Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Memaknai Prasasti KPMJB Mesir

PRASASTI PASANGRAHAN JAWA BARAT

بسم الله الرحمن الرحيم

Hayua diponah-ponah
Hayua dicawuh-cawuh
Inya neker inya anger
Inya ninycak inya rempeg

Ulah diruksak
Ulah samena-mena
Mun dipiara bakal anger
Mun ditincak bakal rempag

Cairo, 06 Agustus 2006

Drs. Nu'man Abdul Hakim
Wakil Gubernur Jawa Barat



Batu marmer berwarna hijau menjadi 'selamat datang' pertama, bagi siapapun yang datang mengunjungi Pasangrahan Jawa Barat di Kairo, Mesir. Sebuah prasasti peresmian rumah sekaligus sekretariat bagi warga Jawa Barat yang berdomisili di Mesir. Barangkali tidak banyak yang tahu apa isi dari prasasti tersebut. Gugusan kata normatif dan multi-interpretatif ini bisa jadi hanya oleh segelintir orang saja yang berusaha membacanya sampai tuntas, lalu memahaminya dengan baik. Setidaknya ada pesan yang hendak disampaikan tentang pandangan masa depan mengenai Pasangrahan dan warga Jawa Barat ke depannya.

Hampir keseluruhan isi dari prasasti ini merupakan isi dari Prasasti Astana Gede yang ditemukan di daerah Kawali, Ciamis, Jawa Barat. Prasasti ini masih erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Sunda Galuh, dan sering disebut-sebut sebagai tugu peringatan masa kejayaan Prabu Wastu Kancana, putra dari Prabu Lingga Buana yang gugur ketika Perang Bubat. Setidaknya, filosofis-historis yang dimiliki isi prasasti ini secara sengaja turut dihadirkan dalam Prasasti Pasangrahan Jawa Barat yang ada di Kairo. Spirit kejayaan, milestone visioner, dan pesan-pesan bijak yang tertuang dalam setiap katanya, seperti tengah menyimpan mimpi besar bagi keberadaan warga Jawa Barat.

Hayua diponah-ponah (Janganlah dirintangi). Manusia hidup dengan aturan-aturan. Keteraturan inilah yang mengarahkan manusia agar tetap berjalan di atas jalur. Aturan Tuhan, aturan alam, aturan sosial, aturan budaya, semua senantiasa berotasi dalam ritme alur kehidupan manusia. Segala hal seperti telah diciptakan dengan konsekuensi-kosekuensi. Artinya, ada pengendali dari setiap aturan itu. Tapi inilah manusia yang hidup dengan nafsu dan hasrat kebebasan. Selalu ada gejolak untuk melakukan perlawan terhadap ketentuan-ketentuan yang bahkan sudah jelas konsekuensinya. Kiranya itulah alasan mengapa larik ini menjadi larik pertama yang tertuang dalam Prasasti Jawa Barat.

Hayua dicawuh-cawuh (Janganlah diganggu). Pola-pola interaksi antara manusia dan alam seperti arus energi, daur materi, dan lainnya merupakan interaksi yang dinamis. Karenanya, akan selalu ada perubahan dalam setiap aspeknya, sesuai dengan pergerakan kurva kebutuhan, keinginan, dan kepentingan-kepentingan manusia yang aktif. Akan tetapi, manusia perlu bijak dalam menyikapi dinamisme ini. Ada hal yang perlu digunakan seperlunya, ada hal-hal yang tidak bisa diganggu gugat keberadaannya. Setidaknya larik ini mengisyaratkan untuk senantiasa pandai-pandai memosisikan diri, menitipkan diri, mawas diri.  

Inya neker inya anger (Ia dihormati, ia tetap). Budayawan Sunda, Hawe Setiawan, pernah mengatakan bahwa puisi mengajarkan pengakuan terhadap segala hal, bahkan pada hal-hal kecil yang bagi sebagian orang dianggap tidak penting. Kiranya cara puisi mengakui multihal itu patut diadopsi dalam kehidupan sosial. Local wisdom 'someah hade ka semah' perlu menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Jawa Barat di manapun berada, khususnya di Mesir. Ramah terhadap tamu berarti murah senyum, tangan terbuka, menjamu, menjaga, memelihara, membahagiakan orang lain, dandarehdeh (membungkukkan badan/rendah hati) dalam segala kesempatan. Neker berarti respect, menghargai orang lain, dan toleran terhadap perbedaan. Jika kearifan lokal itu masih mampu terjaga dengan baik meski berada di tanah orang lain, maka ada nilai yang berhasil dipertahankan dengan baik. Sebuah nilai yang tidak lagi diukur lewat ucap pujian atau sanjungan, tapi lebih dari itu.   

Inya ninycak inya rempeg (Ia diinjak, ia roboh). Jika nilai, norma, dan aturan sudah tak lagi diacuhkan, maka ada jati diri yang dipertaruhkan. Laiknya manusia yang membentuk budaya dan budaya yang membentuk identitas, sebuah satu kesatuan yang tidak bisa hidup tanpa wajah aslinya. Identitas adalah kepribadian yang melekat ke manapun, di manapun, apapun. Sehingga tidak mungkin seseorang memperkenalkan dirinya sendiri menggunakan identitas orang lain. Krisis identitas adalah kerobohan jati diri yang sejatinya harus dihindari. Maka, kalimat ini setidaknya mendeskripsikan bahwa segala yang ditinggalkan akan rusak tanpa jejak, roboh tinggal cerita.

Ulah diruksak (Jangan dirusak). Pasangrahan Jawa Barat adalah rumah bersama. Setiap orang boleh mengunjunginya, beraktivitas di dalamnya, membuat banyak manfaat, dan menularkan kebaikan-kebaikan di dalamnya. Kendati demikian, rumah bersama adalah tanggung jawab bersama. Bukan tanggung jawab mereka yang dulu membangunnya, bukan mereka yang memiliki ide keberadaannya, bukan pula hanya mereka yang menjadi pengurus di dalamnya. Rumah kita adalah tanggung jawab kita. Setidaknya jika tidak mampu membangunnya, maka menjaganya. Jika tak mampu membersihkannya, maka memelihara kebersihannya, jika tak mampu menjadi pelopor kebaikan, maka jadilah pengikut kebaikan yang baik. Menjaga Pasangrahan bukan hanya soal menjaga fisiknya. Di luar lingkaran fisik, ada yang lebih intrinsik dan urgen untuk dijaga. Ini soal nama baik yang haram hukumnya untuk dirusak, atau bahkan hanya sekadar dinodai dengan warna yang tidak seharusnya. Pasangrahan bukan media dan wadah yang didirikan dengan tujuan untuk orang-orang yang kontra-produktif, statis-kreativisme, tidak menghendaki inovasi dan hal-hal baru, tidak menghargai sejarah dan warisan, dan tidak ikut andil dalam mengharumkan nama Jawa Barat, meski hanya sekadar berkeinginan. Jika Tulus mengatakan dalam lirik lagunya, "Jangan cintai aku apa adanya", maka begitu pun dengan Pasangrahan Jawa Barat yang seolah-olah senantiasa mengatakan kalimat itu kepada para warganya. Ada tuntutan sekaligus dorongan untuk senantiasa terus memacu diri dan mempelajari lintas bidang, memperkaya wawasan, dan berbuat lebih banyak manfaat untuk kepentingan universal. 

Ulah samena-mena (Jangan Sewenang-wenang). Sebuah kutipan sederhana 'More Talents, Less Ego' menjadi kalimat pengingat yang terpasang di salah satu sudut ruangan di Pasangrahan KPMJB. Sebuah kalimat meritokratif persuasif yang mengajak untuk tidak merasa pang-aing-na, merasa paling berjasa, merasa paling terhormat, dan merasa paling-paling lainnya. Tri tangtu yang menyatakan silih asah, silih asih, silih asuh (saling mengasah, saling menyayangi, saling mengasuh/mengayomi/membimbing) adalah prinsip berpikir masyarakat Jawa Barat yang sepatutnya diterapkan. Yang ada adalah yang berpengalaman mengajarkan yang belum berpengalaman, saling berproses, dan saling menghargai satu sama lain.

Mun dipiara bakal anger (Jika dijaga akan tetap). Cukuplah usia menjadi alasan bagi ketidaklayakan Pasangrahan Jawa Barat. Dengan begitu, hal ini akan mendeskripsikan warga yang baik, yang mampu menjaga titipan, yang mampu memelihara fasilitas dan aktivitas dengan baik. Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada pula sebuah bangunan yang dibangun untuk keabadian selain bangunan pengabdian. Keikhlasan menjadi mata rantai yang begitu penting maknanya dalam menjaga dan memelihara Pasangrahan Jawa Barat. Barangkali memang tidak ada materi yang didapatkan oleh mereka yang dengan tulus mencintai Jawa Barat, mencintai warga Jawa Barat, mencintai Pasangrahan Jawa Barat. Tapi materi menjadi hal lain ketika ikhlas dan cinta mampu berkolaborasi membangun harmoni dalam bingkai pengabdian.

Mun ditincak bakal rempag (Jika diinjak akan retak/roboh). Usia yang laju dan umur yang subur menyimpan cerita tidak serta merta membuat Pasangrahan menjadi tempat statis, awet, dan staganan dalam pola kualitas yang sama. Tentunya ada beberapa bagian yang memerlukan perbaikan, penambahan, pengurangan, pergantian, pembaruan, dan perubahan-perubahan lain yang tentunya untuk kebaikan bersama. Tapi sebagai manusia dewasa yang tidak lagi memiliki perasaan mengandalkan, sepatutnya turun tangan dalam hal-hal yang bersifat diandalkan. Layaknya menunggu angkot di rel kereta, perubahan itu tidak akan datang menghampiri mereka yang tidak punya keinginan dan kemauan, juga tidak bagi mereka yang selalu memikirkan hal-hal besar tanpa memulainya dari hal-hal kecil.  
  
Terlepas dari itu semua, saya sadar bahwa semua yang saya tulis ini hanyalah sebuah interpretasi, takwil, atau bahkan hanya penafsiran liar. Tentunya ada makna yang jauh lebih tepat dari semua yang saya tulis, dan tentunya dengan referensi yang memadai. Dalam hal ini, sejatinya tidak saya miliki kapasitas dan kapabilitas yang layak untuk sekadar menerjemahkan prasasti normatif yang setiap hari setiap waktu saya dan bahkan mungkin banyak orang lihat di depan pintu. Ini hanya sebuah ungkapan seorang warga yang sedang berusaha mencintai tanah kelahirannya dengan baik.
  
We [heart] West Java ;)


24 November 2014

Komentar