Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Kampanye Dalam Pemikiran Maulanaisme



 Image result for kampanye kreatif
Di masa Rasulullah dulu, nama Hasan bin Tsabit muncul sebagai sastrawan yang punya pengaruh cukup besar. Separuh hidupnya dijalani di masa Jahiliyah, dan menikmati separuh sisanya menjadi seorang muslim yang luar biasa. Seandainya media massa pada abad itu sudah semodern saat ini, barangkali Hasan bin Tsabit adalah orang media paling berpengaruh dan paling bermanfaat dibanding lagu wajib Perindo di setiap iklan sinetron Si Boy. 

Hasan bin Tsabit adalah sahabat Rasul yang maksimal, saya kira, menggunakan kemampuan dirinya sebagai jalan dakwah. Syair-syairnya mampu menyihir banyak orang, bukan karena unsur ekstrinsik semata, tapi karena ada kebenaran yang sedang disampaikannya. Apa yang disampaikannya di Pasar Ukaz, di Pasar Sastra, pada umumnya mampu membombardir stigma buruk terkait Islam dan Rasulullah. Maka tak heran berkat kepiawaiannya dalam menulis itu mampu mengantarkan banyak orang menemukan hidayahnya masing-masing.

Saya ingin sekali mencontoh Hasan bin Tsabit. Menyusuri langkah-langkahnya, sama-sama menerbarkan risalah cinta Rasulullah, dan seperti yang karya-karyanya lakukan, mampu menghadirkan kebaikan di hati-hati yang kebaikan belum hadir di dalamnya. 
Menulis bagi sebagian orang, termasuk saya, adalah bagian dari ekspresi. Kamu tertawa ketika menemukan hal lucu, sedih ketika berduka, bahagia ketika honor turun, atau marah ketika ditinggal pergi yang punya hutang. Karenanya, menulis tidak bisa dipaksakan. Tidak bisa direquest hanya karena ada maksud ditunggangi kepentingan. Seperti kata Seno GA, sastra (baca: tulisan) mampu mengutarakan kebenaran ketika jurnalisme hanya bicara fakta. Fakta bisa direkayasa, dimanipulasi, dikarang demi kepentingan tertentu. Tapi kebenaran tak akan mampu diubah dengan cara apapun, karena ia akan muncul dengan sendirinya.

Begitulah yang terjadi dalam kampanye Pilgub KPMJB dan Pemilu Wihdah-PPMI Mesir. Dua momen itu meninggalkan banyak hal dalam benak saya. Pertama, apa yang mahasiswa lakukan hari ini adalah miniatur dari apa yang akan mereka lakukan di masa depan. Suatu hari, barangkali, calon gubernur yang kampanye di KPMJB adalah calon gubernur yang akan kampanye di Provinsi Jawa Barat. Calon Ketua yang kampanye di Wihdah hari ini, adalah calon ketua yang akan kampanye di Kementerian, atau mungkin level Negara. Maka sepatutnya kita belajar baik sejak muda. Sebagaimana pohon yang bengkok ketika tumbuh besar, lantaran tidak diluruskan sejak dini. Kan, yang hari ini jadi koruptor juga dulunya pernah jadi mahasiswa. Yang hari ini berhasil membangun kota dan negaranya juga pernah jadi mahasiswa. 

Kedua, kampanye di benak saya adalah momentum untuk perang testimoni. Testimoni dari orang-orang yang dianggap punya pengaruh dan punya masa. Tidak ada pengaruh dan tidak ada masa, tapi juga memberikan testimoni. Contohnya teman-teman kandidat yang sedang studi di luar negeri. Dari Eropa, dari Asia, atau aktivis-aktivis mahasiswa yang studi di Indonesia. Padahal apa pengaruhnya? Masisir semalas apapun pergi kuliah pasti punya pemikiran bahwa mereka yang di luar negeri ini hanya akan membantu kepengurusan sang calon ketua lewat motivasi dan modal cocot semata. Paling banter juga nyumbang konsep, nyumbang kalimat buat visi misi dan program unggulan, atau mungkin nyumbang anggaran? Atau supaya terkesan punya banyak link?

Suatu hari ada pesan masuk via whatsapp. Dari Timses Cagub KPMJB, satu lagi dari Timses Caket Wihdah. Keduanya minta saya untuk menulis tentang calon yang mereka usung di blog saya. Bukannya saya gak mau, tapi banyak pertimbangan. Pak Ocin dan Pak Aduy sudah pernah saya buatkan testimoni masing-masing. Dan testimoni itu pernah saya tulis tanpa ada gambaran bahwa keduanya akan bersaing memperebutkan kursi KPMJB-1. Tinggal dicari saja di berkas tulisan lama. Lagian kan sejak awal saya sudah jatuh cinta sama Robby, tapi malah gagal nyalon. Padahal kan saya pengen lihat kekalahannya. *loh

Untuk Dea dan Nuansa, ini adalah masalah besar. Saya gak punya alasan kuat untuk menulis testimoni untuk keduanya. Karena saya khawatir, yang harusnya testimoni malah jadi surat cinta. Kamu tahu sendiri kan dua orang ini? Semakin digali informasinya, semakin dicari kebaikannya, semakin membuat kita menemukan alasan bahwa keduanya adalah akhwat salehah yang akan menjadi tiang pemerkokoh kesatuan bangsa. Kalau di belakang saya adalah salah satu atau dua-duanya dari kedua orang hebat ini, wah kayanya saya bakal jadi pria hebat yang dimaksud pepatah-pepatah itu. Saya udah sempat memikirkan testimoni apa yang akan ditulis untuk Dea atau Nuansa, tapi jadinya malah absurd. Ini testimoni atau lagi nyari kriteria calon istri? Mereka punya kelebihan yang tidak hanya seperti Majalah Bobo: teman belajar dan bermain.

Lagian kalaupun iya yang ditulis adalah surat cinta, rada ngeri-ngeri sedap juga. Ketua Wihdah, men! Resikonya besar: antara dimiliki atau ditinggalkan. Seperti.... ah sudahlah. Secara salah satu dari keduanya akan jadi tokoh kenamaan di Masisir. Sementara aku, apa atuh cuma Maul. Di dunia ini tak ada yang ingin dilahirkan sebagai Maul. Jadi Direktur Pasangrahan juga udah uyuhan. Sekalipun kalau lolos screening MPA, itu karena faktor umur. Kan yang pada nyalon jadi pengurus Pasangrahan mah masih unyu-unyu semua. Sementara aku? Meminjam kata dari temen mah “awet tua”. 

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak membuat testimoni untuk keduanya. Juga tidak membuat surat cinta untuk keduanya. Karena surat cinta sebelumnya belum ada balasan. Yang mana? Surat cinta yang saya buatkan atas nama Emil untuk incarannya. Kalau sudah pasti Emil ditolak, baru saya akan buat surat cinta lagi. Meskipun semua tanda-tanda dunia ini mengalamatkan Emil ditolak (lagi), tapi saya masih menunggu kepastiannya. 
Yang unik dan perlu jadi sorotan adalah, kampanye ini bukan ajang untuk berlomba-lomba meraih jabatan. Kita ini dianjurkan dan direkomendasikan Rasul untuk tidak meminta jabatan. Kalau hanya berebut kursi KPMJB-1 atau Wihdah-1, duniawi sekali, akhii..... Biar ada tawashou bil haq-nya, yang dikompetisikan adalah hal-hal yang baik tanpa menjatuhkan yang lain. 

Di salah satu grup yang saya ikuti, ada oknum yang kampanyenya bukan mengunggulkan kelebihan calonnya tapi malah menjelek-jelekkan calon lainnya. Padahal mereka sesama muslim, sesama anak Azhar. Tapi kok kek gini beud? Suatu hari di masa depan nanti, oknum bermuka tongo ini akan pulang ke tanah air, akan jadi orang kenamaan di kampungnya, akan punya jamaah yang setiap tutur kata dan tingkah lakunya akan menjadi perhatian dari para tetangga dan ahlul gosip. Kelak di hadapan jamaahnya, keburukan itukah yang akan disampaikan? Pemuka agama dan guru itu seperti dokter. Punya resiko gawat jika salah memberikan resep dan obat. Dokter salah ngasih obat, barangkali korbannya cuma si pasien seorang. Tapi pemuka agama atau guru salah ngasih ilmu, salah ngasih contoh, salah ngasih wawasan, itu satu kampung gesrek semua. 

Seandainya saya admin grup, saya pengen kick oknum itu selama tiga jam. Setelah itu dimasukin lagi. Harapannya setelah tiga jam itu kondisi hatinya bercahaya,  dan jempolnya tidak banyak mengumbar black campaign tapi banyak mengetikkan salawat. Lumayan kan tiga jam bisa dipake salawatn dulu, atau murojaah Albaqarah juga bisa. Urusan dia berharap ada yang menahan-nahan biar gak di-kick, bodo amat. 

Selepas ini, jika ada yang bertanya “Kemarin pilih Ocin atau Aduy?” maka jawabannya adalah Robby. 

“Di Wihdah pilih Dea atau Nuansa?”  maka biarkan waktu yang menjawabnya. Jalani aja dulu, ya kan?

Komentar

Posting Komentar