Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Iwan Jaenal Arifin: Dari Kanvas Menuju Identitas

Jika tidak terpilih sebagai Ketua, barangkali Iwan Jenal Aripin akan menjadi seseorang yang menghabiskan sebagian waktunya di depan kanvas, koas, cat, dan tinta. Sejak kecil, bakat seninya telah mengalir dalam darah dan dagingnya, bahkan tak jarang buah karyanya lah yang mengangkat namanya ke permukaan. Kemampuannya dalam menulis kaligrafi dan seni lukis terbilang cukup baik. Pemahaman, pengamalan, serta pengalaman yang mumpuni telah membuatnya menjadi seorang yang bercita rasa tinggi serta memiliki integritas dalam bidang seni yang digelutinya.

Seorang yang disebut profesional adalah sosok yang mampu menerjemahkan potensi dalam dirinya menjadi hal-hal nyata yang mampu menjadi manfaat bagi banyak orang. Setidaknya, itulah semangat yang membakar jiwa seorang Iwan Jenal Aripin untuk membawa KPMJB ke arah yang baru. Karena baginya, segala sesuatu tanpa seni ibarat makanan tanpa garam. 

Baginya, KPMJB merupakan cermin miniatur Jawa Barat karena di situ segala aroma, rasa, adat, kebiasaan, bahasa, seni, dan budaya berpadu serta berinteraksi. KPMJB memungkinkan hubungan antarmanusia masih bisa berlangsung hangat. Hal itu berbeda dengan organisasi politik ketika manusia sudah seperti mesin, tidak ada lagi kehangatan.

Asumsi KPMJB sebagai rumah telah menggerakan hati dan pikirannya untuk melakukan perubahan-perubahan kecil terhadap KPMJB. Melalui visi ‘membentuk lingkungan yang berorientasi pada kesolehan sosial’ dapat diterjemahkan bahwa ia hendak menerapkan sebuah identitas warga KPMJB sebagai warga yang jujur, adil, disiplin, bertanggung jawab,  peduli, dan lembut. Tentunya, ‘kesolehan sosial’ yang dimaksud juga mengacu pada lahirnya generasi yang mengenal dirinya, dekat dengan alamnya, menuju Tuhannya. Mengenal diri berarti mampu menggali segala potensi yang dimiliki, sehingga Iwan merasa perlu untuk melakukan program-program yang mampu memfasilitasi warga untuk mengembangkan minat, bakat, dan prestasinya.  Dekat dengan alam berarti mampu mengenali dan peduli terhadap kebudayaan yang dimiliki. Jangan sampai istilah kebudayaan dikenal generasi mendatang hanya dari buku, media sosial, internet, dan buku-buku sekolah yang miskin praktiknya. Program-program kebudayaan perlu dilakukan, agar terjadi regenerasi yang baik. Berbagai kerjasama dalam bidang kebudayaan juga tengah dan akan dilakukan Iwan Jenal Aripin untuk KPMJB yang berbudaya. Menuju Tuhannya berarti adanya orientasi yang baik dalam segala hal yang dilakukan. Agama ibarat pagar yang membatasi sebuah rumah. Kehadiran seni yang bebas dan merdeka tidak lantas merusak ‘pagar’ itu, akan tetapi menghiasnya agar indah. Karena seni itu meski bebas tapi bertanggung jawab.

Masyarakat KPMJB adalah masyarakat yang kondisinya sangat heterogen. Perpaduan berbagai karakter, minat, dan adat membutuhkan sosok pemimpin yang mampu merangkul itu semua secara optimal. Program Turba (Turun ke bawah) merupakan salah satu program blusukan yang diprogramkan Iwan, sebagai usaha untuk merangkul heterogenitas yang ada. Dengan harapan, program-program yang diprogramkan dapat menanamkan identitas yang dicanangkan. 

Terlepas dari semangat Iwan yang membara atau program yang baik dan inovatif, KPMJB takkan menjadi apa-apa tanpa partisipasi dari semua pihak. Iwan berharap, kepercayaan yang telah warga berikan padanya melalui pemilihan Gubernur KPMJB lalu merupakan bukti kesiapan seluruh elemen untuk membuat perubahan bagi KPMJB.  


SD : SD Cipeujeuh Cianjur 1997-2002

SLTP : MTs At-Tanwiriyyah Cianjur 2002-2004

SLTA : MA At-Tanwiriyyah 2004-2007

PT : Al-Azhar University Fak. Ushuluddin Jur. Hadits 2007-2011


Ketua Histan (Himpunan Santri At-Tanwiriyyah) 2005-2006

Sekretaris DPD (Dewan Pengurus Daerah) Mansurah 2009-2010

Bagian Departemen Sosial DP KPMJB 2010-2011

Ketua Angkatan Global Community Cairo 2011-sekarang

MPA KPMJB 2011-2012

Bupati SSSC (Sukabumi, Subang, Sumedang, Cianjur) 2012-2013

Direktur Pasangrahan 2013-2014

Ketua KPMJB 2014-sekarang

Komentar