Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Cerita Mudik: Perjalanan Menuju Rumah


Tadinya saya mau beli tiket Oman Air, tapi gak jadi setelah mendengan endorse-annya Ocid. "Jangan, Mang! Itu mah kaya Primajasa terbang!" katanya. Okelah jarak Purwakarta - Bandung naik Primajasa, tapi untuk jarak ribuan kilometer lebih, rada mikir-mikir juga.

Sejak obrolan itu, saya jadi suka googling lamannya Skytrax. Nyari-nyari profil pesawat terbang lengkap dengan fasilitas, makanan, rate, dan testimoni dari para pelanggannya. Dan sesuai dengan hukum pasar, harga gak pernah bohong. Semakin bagus fasilitasnya, semakin mahal harga tiketnya. Pesawat bintang tiga pasti gak sama harganya dengan pesawat bintang di atasnya. Untungnya setelah obrolan dengan Ocid itu, ada promo Qatar Airways yang harganya tetanggaan sama Oman Air. Padahal Qatar ini sederet sama Garuda Indonesia di kelas bintang lima. Ah ini mah rejeki tukang kertas. Gabrug!


Sebenernya yang pulang pake Qatar ini agak mainstream juga. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa Ocid atau teman-teman yang lain pake jasanya Oman Air. Alasan lainnya adalah pake Oman itu keren, transitnya di Oman! Kan lumayan buah check in Path. Dari pada transitnya di Abu Dhabi, udah sangat-sangat-sangat mainstream.

Maka pulanglah saya pada hari Sabtu minggu kedua bulan Juni. Senangnya, tidak banyak Masisir yang pulang hari itu pake Qatar. Bahkan sepertinya hanya ada dua paspor Indonesia yang waktu itu naik Qatar dari Cairo - Doha. Kenapa seneng, karena bisa bebas mengeksplor tanpa banyak temen ngobrol yang udah kenal. Gak senangnya, rekan satu paspor saya bukan seorang fotografer handal. Ini masalah krusial bagi kami yang before-while-after segala hal suka fotografi. Kita yang foto, bagus. Dia yang foto, goyang atau gak fokus.

Lalu pagi hari pukul delapan pagi, kami mendarat di Jakarta dengan banyak sekali ekspektasi. Ekspektasi pertama, bandara CGK lebih keren dari CAI dan DOH. Faktanya, you know what i mean. Terminal Ultimate masih belum ada listriknya, belum beroperasi, dan masih jadi harapan. Kedua, ekspektasinya Abang saya sudah mejeng di pintu keluar nungguin dengan sambutan hangat. Nyatanya, dia masih kejebak macet di Daan Mogot. Ketiga, Wi-Fi bandara kirain lancar dan secepat di Doha, nyatanya gak nyambung-nyambung. Maka saya berterima kasih pada tukang ngepel di bandara yang saya ajak ngobrol dan saya pinjem ponselnya buat nelepon Abang yang lagi kena macet.  Keempat, panasnya Jakarta ngalahin musim panasnya Cairo. Entah kenapa kota ini gerah sangat dengan kelembaban yang tinggi. Kalo kata temen saya mah, panas gak ikhlas. Panas karena kurang salawat dan istigfar. Pantesan waktu itu Ustadz Bilal (DL) sepulangnya dari Jakarta pernah bilang, Indonesia itu bukan Firdaus. Masa ada surga tapi hareudang? Itu candaannya setelah salah satu teman kami membuat kalimat 'Law kaanat al-jannatu fi ad-dunya fa firdausuha Indunisiya'.

Sampailah rumah di sore hari. Pengennya sih langsung istirahat tanpa ada yang ganggu. Syukur-syukur kalau ada tukang urut. Tapi selama ramadan, tukang urut gak beroperasi. Tapi nyatanya, jangankan bisa istirahat dengan tenang, yang ada malah dikeroyokin tetangga, dipeluk cium, dan beberapa di antaranya sambil bilang "ngala berkahna". Sejak hari pertama, hati saya menolak semua hal yang dilakukan oleh tetangga-tetangga saya. Malah di hari berikutnya, ada orang minta air doa. Seandainya mereka tahu apa yang selama ini saya lakukan di Kairo, apalagi kalau tahu gaulnya sama Ocad, niscaya mereka takkan melakukan hal itu.

Lalu keponakan saya bertanya tatkala saya memberi air kepada yang minta air.
"Itu air apa dan buat apa?"
"Itu air kulkas."
"Didoain apa?"
"Bismillah aja, semoga airnya bersih suci dan gak beracun."
"Terus kenapa dikasihin?"
"Ya biar dia gak haus aja."

Lalu malam itu saya tidur setengah nyenyak. Sampai tibalah jam enam pagi keesokan harinya. Tubuh masih jetlag dan butuh banyak tidur. Tahukah kamu bahwa pagi itu menjadi peristiwa yang menjengkelkan. Ibu saya seperti memindahkan ibu-ibu majelis taklim ke rumah. "Da teu ngajak, eta weh ibu-ibuna hoyong ngiring" dalihnya. Semua ibu-ibu itu sama seperti tetangga-tetangga di hari sebelumnya. Mereka datang dengan jenis pertanyaan yang sama. Kira-kira kalau dibuat list jadinya akan seperti ini:
1. Kapan pulang teh?
2. Dari Mesir jam berapa?
3. Nyampe Jakarta jam berapa?
4. Ari Mesir teh sebelah mananya Mekah?
5. Di sana kalau makan, makannya apa?
6. Kok masih bisa lancar ngomong Sunda?

Ada juga pertanyaan absurd, seperti:
7. Ari di Mesir teh ada pohon?
8. Ari pesawat teh berangkat ti bandara nunggu penuh penumpang dulu atau kumaha?
9. Gimana majikan di sana? Baik?

Aslinya, pertanyaan terakhir itu diajukan bukan oleh satu orang, tapi beberapa orang. Mulai dari salah satu anggota majelis taklim, ibu-ibu tukang bensin, sampai mamang-mamang yang kerja di pabrik aci. Saya jadi inget Pak Cecep dan Pak Subhan di Kairo. Alhamdulillahnya mereka berdua orang-orang baik, jadi saya cukup bilang "alhamdulillah balageur, suka ngejajanin malahan."

Kata kakak saya, pertanyaan-pertanyaan itu sebagian besar sama dengan pertanyaan yang diajukan ketika orang tua saya pulang umroh. Kalau yang nanyanya sekali dua kali sih gak masalah. Tapi jika berulang kali dengan kesempatan yang berbeda, seolah-olah kamu akan ingin sekali menaruh rantang di perut si penanya. Maka kata kakak saya, kamu bikin rekaman di ponsel yang isinya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Jadi kalau ada yang nanya lagi, cukup puterin rekaman itu. Atau lakukan seperti yang saya lakukan kemarin. Alkisah, kemarin keluarga besar kakek saya berkumpul dan silaturahmi. Maklum tradisi tahunan. Mumpung lagi kumpul, mumpung ada speaker juga, adakan konferensi pers. Ceritakan semua hal proses kepulangan kamu ini, sehingga semua orang jadi tahu. Minimal saya jadi punya downline.

Buat kamu yang tinggal jauh dari kampung halaman, pulang kampung itu cukup seru dan membukakan banyak hal. Ada hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terpikirkan menjadi terpikirkan. Ada hal-hal yang sebelumnya saya abaikan menjadi suatu hal yang butuh penyelesaian. Banyak sekali cerita baru di setiap harinya, seolah kepulangan saya merupakan sebuah kedatangan baru di tempat baru. Tak perlu besar-besar bicara soal isu umat, salat berjamaah, atau hal-hal muamalah dan fiqhiyah, melihat ibu-ibu naik motor di jalan raya saja menjadi hal baru yang menyadarkan dan mengajarkanmu apa artinya kewaspadaan.

Semuanya seperti harus dimulai lagi dari awal. Saya jadi belajar lagi hal-hal yang sebenarnya dulu sudah jadi kebiasaan. Misalnya naik motor. Meskipun di Kairo masih bisa bawa sepeda, tapi lain hal dengan motor. Hari kedua di kampung, saya mengantar ibu saya ke majelis pake motor lalu jatuh di tanjakan. Untungnya gak apa-apa, motornya. Seminggu kemudian, saya nabrakin mobil ke pagar rumah gara-gara jetlag stir kiri yang pindah ke kanan. Bahkan saya baru sadar kalau ke pergi ke warung dan naik angkot itu tidak boleh mengucapkan salam, karena kamu akan jadi bahan tontonan.

Saya dan Emil punya beberapa kesamaan ketika pulang ke rumah. Di antaranya, kami punya banyak haters. Haters kami adalah keponakan kami sendiri. Yang dulu ketika ditinggalkan masih bayi, sekarang sudah mulai tahu ponsel dan cara main COC. Keponakan kita jadi haters sesungguhnya. Mereka gak kenal, gak mau digendong, gak mau diajak ngobrol, bahkan gak mau salaman. Persamaan lainnya antara saya dan Emil, sudah satu bulan sejak kami pulang, belum ada satupun bapak-bapak atau ibu-ibu yang menawarkan anak gadisnya atau cucu gadisnya kepada kami. Bahkan janda juga gak ada. Enaknya jadi Emil, meskipun sepi 'pengunjung', dia bisa nawarin diri. Kalau kata guru fiqh kami mah, jual weh ngaran Al-Azhar. Bilangin "saya udah empat tahun di Mesir!" pasti ada pengaruhnya. Ternyata benar saja, belum genap dua minggu di Subang, Emil sudah meluncur ke Bogor. Desas desusnya sih khitbahan, tapi masih dirahasiakan. Saya sampai diancam agar warga Mesir jangan sampai tahu dulu. Sementara saya, mau ngejual "dua tahun di Mesir!" tapi bapak sendiri yang ngehalang-halangin. Kadang ngeselin juga bapak saya ini. Dia sendiri dulunya nikah muda, tapi ngelarang semua anaknya nikah muda. Beneran kebanyakan piknik.

Terlepas dari urusan jodoh yang belum berjodoh, pulang tetap menjadi hal yang menyenangkan. Salah satu hal yang menyenangkan adalah bisa bukber bareng teman, dan .... mantan. Bukber bareng teman itu menyenangkan sekaligus membangkrutkan. Tidak semua teman bisa membedakan bahwa kita yang lagi pulang kampung ini adalah sama-sama mahasiswa, bukan TKI. Yang minta oleh-oleh banyak banget, dan kalau gak dikasih dikiranya kita lupa teman. Mendinglah kalau yang minta oleh-oleh itu teman kita pas sekolahan. Ini orang baru kenalan langsung minta oleh-oleh. Kontribusi lu dalam hidup gue apaan, Jir?

Terlepas dari kewajiban oleh-oleh, saya kira itu cuma basa-basi yang terlalu tidak penting untuk dibaperin. Sebagian dari kawan-kawan kita tak sedikit kok yang bilang, "dengan kehadiran kamu aja udah syukur alhamdulillah. Kalau pun ada oleh-oleh mah, bonus aja itu mah. Segitu juga udah uyuhan."



Komentar

  1. "Sementara saya, mau ngejual "dua tahun di Mesir!" tapi bapak sendiri yang ngehalang-halangin."

    Mungkin karena masih dua taun jadi dihalang2in heuheu
    Selamat pulang kampung mang maulanaisme

    BalasHapus

Posting Komentar