran-lembaran koran. Sementara di luar sana, banyak ‘penyair’ yang mengaku ‘penyair’ dengan usia kepenyairan masih remaja, namun sudah ‘berani’ memiliki antologi sendiri.  Suatu waktu pernah saya bertanya pada diri sendiri, apa sulitnya bagi seorang Rudy Ramdani yang menghabiskan sebagian hidupnya untuk berpuisi, untuk menerbitkan antologi sendiri. Mungkin akan muncul beragam alasan, tapi saya kira, perjalanan adalah alasan yang paling mumpuni. Karena berpuisi bukanlah urusan teknis semata, tapi lebih pada kehadiran ruh dalam setiap waktu yang dialami. Baginya, barangkali, puisi bukanlah persoalan gugusan kata-kata yang termaktub dalam antologi, diterbitkan penerbit, lalu dipajang di etalase toko buku.  Sebagaimana yang ia ungkapkan di awal Mukadimah, bahwa puisi, baginya, adalah bentuk penghormatan kepada kehidupan. Dalam salah satu puisinya, ia juga mengutarakan,


...

mungkin sebagai puisi

telah kuhormati kehidupan dan pertemuan

sebagaimana rahasia, telah kubaca segalanya

...

(Sebagai Burung, 2008) 


Syair Tanah Lahir, bagi saya, cukup berhasil menjadi bukti dari ‘proses kreatif, proses berdarah-darah’ yang ia ajarkan kepada kami, santri-santrinya. Puncak pencapaian puisi adalah bagaimana proses kelahiran puisi tersebut. Setiap puisi yang lahir ke dunia dari kontemplasi seorang Rudy Ramdani menyiratkan keutuhan ruh dan rasa, sehingga pesan yang hendak disampaikan bisa sampai kepada penikmatnya dengan baik. Dalam teknisnya, kehadiran ruh dalam puisi tidak bisa sengaja diundang. Puisi datang serupa ‘ilham’ yang bisa datang kapan saja, bahkan dalam keadaan yang tak disangka-sangka. Artinya, butuh penantian dan kesabaran untuk menciptakan puisi yang ber-ruh. Menulis puisi tanpa kehadiran jiwa di dalamnya, sangatlah bisa terjadi. Kumpulkan kata-kata, rumuskan diksi, simpan sebuah cerita, bubuhi titimangsa. Tapi sekali lagi, puisi bukanlah persoalan teknis semata. 

Meskipun Syair Tanah Lahir dibagi dalam tiga sekat besar, secara keseluruhan antologi ini memiliki kesatuan rasa yang terikat. Semuanya terasa seperti satu tema yang tersimpan dalam bingkai kenangan. Perjalanan, kerinduan, kampung halaman, percintaan, dan berbagai harmoni kehidupan yang tenang dan mengenang. Hal itu terlihat dari larik-lariknya yang sering terulang,  menjadi semacam simbol-simbol penekanan, seperti kata rindu, waktu, cinta, ibu, tuhan, laut, alam, sehingga kesemuanya itu menjadi saling menguatkan satu sama lain. Simbol-simbol yang sering terdengung itulah yang mengajak pembacanya untuk merenung.

Saya perlu mencatat bahwa catatan ini bukanlah sebuah ulasan tentang sebuah antologi, bukan pula resensi apalagi analisis. Catatan ini hanya sebuah timbal balik dari saya, pribadi, sebagai pembaca yang merasakan berdirinya bulu kuduk --meminjam istilahnya Acep Zam-zam Noor—ketika membaca beberapa puisi di dalamnya. Syair Tanah Lahir, sebagaimana diungkapkan di awal, mengandung sekaligus mengajak penikmatnya untuk merenungi hidup. Barangkali, catatan ini adalah catatan yang lahir dari penenungan demi perenungan yang disuguhkan Syair Tanah Lahir.

Pertemuan saya dengan Kang Rudy, begitu kami menyapanya, berawal dari ketidaksengajaan. Dari sebuah kelas ekstrakurikuler yang hanya diminati beberapa orang saja, pertemuan itu diawali dengan buku-buku antologi, beberapa kata perkenalan, dan sebuah suntikan motivasi mengenai betapa beruntungnya orang yang menulis. Sejak itulah, pertemuan demi pertemuan berada dalam ruang istiqamah. Pertemuan yang berlangsung sangat lama, bahkan sampai sekarang. 

Mengingat sosok Rudy Ramdani dan buah penghayatannya, Syair Tanah Lahir, membuat saya banyak merenungi tentang perjalanan, waktu, dan hidup. Beberapa puisinya mengingatkan saya tentang banyak memori-memori masa lalu, kepingan-kepingan pertemuan, mimpi-mimpi, dan semesta album kenangan yang mengantarkan saya pada hari ini. Di antaranya potongan puisi berikut ini :

...

di luar sana, tempat dunia yang tak selamanya basah

kau bayangkan benda-benda bergerak tanpa suara

begitu lambat dan membosankan kiranya

sesekali kau saksikan burung-burung tampak juga

berenang, hanya saja dengan cara yang aneh

kau ingin memanggilnya, mengajaknya bercerita

dan memintanya mengajarimu cara berenang di udara

tapi, lautmu terlalu luas untuk kau jelajahi sendiri

sejauh apapun kau melaju diri, selalu tak kau temui pintu menuju udara

...

(Sebagai Ikan, 2008)

  

Barangkali ‘perenungan’ yang saya maksud tidak benar-benar menjadi ‘perenungan’ yang sesungguhnya. Itu hanya sebuah alasan bagi seorang anak yang berada jauh dari kampung halamannya yang sedang rindu kampung. Rindu rumah adalah hal paling wajar yang dialami oleh siapapun yang jauh dari rumahnya, tapi dari segala hal, Syair Tanah Lahir adalah sesuatu yang tidak saja membuat saya rindu rumah, tapi juga membuat saja terjerumus ke dalam sebuah ruangan yang penuh dengan kenangan. 

Dalam salah satu pengantar bedah buku Syair Tanah Lahir yang ditulis AF Sulaeman, istilahnya ‘ketika puisi lahir, maka penyairnya telah mati’. Setidaknya ada dua makna yang saya tangkap dari istilah tersebut. Pertama, ketika sebuah karya disuguhkan kepada penikmatnya, maka penafsirannya ada pada penikmatnya sendiri. Penikmat puisi tidak bisa menghakimi penyairnya tentang maksud yang tersimpan dalam sebuah puisi. Meskipun pada dasarnya, asbab an-nuzul puisi benar-benar murni dari pemikiran penyairnya. Kedua, satu-satunya cara seorang penyair untuk bertahan hidup adalah dengan menulis puisi. Tidak dikatakan hidup jika tidak berpuisi, karena setelah puisi itu lahir, hanya ‘kematian’ yang menjadi statusnya.

Akhirnya, hanya kepada Allah tempat terbaik mengembalikan segala urusan. Hidup adalah perjalanan, bahkan hanyalah perjalanan. Catatan ini membuat saya bingung harus dinamai dengan apa. Disebut ulasan bukan ulasan, disebut curhatan juga terlalu kaku, disebut analisis juga benar-benar jauh dari layaknya sebuah analisis. Lalu? Ini hanya sebuah metode agar tidak sakit. Karena katanya, jika rindu yang terus ditahan-tahan, bisa menyebabkan sakit. Barangkali rindu itu memang seperti uap yang kian waktu kian bertambah. Sementara dada kita adalah ruang yang sempit, maka sangat mungkin akan ‘meledak’. Karena tidak ingin ‘sakit’, maka rasa rindu itu harus dilampiaskan dengan cara yang baik.  

Semoga dalam perjalanan yang kita tempuh, perenungan-perenungan yang kita lakukan mampu membuat kita selalu berada dalam arah yang baik dan sampai pada akhir yang baik. -wa Allahu a’lamu bi ash-showab-



AMSAL PENYAIR


pencarian ini tak akan pernah usai

hingga saatnya nanti kutemukan makna cinta


perjalanan ini tak akan pernah sampai

hingga waktunya nanti kudapati arti pulang


Tuhan

bimbinglah langkahku

jagalah jiwaku

terimalah hadirku

sambutlah pulangku


2007 

Komentar