Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Surat untuk Pur di Ramadan 1435

 Hai Pur. 

Sudah lama kita tak saling bertukar kabar. Terakhir kali saat kita mengunjungi Museum Geologi, kau menceritakan banyak kekhawatiran. Pada siang yang cerah lalu disusul gerimis tipis, kekahawatiranmu berhamburan di antara tawa yang kau lepaskan begitu bebas. Tentang tugas-tugas kuliahmu, dosen-dosenmu, juga tentang Tri yang selalu mengikutimu ke manapun kau pergi. Sekarang aku merindukan kabarmu lagi, meskipun terkadang kau hanya mengabariku hal-hal yang menurutku tak penting. Seperti dibantu polisi ‘ganteng’ saat menyeberang jalan, atau di-ospek sama senior yang keren. Aku menebaknya sekarang, cara berpikirmu sudah tak seperti dulu lagi. Kau sudah menjelma menjadi aktivis organisasi, yang sebagian waktunya dihabiskan di ruang sekretariat dengan komputer yang menyala, atau asap rokok dari senior-seniormu yang tak pernah mendengar baik-baik larangan banyak teman perempuanmu. 

Dulu, kau adalah seorang yang pemalu untuk mengungkapkan kekhawatiranmu. Padahal kukira dirimu tak pernah punya masalah untuk diungkapkan. Bahkan ketika berjalan di bawah payung yang sama saat kita pulang dari Braga, tak sepatah cerita pun kau ungkapkan kecuali jika aku yang mengawali. Kita melanjutkan perjalanan itu. Sampai akhirnya kita berpisah di depan alun-alun, lalu salam manis mengalun lembut lewat senyummu. 

Pur, aku ingin kau dengarkan kata-kataku baik-baik. Tetunya dengan dua buah donat keju milik kita. Tapi aku paham sekarang. Kita tak sedekat dulu lagi. Kita tak lagi punya kekhawatiran-kekhawatiran, cemas-cemas, atau tugas kuliah yang didikte lewat telepon. Kita hanya saling paham sekarang.

Aku hanya ingin kembali menceritakanmu, Pur, tentang perjalananmu menjadi mimpi-mimpi dalam hidupku. Seharusnya kau begitu senang dengan cerita ini, karena karenanya ada orang yang begitu bersemangat menjalani hidupnya. Aku paham kita tak ingin menelan kalimat-kalimat masa lalu. Aku hanya ingin mengunyahnya, kapan pun kita mau.

**

Sebuah Pagi di Ramses Square

Pagi itu, matahari belum muncul di jendela kamarku. Jam masih menunjukkan angka enam, namun udara sudah terasa gerah. Mataku masih terasa berat. Tidak tidur setelah subuh adalah rutinitas aneh di bulan Ramadan. Kubuka ponselku, Accuweather muncul dengan angka 40 derajat celcius. Huft, puasa baru dimulai, tapi angka itu mulai menakut-nakutiku dengan berbagai sugesti melemahkan. Jalan raya lengang. Nyaris tak satu pun kendaraan melintasi jalur yang biasanya bising dengan suara klakson supir bis, tramco, atau kendaraan pribadi yang tak sabar saling salip. 

“Ayo! Kita siap-siap!” seru Kang Iwan menganggu lamunanku.

“Saya mandi dulu!” ujarku singkat. Bergegas kuhampiri air kamar mandi yang tak terasa dingin. Setidaknya, rasa berat di mataku terasa lebih ringan disbanding sebelumnya.

Hari ini, kami akan pergi ke Alexandria. Sebuah kota bersejarah yang menyimpan banyak cerita bersejarah. Ini merupakan kali pertama aku mengunjungi kota di bagian utara Mesir ini. Segala hal yang indah-indah bersemayam di pikiranku. Sebagaimana dikisahkan di film-film, foto-foto, atau narasi Habiburrahman El-Shirazy tentang Alexandria yang indah tanpa cacat. 

Kami berdua bergegas keluar rumah, menuruni anak tangga, lalu terpaku di lengangnya jalan raya, menanti sebuah bis atau minibus yang melintas menuju Ramses Square. Lima belas kami menunggu, mobil pun datang. 

Ramses Square telah ramai. Suara klakson, lalu lalang orang, suara pedagang, kernet angkutan umum, dan segala hal lainnya layaknya aktivitas terminal kota di pagi hari. Sejauh mata memandang, bangunan-bangunan tua berdiri tegak seolah sedang menyembunyikan sebuah cerita lama. Bangunan berarsitektur eropa, beberapa ornament salib, debu-debu di permukaan dingding, menguatkan asumsiku tentang cerita bangsa Roma yang tertinggal di negeri seribu menara. 

Kami bergegas menuju stasiun kereta api. Suasana di dalam stasiun jauh lebih ramai dibanding terminal. Orang-orang terlihat lebih sibuk dengan langkah yang panjang dan cepat. Beberapa buah papan elektronik menampilkan jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta. Nama Alexandria tertulis di sana, namun kami harus gigit jari ketika tak satupun ada tiket yang tersisa. 

“Kang, piramida kaca itu mirip yang di Prancis!” ujarku polos.

“Ah, ente mah segala teh mirip Eropa!” jawabnya ketus.

“Serius, Kang! Coba liat, bentuknya sama, hanya beda ukuran. Terus liat rangka atap stasiunnya, mirip di Notredam!” ujarku antusias.

“Notredam? Kaya yang udah pernah ke sana aja!” jawabnya masih ketus. Pandangannya menjelajahi mainhall stasiun. 

Pur, aku sedang tenggelam dalam romantisnya sungai nil. Tapi sayang, hariku hari ini berjalan tak sesuai rencana. Minggu lalu aku berkenalan dengan seorang gadis berdarah Swiss-Mesir. Hidungnya mancung, kulitnya putih. Caranya memakai kerudung membuatku tertarik padanya. Ia selalu menceritakan Kairo dengan bangga, bahkan ia tak sadar ada banyak kalimat yang terus ia ulang-ulang. Tempatnya tinggal berada tak jauh dari flatku. Bahkan kami bertetangga. Aku jadi ingat adegan-adegan di novel Ayat-ayat Cinta tentang Fahri yang bertetangga dengan Maria. Tapi aku tak berharap banyak tentang alur hidupku. Hari ini kami menyusuri sungai nil dengan perahu yang dihiasi lampu warna warni. Dan tentunya ada perempuan itu yang menceritakan Nil padaku.

Pur, biar kukisahkan kau tentang nil. Ia adalah sungai terpanjang di dunia, katanya. Barangkali kita sudah sama-sama hafal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Di pelajaran IPS, hal-hal semacam ini selalu hadir menyibukkan hari-hari kita. Sungai terpanjang, sungai terbesar, gunung tertinggi, danau terluas, Negara terbesar, dan hal-hal yang diawali dengan afiks ter-. Sungai ini mengalirkan banyak cerita tentang manusia. Bahkan nabi Yusuf pun pernah meninggalkan ceritanya di sungai ini. Kata Alquran, sungai ini sumber airnya dari sungai di surga. Karenanya, banyak orang juga ingin menyimpan ceritanya di aliran sungai ini.

Komentar