Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

"Mang, Aku Mau Nyalon Wihdah!"

Image result for muslimah

Di saat kuliah sudah masuk lagi, justru kegiatan mahasiswa ikutan mulai lagi. Minggu-minggu ini ada Jawa Cup, ada ABC (Azhary Basket Competition), ada Gebyar Parahyangan, ada HUT Mahasiswa Aceh, ada rihlah ke Sinai, ada Ormaba, ada futsal-futsal, dan ada pemilihan Ketua Wihdah. Jadi abis ujian kemarin pada ngapain selain mager dan sesekali ke pameran buku?   

Di minggu pertama kuliah, saya belum pernah masuk kelas sekalipun. Udah males, bangga pulak! Di satu sisi ada semangat belajar sungguh-sungguh biar bisa segera wisuda tahun ini, tapi di sisi lain ada hal-hal piduiteun yang cukup berpengaruh pada urusan dompet dan bayar sewa rumah bulan depan. Jadi gimana atuh? Eh awal minggu kedua ini, malah ada ajakan hal lain. Tiba-tiba dapet kabar dari seorang adik tingkat yang mau nyalon jadi Ketua Wihdah. Pas urusan Wihdah kok ngontaknya ke saya ya? Serasa ada panggilan dari masa lalu gitu. Atau seperti ada arwah yang tiba-tiba keluar dari kuburan kenangan yang telah lama ditinggalkan. Jika dipikir-pikir, seumur hidup saya jadi Masisir, rasanya saya lebih tahu Wihdah daripada PPMI, yang notabene Wihdah itu organisasinya mahasiswi. Sayang seribu sayang, aktif bantuin Wihdah tidak masuk hitungan poin Temus. 

Baiklah akan saya ceritakan soal saya dan Wihdah. Katanya, kalau mau cari calon istri itu harus yang pandai berorganisasi, biar hebat ngurus rumah tangganya nanti. Karenanya saya mau nyari tipe-tipe seperti itu. Ya minimal Ketua Wihdah lah. Huehehehe.... Mimpi itu harus tinggi, Bro! Kalau pun gagal dapetin Ketua Wihdah, siapa tahu dapetin Wakilnya, atau mungkin Ketua Keputrian Kekeluargaan, ya kan?  

Mungkin sedikit berlebihan, tapi saya ingin mengatakannya begini: "kedekatan" saya dengan para ketua Wihdah sebenarnya selalu berawal dari minta dibikinin pamflet, brosur, kartu nama, dan tek-tek-bengek perkampanyean. Saya kira bukan saya saja yang mengalami hal semacam ini, sebab hampir setiap Masisir yang punya pengalaman bermain dengan Photoshop/Coreldraw/Illustrator suka dimintai mengerjakan hal-hal beginian ketika menjelang Pemilu di organisasi mahasiswa. Kebetulan, pada waktu itu, "karier" pertama saya bermula di Wihdah. Pertamanya kenalan, lalu ikutan ngebahas visi, misi, program, strategi kampanye, konsep desain, lalu motoin Si Someone-that-I-can't-mention-her-name buat media publikasi, bahkan sampai Si Someone-that-I-can't-mention-her-name ini menang terpilih, "pekerjaan" saya masih berlanjut. Bantuin bikin pamflet kegiatan Fordinda, Sekolah Calon Ibu, Struktur Organisasi, Pelatihan Desain Grafis buat Keputrian, dan sebagainya. Di tahun berikutnya, saya sempat bantuin Wihdah kepengurusan baru, meskipun tidak seintense sebelumnya. Maklum lah, semacam belajar lebih bijak agar tidak terlalu kecewa ketika ditinggal (lagi). Begitu pun di Wihdah selanjutnya lagi, saya masih sempat bantuin meskipun semakin membatasi diri. Membatasi dalam artian kalau dulu selalu mengerjakan segala sesuatunya dengan hati, nah kalau di fase ini mengerjakannya dengan teori "Satu pamflet = satu ayam bakar." Kalau gak ada ayam bakar, reputasi lu gua bakar! 

Kesimpulan sementara saya adalah, setiap calon ketua Wihdah yang saya ikut bantuin di dalamnya, alhamdulillah selalu menang. Dari masanya Someone-that-I-can't-mention-her-name, lalu Rahmah Rasyidah, lalu Nuansa Garini, cuma ketua yang sekarang menjabat aja gak ikut bantuin karena sejak sebelum mencalonkan diri, sudah berhembus kabar bahwa ia sudah dimiliki. Pintu ijtihad nampak sudah tertutup!

Dengan prestasi pengalaman Timses yang sukses inilah, seharusnya saya naik pangkat bukan lagi Timses, tapi Konsultan Timses. Ya meskipun hubungan asmaranya gak sukses, tapi kan tujuan politiknya tercapai. Kebahagiaan orang lain adalah yang utama~

Lalu bagaimana cara menjawab pernyataan "Mang, aku mau nyalon Wihdah!"? Jadi, begini saja. Saya tidak akan melarangmu, juga tidak akan mendorong-dorong. Yang pasti, menjadi Ketua Wihdah itu berat, kamu belum tentu kuat. Harus kuat fisik, harus kuat mental, juga harus kuat duit. Akan ada banyak pengeluaran biaya traktir makan Timses dan syukuran kemenangan yang belum tentu ada sponsornya, akan ada biaya sewa mobil mobilisasi hari Pemilu yang gak mungkin cuma dua ratus  pound, akan ada acara-acara Wihdah yang kebutuhannya banyak sementara dana dari KBRI sedikit, pula akan ada pengeluaran naik Uber selama setahun yang tidak akan diganti uang kas organisasi. Belum lagi ada kewajiban kuliahmu yang harus tetap diperjuangkan, juga jika kamu datang dari kalangan ukhti-ukhti bermurobbi, tentu ada kewajiban lain untuk memenuhi list mutaba'ah yaumiyah. Ya kan? Pertimbangkan itu matang-matang ya, agar lebih mantap dalam memutuskan. Kata penulis buku 'How to Read a Book', sebelum membuat keputusan, kamu harus bilang dulu "aku mengerti" pada segala hal. Mengerti diri sendiri, mengerti tujuan, mengerti resiko, mengerti peluang, mengerti kemungkinan-kemungkinan, dan mengerti hal-hal lainnya. 

Jika boleh memberi saran, izinkanr saya menuliskannya di sini. Siapa tahu sedikit berguna.

Pertama, kamu harus banyak baca buku. Kata Harry S. Truman, “not all readers are leaders, but all leaders are readers.” Pemimpin yang suka baca buku itu penting, setidaknya menurut saya. Tentunya Alquran dan muqorror Azhar jangan masuk hitungan ya, karena itu mah udah wajib dan pasti dibaca. Ketua yang suka baca buku dan yang tidak, akan kelihatan ketika ia mengambil keputusan, atau ketika dihadapkan pada permasalahan yang menguji dirinya dari berbagai sisi. Apakah itu terkait program dan kebijakan, respon terhadap suatu hal, keterbukaan dalam menerima pendapat, kemampuan membangun komunikasi, termasuk di dalamnya kecerdasan dalam meladeni Masisir yang tidak tahu bedanya Taqdim dan Taslim, tapi berani ngomel-ngomel menjelekkan kinerja petugas di setiap postingan Viktif Mesir. Yang kerjanya lambat kan Si Mesir, kenapa malah petugas Viktif yang disalahin? Ketua yang isi otaknya ada perpustakaan, tentu akan lebih kalem dan selow menghadapi itu semua.

Secara tidak langsung saya ingin mengatakan, kalau kamu mau nyalon jadi Ketua Wihdah, kamu gak harus cantik pinter make up, tapi cukup cerdas aja. Gak ngaruh mau cantik atau enggak, gak ada cowok yang punya hak suara kok pas Pemilu nanti. Kecuali kalau motif pencalonannya supaya bisa dekat dengan Presiden PPMI, itu lain urusan.

Kedua, jangan kebanyakan bikin program. Jadi Ketua Wihdah tanpa punya program apapun, kewajibannya sudah banyak. Ada AD-ART, ada GBHO, ada program warisan, ada kewajiban menghadiri berbagai acara, dari undangan diplomatik KBRI, sampai undangan senam bersama almamater, buanyak rek. Semua itu adalah program yang wajib bahkan pasti harus dilakukan. Ketika kamu nambah program baru, semata-mata adalah nilai jual kamu di mata Masisir, sebagai bukti bahwa kamu punya sesuatu yang beda yang bisa membuat Wihdah menjadi semakin salehah, semakin cantik, semakin cerdas, atau semakin apaalah bebas. Programnya dikit aja, ya. Kalau kebanyakan, nanti bakalan susah buat nyari waktu jalan sama Aa. Aaaaaa.....Ashiiiyyapp.

Ketiga, karena Wihdah mengurusi semua mahasiswi, saya kira kamu perlu mendengar suara mahasiswa yang dalam beberapa hal lebih tahu mahasiswi seperti apa yang dibutuhkan. Misalnya bikin Program Istri Salehah-yang-tidak-alay-di-Instagram, atau program yang bisa mendakwahi ukhti-ukhti hijrah di Indonesia yang suka DM-DM, auto manggil akhi, lalu ngajak nikah dengan dalil "Khadijah juga zaman dulu yang minta duluan ke Rasul," dan isu-isu generasi Z lainnya yang makin hari makin beraneka ragam.     

Keempat, aku gak suka isu kampanye PKS dan Non-PKS! Kenapa harus ada premis jika calon A adalah PKS, maka calon B adalah bukan PKS? Tolong cari isu lain yang lebih kekinian! Masa tiap tahun isu identitas mulu yang dibahas. Pake strukturalismenya Lévi-Strauss aja lah, pertandingkan calon ketua dari programnya aja.

Sebenarnya saya masih bingung sendiri, kenapa saya mau nulis soal ini. Ada beberapa draf yang sejak minggu lalu tak kunjung selesai, dan tak jelas ke mana arahnya. Tapi ketika dihadapkan pada pilihan: nulis tentang Maba 40 juta atau Ketua Wihdah, ya mending Ketua Wihdah. Ngebahas Maba aja sungguh sangat ribet, apalagi ngebahas calon Maba yang belum ada. Hadeeuhh.... 

15 Februari, 2019.

Komentar

  1. ngimpi kudu luhur, bener euy, kudu ngimpi, luhur 😂

    BalasHapus
  2. duh merasa terpanggil sebagai mantan anggota ketua wihdah inisial someone-that-i-cant-mention-her-name haha

    BalasHapus

Posting Komentar