Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Mencari Mat'am Ideal


Salah satu alasan kenapa istri harus jago masak adalah supaya suami betah di rumah. Dapur yang mengepul dengan sajian yang menawan merupakan sihir tersendiri yang bikin anggota rumah betah hidup di dalam rumah. Tak usah jauh-jauh menyoal istri dan keluarga, bandingkan saja rumah masisir yang ada jadwal masaknya dan yang gak ada, pasti suasana rumahnya berbeda.

Jika tidak betah di rumah karena perkara dapur, maka akan lahir perkara lain. Nebeng makan di rumah temen dengan modus belajar bareng, numpang di sekre kekeluargaan jadi kucing garong (selalu hadir di jam makan, gak pernah bantuin masak atau udunan beras, jasanya cuma nyuci nampan bekas makan. Panci dan katelnya mah gak pernah dicuci), atau ikut acara-acara masisir yang di pamfletnya ada "tersedia makan berat"-nya. Itu kalau bermuka tebal. Kalau mukamu tipis dan punya duit, mat'am lah solusinya. Tinggal datang, pesan, bayar.

Tapi, mencari tempat makan yang asik di Cairo itu susah-susah gampang. Baik itu soal rasanya, presentasinya, konsepnya, ataupun lokasinya. Kita butuh satu mat'am yang mampu menjadi Duta Mat'am Indonesia di Mesir sebagai representasi dari bangsa kita yang punya kekayaan luar biasa di bidang kuliner. Bisa dibilang, di Mesir belum ada rumah makan khas Indonesia yang secara serius bisa dijadikan tempat dinner romantis anaknya Presiden Sisi. Misalnya suatu hari anaknya Sisi datang ke Pak Helmy terus minta rekomendasi tempat dinner yang menunya makanan Indonesia. Kayak-kayaknya sih Pak Dubes bakalan rada mikir, minimal bakal tanya-tanya ke Local Staff-nya. Lain cerita jika anaknya Sisi ini nanyanya ke Dubes Jepang atau Korea atau India atau Thailand atau Malaysia, mereka punya alternatif jawaban yang lumayan. Ibnu Sisi mau makanan Thailand? Di Semiramis ada, di Zamalek juga ada. Tomyum-nya Sabai bisa dicoba. Sushi? Oh tenang Yaa Sidi, Makino dan Shogun recommended deh. Di City Center ada Indira, karinya wuih mantap Sidi, bisa bikin kita ngerasa naik gajah depan Taj Mahal! Makan sama Unni? Aigooo..... di Maadi ada tempat kimbab maknyoss. Kimchi-nya juga lebih nyos dibanding Tursi Mesir. Apa? Mau tutug oncom? Hmm....  Makanan Indonesia ada sih di Asian Corner yang di Genena atau City Center, tapi cuma satai sama nasi goreng doang. Mau? Masa dinner romantis di food court?

Saya tidak mengatakan bahwa mathoim yang ada di Cairo yang dikelola oleh kawan-kawan mahasiswa/WNI adalah tempat usaha yang tidak layak untuk tempat makannya pejabat. Saya hanya ngerasa bebal dan gerah, kenapa sih negara-negara lain bisa banget punya spot-spot makanan khasnya di negara ini tepat di lokasi-lokasi yang keren dan elit? Tidak adakah investor yang mau mengambil peluang ini hingga suatu masa akan datang di mana orang-orang Mesir akan mengenal makanan Asia bukan cuma sushi dan tomyum tapi juga tutug oncom, surundeng garing, pais teri, dan goreng serewet.

Urusan investasi, negara, identitas bangsa, biarlah jadi urusannya Pak Dubes. Urusan saya hanyalah kapan kamu mau ngasih kepastian? *eh

Kita mencari mat'am yang ideal, yang makanannya enak, tempatnya nyaman, punya konsep, dan asik buat nongkrong. Kira-kira kalau dikategorikan akan begini jadinya:

1. Konsep

Karena saya penikmat seni, konsep desain sebuah mat'am menjadi poin pertama yang harus dibahas. Tak peduli seberapa besar ukuran sebuah mat'am, desain yang unik dan menarik disadari atau tidak, punya daya jual tersendiri. Jika kamu punya kesempatan pulang ke Indonesia, sesekali kunjungilah kafe-kafe/warung-warung yang berjajar di sepanjang jalan belakang kampus besar. Di Gerlong belakang UPI, atau jalur Jatos deket Unpad, atau Ciputat seputaran UIN Jakarta, warung-warung itu bersaing bukan cuma soal produknya, tapi juga konsepnya. Dimulai dari logonya yang unik, kaya logo-logonya Creatip Desain (ini namanya dukung usaha temen), buku menu (jangan cuma ketikan Ms. Word di dua lembar A4 lalu difoto-kopi), interior ruangan, dekorasi, dsb.

Meskipun mat'am masisir dibangun dalam ruangan set sebuah sya'ah, sebuah mat'am bisa hadir dengan dorongan faktor konsep yang keren. Misalnya tempat makan bertema pedesaan, mural graviti, vintage garden, klasik, etnik, industrial, atau open table, dsb. Konsep besar ini penting, karena akan menjadi garis pandu bagi keseluruhan elemen sebuah rumah makan. Misalnya konsep perpaduan modern ethnic, klasik, dan vintage. Mungkin bisa satu bagian dinding mat'amnya dicat warna-warna bumi (abu/putih/hitam/coklat), dipajangi beberapa pigura foto mantan yang udah pudar, kata-kata motivasi/quotes/mahfudzot/hadits/ayat suci, ada rak dinding untuk pajangan figura sertifikat sponsorship di suatu acara, beberapa benda klasik seperti jam weker bekas, vas bunga, botol pasir pantai, dsb. Kalau konsepnya bisa ciamik gini, minimal pelanggan akan datang untuk alasan foto-foto di spot yang instagram-able.

Sebagai referensi, coba deh sesekali jalan-jalan ke Ikea atau Ashley atau nongkrong di tongkrongan-tongkrongan fast food yang banyak bertebaran di Cairo, desainnya lumayan oke buat jemput ide. Tapi kan butuh biaya, Gan! Tenang Bung, konsep recycle bisa banget banget kamu pake. Kalau gak bisa cetak banner buat foto/quotes, cari aja banner bekas lalu ngedoodle di bagian putihnya. KPMJB tahun lalu bisa ngadain Gebyar Parahyangan pake modal banner bekas wisuda PPMI. Let's creative!

2. Makanan Sehat

"Ah, saya mah udah hampir gak pernah lagi makan di mat'am-mat'am Indo yang ada di sini," ujar Ustadz Judin yang sudah beranak tiga. Kenapa tadz? tanya saya. "Makanannya suka banyak MSG-nya, terus suka pada pake piring plastik ya wadahnya, padahal kan penggunaan jangka lama dan sering, apalagi kalau plastik yang biasa di pasaran gitu gak baik juga kan ya?"

Percakapan itu terjadi beberapa bulan yang lalu dengan guru saya. Dipikir-pikir, iya juga ya. Dulu waktu Mang Iwan masih di Kairo, pernah mengeluh sakit tenggorokan gara-gara banyak makan yang mengandung MSG. Bahkan Teh Maryam Adzro suka marahin anak-anak Pasangrahan kalau ketahuan makan mie rebus, katanya MSG itu gak sehat dan bikin awet jomblo.

Di lain hari, saya pernah minum es gratis di mat'am gara-gara hal 'sepele'. Ada bangkai kecoa di jus jagung saya. Udah ane minum 1/3nya lagi. Waw amazon! Rasanya enak men!

Menu sehat adalah unsur wajib bagi para pelaku usaha makanan/minuman. Apalagi bagi kita mahasiswa yang makannya gak teratur, asupan gizi dan kasih sayangnya turun naik, kehadiran mat'am diharapkan jadi solusi bagi kesehatan masisir. Mecin itu bisa diganti pake campuran garam+gula kok.

3. Pelayanan

Hampir semua mat'am masisir konsepnya lesehan. Pelanggan duduk ngademplok di karpet dengan meja setinggi dada. Nah, bagaimana seharusnya cara pelayan menyajikan makanannya? Masa iya sambil nungging? Udah gitu pake sarung yang gak rapi pula, atau pake celana kolor bekas maen futsal. Bagi saya, ini merupakan bagian dari pelayanan. Harusnya ada standar pelayanan karena tingkat kepuasan pelanggan tidak berhenti pada sajian makanan, tapi juga pada pelayanannya. Ketika pelanggan harus belajar bagaimana table manner ketika makan, maka waiternya juga perlu belajar bagaimana cara menyajikannya. Lihatlah pramugari di pesawat, mau ngasihin makanan aja pake acara senyum gemes segala. Mukanya dicantik-cantikin seakan-akan mereka memang diciptakan untuk menghilangkan rasa lapar dan gundah gulana.  Duh.... aku syuka!

Di Mujigae, sebuah resto ala Korea di Bandung, semua pelayannya pake baju ala-ala Unni-Oppa. Di pintu masuknya ada cewek cantik yang terlalu cantik untuk jadi penjaga pintu. Kita dateng diucapin kamsahamnida, pas pulangnya diucapin tto mannayo. Jadinya kita semangat buat makan dan semangat buat manggil waitress-nya. Unni unni.....

Ada pelayanan yang kurang memuaskan karena kita temennya pelayan. Semacam hubungan orang dalam gitu. Mentang-mentang ke temen, basa-basinya dilamain, bikin minumannya disantai-santaiin, bahkan ngerinya ketika saya dan temen makan saya asik ngeghibah, eh si pelayan yang temen kita itu tiba-tiba dari belakang ikut nimbrung gabung ngeghibah. Aeh... ripuh. Boleh sih, tapi ada kadarnya. Namanya kerja harus profesional. Di waktu kerja dan di waktu 'berteman' ada perannya masing-masing.

4. Presentasi

Bagi kamu yang bergelut di dunia perdapuran, sesekali tontonlah film Ratatouille atau film Oh My Ghost. Film asal Prancis dan Korea itu mengajarkan kamu banyak hal soal proses pembuatan makanan, mulai dari pemilihan bahan sampai presentasi hidangan. Makanan yang kamu sajikan adalah cermin dari muka kamu sendiri, katanya. Presentasi dan pengemasan itu penting dan ada seninya. Presentasi itu bukan cuma naroh irisan timun dan tomat di ujung piring. Ada nilai yang harus ada lebih dari timun dan tomat. Pesan ayam bakar, ada timun dan tomat. Pesan ayam goreng, ada timun dan tomat. Pesan olahan bebek, ada timun tomatnya juga. Tahu tempe penyet aja ada timun tomatnya. Gak ada garnish lain? Atau itu saran sehat dari dr. Lathifah? Syarat wajibnya begitu atau gimana, maaseee? Padahal, belum tentu setiap timun dan tomat itu bakal dimakan pelanggan. Statusnya sama kaya Ocid di mata mantan gebetannya: ada tapi tak dianggap.

Dengan kemudahan akses internet, bukan lagi alasan jika chef dan krunya tidak mau berinovasi dalam hal penyajian makanan. Ada google, ada pinterest, ada youtube, banyak lah. Penyajian menjadi faktor pengundang selera makan. Pernah nih makan tomyum di mat'am masisir. Ekspektasinya tinggi nih. Eh pas dateng, wadahnya pake baskom yang baru dicuci. Keliatan masih ada basah-basah airnya. Baskom? Ini konsep atau apa?

5. Pilihan Menu

"Udah lapar lagi ya, Ziz?" tanya Mas Fawaid.
"Iya, Mas! Mau makan apa atau di mana?"
"Ah semua mat'am di sini menunya sama aja, cuma beberapa aja yang beda!"
"Sama gimana, Mas?"
"Ya coba aja kamu liat, menu ayam di mana-mana sama, ikan juga sama, yang beda cuma sambelnya."

Saya pernah nemu buku menu di sebuah tempat makan, tampilannya dibuat beberapa kategori. Bukan cuma list makanan dan minuman, tapi lebih detail. Ada kotak list makanan berat, kotak list makanan nongkrong (baso/soto/somay/batagor/seblak/dll.), list makanan pelengkap (kerupuk, terus mata-mata, sambal, dll.), list minuman, list dessert, list paketan, menu unggulan (paling banyak dibeli, favorit pelanggan dan menu khas mat'am-nya) dan chef recommended this week.

Nah mungkin di sinilah pentingnya urgensi nama sebuah tempat makan. Nama harus menunjukkan identitas menunya. Sate Maranggi Mang Jamil, berarti spesialis satai. Begitupun dengan Resto Ayam Goreng Ibu Resti, Rumah Makan Sambel Bledag, Baso Mang Udin, atau bisa namai dengan cakupan yang lebih luas seperti di Karawang ada Sop Janda (Jawa Sunda) yang menyajikan aneka sop khas Jawa dan Sunda. Resto Aceh, spesialis makanan khas Aceh. Baso Budjangan, baso asik tongkrongan para bujang. Dan sebagainya. Bisa juga namanya diidhofahkan ke hal yang antimainstream, seperti Nasi Goreng Gentayangan, Es krim pot, Baso Rudal Istigfar yang diameternya 26 cm (bikin istigfar kan?), dan sebagainya.  Mengapa nama itu penting, karena nama-nama yang umum hanya akan menyebabkan dua kali pertanyaan. Makan di mana? Mat'am Sayang Ibu. Menunya apa? tuh kan.

6. Rasa

Pernah gak ngintip-ngintip dapur KFC? Di atas kompornya ada banyak poster. Mulai dari petunjuk keselamatan sampai standar penggorengan dan tingkat kematangan. Sadar atau enggak, semua KFC di Mesir dan di Indo rasanya sama. Kok bisa gitu ya? Berarti urusan rasa aja ada standar yang diseragamkan. Nah sekarang pernah gak pesan menu yang sama di suatu mat'am di waktu yang berbeda dan rasanya beda. Beda koki beda rasa, padahal menu dan mat'amnya sama. Ini menunjukkan bahwa sesuatu yang sama tidak akan terulang dengan rasa yang sama. Saapp....

Saya tuh pengen tiap ke mat'am dan mesen menu yang sama, saya menemukan rasa yang dulu pernah ada. Rasa yang ketika diresapi sama seperti pertama kali jatuh cinta padanya. Pada makanannya.

7. Keamanan

Beberapa malam yang lalu saya ditraktir temen yang baru nikahan. Seru-seruan ngomongin pasangan barunya dan pasangan yang ditinggalkannya. Haha. Sambil makan baso, kita diskusi gimana nikmatnya ninggalin gebetan. Selalu ada perspektif, ditinggal nikah itu emang sakit tapi menikah buat ninggalin itu nikmat luar biasa. Gitu cenah. Bahkan kita sampai pula pada topik bahwa kenikmatan terbesar setelah iman dan islam adalah merusak hubungan orang lain. Asik banget.

Keasikan ngobrol sampai kita jadi pelanggan terakhir di mat'am itu. Pas mau pulang, eh sendal saya hilang. Kami bongkar dulu rak sepatunya, sampe masuk ke dapurnya, sendal saya beneran gak ada. Padahal itu sendal satu-satunya yang dimiliki. Kaya kamu.

"Ilang ya tadz?" kata waiternya dengan selow, itupun mukanya sambil ngitung duit. Ish aku mah sebel da. Pengen deh waktu itu kesurupan terus bilang, "Iya ilang Virooh, rasa empati lu di mana ketika sendal pelanggan ilang?"

Jika memang tidak ada kebijakan mengganti barang pelanggan yang hilang/rusak di tempat, minimal pasanglah tulisan "Kerusakan/kehilangan barang pelanggan yang dikarenakan kecerobohan sendiri tidak menjadi tanggung jawab restaurant. Trims. Crew." Gitu!

Akhirnya saya pulang pake sendal dapurnya. Ukurannya lebih kecil dan ada heel-heelnya gitu. Pokoknya gak bakal gue balikin! Mungkin ini adzab karena baru aja berencana merusak hubungan orang lain ..... *eh

8. Privasi

Banyak temen perempuan yang pakai cadar. Atau tidak pakai cadar tapi pengen ngerumpi bebas tanpa ada cowok-cowok di sekitarnya. Akhwat butuh ruangan khusus yang bisa bikin mereka ngerasa bebas ketika makan. Kita kan gak tau mengapa akhwat butuh ruangan khusus. Mungkin aja ketika makan itu, mereka sambil nyanyi-nyanyi, atau sambil senam aerobic, Akhwat A'lam. Yang pasti tidak semua mat'am punya kebijakan macam ini.

Selain untuk privasi, hal ini juga penting untuk menarik minat pelanggan perempuan. Temen cewek saya pernah nolak diajak makan di mat'am gara-gara "ah mat'amnya cuma nyediain fasilitas nonton bola, gak ada ruang akhwatnya yang bisa nonton korea." Ih aneh banget ya ...

Saya masih berharap Atase Perdagangan, Fungsi Ekonomi dan Pak Dubes berinisiatif untuk mengundang investor di bidang kuliner Indonesia di Mesir. Minimal kan kalau beneran ada, anaknya Sisi kalau mau dinner gak bingung lagi. Bisa sih dinnernya di mat'am masisir, tapi resikonya keluar mat'am bajunya jadi bau dapur. Biasanya kan gitu. Makanya kalau mau makan di mat'am, cari pakaian yang dalam waktu dekat mau dicuci, biar gak sayang. Biar gak sayang.

Jadi, di mat'am mana kita bisa makan enak dan nongkrong asik?

28 Oktober 2016.

Komentar