Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Kenapa Kita Harus Dangdutan

Tidak ada alasan untuk tidak mencintai musik dangdut. Dangdut bagi saya sudah jadi bagian yang mau gak mau tidak bisa dipisahkan. Bapak saya seorang musisi. Dia bermain harmonika, gitar, biola, gendang, suling, kecapi, gambus, dan beberapa alat musik yang gak tau namanya. Cuma gak main wanita aja. Bapak adalah lelaki yang mahir soal musik, tapi payah soal cewek. Cemen. Antara setia dan takut istri memang beda-beda tipis. Karena lekat dengan musik, apalagi jenis musik yang digelutinya lebih banyak seni tradisionalnya, jelas tembok-tembok rumah kami sudah sangat akrab dengan kecapi sulingan, pupuh-pupuhan, bahkan dangdut-dangdutan. Sekalipun dalam suasana yang agak religi, paling-paling lagunya Magadir dan Nasida Ria "Perdamaian".

Selain soal seni dan kepuasan personal, dangdut bagi kami adalah mata pencaharian. Makanya jangan heran jika kami geram dengan pihak-pihak yang suka meng-go-to-hell-kan seniman dangdut, karena itu sama saja dengan ingin menutup usaha keluarga kami. Duit kiriman bulanan saya cukup bergantung pada jumlah hasil saweran! Jika tak bisa ikut nyawer, maka cukuplah bergoyang dengan tindakan. Jika tidak bisa goyang dengan tindakan, cukuplah bersiul dengan lisan. Jika tidak bisa bersiul, maka cukup cintailah dangdut dalam hati agan-agan. 

Tapi memang sudah sejak lama Bapak saya tidak lagi terlihat dan terdengar bermain musik. Terakhir kali saya liat, kalau tidak salah, waktu saya masih SMA entah kelas berapa, Bapak pernah main biola di ruang tengah. Lagunya "Sepasang mata bola", "Suasana di Kota Santri", atau lagu anak-anak untuk menghibur cucu-cucunya. Tak lama setelah benang-benang busur biolanya putus dan rawing, Bapak gak main lagi. Ditambah faktor usia dan kesehatan juga, mungkin ia mulai sadar bahwa berdzikir dan bersalawat jauh lebih bermanfaat ketimbang main biola atau dangdutan. Sejak lama juga, Bapak tak lagi turun gunung soal tim orkesnya. Segala hal soal musik sepertinya sudah pindah generasi ke kakak-kakak saya. Dan hal inilah sampai saat ini yang menjadi pertanyaan besar dalam hidup saya, mengapa bakat bermusik itu tidak turun ke saya sementara semua kakak saya bisa bermain musik? Sekalipun bisa, itu hanya metik kecapi, itupun hanya satu lagu. Main gitar hanya tahu kunci A, Am, D, C, F, E, Em, G, dan udah. Dan gak satu lagupun yang hafal tuntas.  

Minimal, gak mampu bermain musik pun, saya masih bisa merasakan bagaimana musik yang enak didengar dan mana yang enggak. Mana suara yang fals dan mana yang merdu. Mana suara Raisa, mana suara Isyana. Mana yang cocok buat kerja bakti, mana yang cocok buat ngopi, mana yang cocok buat nulis, dan tentunya sangat tahu mana yang pas buat membuka kenangan-kenangan. Untuk dangdut, adalah jenis musik yang cocoknya hanya didengar. Hanya didengar. Tidak untuk ditonton! Beda dengan lagu-lagunya Raisa yang hanya akan dapat esensinya jika melihat video klipnya. Di masa jahiliyah, saya suka nonton dangdut live. Aduhai.... apalagi kalau musiknya koplo. Buka sitik josss...... Tapi sekarang saya sadar bahwa nonton dangdut itu, esensinya gak dapet. Di luar alasan religi dan udzur syar'i, menikmati dangdut dengan metode menontonnya tidak membuat pikiran kita jadi jernih dan produktif. 

Studi kasus 1: Di mana letak esensi transenden orang-orang malah berjoged bahagia ketika lagu "Air Mata Perkawinan - Mansyur S." dinyanyikan? Jadi kalian congkak bahagia dan berjoged di atas penderitaan orang lain? 

Studi kasus 2: Kata Allah. jika kita ingin tenang hati maka berdzikirlah. Tapi kata Cita Citata, ber-Goyang Dumang-lah biar hati senang dan pikiran tenang. Ini jelas-jelas bertentangan. Maksudnya apa bikin kalam insya'i tandingan macam ini? Ini penistaan namanya! Demo!

Sebagai penikmat dangdut yang wasathy, gak boleh memandang dangdut dalam bingkai yang semuanya sama. Di balik goyangan ngebor iman yang dilakukan Inul, kita juga perlu melihat usaha seorang H. Roma Irama dalam menyiapkan dangdut sebagai sebuah media dakwah. Bahkan dalam hemat saya, dangdut adalah cermin sosial masyarakat yang dapat menjadi panduan bagi para alumni Azhar sebelum pulang ke tanah air untuk membangun kampungnya masing-masing.

Musik dangdut mampu menjadi cermin kehidupan masyarakat lantaran kuantitas pasarnya didominasi masyarakat pasar, tukang beca, petani sawah, tukang bangunan, pemuda pos ronda, atau hiburan pasar malam. Berbeda dengan musik jazz, blues, atau pop yang target pasarnya kalagan kampus, menengah ke atas, om-om penghuni hotel, dan sebagainya. 

Lagu "kuhamil duluan sudah tiga bulan gara-gara pacaran suka krepe-krepean ...", "aku mah apa atuh cuma selingkuhan kamu. ..", "abang pilih yang mana, perawan atau janda ...", merupakan gambaran sederhana bahwa inilah kondisi masyarakat yang akan dihadapi para Azhariyyin ketika pulang kampung. Permasalahan umat Indonesia tidak hanya soal pemikiran ekstrem, liberal, komunis, syiah, atau jihad yang diterjemahkan dengan membom hotel atau berjalan kaki dari Ciamis menuju Bundaran HI. Bagi saya, permasalahan di atas adalah permasalahan-permasalahan kompleks yang cakupannya terlalu luas bahkan jauh dari pintu rumah. Cobalah tengok tetangga, sodara, atau tukang ojeg di gang depan rumah, tidak semua dari mereka bisa bahkan tertarik untuk ngomongin ISIS atau ekstrimis. Masalah mereka adalah hal-hal sehari-hari yang sebagiannya telah terungkapkan lewat lirik-lirik lagu dangdut. Suami selingkuh, suami gak ngasih uang bulanan, istri kerja di luar negeri, anak SD udah pada pacaran, gadis kampung bertransformasi jadi cabe-cabean, tetangga ngutang ke rentenir, dan sebagainya. Oh iyaa, Duta Azhary punya peran banyak dalam menghadapi permasalahan masyarakat macam ini. Tugas kita bukan hanya menjadi imam taraweh yang dibenci karena ayatnya panjang-panjang, tugas kita juga bagaimana memberdayakan tetangga kita menjadi muslim yang produktif, visioner, sekaligus religius. Minimal kita akal-akalin deh gimana caranya supaya ibu-ibu di kampung kita tidak tertarik jadi TKW ke luar negeri. Kasian men anak suami ... Dikiranya LDR-an gampang. Saya aja gagal. *loh 

Gak mungkin lirik dangdut akan sengaco dan "se-apa-ada-nya" itu jika tidak terinspirasi dari gaya hidup masyarakatnya. Teorinya, karya seni yang dinotabenekan fiksi sebenarnya berada dalam ketidak-fiksian. Seniman menciptakan karyanya bersumber dari hal-hal yang dekat dengan lingkungannya. Kalaupun dia menamai karyanya sebagai sesuatu yang fiktif, kemungkinannya adalah karena karyanya merupakan gabungan dari beberapa fakta sehingga dibuat seolah menjadi fakta baru, atau karena hal itu adalah pengalamannya pribadi yang tidak ingin diketahui kebenarannya oleh publik. Berapa banyak pasangan yang baru nikah empat bulan tapi udah lahiran? Gimana ceritanya seorang janda bisa cepet kawin lagi setelah putus sementara perawan harus susah payang nunggu dipinang? Kasus perceraian yang dibenci Tuhan tapi dicintai wartawan gosip pun bisa jadi inspirasi lirik bagi para seniman dangdut.  Semua itu menginspirasi pelaku industri musik dangdut untuk menerjemahkan fenomena sosial menjadi sebuah karya seni. Bahkan bisa jadi, Ahok itu sebenarnya terinspirasi oleh Zaskia Gotik. Si Eneng itu menistakan Pancasila bisa jadi Duta Pancasila. Bisa aja kan Ahok mikir, "Kalau gue nistain Alquran, bisa kali ya gue jadi Duta Alquran?". Kemungkinan itu selalu ada, men. 

Menikmati musik dangdut sambil kerja memang bikin betah. Iramanya mendesir-desir seperti sedang memainkan aliran darah kita dalam pola-pola tertentu. Mau lirik sedih, mau lirik senang, bawaannya pengen joged. Bahkan Desy Ratnasari aja masih bisa goyang syahdu sambil nyanyi lagu "Tenda Biru", padahal yang dia alami adalah ditinggal nikah. Saya kan ... jadi menghayati. 

Bahkan saya seperti ditempatkan Allah di lingkungan kerja yang tepat dan sesuai dengan passion saya. Saya bertemu dengan Pak Mukhlason, Pak Subhan, Pak Cecep, yang di balik keseriusan mereka semua, ada goyangan maut musik dangdut yang menemani keseharian mereka. Asik banget. Tanya saja Pak Lason, bahkan kami berdua pernah nonton beberapa seri D'Academy di Youtube. Bahkan jika uang negara itu halal buat kepuasan pribadi, saya pengen usul sama Pak Atdik supaya saya dikasih  ruangan kerja yang dipasangin layar LED 36", ada home theater, portable microphone, dan pengendap suara. Ini kan paket komplit buat karaokean dangdut. 

Tapi ngomongin soal dangdut secara khusus atau musik secara umum, saya jadi paham alasan mengapa sebagian ulama kita tidak sepakat dengan kehalalan bermusik. Bukan cuma soal goyang ngangkang biduan koplo, atau biduan murah yang menghilangkan nilai iffah dan izzah, tapi juga soal bagaimana kita menjadi lalai dari kewajiban ibadah. Sok aja ketika kamu dangdutan, kamu inget Allah gak? Belum tentu! Apalagi yang diputer lagu "Pagar Makan Tanaman", yang keinget cuma betapa beratnya melepaskan gebetan yang dilamar orang lain. "Anjayy gue ditikung!". Konsep maa kholaqtu al-insa illa liya'budun tidak berdiri kokoh tatkala kita dengerin musik. Yang dipikirkan mungkin saja sosok penyanyinya, menghayati lirik lagunya, atau membayangkan diri sendiri sedang berdiri di atas panggung sambil nyanyi di hdapan ribuan penonton. 

Setiap jenis musik ada pasarnya tersendiri. Setiap medan dakwah ada jenis masyarakatnya tersendiri. Maka musik bisa jadi salah satu faktor pertimbangan bagi para Lc-Lc yang bulan ini banyak yang pulang, untuk mulai menyusun strategi dakwah di kampungnya masing-masing. Bagi yang lingkungannya masyarakat kampus, barangkali musik mereka adalah band-band indie atau pop yang liriknya nyes-nyes baper. Payung Teduh, Banda Neira, Float, merupakan gambaran bagaimana dinamika kehidupan mereka. Bagi yang lingkungannya masyarakat wahaby, maka jangan suka dangdutan. Karena Wahaby gak suka dangdutan. Bagi yang lingkungannya masyarakat pesantren, ada baiknya pelajari lagu-lagu  marawisan. Biar lagu hajir marawis gak itu-itu aja di mana-mana. Tapi bagaimanapun lingkungannya, saya masih punya keyakinan bahwa dangdut adalah jenis yang mampu mewakili semua kalangan. Maka cintailah dangdut bukan karena biduannya, tapi karena kamu Azhary yang akan berdakwah di lingkungan para pecinta dangdut. Seerrr ahh .....

Now Playing: Kun Anta versi koplo, cover by Monata. 

17 Desember 2016.    


  

Komentar