Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Modernitas dan Muhammadiyah Dalam Bingkai Integrasi Sosial



Integrasi adalah nilai. Muhammadiyah adalah agen yang menstranformasikan nilai-nilai tersebut, sedangkan modernitas adalah konteks di mana proses transformasi itu terjadi. 

Integrasi yang dimaksud dalam tulisan ini secara literal berasal dari bahasa Inggris, integration, yang berarti penggabungan, kesempurnaan, atau keseluruhan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integrasi diartikan sebagai pembaharuan hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat. Integrasi merupakan suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Dalam integrasi tersebut setiap kelompok masyarakat memiliki adat-istiadat atau kebudayaan yang berbeda-beda namun mereka tetap berpegang teguh terhadap adat-istiadat dan kebudayaan mereka masing-masing. 

Dalam ranah Antropologi, integrasi adalah proses mencari kesamaan unsur-unsur kebudayaan, sehingga menjadi satu kebudayaan utuh yang menjadi identitas. Dalam pendekatannya terdapat dua pengertian, pertama pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu. Kedua membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. 

Berkaca dari proses integrasi yang dilakukan Muhammadiyah dalam rangka melebarkan sayap dakwahnya, terdapat Teori Fungsionalisme Struktural (TFS), yaitu sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai "organ" yang bekerja demi berfungsinya seluruh "badan" secara wajar. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan "upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif."

Menurut pandangan para penganut fungsionalisme, struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut. Pertama, suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar). Kedua, masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.

Integrasi ini menghendaki terjadinya transformasi sosial, sehingga Muhammadiyah mampu berkembang dengan caranya yang berani ‘menantang’ keadaan pada waktu awal kelahirannya dengan berlandaskan  dasar kesejahteraan, transendensi, cita-cita, dan misi historis kitab suci Alquran. Integrasi ini diperlukan oleh Muhammadiyah agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.

Dalam hal ini, Muhammadiyah berlandaskan pada Alquran Surat Ali Imran ayat 104, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini bukan semata-mata landasan normatif yang digunakan K.H. Ahmad Dahlan pada waktu membentuk Muhammadiyah, tapi landasan ini benar-benar menjadi spirit yang membakar semangat semua pengikutnya yang waktu itu hanya berjumlah beberapa orang saja. 

Dari Integrasi Ke Integrasi

Dalam catatan sejarah, Maulana Malik Ibrahim diketahui sebagai orang yang pertama kali menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Pada awal kedatangannya ke tanah jawa, Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gresik, tidak langsung menusuk tajam agama dan kepercayaan masyarakat pribumi. Yang waktu ia lakukan adalah menampilkan akhlak Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selalu berkata lemah lembut, baik, sopan, sehingga orang merasa tertarik untuk masuk Islam tanpa merasa dipaksa. Misalnya tradisi pesta panen, dengan cara membuat sesajen dan menggiringnya ke laut. Pada dasarnya, tradisi itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap adikodrati. Tapi saat itu, bukan Allah yang menjadi objeknya. Maka dengan masuknya Islam, acara syukuran itu tidak lantas dihilangkan, namun ‘diluruskan’ bukan untuk menyembah ‘penunggu’ laut, melainkan menyembah Allah. Meskipun tendensinya bukan berarti harus ada sesajen pula untuk Allah. 

Berbeda wasilahnya dengan Sunan Kalijaga. Ketika sikap baik dan ramah saja dipandang belum cukup, Sunan Kalijaga melakukan pendekatan budaya, yaitu dengan menyelipkan unsur-unsur Islam ke dalam kebudayaan masyarakat. Salah satu yang terkenal sampai saat ini adalah lagu Lir Ilir. Sunan Kalijaga sadar bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat yang berbudaya sejak lahir. Dilahirkan dan dibesarkan sebagi pribumi yang kental dengan adat istiadat. Karenanya, lagu Lir Ilir merupakan salah satu pendekatan yang dilakukannya. Lewat lirik-liriknya yang penuh makna, dikombinasikan dengan musik dan aransemen yang sesuai dengan lingkungannya, Lir Ilir mampu menjadi alat dakwah yang efektif. Hal lainnya juga terjadi dalam dunia perwayangan, bentuk arsitektur mesjid, dan lain sebagainya. 

Pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara halus ini bertujuan agar masyarakat ma(mp)u menerima kehadiran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa ada paksaan, Islam berhasil masuk ke dalam kebudayaan lama, tanpa menghilangkan kebudayaan lama tersebut secara keseluruhan (penetratio pasifique). Hal ini juga merupakan sebuah keberhasilan integrasi yang dibawa oleh penyebar ajaran Islam dalam kebudayaan tanah jawa yang kental. Integrasi penyatuan antara unsur budaya dan unsur agama menjadi satu harmoni yang menghasilkan warna baru dalam khazanah keIslaman.

Sayang dalam perjalanannya masih saja terjadi penyimpangan nilai-nilai transenden dalam memaknai terintegrasinya Islam dengan budaya setempat. Setelah para Sunan tidak lagi mewujud di tanah Jawa, masyarakat justru menjadikan pendekatan pengintegrasian itu sebagai suatu hal yang mutlak dengan alasan adaptasi. Seolah-olah syukuran itu memang harus dengan tumpeng, berdzikir itu harus yasinan berjamaah, dan lebih parahnya, lahir asumsi bahwa Islam adalah agama yang apa adanya, statis, dan muslim tidak perlu tanggap terhadap perubahan zaman, terlebih terhadap hal-hal yang muncul sebagai buah tangan orang-orang non-islam.

Hal inilah yang membuat K.H. Ahmad Dahlan geram melihat siatuasi lingkungannya, sehingga ia merasa berkewajiban untuk kembali ‘meluruskan’ hal-hal yang menurutnya tidak pantas terjadi. Meskipun pada awalnya banyak terjadi pertentangan dan tidak diterima masyarakat, tetapi pada akhirnya ia berhasil menjaga kewibawaan Islam  dengan mendobrak dogma-dogma kaku seputar Islam. K.H. Ahmad Dahlan secara total mengabdi untuk misi profetisme, menghadapi banyak tantangan. Seperti halnya Rasul, tidak jarang pula menerima hal-hal yang mengancam jiwanya karena mendobrak tradisi dan kekuasaan politik. 

Rasul sangat dibenci oleh kaum kafir Quraisy, bukan saja karena ia membawa agama baru, tapi juga merubah tatanan sosial, yang mana kehadiran Rasul ini merupakan pembongkaran terhadap tradisi dan menerapkan tradisi baru yang lebih humanis. Hal yang sama juga dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Tatkala umat pribumi yang miskin tidak boleh mengenyam bangku pendidikan dan paham keagamaan hanya didominasi oleh para ahli dan bangsawan, maka ia berkorban secara total untuk kebebasan pendidikan. 

Modernitas telah berkembang sejak Muhammadiyah berdiri. Kehadiran kolonial Belanda sedikit banyak telah memberikan banyak pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat tanah Jawa. Masyarakat pribumi sudah mulai mengenal sistem pembelajaran sekolah, sistem irigasi, transportasi kereta api, gaya berbusana, dan lain sebagainya. Meskipun semua itu masih berjalan dengan kastaisme, tapi setidaknya sudah banyak teknologi yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat.

K.H. Ahmad Dahlan memandang bahwa Islam lah yang seharusnya memprakarsai itu semua. Barangkali dalam benaknya waktu itu, suatu saat Islam lah yang akan menggunakan semua teknologi yang menurut pribumi ‘aneh’ dan ‘asing’, sehingga Islam mampu dikenal sebagai agama yang dinamis. Salah satu langkah yang ia tempuh adalah dengan cara mengajar agama di sekolah yang didirikan Belanda, kemudian belajar cara berorganisasi di Budi Oetomo, mulai membuka Madrasah Diniyah, dan mendirikan organisasi Muhammadiyah. Semua itu ia lakukan bukan tanpa alasan. K.H. Ahmad Dahlan mengintegrasikan Islam dengan modernitas agar Islam tidak dipandang sebagai sebuah agama yang terbelakang, ketinggalan zaman, statis, sehingga orang-orang menjadi tidak tertarik dengan Islam karena asumsi yang keliru tersebut.
 

Modernitas Muhammadiyah 

Sejak awal, Muhammadiyah tidak membangun kongsi- kongsi dagang, tetapi membangun sekolah sebanyak mungkin. Pertimbangannya sangat jelas yakni kebodohan telah menjadi musuh terbesar umat Islam dan mustahil umat Islam dapat membangun masa depan yang lebih baik bilamana kebodohan dan keterbelakangan tetap saja melekat lengket dalam kehidupan umat Islam.

Oleh karena itulah Muhammadiyah dalam hal keumatan mempunyai doktrin yaitu enlightenment atau pencerahan umat Islam. Lewat doktrin tersebut, Muhammadiyah merintis sekolah umum sebanyak- banyaknya, tidak hanya pesantren saja. Alasannya jelas, yakni umat Islam yang berjubel memadati masjid tidak akan pernah dapat berangkat jauh bila mereka tetap terbelenggu dalam kebodohan dan keterbelakangan. Umat Islam yang bodoh, demikian keprihatinan para tokoh Muhammadiyah sejak dulu, dapat berubah posisi dari mayoritas kuantitatif menjadi mayoritas kualitatif.

Pada saat ini, hasil usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan relatif telah memuaskan. Santri bukan lagi dipandang sebagai seseorang yang lemah, bodoh, sarungan, berwawasan sempit, serta mudah dipecundangi, tetapi sebaliknya, santri adalah sosok manusia beragama, yang makin cerdas, dan kritis, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berwawasan luas dan percaya diri dengan status kesantriannya. Barangkali Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) adalah salah satu gambaran santri modern, dan sampai batas tertentu, konstribusi Muhammadiyah dalam mengubah citra santri lewat proses pencerahan itu tidak dapat diabaikan. Berdasarkan data terakhir yang dikutip dari beberapa sumber, Muhammadiyah telah berhasil mendirikan TK/TPQ sebanyak 4623, SD/MI sebanyak 2604, SMP/MTs sebanyak 1772, SMA/SMK/MA sebanyak 1143, dan PT sebanyak 172.

Dalam bidang sosial, Muhammadiyah juga berhasil mendirikan banyak Rumah Sakit, Panti Asuhan, Panti Jompo, Klinik Kesehatan, Lembaga ZIS, dan Pondok Pesantren yang menyebar di seluruh Indonesia.

Semua ini tercapai tidak semata-mata tercapai karena ketidaksengajaan, semata-mata ditakdirkan, atau berjalan apa adanya, tetapi justru harus dipertanyakan, apa rahasia yang membuat organisasi Muhammadiyah bisa tetap menjaga eksistensinya lebih dari satu abad lamanya, sedangkan ada organisasi serupa tetapi tidak seperti kemajuan yang dialami Muhammadiyah. Sebut saja misalnya Sarekat Islam (SI). Organisasi orang-orang beragama ini telah hilang tertindas zaman oleh berbagai macam sebab. Nasib ini tidak berlaku bagi Muhammadiyah. Justru Muhammadiyah tetap melaju sampai saat ini sebagai organisasi keagamaan yang mapan. 

Inilah bukti yang sulit dibantah dari statement integrasi Muhammadiyah. Dari pada memperjuangkan Islam melalui jalur politik seperti SI, Muhammadiyah lebih menaruh perhatian pada strategi kebudayaan dan pendidikan. Yang menjadi pertanyaan fundamental adalah, dalam konteks modernitas, apakah Muhammadiyah masih mampu mempertahankan keeksistensiannya? Di titik inilah, integrasi lagi-lagi dijungjung sebagai bentuk adaptasi dan enkulturasi.

Perkembangan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan sosial memiliki peranan yang cukup fundamental dan strategis dalam masyarakat. Sebagai organisasi dakwah dapat secara leluasa memperkenalkan nilai-nilai Islam ke khalayak masyarakat modern. Dakwah di sini bukan hanya dalam bidang peribadatan, tapi juga bertanggung jawab bagi masa depan umat secara sosial. Secara teologis, Muhammadiyah menghendaki peran agama secara pragmatis, implementatif, kemaslahan umat, sesuai dengan konsep Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Integrasi, Muhammadiyah, dan Modernitas

Sementara di lain pihak, arus globalisasi berjalan terus tanpa bisa ditahan sedikit pun. Setiap detik, menit, jam, setiap harinya melahirkan hal-hal baru yang jauh dari praduga manusia sebelumnya. Modernitas mmebuat banyak aspek kehidupan menjadi semakin rumit dengan bebagai permasalahan baru yang bermunculan. Besarnya arus gelombang globalisasi disadari atau tidak telah dan akan menjadi tantangan terbesar bagi eksistensi Muhammadiyah. Terutama dalam bidang pendidikan, kehidupan abad modern sedikit banyak memberikan banyak penetrasi bagi keberlangsungan pendidikan keislaman. Hal ini yang dikhawatirkan terjadi pada jasad Muhammadiyah kelak. Ketika sekolah-sekolan modern berdiri, universitas besar, lembaga sosial di mana-mana, justru malah kehilangan arah dan kehilangan visi yang sejak awal dipegang ketika Muhammadiyah berdiri. 

Kekhawatiran ini akan berhenti sebagai kekhawatiran dan berlanjut menjadi hal nyata yang tak pernah siapapun kira, jika Muhammadiyah justru malah terseret besarnya arus gelombang globalisasi. Karenanya, berbagai integrasi yang dilakukan Muhammadiyah kiranya perlu ditinjau dan diperhatikan dengan baik, agar tidak salah memilih antara mana unsur yang bisa diselipkan unsur islamnya, dan mana yang tidak perlu. 

Penutup

Apa yang terbaik dilakukan hari ini adalah hal terbaik yang akan tercatat dalam suatu sejarah. Sementara waktu terus melaju, modernitas menjadi satu hal yang tidak bisa dipungkiri kehadirannya oleh manusia modern. Modernitas dalam gelombang globalisasi merupakan sebuah peluang sekaligus ancaman bagi Islam, dalam hal ini Muhammadiyah. 

Secara teologis, kurun waktu satu abad lebih adalah bukti bahwa spirit Muhammadiyah telah berhasil mengalahkan berbagai macam rintangan yang dilaluinya. Sebagaimana namanya, Muhammadiyah yang bermakna pengikut Muhammad, sudah sepatutnya berpegang teguh pada nilai-nilai yang ada pada diri nabi Muhammad saw. Dengan begitu, jiwa profetisme itulah yang akan menjadi generator dalam menghadapi berbagai rintangan lain yang ada dalam modernitas globalisasi.

Sebagai penutup, Muhammadiyah telah membuktikan sejak awal kelahirannya bahwa agama bukanlah hal yang sangat adiluhung sehingga sulit dijangkau oleh kaum papa, tetapi membumi dan dekat dengan siapapun. Sebagai lembaga keagamaan, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab yang cukup fundamental untuk tetap menjaga keaslian dakwahnya, di tengah tantangan zaman, termasuk modernitas. Wa allahu a’lamu.

________________
Tulisan ini pernah mendapatkan Juara 1 dalam Lomba Menulis Kolom PCIM Muhammadiyah Mesir tahun 2014. 

Komentar