Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Gerakan Back to Campus ala Atdikbud KBRI Cairo



7 Alasan Masuk Akal Kenapa Kamu Harus Jadi Mahasiswa Ambisius Saat Kuliah!

“A university is just a group of building gathered around a library”
(Shelby Foote, American Historian and Novelis).


Quote tersebut saya temukan di gerbang masuk Perpustakaan UPI Bandung. Dicetak besar-besar, digantung di posisi paling strategis tepat di muka gedung. Siapapun yang melintasi gedung tersebut bakal otomatis melihatnya. Tidak masuk saja kelihatan, bahkan saya yang bukan siapa-siapa

Menyuburkan budaya baca tulis di lingkungan kampus sendiri nyatanya butuh kesadaran ekstra. Dalam kontemplasi panjang perlu kita renungkan, berapa banyak buku yang sudah dinikmati selain muqorror Azhar. Bahkan baca muqorror pun hanya dibaca yang penting-pentingnya saja lantaran mau ujian. Yang mahdzuf apa kabar?

Ini baru pada level membaca, belum pada pada tahap di mana menulis menjadi sebuah kebutuhan. Kalaupun gak nulis, minimal bikin vlog isinya ceramah lah atau menyampaikan berbagai pengetahuan baru supaya nonton youtube sedikit berfaedah dan tidak bego-bego amat gara-gara keseringan makan mecin mie instan.

Sebenarnya, saya ingin sekali menulis soal Gerakan Back to Campus yang digagas Atdikbud. Tapi apa yang harus ditulis? Gerakan semacam itu di mata saya tak lebih dari seperti iklan toko buku tulis atau toko seragam sekolah di akhir liburan semester. Istilah Back to Campus digembor-gemborkan pihak toko karena para siswa telah menjalani masa libur panjang. Lalu kaitannya dengan Masisir,  gerakan ngajak kuliah itu dihadirkan di tengah-tengah masa perkuliahan sehingga menimbulkan citra bahwa Masisir tengah mengalami libur panjang dan belum kembali ke kampus. Maka patenlah stigma bahwa Masisir selama ini punya minat yang rendah untuk berangkat kuliah.

Tapi da mau gimana lagi, faktanya memang begitu. Kampus tidaklah semenarik lapangan Jawa Cup, yang membuat banyak Masisir bisa bangun sesubuh mungkin karena kick off dimulai pagi- pagi. Saya juga sering heran sendiri, kenapa bisa kecintaan terhadap kampus masih tidak sebesar kecintaan saya pada dunia duit. Misalnya ada jadwal ngeguide tamu untuk city tour. Dijadwalin jam setengah enam pagi, itu bisa bangun sejak sebelum subuh, bisa langsung mandi, bisa langsung ngusahain sarapan. Tapi kegiatan rutin seperti kuliah yang padahal mah jam sembilan pagi, malas sangad untuk beraktivitas pagi hari. 

Akhirnya muncullah gerakan Back to Campus, yang barangkali menurut Atdikbud dan inginnya Atdikbud, semangat Masisir untuk berangkat kuliah itu harus lebih besar atau minimal sama besarnya dengan kecintaan mereka terhadap hobi, pacar, atau duit. 

Ini baru tahap proses mau berangkat ke kampus. Sudah di kampus pun, godaannya banyak. Misalnya, kelas saya ada di lantai empat yang tidak ada lift-nya. Setiap lantai punya dua barisan anak tangga karena gaya bangunan yang tinggi. Artinya ada 8 tangga yang harus dilewati setiap pagi untuk bisa masuk kelas. Nyampe kelas, perkuliahannya bahasa Arab semua dan cowok semua. Ini kuliah atau jumatan? Faktor bangunan dan suasana kelas saja terkadang membuat niat belajar kadang tebal kadang tipis.

Kata seorang kawan, biar betah di kelas dan biar fokus belajar, kamu jangan duduk sama orang sesama Asia. Duduk sama teman Asing aja, katanya. Karena penasaran, saya duduk berdampingan sehari dengan orang Indo, sehari dengan orang Malaysia, sehari dengan orang hitam, sehari lagi dengan orang Mesir. 

Duduk sebangku dengan orang Indonesia memang ada untungnya dalam beberapa hal. Misalnya ketika kita gagal paham sama omongan dosen, kita bisa nanya ke pinggir dengan bahasa yang mudah dan dipahami. "Maksudnya tuh gini loh.... kalau di bahasa kita gini loh....". Gak enaknya, baru satu jam pelajaran, bisikan setan mulai datang dengan berbagai cara. Sebut saja namanya Ahmad. 

"Mang! Burger yang di belakang kampus udah pernah nyoba belum? Itu enak tau, Mang! Cobain yuk abis ini!"

"Kan masih masih ada maddah satu lagi?"

"Urang geus teu fokus, Mang! Harus isi energi dulu! Nih, Mang, burgernya itu .... bla bla bla..."

Lain kisah dengan orang Malaysia. Kebetulan waktu itu saya gak bawa buku, jadi minta berbagi buku sama orang negara tetangga. Awalnya aman. Di pertengahan, dia mulai berulah.

"Ustadz, awak duduk kat mane?"

"Saya di Asyir. Ustadz di mana?"

"Saya di Hayy Sabi. Di kawan-kawan Ustadz ada tutorial ke tuk macam maddah-maddah yang kita pelajari? Kalau ada, saya nak join boleh ke?"

Sebenarnya kalau sudah ngobrol sama pak cik itu bawaannya ingin mengalihkan topik, seperti dengan pertanyaan "awak punya adik perempuan kan?" atau "comblangin saya sama puan mesia dong" atau apalah apalah yang membuat beberapa minggu ini bikin saya semangat ngurus Pasanggrahan.

Akhirnya obrolan di kelas itu tak berakhir dengan pemahaman ilmiah, tapi lebih ke ngobrolin hubungan bilateral dua negara.

Di hari yang lain,  saya duduk sama orang hitam. Saya takut sekali disebut rasis gara-gara nulis ini. Tapi realitanya, kadang kamu harus bawa parfum kalau mau duduk sama orang item. Lalu sedekahin parfum itu sama dia. Duduk lima menit sih gak apa-apa. Tapi duduk bareng dua jam apalagi di musim panas? Itu sama mengerikannya dengan naik bis atau metro sambil dempet-dempetan di bawah sejuknya tetesan ketiak orang Mesir. Di situ kadang saya merasa ingin menaikan tinggi badan.

Kalau duduk sama orang Mesir, adalah momen gambling. Jika duduk di barisan depan, biasanya mereka orang-orang pintar dan kritis. Banyak membantu dalam belajar. Tapi duduk di barisan belakang, saran saya jangan lupa bawa headset. Kadang mereka rada gesrek sedikit. Putar musik diloudspeaker, megang-megang rambut kita yang lurus tanpa rebonding dan menawan, atau nanya-nanya ponsel yang kita bawa. Beli di mana, harganya berapa, atau pernah juga ada orang Mesir yang minta tas Eiger karena katanya biar lebih percaya diri. 

Itu godaan di dalam kelas. Ada yang baru nyampe gerbang kampus, ketemu temen, lalu diajak “sarapan dulu aja” di warung makan. Dapat ilmu kagak, kenyang iya. Kuliahnya? Enggak jadi. Yang penting udah ke kampus. Yang kayak gini, ada? Banyak! Tanya aja Mang Jamil sama Mang Ocin.

Salah satu upaya nyata dalam gerakan Back to Campus itu adalah dengan menggerakan Forum Senat Mahasiswa untuk giat mengajak Masisir supaya berangkat kuliah. Alhasil, anak-anak Forsema jadi buzzer-buzzer yang membagikan berbagai pamflet dan quotes di berbagai grup Whatsapp yang saling silang dengan iklan Ayam Krispi, Delivery Nasi Uduk, jualan bagasi, dan pengumuman Visa Kolektif. 

Padahal, pamflet-pamflet itu menurut saya gak sebegitu ngefek, selain efeknya bikin buzzernya jadi sibuk karena harus ngebagi waktu antara baca muqorror dan mikirin bikin pamflet. Belum kalau si buzzer itu punya pacar yang manja-manja kruix, yang tadinya mau membuat citra multitasking dan bisa menyelesaikan banyak hal di waktu yang sama, jadinya malah sok mantap dan gagal fokus. Lalu ia pun akan berdalih bahwa waktu yang Tuhan berikan tidak cukup hanya 24 jam. 

Bagaimanapun saya menghargai berbagai upaya teman-teman Forsema yang konsisten mengajak teman-temannya untuk kembali bergairah berangkat ke kampus. Bukankah kuliah di Azhar ini adalah tujuan pertama yang kita-kita minta ke Allah tempo hari? Bukankah misi Azhar yang senantiasa digembor-gemborkan Grand Syekh soal pemikiran wasathy hanya akan tercapai jika santri-santrinya berangkat kuliah? 

Seperti kata duktur kami di kelas, "Duktur fi al-fashl ahsan min al-kitab. Leih? Ladaynaa lisaan. Amma al-kutub, maa fisy lisaan zayyanaa." Guru itu lebih baik dari pada buku karena mereka punya lisan. Sementara buku tidak punya lisan. Barangkali kamu bisa belajar sepenuhnya dari buku, dan soal-soal ujian pun tak jauh dari apa yang kamu pelajari dari buku. Tapi bukankah sebagai pelajar normal, kita butuh ilmu lebih di luar muqorror, yang nyatanya kelebihan itu hanya akan didapat jika kita duduk mulazamah bersama?

***

Suatu pagi seperti biasanya, kita mengawali aktivitas pagi kita dengan mengecek notifikasi di ponsel. Zikir pagi? Belakangan. Di beberapa grup whatsapp ada pamflet dan quotes yang sama. Intinya ngajak kuliah.

"Han!" (bukan nama sebenarnya) "Ente yang ngeshare back to campus di grup-grup WA?"

"Iya, Mang!"

"Terus ente masih selimutan gitu? Urang bener-bener tidak termotivasi uy!"

"Santai atuh, Wa! Ini udah siap-siap sebenernya."

"Siap-siap?

"Iya. Udah niat."

Percakapan itu terjadi saat jam pertama kuliah seharusnya dimulai.

***

20 April 2017

Komentar

  1. Pukulan telak ya, klau ngeguide bisa bangun bahkan sebelum subuh. Tapi kalau kuliah, padahal jam 9 masih sering terlambat wkwkwkwk . gurih euy tulisannya.

    BalasHapus

Posting Komentar