Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Sambutan dan Pengantar Simposium PPI Timtengka Islamabad 2018



Kegiatan Simposium Internasional PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika (Timtengka) 2018 di Islamabad, Pakistan telah selesai digelar. Perhelatan simposium tahun ini seharusnya diikuti oleh 15 PPI negara, tapi hanya 8 PPI saja yang berkesempatan hadir untuk saling bertatap muka, bersilaturahmi, dan saling bertukar gagasan.

Kegiatan simposium berlangsung selama empat hari, dari tanggal 1-4 Maret 2018, yang secara keseluruhan dilaksanakan di Auditorium Quad-E-Azzam Complex Faisal Mosque Campus, International Islamic University of Islamabad (IIUI). 

Seperti acara simposium lainnya, acara seperti ini digelar sebagai momentum untuk mengeksplorasi bakat sekaligus mengolaborasi dan mengelaborasi aksi strategis, dalam rangka menghadirkan peran pemuda dalam membangun masa depan bangsa, minimal untuk komunitasnya masing-masing. Simposium bukan hanya acara silaturahmi sesama mahasiswa Indonesia di Luar Negeri, tapi sebagai tempat   di mana orang-orang datang sebagai pribadi-pribadi yang aktif, positif, dan solutif. Setidaknya itu yang saya tangkap dari Sekjen PPI Dunia Dhafi Iskandar dalam sambutan yang diberikannya.

Dubes RI untuk Pakistan Iwan Suyudhie Amir
Tema simposium kali ini adalah “Membumikan Nilai-Nilai Islam Dalam Praktik Bisnis Modern di Indonesia.” Lema ‘membumikan’ diterjemahkan panitia sebagai ‘mainstreaming’, yang menurut Dubes RI untuk Pakistan Iwan Suyudhie Amir, bisa diterapkan pula dalam terminologi ‘peng-arus-utama-an’. Menurutnya, penerjemahan tersebut akan lebih tepat ketika disandingkan dengan besarnya arus perubahan dunia yang berubah relatif konstan, sehingga kita dituntut untuk mampu merespon perubahan yang cepat dengan respon yang cepat pula. “Changing fast, respond swipe!” katanya. 

Selain itu, Dubes Iwan juga mengatakan bahwa tema yang diambil dalam simposium ini perlu menjadi fokus semua pihak, karena Islam dan nilai-nilainya dalam dunia bisnis dan ekonomi merupakan hal yang sudah ada sejak lama, banyak dibahas dalam seminar-seminar, bahkan teks buku sekolah, tapi sulit untuk diterapkan karena seringnya berbenturan dengan para pembuat kebijakan, kepentingan politik, dan atau berbagai dinamika yang terjadi di sektor ekonomi dunia. Dengan adanya ‘pengarus-utamaan’ ini, diharapkan pemahaman akan tema yang diangkat, mampu menjadi satu warna baru dalam arus perubahan yang ada, dan mampu menjadi arus positif yang semakin besar menuju tujuan yang diharapkan.

Dr. Syafii Antonio sebagai Pembicara Kunci
Sebelum sesi panelis dimulai, Dr. Syafii Antonio, M. Ec. menjadi pembicara utama yang menyampaikan presentasi prolog. Dengan retorikanya yang khas, ia membuka presentasinya dengan merujuk pada Visi dan Mimpi Indonesia 2015-2085 (Indonesia’s Visions and Dreams 2015-2085) yang ditulis oleh Presiden Joko Widodo. Dr. Syafii mengatakan bahwa mimpi besar tersebut tidak akan lepas dari tiga hal utama: kesejahteraan (welfare), progresivitas (progressive), dan kedaulatan (sovereignty). Ketiga hal tersebut merupakan pilar besar yang perlu menjadi bahasan sendiri-sendiri, karena banyaknya unsur dan aspek yang harus dipenuhi.

Untuk berangkat ke arah sana, salindia berikutnya menunjukkan World Mega Trend, sebuah kekuatan pembangunan ekonomi global berkelanjutan dan makro yang berdampak pada bisnis, ekonomi, dan masyarakat, budaya dan kehidupan pribadi sehingga menentukan dunia masa depan dan laju perubahan yang meningkat. World Mega Trend tersebut terdiri dari empat poin: 
  1. Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Human Resource Development & Mastery of Science Technology)
  2. Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan (Sustainability Economic Development)
  3. Pembangunan yang Merata (Equitable Development)
  4. Pertahanan Nasional, Pemerintah, dan Tata Pemerintahan (National Defense and Government Governance)  

Selain keempat hal tersebut, kita juga perlu melihat beberapa faktor yang mampu dan sangat berpotensi mengubah bentuk kehidupan di masa mendatang. Beberapa faktor tersebut yaitu Urbanisasi yang cepat (Rapid Urbanization), Perubahan Demografis dan Sosial (Demographic and Social Change), Perubahan Iklim dan Kelangkaan Sumber Daya (Climate Change and Resources Scarcity), Pergeseran Kekuatan Ekonomi Global (Shift in Global Economic Power), dan Terobosan Teknologi (Technological Breakthroughs). 

Setelah kita tahu dan paham dengan kondisi di atas, barulah kita mampu memetakan bagaimana Indonesia dan ekonominya. Termasuk erat kaitannya dengan tema simposium yang diangkat tahun ini, tujuan besar untuk mampu membumikan nilai-nilai Islam dalam  praktis berbisnis di Indonesia perlu mempertimbangkan Mega Trends tersebut. Setelah itu, barulah kita akan dapati berbagai potensi dan kesempatan yang punya prospek baik untuk membumikan nilai-nilai yang Islam punya. 

Dalam presentasinya, Dr. Syafii Antonio memaparkan beberapa alasan dan jawaban atas ‘mengapa’ nilai-nilai Islam sangat bisa diterapkan dalam praktik bisnis di Indonesia, antara lain: 
  1. Peningkatan Demografi Indonesia (Demographic Boost of Indonesia), di mana Indonesia menempati urutan empat besar dunia dalam hal jumlah populasi manusianya. Angka yang besar ini merupakan mangsa pasar yang luar biasa bagi sektor ekonomi dan bisnis. 
  2. Potensi Pasar Populasi Muslim Terbesar (Huge Muslim Population Potential Market), sehingga poin ini bisa jadi pertimbangan untuk banyak hal yang secara khusus memangsa pasar muslim, mulai dari bisnis pakaian sampai tren wisata halal. 
  3. Tumbuhnya Muslim Kelas Menengah (Growing Muslim Middle Class), yang faktanya kelas menengah di Indonesia tidak hanya punya peningkatan jumlah penghasilan bulanan tapi juga memiliki kemampuan untuk membeli apapun. 
  4. Meningkatnya Daya Beli Masyarakat (Increasing Purchasing Power), yang didukung dengan beragam sarana dan fasilitas teknologi seperti jual beli daring. 
  5. Munculnya Kesadaran Baru sebagai Orang Indonesia dan sebagai Muslim (New Awareness of Being Indonesia and Being Muslim), sehingga kesadaran ini mendorong banyak pihak untuk meningkatkan kemampuan ekonomi kreatif bernilai kearifan lokal.

Akan tetapi, kelima potensi dan peluang tersebut harus dihadapkan pada tantangan dan rintangan yang tidak bisa dituntaskan semudah membalikkan telapak tangan. 
  1. Umat Islam yang tidak bersatu (Ununited Force of Muslim Ummah).
  2. Asing (sebutan untuk WNA) Aseng (sebutan untuk WNI nonmuslim) yang mendominasi di sektor-sektor strategis (Asing Aseng Domination in Strategic Sectors) di sektor keuangan, properti, energi, transportasi, manufaktur, retail, dan makanan.
  3. Aseng Memasuki Arena Politik dengan Kekuatan Ekonomi Penuh (Aseng Entering Political Arena with Full Economic Power). 
  4. Kontrol Aseng di ranah Lobi Politik (Aseng Control on Political Lobby). 
  5. Lemahnya Media Muslim (Lack of Muslim Media) yang faktanya pihak yang mampu menguasai pasar adalah pihak yang menguasai media. Media mampu mengarahkan opini publik, lalu mengarah pada sektor keuangan, berpengaruh pada politik dan pemilu pemimpin, dan berakhir pada keterpilihan siapa yang memimpin pemerintahan, sebagai tangan utama pembuat kebijakan publik. 

Untuk menghadapi tantangan tersebut dalam rangka menerapkan nilai-nilai Islam dalam praktik berbisnis di Indonesia, setidaknya kita sebagai umat Islam punya dua hal yang menjadi hak penuh. Pertama, kita punya kekuatan untuk memilih pada siapa yang akan memimpin dan siapa yang akan mengatur. Kedua, kita punya kekuatan untuk menghabiskan uang kepada siapa kita membeli berbagai kebutuhan. Tentunya dua hal tersebut belum menjadi jalan yang lengkap jika tidak disertai dengan langkah-langkah teknis. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh semua orang antara lain:
  1. Bersinergi dengan spirit kebersamaan (Synergi with the spirit of Jama’ah).
  2. Temukan titik temu dan kepentingan bersama yang dapat melupakan perbedaan (Finding the meeting point and common interest forget the differences).
  3. Kolaborasi Jaringan antarjaringan (Collaborative network in inter-network).
  4. Menghilangkan kepentingan memperkaya diri sendiri (Burning the Ghirah/commitment) dengan cara membeli  produk muslim, menjual kepada sesame muslim, produksi barang oleh muslim, dan berinvestasi di Lembaga Syariah yang dimiliki dan dikelola oleh muslim.
  5. Perbanyak ekspor disbanding import (More export than import) 

Sebagai penutup, Dr. Syafii menyampaikan kutipan menarik yang perlu dicatat dengan baik. Islamic Bank is not finance. Islamic Finance is not Economic. Economic is not Economy. Economy is not Islam. All of these are just part of Islam.   

Islamabad, 2 Maret 2018

Komentar