Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Ujian Al-Azhar Cairo vs Ujian UIN Bandung



Ujian yang saya alami di Mesir ternyata sangat serius dibanding ujian yang pernah saya alami di UIN Bandung. Di Azhar harus disiasati dengan matang dan serius, sementara waktu di UIN, paginya ujian, malemnya masih dugem juga lulus-lulus aja.  

Saya ingin membuat analisis sederhana mengenai perbedaan ujian di Universitas Al-Azhar Mesir dengan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Hal ini terus berputar belakang  ini, setelah saya bertanya pada teman sekamar: Jika saya hidup semasa dengan Imam Sibawaih, apakah saya akan ikut memperdebatkan apakah suatu lafadz adalah isim atau fi'il? Perubahan apa yang dihasilkan jika saya ikut berdebat soal itu untuk dunia? Lalu pertanyaan lainnya makin banyak dan berakhir pada pertanyaan, apa bedanya ujian di Azhar dan di UIN? 
 
Faktor X
Salah satu dosen saya waktu di UIN Bandung namanya Pak Kosim. Di suatu kelas beliau bilang, biasakan bersedekah sebelum melaksanakan ujian di kampus, siapa tahu jadi wasilah biar Allah permudah pas ngejawab soal-soal. Lalu kami pun melakukan nasihat itu kepada pengemis yang tiap pagi nongkrong depan fakultas, atau maksa temen supaya ngaku gak kebeli pulpen, lalu dibeliin pulpen, dan pulpen itu dipake ujian. Pokoknya bebas gimana aja, yang penting udah sedekah.

Lalu ujian pun berlangsung, dan tanpa usaha susah payah, hampir satu angkatan lulus semua di semua mata kuliah. Entah karena sedekah itu atau entah karena beneran soal ujiannya gampang, IPK saya selalu di atas 3,5 padahal perjuangan belajarnya biasa aja, gak ada sampai kisah yang dramatis atau belajar banting tulang. Semuanya flat dan biasa aja. Lulus cepat bukanlah sesuatu yang mustahil jika kamu kuliah di UIN Bandung. Saya aja cuma dua tahun langsung lulus ....

Tapi setelah masuk Al-Azhar dan mengalami pengalaman ujian kampusnya, bekal pengalaman masa lalu itu tidak berlaku lagi di sini. Di Al-Azhar tidak ada dosen yang namanya Pak Kosim, sehingga sulitnya ujian tidak bisa dipecahkan hanya dengan sedekah, tapi butuh usaha lebih. Tradisinya, sebelum ujian harus maaf-maafan dulu, lunasin hutang dulu, tahajud harus konsisten, salat harus jamaah di masjid, bahkan semua kegiatan mahasiswa harus distop dalam rangka menyambut hari raya ujian. 

Faktor X ini adalah faktor yang tidak bisa direncanakan atau diprediksikan. Tak ada satu orang pun yang tahu bagaimana polanya, pokoknya kamu hanya perlu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, nanti Allah akan perbaiki hubunganmu dengan syu'un Azhar. 

Ada cerita unik dari teman Nigeria yang pernah sekelas waktu di Markaz Lughoh. Di depan gerbang Azhar biasanya ada ibu-ibu ngemis yang suka maksa sambil bilang, "hagah lillah ya shodiq, bitin-gah ya shodiq". Karena si ibu ini narik celana teman saya dalam aksi ngemis tersebut, teman saya jadi naik darah. Dengan kencang dia bilang "Tin-gah eih? A'thoituki sanah maadhiyah wa ana rosib!" (Saya udah kasih kamu tahun lalu tapi saya tetep gak naik tingkat!). Selepas cerita itu saya jadi mengevaluasi apakah saya berbuat baik selama ini biar naik tingkat atau murni untuk Allah ya? 

Metode Penilaian

Saya kira hampir semua kampus di Indonesia mewajibkan presensi untuk mahasiswanya. Minimal 75-80% dari total tatap muka. Jika dalam satu semester ada 16 kali pertemuan, ditambah satu UTS dan satu UAS, berarti setiap mahasiswa hanya punya jatah 3 kali tidak masuk kelas. Entah sakit, entah izin ikut demonstrasi, entah izin seminar, entah kesiangan bangun di kosan. Jika bolos lebih dari itu, biasanya ada sanksi tidak bisa ikut UAS. Kehadiran di ruang kuliah biasanya punya bobot nilai 20% dalam suatu mata kuliah. Artinya jika hanya hadir selama satu semester tanpa ikut UTS, UAS, dan tidak mengerjakan tugas makalah, kamu sudah punya nilai 20/100. 

Di Al-Azhar, tidak ada wajib presensi. Pernah ada wajib presensi, tapi tidak berjalan efektif. Bayangin satu kelas terdiri dari 300 orang, gimana cara ngabsennya? Jika perkuliahan hanya dua jam, mungkin untuk ngabsennya aja satu jam. Mungkin masalah itu akan menjadi sederhana jika absennya seperti di almamater saya Al-Muhajirin, pake sidik jari. Siswa datang ke kelas, nempelin jempolnya ke scanner, lalu secara otomatis sebuah pesan singkat akan masuk ke ponsel orang tuanya yang berisi, "Anak Bapak/Ibu a.n Abdurrasyid Rizaldi sudah masuk kelas." Nanti pas mau pulang tempel lagi jempolnya, lalu SMS lain akan dikirim lagi ke orang tuanya yang memberitahukan anaknya  sudah selesai belajar dan meninggalkan kelas. Kayaknya seru ya kalau di Al-Azhar kaya gitu. Ngebayangin tiap masuk kuliah otomatis ada pesan Whatsapp ke orang tua, "Anak Bapak/Ibu hari ini sedang tidak jualan bagasi, jadi dia kuliah." 

Dengan tidak adanya presensi tersebut, nilai yang diambil di Al-Azhar murni dari hasil UAS. Tidak ada UTS, tidak ada tugas presentasi. Beberapa mata kuliah ada tugas makalah, itupun hanya sekali selama semester berlangsung. Maka wajar jika ujian di Azhar menjadi sangat menegangkan, karena itulah satu-satunya acuan untuk bisa mendapatkan nilai, tanpa ada faktor-faktor lainnya. Gimana coba kalau di hari ujian malah jatuh sakit, atau lupa bawa ID Card jadi gak bisa masuk ruang ujian, atau kesiangan bangun, ketinggalan bis, atau kejadian darurat lainnya.

Temen saya yang kuliah di salah satu kampus di Bandung sering dapat nilai bagus terus dari dosennya, padahal dia termasuk yang sama saja dengan mahasiswa lainnya. Alasan besarnya adalah karena dosennya bapak beranak tiga dan temen saya ini lumayan cantik. Bahkan dulu dosen Filsafat saya pernah bilang di kelas, wajah seseorang itu bisa dibaca dengan cara yang sangat filosofis. Lihat muka saja sudah langsung bisa ditebak, kamu nilainya A, kamu B, kamu D, kamu ngulang tahun depan. "Semua tergantung beungeut!", katanya. Apakah di Azhar bisa seperti itu? Mustahil! Sekampus cowok semua! Bahkan punya muka ganteng pun tidak berguna di Azhar. 

Di Facebook saya menemukan sebuah diskusi terbuka soal metode penilaian guru di kelas. Saya menemukan salah satu dosen Mesir di sosmed itu menuliskan bahwa alasan tidak diwajibkannya presensi dalam perkuliahan di Mesir, adalah karena presensi itu mengambil poin 20% dari penilaian. Sementara idealnya, 20% itu harus mewakili pemahaman mahasiswa akan materi perkuliahan. Hanya hadir di kelas tidak menjamin dia memahami materi sebanyak 20%, katanya. Bagaimana bisa materi kuliah hanya mendapat porsi penilaian sebanyak 80%, tanyanya di akhir. 

Sebuah sudut pandang yang unik, yang ternyata setelahnya baru saya sadar bahwa di beberapa kampus besar dunia, teori semacam itu juga diterapkan. 

Diktat Perkuliahan

Tak sedikit dosen yang sepanjang perkuliahan tidak ada buku pegangan wajibnya. Prinsipnya, silakan ke perpustakaan, silakan akses internet, semua sumber tersebar luas dan bebas dari mana saja. Cara seperti ini membuat mahasiswa akan berbeda paham, karena berbedanya sumber buku yang didapatkan. Misalnya dalam mempelajari Metode Pengajaran dari buku A dan buku B yang isinya berbeda, sering kali membuat pusing ketika menemukan soal ujian: 
Tuliskan jenis-jenis metode pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam ruang kelas! 
Seandainya di buku A dituliskan ada 9 jenis, tapi di buku B hanya 6 jenis, maka jawaban mana yang akan diberikan ketika ujian berlangsung? Seringkali jawabannya akan didapatkan jika ikut kuliah dan mengikuti diskusi kelas. Tapi seringnya juga, setiap diskusi dan presentasi tidak ditutup dengan rangkuman. Jadi tetep bikin bingung kan? Tapi santai, cukup sedekah aja sebelum ujian, pasti lulus kok ...
Ada juga dosen yang mewajibkan mahasiswa punya buku pegangan. Misalnya di mata kuliah PPKN, semua mahasiswa diwajibkan punya bukunya Prof. Azyumardi Azra. Ada juga dosen-dosen sambil menyelam minum air, sambil ngajar sambil jualan bukunya. Beberapa dosen mewajibkan mahasiswanya untuk membeli bukunya, karena materi perkuliahan menggunakan buku tersebut. Tidak banyak buku pegangan yang diterbitkan oleh kampus, kecuali Bahasa Inggris.

Enaknya kuliah di Azhar adalah adanya kepastian diktat pembelajaran. Setiap mata kuliah ada muqorrornya, dan muqorrornya diterbitkan oleh kampus. Karena bukunya pasti dan ada, sebenarnya keseriusan ujian itu bisa disederhanakan: semua soal ujian diambil dari buku yang dipelajari, bukan dari buku yang lain atau kitab yang lain. Tinggal mau baca saja, dengan izin Allah, kita bisa jawab soal-soal ujian. Sebenarnya cara satu ini adalah langkah jitu untuk mendakwahkan suatu paham atau ajaran, artinya tidak banyak kesempatan di ruang kelas untuk menjadi berbeda paham. Tapi kaitannya dengan ujian, metode menghadapi ujian menjadi lebih sederhana. Bahkan tanpa pernah masuk kuliah pun, tanpa pernah tahu nama dosennya pun, asal memahami buku dengan baik, mahasiswa bisa ikut ujian dan lulus. Yaa dapet maqbul dirofa' juga udah uyuhan. 

Jenis Soal

Dalam matkul Evaluasi Pembelajaran, saya belajar bahwa soal ujian itu hanya ada dua jenis: Butir Uraian Objektif (BUO) dan Butir Uraian Non-Objektif (BUNO). BUO itu adalah soal-soal yang jawabannya pasti dan terbatas. Misalnya soal-soal yang hanya membutuhkan uraian terbatas, seperti: Berapa hasil penjumlahan dari 2+2? Sebutkan pembagian rukun wudhu! Berapa syarat wajib puasa? Tuliskan pengertian balaghah menurut Sibawaih! Atau soal-soal yang berbentuk pilihan ganda, opsi benar-salah, soal menjodohkan pernyataan, dan soal-soal serupa lainnya. Soal-soal BUO biasanya hanya menguji kemampuan peserta didik hanya pada level hafalan dan pemahaman. Tidak sampai pada level implementasi, analisis, dan  evaluasi. 

Sementara BUNO adalah soal-soal yang jawabannya tidak pasti, punya banyak kemungkinan, bisa sangat multitafsir, berbentuk uraian bebas, dan penilainnya akan bergantung pada selera si penilai. Beberapa contoh soal BUNO seperti: Dari beberapa syi'ir jahiliyah di bawah ini, temukan bagian-bagian yang mengandung Tasybih dan Kinayah, sertakan alasannya! Apa pendapat saudara mengenai pembelajaran Bahasa Arab yang sepenuhnya menggunakan bahasa Arab untuk penutur asing? Mengapa ulama Bashrah dan Kufah berbeda pendapat terkait isim/fiil dalam lafadz ni'ma dan bi'sa? Jelaskan pendapat Anda mengenai hukum pemanfaatan bunga bank untuk menyantuni fakir miskin! Apa hukumnya menikahi pacar mantannya adiknya calon pacar mantan? Bagaimana tanggapan saudara terhadap fenomena mantan yang menikah di hari ulang tahun saudara? dan soal-soal serupa lainnya yang biasanya merangsang analisis mendalam, membutuhkan ekspresi akan suatu ide/gagasan, membutuhkan pola pikir kritis, dan menguji kemampuan peserta didik dalam mengelaborasi materi-materi yang sudah dikuasai. 

Di UIN Bandung yang saya alami, soal-soal ujian seringnya berbentuk BUNO. Sementara di Azhar seringnya BUO. Jadinya pandai beropini tidak menjadi senjata utama ketika ujian, karena banyaknya materi ujian yang 'terpaksa' harus dihafalkan. 

Suatu siang saya ketemu Izzudin, seorang petugas Viktif yang solehnya tanpa cela. Kata Judin, kayaknya ujian di Azhar itu bukan masalah besar buat Mang Maul, soalnya dia kan blogger..... Sejak mendengar petuah itu, saya jadi punya solusi ketika ujian menemukan soal yang tidak tahu jawabannya. Dengan prinsip tidak boleh ada jawaban kosong, saya jadi senang mengarang. Membuat pengertian (tar'rif) asal-asalan, menganalisis bait syair yang sama sekali gak tahu maksudnya dengan tafsiran yang asal-asalan, pokoknya apapun unek-unek dituliskan. Maka wajar jika banyak nilai maqbulnya, mungkin karena dosennya ngerasa kasian udah nulis jawaban panjang-panjang meskipun salah. 

Tapi saya sepenuhnya sadar, bahwa yang dilakukan asal-asalan biasanya menghasilkan yang asal-asalan juga. Hanya satu dari seribu kemungkinan barangkali yang asal-asalan membuahkan prestasi yang luar biasa. Semoga saya dan kita semua bukan termasuk hamba-hamba yang asal-asal dalam menjalani semua ujian, baik itu ujian di UIN Bandung, di Azhar, ataupun ujian hidup secara umum.

18 Mei 2018. 



Komentar

  1. wah memamng perlu usaha yang keras ya, juga di indonesia mah kalau dosen yang bikin soalnya susah mah dibenci malah

    BalasHapus
  2. "Hanya satu dari seribu kemungkinan barangkali yang asal-asalan membuahkan prestasi yang luar biasa. "

    saya ga kebayang bagaimana suatu asal-asalan bia membuahkan prestasi yang luar biasa,,, hahahah harusnya sih asal2an ga akan pernah menghasilkan itu sama sekali..

    CMIMW

    BalasHapus

Posting Komentar