Sekelumit Cerita Membesarkan Anak di Amerika

Katanya, membesarkan anak di Amerika itu harus punya mental seperti membesarkan seekor burung: kalau anaknya sudah besar, orang tua harus rela melepasnya untuk terbang jauh. Sebab anak-anak yang dianggap sudah dewasa dan punya pekerjaan sendiri, mereka tidak akan lagi tinggal di rumah orang tuanya. Mereka akan menjadi 'manusia' sendiri dengan dunianya sendiri, cita-citanya sendiri, tujuan hidupnya sendiri, agamanya sendiri, prinsip-prinsip sendiri, bahkan bisa jadi, orang tua adalah "orang lain" yang dalam banyak aspek tidak bisa sembarangan berinteraksi, berintervensi, atau mengambil keputusan apapun soal hidup anaknya yang sudah dewasa. Saya berulang kali mendengar cerita itu ketika duduk makan dengan Pak Wakidi, pemilik rumah yang rumahnya saya sewa dan tinggali di Amerika. Anak pertamanya sudah tinggal dan bekerja sendiri di kota yang butuh 6 jam perjalanan pesawat dari DC. Jika Pak Wakidi ingin bertemu dengan anaknya, ia harus menghubunginya dulu, membuat janji d

Menjadi Cukup Bersama Minimalisme

Hasil gambar untuk minimalism

Saya pernah menggunakan Instagram saya untuk mengikuti tren busana terbaru, tren gaya rambut, #ootd, dan hal-hal yang hanya membuat hasrat konsumerisme semakin naik tanpa ujung. Semakin sering bertemu orang yang berbeda, bacaan berbeda, pengalaman berbeda, akhirnya saya mulai  menemukan titik lelah sebagai manusia konsumtif. Saya merasa tidak ada tujuan yang benar-benar dicapai, yang membuat saya menjadi individu secara utuh. Sampai akhirnya saya mengenal minimalisme sebagai gaya hidup yang sedang asik-asiknya saya cari tahu.

Pada mulanya, saya tertarik dengan istilah self-conscious. Istilah itu pertama kali didengar dari penjelasan seorang dosen di kelas. Sederhananya, self-conscious adalah obsesi internal yang membuat kita terlalu memikirkan diri sendiri berdasarkan pendapat orang lain. Memilih pakaian karena takut dibilang jelek oleh orang lain, memilih warna kaos yang cocok karena khawatir tidak sesuai selera orang lain, selalu memikirkan gaya rambut, dan lain sebagainya. Mempelajari self-conscious ternyata seperti mengikuti jejak mata rantai yang menemukan kaitan lain setelahnya, terus dan terus. Di mata rantai selanjutnya saya menemukan teori simple living, intentional living, living a meaningful life, zero waste life, dan minimalism.

Minimalisme punya banyak sekali definisi. Dalam Islam kita mengenal zuhud sebagai terminologi yang telah kita kenal sejak lama. Zuhud adalah konsep hidup sederhana, yang barangkali tidak banyak dikaitkan orang-orang Muslim sebagai dasar kuat teori minimalisme abad modern. Dalam ajaran Budha terdapat ajaran klasik Zen, ajaran mnimalistik yang saat ini marak membudaya di kalangan masyarakat Jepang. Minimalisme mengajak para pengikutnya untuk hidup sederhana, secukupnya, seminim mungkin, sehingga tidak perlu terlalu banyak memiliki benda. Gerakan ini bukan karena pelakunya miskin atau tidak memiliki uang, tapi percaya bahwa kepemilikan benda yang terlalu banyak akan membuat manusia menjadi tidak bahagia.

Jika kamu punya waktu dan kuota, bukanlah Youtube dan cari Fumio Sasaki. Seorang Editor Jepang berusia 36 tahun yang hanya memiliki  tiga kemeja, empat celana, empat pasang kaus kaki, dan apartemen yang hampir kosong tanpa isi. Ini bukan masalah gaya hidup hemat. Sasaki sebelumnya adalah kolektor CD, DVD, dan buku yang rakus. Selama bertahun-tahun gaya hidup ini membuatnya merasa harus memiliki sesuatu yang baru, hingga pada satu titik ia merasa lelah dan bertanya apakah hidup cuma perkara membeli barang belaka? Ia menjual semua koleksi CD dan DVD-nya ke tempat penyewaan, menjual semua koleksi bukunya ke sentra buku loak, mendonasikan sebagian besar barangnya ke pusat-pusat amal, dan menuliskan pengalaman tersebut ke dalam sebuah buku berjudul  "Good Bye, Things".


Jon Jandai dalam sebuah forum Tedx mengangkat topik "Life is Easy. Why do we make it so hard?" sebagai bahan perenungan menarik soal hidup kita yang punya banyak sekali syarat dan kriteria untuk bisa dikatakan bahagia. Jon menyadarkan kita hal penting bahwa hidup yang mudah itu menjadi semakin sulit dicapai karena kuta sendiri yang menjauhkannya. Ada banyak sekali pakaian di lemari, tapi mengapa masih harus beli pakaian lagi dan lagi padahal tidak ada yang benar-benar mewajibkannya? Lebaran, tahun baru, reunian, panitia acara, kegiatan sosial, adalah beberapa list yang menurut saya membuat kita menjadi konsumtif. 

Hal serupa juga dialami orang banyak orang di dunia. Dalam dokumenter “Minimalism: A Documentary About the Important Things” karya Matt D'Avella, kita ditunjukkan bahwa minimalisme bukan hanya soal kepemilikan barang, tapi juga gaya hidup, makanan, dan pengelolaan keuangan. Dalam salah satu serinya, seorang narasumber mengatakan bahwa kehidupan materialisme untuk memiliki benda-benda digambarkan sebagai upaya berburu. Alih alih berburu untuk memenuhi kebutuhan, kita berburu untuk memuaskan keinginan akan pengakuan, pencitraan, yang pada akhirnya membawa kita pada depresi.

Ketika tenaga, pikiran, dan waktu kita tidak dihabiskan untuk barang-barang, kita bisa menggunakan energi itu untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Salah satu alasan kenapa saya ikutan kursus adalah sebagai pengalihan anggaran dari yang tadinya selalu habis untuk jajan, menjadi habis untuk sesuatu yang mungkin jauh lebih berguna. Fumio Sasaki mengalihkan alokasi keuangannya yang tadinya selalu untuk barang, menjadi tabungan untuk jalan-jalan, mendaki gunung, dan berwisata. 

Saya menyimpulkan bahwa sumber daya (tenaga, materi, pikiran, waktu) yang kita miliki, nampaknya akan lebih bermanfaat dihabiskan untuk pengalaman dibandingkan barang. Pengalaman memang tidak selalu nampak secara fisik, tapi akan selalu menjadi elemen penting yang membuat hidup kita menjadi individu.

Pada dasarnya, minismalisme adalah upaya mengurangi gangguan dan mendapatkan kemerdekaan. Ketika kita selesai mandi dan akan pergi kerja atau jalan-jalan dengan teman, kerap kali kita bingung harus memakai baju yang mana, celana yang mana, aksesoris yang mana, dan sebagainya. Dengan hanya memiliki barang-barang yang pasti dibutuhkan saja, dan menjauhkan self-conscious dalam setiap elemen, ada banyak waktu yang bisa dilalui secara efisien. Minimalisme juga mampu memerdekakan kita dari kekangan rasa takut, khawatir, rasa bersalah, depresi, terjebak dalam budaya konsumtif, dan sebagainya. 

Dua tahun lalu, saya pernah ditanya seorang teman dengan pertanyaan: sebagian besar dari penghasilanmu dihabiskan untuk apa? Jawaban saya waktu itu adalah untuk pakaian. Punya banyak kemeja, jaket, celana, sepatu, bahkan barang-barang kecil yang tidak bisa dipakai untuk jangka panjang. Ada rasa tak pernah puas, tak pernah cukup, bahkan dalam takaran yang lebih jauh, ada daftar keinginan masa kecil yang harus dibayar lunas ketika hidup saya berada dalam kemungkinan untuk memenuhi daftar tersebut. Belakangan saya mulai sadar bahwa menjadi manusia konsumtif adalah tidak sehat. Buruk untuk diri sendiri, maupun untuk lingkungan. 

Membeli barang hanya karena untuk gengsi dan mengesankan orang lain, nampaknya menjadi hal paling menyedihkan yang pernah saya pelajari selama ini. Bukan begitu?

13 Agustus 2018.

Komentar

Posting Komentar