Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Kisah Telolet di Loket Atdik

Hasil gambar untuk telolet di kantor

Datang suatu masa, dia datang ke Konsuler untuk Lapor Pendidikan. Wajah yang gak asing itu berdiri mengantri sabar di antara barisan orang-orang. Wajah yang senyumnya sudah kukhatamkan, pernah kulukiskan, bahkan begitu kudzikirkan. Tapi sebagaimana seharusnya, kami berhadapan tapi tak deg-degan lagi. Tak ada getaran apapun sebagaimana pertemuan pertama. 

Disodorkannya formulir lapor pendidikan, tertulis di dalamnya "Status: Sudah Menikah". Dengan hati yang lapang dan kenangan yang berguncang, kueja nama pasangannya dengan baik, kuketikkan tanpa satu huruf pun terlewati. Ada pergulatan batin yang seharusnya tak pernah terjadi. Semacam ingatan yang belum selesai, atau rasa kangen yang belum menemukan pelabuhannya. Dan barangkali, saat itulah aplikasi Sisdik sedang menertawakanku seolah mengatakan "mampus kau dikoyak sepi!". Oh, saat itulah aku ingin salto.

Menjadi penunggu loket konsuler adalah pekerjaan yang butuh kesabaran. Berbagai macam karakter orang datang dengan keperluan yang beraneka ragam. Kita harus selalu profesional meskipun yang dihadapi adalah mantan sendiri yang kehadirannya lebih mengerikan dibanding penagih hutang bermuka penuh ancaman. Deskripsi kerja di Loket Atdik cukup sederhana: dengerin orang curhat. Ada yang curhat tashdiknya belum dibikinin Syu'un, ada yang curhat lagi butuh visa, ada yang curhat mau bolos di asrama, ada juga yang curhat di formulir lapdik nulis,

Status: Menikah (Insya Allah dalam waktu dekat) 
Nama Istri/Suami: Nabila Rohimah (semoga diterima)
Karena penasaran, saya tanya, antum beneran nulis ini? Dia jawab, iya Ust, doanya ya! 
Nanti ditulisnya setelah sah aja, gimana? Pengennya sekarang, Ust! Nanti kalau ketemu orangnya, salamin ya! Lalu dia pergi dan menganggap urusannya telah selesai.

Ada juga yang gak punya kebutuhan, tapi mungkin sengaja datang mau ngomel soal KBRI. Pokoknya apapun masalahnya, siapapun yang menurutnya mengecewakan, curhatnya di loket Atdik. Asyem. Ini problem serius, menurut saya. Gak semua masisir tahu dan paham bahwa Atdik dan Konsuler itu beda. Lapor Diri dan Lapor Pendidikan itu beda. Gaji saya dan Pak Sudrajat itu beda. Hanya karena tempat pelayanannya ada di atap yang sama, tidak berarti bahwa mereka sama. Meskipun mereka terlihat bergandengan berdua-duaan dan foto bersama, bukan berarti mereka pacaran. Husnuzan aja itu adik kakak. 

Ada juga yang datang ke loket untuk menjatuhkan wibawa. Sekian banyak orang memanggil saya "Ustadz" atau "Pak" atau "Mas" atau "Kak". Eh tiba-tiba datang akhwat yang dalam banyaknya antrian itu manggil "Mang". Spontan semuanya nengok dan berpikiran, "wah dia kenal orang dalam nih!", atau pikiran "wah ternyata dia Mamang-mamang!". Udah rapi berkemeja, masa kamu manggilnya Mamang? Kan masih ada panggilan lain yang lebih ciamik: Aa. 

Saya dan rekan kerja saya sepakat bahwa menjadi penunggu loket itu bikin kita ngebatin. Kita dituntut untuk tidak baperan, tidak pundungan, dan dituntut untuk tetap senyum meskipun masisir yang datang itu nyebelin. Senyebelin cewek yang nolak kita dengan alasan fokus belajar, tapi besoknya dia jalan sama cowok lain. Kan telolet. 

Gimana gak ngebatin, jam pelayanan tutupnya jam tiga sore, tapi masih harus melayani orang-orang sampe tengah malem. Itu tuh, biasanya Ketua Kekeluargaan yang kepedulian terhadap warganya kadang lupa waktu bahwa kita juga butuh 'me time' tanpa harus mikirin data lapdik, surat belum ditanda-tangani Atdik, atau diganggu mahasiswa Jayyid Jiddan yang belum Lapor Pendidikan tapi pengen dapet Takrimul Mutafawwiqin.

Sesekali posisikanlah diri jadi penunggu loket itu. Dituntut orang-orang yang banyak maunya, tapi dikit gajinya. Banyak kerjanya, dikit liburnya. Bahkan dianggapnya bukan mahasiswa, padahal kita juga mahasiswa yang ingin cepet lulus, cepet jadi Lc supaya gak kalah saing ketika pedekate. Kita juga mau ujian. Kata Imam Syafei, kata Konfusius juga, jangan lakukan suatu hal kepada orang lain yang kamu sendiri gak suka jika diperlakukan demikian. Kamu mau kalau aku harus kalah saing lagi lantaran dia udah Lc dan aku masih manqulain? Kan gogog.       

Makanya biar gak stres, kita harus nyari hiburan. Dan Tuhan selalu tahu cara memberikan hiburan terbaik bagi setiap hambanya yang selalu mengingat-Nya. Minggu ini seorang masisirwati datang ke loket untuk mengambil paspornya setelah Lapor Diri. Masih maba, masih polos dan lugu. Namanya Siti. Ahiww.. Senyumnya manis, manggil saya "Kakak". Pengen deh bisa ngebimbelin dia biar lulus ujian mustawa di Markaz Lughoh. Nama bapaknya juga mudah dihafal. Malahan alamat rumahnya gak susah-susah amat untuk dijangkau pake kendaran pribadi atau pun kendaraan umum. Incer-able lah pokoknya. Dari ratusan masisir yang datang ke kantor minggu ini, hanya Siti yang cukup membekas di ingatan saya. Bahkan kalau kamu gak percaya, bayangannya masih menempel di kaca mata saya. Rekan perempuan saya juga gitu. Katanya dari sekian banyak masisir itu hanya ada satu masisir yang membekas di ingatannya. Namanya gak terlalu penting, yang penting mukanya mirip Nicholas Saputra. Siti dan Nicholas Saputra adalah secangkir semangat yang Tuhan kirimkan untuk menghibur kami. Kami tak pernah menutupi kestresan kami ini dengan meminta naik gaji ke atasan, atau minta uang makan sedikit ditambah, atau apapun apapun yang hampir mustahil dikabulkan. Kami hanya minta diizinkan untuk bisa menikmati sederhananya bahagia atas kehadiran Siti dan Nicholas kw, sesederhananya anak-anak yang menemukan kebahagiaannya ketika om-om menolet-nolet hari-hari mereka.

Sebenarnya ada harapan tersimpan yang diam-diam selama ini saya pendam tiap kali jaga loket. Dari banyaknya akhwat yang minta berbagai jenis surat, belum satupun ada yang minta surat cinta. Saya optimis hal itu masih ada, tapi kode itu tak kunjung datang. Sama halnya dengan Cutterme, selalu minta Cutterme tapi belum satupun ada yang minta Marryme. 

Ah, Tuhan, bisakah minggu ini Kau kirimkan aku kekasih yang baik hati, yang kehadirannya tidak hanya seperti Majalah Bobo: teman bermain dan belajar, tapi juga jadi teman yang mampu mendekatkanku padaMu? 

Tuhan, sebenarnya malam ini aku ingin sekali menulis Surat Cinta untuk diriku sendiri, tapi "kepada"nya belum ada tujuan. Masa aku harus bikinin lagi Surat Cinta-nya Emil buat cengcemannya? Kok Emil nulis surat cinta aja gak becus sih, Tuhan?  

23 Desember 2016

Komentar

  1. Cie... ciee.. Jadi namanya Siti, anak Lughah itu ya 😄😄😄

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Dari 730 Mahasiswa Baru, ada 10 perempuan bernama Siti. Dari sepuluh orang itu, hanya dua yang potensial bertemu. Tapi dari dua nama, hanya satu Siti yang mampu menloletkan hatiku. Gitu Pit!

      Hapus
  3. oh baru tahu penjaga loket itu spt itu

    BalasHapus
  4. Pekerja loket itu shift kerja kayaknya 24 jam juga ya. Ada teman yang juga cerita pengalamannya jadi tukang jaga loket. Tetap semangat dan salam kenal mas :)

    BalasHapus

Posting Komentar