Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Apakah Bahasa Arab Sulit untuk Dipelajari?


Dalam beberapa hal, bahasa Arab adalah bahasa yang sulit dipelajari untuk penutur bahasa lain yang secara geografis jauh dari daratan Arab. Sebagai langkah awal, terdapat perbedaan alfabet antara bahasa Arab dengan bahasa penutur. Sisi positifnya, tata bahasa Arab memiliki sedikit ketidakteraturan dan relatif mudah - jauh lebih tidak rumit daripada bahasa Latin dan mungkin lebih sederhana dari bahasa Jerman atau Mandarin.

Mempelajari kosa kata bahasa Arab sangat mungkin menjadi masalah besar pada mulanya. Bahasa Arab di kalangan penutur bahasa Inggris atau Eropa dianggap sulit dikarenakan sedikitnya kosa kata bahasa Arab yang diserap, sehingga tidak banyak kemiripan. Tidak seperti bahasa Indonesia/Melayu yang banyak menyerap bahasa Arab ke dalam bahasa mereka, sehingga banyaknya kemiripan tersebut membuat mempelajari kosa katanya tidak terlalu sulit. Memahami akar kata dalam bahasa Arab menjadi kunci yang membuka lebih banyak pintu dalam menguasai bahasa tersebut.

Bahasa Arab memiliki dialek kedaerahan, yang jika seseorang ingin menguasai salah satu dialek tersebut, salah satu cara paling efektif untuk orang itu harus tinggal di daerah penutur tersebut dalam kurun beberapa waktu. Jika hendak mempelajari Bahasa Arab Modern (Modern Standard Arabic/MSA), cara efektif yang disarankan oleh banyak studi adalah dengan membaca buku-buku berbahasa Arab, media massa, atau mendengarkan radio/podcast.

Terdapat 28 huruf konsonan dan tiga huruf vokal -a-i-u- yang sewaktu-waktu bisa dibaca pendek atau panjang. Beberapa cara pengucapan huruf Arab memiliki keunikannya tersendiri, meskipun bagi kebanyakan pembelajar asing dinilai sulit untuk dilafalkan.

Gramatika yang kompleks

Bagi penutur bahasa Indonesia/Melayu, sistem akar bahasa Arab memiliki konsep yang sangat tidak familiar. Kosa kata bahasa Arab tersusun dari tiga huruf "akar" yang menjadi ide dasar dari setiap kata. Sebagai contoh, "k-t-b" menunjukkan arti "menulis". Penambahan huruf di sebelum, tengah, atau sesudahnya akan memberikan pengertian lain dari huruf akar tersebut. Bisa berarti "kantor" (m-k-t-b), bisa juga "buku" (k-taa-b untuk single, atau ku-tu-b untuk plural), "perpustakaan" (m-k-t-bah), atau "penulis" (kaa-ti-b).

Urutan kata normal dari sebuah kalimat adalah kata kerja (fi'il) - subjek (fail) - objek (maf'ul). Fungsi kata benda (noun/isim) dalam sebuah kalimat juga dapat dibedakan dengan akhiran huruf (tanda di atas huruf terakhir dari sebuah kata) tetapi ini biasanya hanya ditemukan dalam Alquran atau buku pelajaran sekolah.

Dalam bahasa Arab berlaku pengategorian kosa kata berdasarkan feminim (muannats) dan maskulin (mudzakkar), seperti dalam bahasa Perancis atau Jerman. Terdapat sufiks feminim untuk kosa kata feminim berupa tambahan ....aat sebagai tanda plural (seperti maktabah/perpustakaan [s], maktabaat/beberapa perpustakaan [p]). Sementara dalam kosa kata maskulin biasanya memiliki bentuk yang tidak beraturan untuk menunjukkan bentuk plural (seperti kitaab [buku; s] menjadi kutub [buku-buku; p]. Rajul [laki-laki;s], rijaal [banyak laki-laki; p]).

Perubahan tiga akar kata akan mulai terasa rumit ketika dikombinasi huruf lain untuk tujuan makna yang lain. Misalnya;
  • bentuk I kasara, "ia (laki-laki) merusak"
  • bentuk II kassara, "ia (lk) hancur berkeping-keping"
  • bentuk III inkasara, " ia telah rusak"    
  • bentuk IV qatala, "ia membunuh"
  • bentuk V qaatala, "ia berkelahi"

Penulisan dan Pengucapan

Bahasa Arab memiliki alfabetnya sendiri sebagaimana bahasa Mandarin, Jepang, atau Rusia. Bagi penutur bahasa Indonesia, mempelajari bahasa Arab tidak akan semudah bahasa Inggris dalam penulisan, karena diharuskan mempelajari alfabet bahasa Arab, atau lebih dikenal sebagai Huruf Hijaiyah.
  • Penulisan Arab dilakukan berlawanan dengan bahasa berhuruf latin, yaitu dari kanan ke kiri. Hal ini nampak akna menjadi kendala berikutnya ketika seorang pembelajar bahasa Arab menggunakan kemampuan menulisnya di papan ketik komputer yang secara umum didesain untuk mengetik huruf latin dari kiri ke kanan. 
  • Huruf-huruf berubah bentuk berdasarkan posisinya dalam suku kata, apakah ia di awal, di tengah, atau di akhir. Sehingga pembelajar perlu mengingat lebih banyak bentuk dari satu huruf yang dipelajari, sedikit lebih rumit dari mengingat bentuk hurup kecil dan huruf kapital dalam huruf latin.
  • Beberapa huruf hijaiyah memiliki variasi pengucapan yang tidak dimiliki oleh bahasa Indonesia/Melayu, yang sekilas nampak mirip. Misalnya huruf Tsa, Sa, Sya, dan Sho, Ta dan Tho, A dan Áin, Ka dan Qa, Ha (dibaca lembut) dan Ha (dibaca dari suara tenggorokan), dsb.

Komentar