Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Catatan Bincang Santai Bersama Ridwan Kamil


Tidak ada yang lebih membahagiakan lahir batin selain bisa difollow akun @ridwankamil. Kenyataan itu membuat saya seperempat gila menjalani hari di mana begitu puasnya bisa membully Ocid, Kime, Yuda, Bupati Mang Agop, Ikhwan Rajeng, dan siapapun yang waktu itu jadi panitia acaranya Kang Emil tapi gak ditakdirkan untuk dipolbek. Sungguh kasian.

Ingin sekali mengubah tagline di Instagram jadi “@maulanaisme: Satu-satunya akun Masisir yang difollow @ridwankamil”, tapi hal itu terkesan terlalu congkak. Akhirnya saya urungkan niat bodoh itu, dan melampiaskannya dengan sedikit berbisik kepada para panitia yang kelelahan: “hey, aing dipolbek ku Kang Emil, sia dipolbek teu? Oh henteu nya, sorry.”

Sebagai manusia normal, tentu kita atau saya tak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dilakukan. Misalnya, saya ingin sekali mengulang acara Bincang Santai bersama Ridwan Kamil beberapa bulan lalu, jadi moderator lagi, dan merevisi beberapa pertanyaan, beberapa adegan, beberapa catatan, bahkan banyak hal yang tidak seharusnya terjadi malah terjadi. Tapi barangkali, dengan kesalahan dan kekeliruanlah, kita belajar dan menyadari sesuatu yang takkan disadari dan dipelajari jika tidak pernah salah. Bukankah seharusnya juga begitu dalam urusan menjalin hubungan? Kesalahanlah yang selama ini mendewasakan sebuah hubungan. Jadi, maukah kamu meremidial hubungan kita? *loh

Ridwan Kamil adalah candu, setidaknya bagi anak-anak muda saat ini. Candu karena sosoknya, inovasinya, kepemimpinannya, kearsitekannya, kegantengan anaknya, kecantikan istrinya, atau hanya karena caption di setiap unggahan fotonya atau cuitan Twitternya. Semua tentang Ridwan Kamil adalah sesuatu yang mudah dicari saat ini, di manapun, kapapun. Kehadirannya sebagai Walikota semi seleb dirasa telah memenangkan sesuatu di hati publik. Kendati tak seheboh koplo pantura, kehadiran Ridwan Kamil cukup diminati untuk didengar cerita, inspirasi, dan cara ia membahagiakan warganya di mana-mana.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan saat itu berkaitan dengan fenomena besarnya antusiasme publik terhadap dirinya. Menurutnya, hal itu terjadi hanya karena orang Indonesia kekurangan sosok, kekurangan teladan, kekurangan pemimpin yang berani menggebrak dan merakyat. Merakyat dalam artian bukan hanya ikut makan bersama orang miskin, atau foto sedang mencangkul bersama petani di sawah, tapi merakyat dalam kenyataan bahwa ada separuh penduduk Indonesia adalah anak muda yang di usia produktifnya terisi dengan berbagai problem anak muda yang barangkali selama ini tak tersentuh oleh pemimpin yang ada.

Indonesia adalah negara yang saat ini berada di persimpangan takdir, kata Kang Emil. Kita yang menentukan ke arah mana akan membawa Indonesia. Dalam survey yang dilakukan National University of Singapore, jika Indonesia dijaga ekonominya dalam level 5% pertahun, diprediksikan Indonesia akan menjadi 3 besar negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030. Di rentang 2030-2045, idealnya umat Islam adalah muslim-muslim yang kompetitif, yang produktivitasnya menjadikan semua barang di dalam negeri merupakan produk dalam negeri semua. Poinnya, bukankah jika kita tingkatkan produktivitas dan kualitas diri dari sekarang, prediksi baik itu akan datang lebih cepat?

Masalahnya, kemajuan suatu negara bukan hanya soal ekonomi dan pendapat per kapitanya, tapi juga mental masyarakatnya. Saya mengalami hidup di Mesir di mana Jalan Mostafa An Nohas masih berupa rel Kereta Trem, lalu dibongkar jadi jalan beraspal, menjadi jalur khusus bis umum, setiap persimpangan dipasang lampu merah, sampai saat ini ada CCTV di setiap persimpangan. Tapi apakah semua fasilitas yang terkesan mengalami kemajuan itu dibarengi dengan mental para pengguna jalannya? Lampu merah masih diterobos, tidak ada aturan  penyeberang jalan, kendaraan berhenti sesuka hati, bahkan polantas menilang pengendara tidak di pinggir jalan tapi di tengah jalan, menunjukkan bahwa memajukan mental masyarakat jauh lebih sulit dibanding memajukan fasilitas publik. 

Salah satu yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas mental kita adalah dengan banyak membaca buku dan mendiskusikan ide dan gagasan, bukan mendiskusikan kejadian dan kesalahan orang. “Susah memabaca mengakibatkan orang mudah emosian. Dan orang yang emosian merupakan lahan subur untuk berita-berita hoax,” ujar Ridwan Kamil. “Tinggikan argumentasi, bukan volume suara.” Lanjutnya.

Kepemimpinan Indonesia di era ini tantangannya bukan lagi soal bagaimana kita menyusun strategi melawan penjajah asing. Hal semacam itu sudah tutup buku sejak lama. Kepimimpinan yang dibutuhkan adalah bagaimana mengelola sumber daya yang saat ini dimiliki, apalagi dalam konteks keindonesiaan, begitu banyak hal yang berdaya jual tinggi di mata dunia ada di Indonesia. “Dunia itu menunggu kepemimpinan yang datang dari Indonesia yang humble dan berani” kata Kang Emil.

Menjadi humble dan berani tersebut memang tidak semua pemimpin mampu menerapkannya. Banyak orang yang terjebak dalam tatanan teori semata. Padahal, mahfudzat yang selama ini kita hafal saja menyebutkan, “dilalatul hal afshoh min dilalat maqaal” (contoh perbuatan/tindakan lebih utama dari contoh perkataan). Apalagi dengan adanya fakta bahwa kepemimpinan di Indonesia tidak terlahir dari sebuah penaklukan kerajaan, atau pembebasan dan revolusi, tapi berupa kepemimpinan yang datang orang kebanyakan. Siapapun dengan latar belakang apapun punya kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin masyarakatnya. Hanya bermodal bisa menjadi contoh bagi yang lain, jadi teladan yang berpengaruh, dan mampu menggiring masa dari kesadaran negatif menuju kesadaran positif.  Ing madyo mangun karso, filosofinya.

Dalam konteks kemasisiran, Kang Emil melihat potensi besar yang tidak dimiliki oleh mahasiswa lain di tempat lain. Di antaranya, Masisir punya sumber keilmuan yang kuat dan ‘original’, punya referensi dakwah yang mumpuni, tinggal diberi sentuhan kreativitas untuk menjadikan aset itu sebagai dakwah dalam konten yang kreatif. Kita semua harus sadar bahwa masyarakat dunia saat ini sudah tidak lagi semuanya tertarik dengan dakwah metode ceramah yang diawali dengan mukaddimah panjang, dari suara seorang guru yang sudah sepuh, atau membaca buku yang sajiannya seperti membaca disertasi mahasiswa filologi yang mengkaji naskah kuno di abad Firaun sedang bingung nyari Homestay kosong di Alexandria.  
“Bantu saya dakwah Islam dengan konten yang kreatif kepada warga Bandung dan 6 juta lebih follower saya.” Katanya.

Poinnya, lanjut Kang Emil, kita tak perlu mengubah arah untuk memberikan perubahan dan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Ia seorang arsitek yang mengerahkan kemampuan arsitekturnya untuk memperbaiki tata kota dan pemerintahan. Bukankah kita yang belajar Syariah, Ushuluddin, Humaniora, juga bisa melakukan hal senada untuk mempercantik lingkungan kita, mempercantik masa depan kita?

Yang terpenting, tegas Kang Emil, perlu adanya komitmen untuk menjadi pemimpin di manapun dan kapapun. Pemimpin macam apapun akan selalu dikomentari beragam orang. Benar dianggap pencitraan, salah malah dibully. Bahkan, menurutnya, hal itu yang dikhawatirkan dan ditakutkan oleh banyak orang, termasuk teman-teman Masisir, menjadi takut untuk terjut ke dunia politik dan melakukan perubahan melalui dunia politik.

Terakhir, jika Kang Emil membaca tulisan ini, saya sarankan untuk ke Mesir lagi barang beberapa hari. Perjalanan tiga hari di Mesir tidak cukup mampu mewakili bagaimana indah atau kurang indahnya Mesir. Habiburrahman El Shirazi saja butuh delapan tahun untuk mengatakan bahwa Mesir itu indah dan ngangenin. Sementara Kang Emil yang hanya berkunjung tiga hari, rasa-rasanya belum kapabel untuk menerjemahkan Mesir dalam beberapa kata atau kalimat. Mari Kang, ke sini lagi! Saya ingin ngajak Kang Emil ngopi di Pasanggrahan, kebetulan karpetnya baru saya bersihin, tembok-temboknya juga baru dipasangi bunga-bunga kertas biar tambah ahiw. Satu lagi, selain dipolbek, saya juga mau direpost. Captionnya yang simpel-simpel aja. "Mahasiswa ini sedang mencari seseorang buat 'temenan aja dulu'."

08 Agustus 2017.



Komentar