Khutbah Jumat - Dialog Surat Al-Fatihah

Salah satu rukun yang wajib ada dalam tiap rakaat salat adalah bacaan surat Al-Fatihah. Surat ini tidak hanya sebagai bagian dari salat, bahkan disebut sebagai inti dari salat. Setidaknya dalam sehari semalam, seorang muslim bisa dipastikan akan membaca surat ini sebanyak 17 kali dalam salat fardu. Apalagi jika ditambah dengan salat sunah, atau momentum lain di luar salat, tentu intensitasnya akan makin banyak lagi. Namun pertanyaanya, sudah seintens apa pemahaman kita atas bacaan yang setiap hari dirapalkan tersebut? Apakah surat Al-Fatihah ini sudah benar-benar menjadi bagian dari cara kita berkomunikasi dengan Allah dalam setiap salat, atau jangan-jangan surat ini dibaca hanya sebatas pelengkap salat dan formalitas ibadah belaka? Sudah seyogyanya seorang muslim menghayati dan meresapi rahasia agung yang terkandung di dalamnya; sebab ia tengah bermunajat kepada Rabbnya. Dengan demikian, hatinya akan lebih khusyuk, lebih tahu atas apa yang ia ucapkan, dan lebih mungkin untuk bisa memb

Pentingkah Berorganisasi?



Kalau kata Mang Utay, kamu belum bisa bilang suatu keinginan terbesar sebagai keinginan terbesar kalau level ngebetnya belum sampai pada harus tahajud tiap malam. Kalau hanya sekadar ingin umrah, misalnya, semua orang bisa ingin. Tapi kalau sudah ditahajudin, berarti orang ini serius sama keinginannya.

Sejak mendengar teori itu, saya jadi suka menimbang-nimbang ketika punya keinginan. Juga mikir-mikir peyebab banyaknya keinginan di masa lalu yang tak tercapai. Misalnya keinginan bisa dapet duit Takrim Mutafawwiq dari Pak Atdik, dapet jatah musaadah dua kali ngantri gak ketahuan, bisa dapet doorprize Umroh di acara Gebyar, atau yang paling teranyar adalah bisa Taslim visa dengan cepat. 

Sering kali, saya hanya berdoa untuk hal-hal yang besar saja. Selalu lupa bahwa hal-hal kecil pun sebenarnya pelu dilibatkan dalam doa-doa. Semisal doa supaya tidak ketinggalan bis 80 coret, doa supaya dapat senyum dari petugas syu'un, naik tremco digratisin nush geneh ketika kita dan supir sama-sama gak punya fakkah, atau dapat balasan pesan dari basa-basi "apa kabar"ku yang sudah seminggu ini di whatsapp selalu ceklis satu. 

Bayangkan jika satu Utay saja bisa mengingatkan saya tentang pentingnya berdoa, bagaimana jadinya jika saya hidup dengan lebih banyak Utay di sekeliling saya? Maka mungkin itulah alasan kenapa Rasul mengibaratkan pentingnya berteman dengan tukang parfum, supaya kita ikutan wangi. Berteman dengan yang pinter bikin kita ikutan pinter, dengan yang saleh bikin kita ikutan saleh. Berteman dengan yang satu geng udah nikah semua, pasti ada tuh keinginan untuk nikah juga. Tepatnya bukan sudah merasa wajib dan butuh nikah, lebih ke gengsi aja temen-temen udah nikah dan lu belum sendiri. Ada pasti ada...

Mengembalikan segala urusan kepada doa, punya konsep senada dengan cerita Jaime di buku The Little Paris Bookshop yang selalu mengembalikan segala urusan pada buku. Jaime memposisikan buku sebagai rujukan untuk mencari obat, mencari inspirasi, mengatasi kesedihan, meluapkan kebahagiaan, cara memperbaiki perahu bocor, membuat masakan, menentukan keputusan, dan hal-hal kecil lainnya, seremeh cara membuat simpul tali sepatu. Hal apapun di dunia ini ada ahlinya, kata Jaime yang barangkali tidak pernah mendengar ayat Alquran yang jauh lebih dulu bicara soal itu. 

Pertanyaannya, apakah hidup kita sudah seempiris itu?

Beberapa hari lalu, Yahya mengirim saya link tulisan Masisir yang mempertanyakan apakah berorganisasi itu punya peranan yang penting atau tidak. Saya khatam membacanya, dan mencoba memahami setiap ide yang disuarakan penulis di setiap paragrafnya. Jika Yahya ingin meminta tanggapan saya, maka saya ingin beranggapan bahwa tulisan tersebut adalah opini lepas yang tidak mengembalikan sesuatu kepada ahlinya, dan tidak seserius keinginan yang harus sampai ditahajudi. Data pendukungnya terlalu lemah untuk menggiring sebuah opini besar.

Saya tidak punya tema spesifik untuk tulisan kali ini, jadi mohon maafkan jika ke sana ke mari. Suatu siang waktu saya masih jaga loket Atdik, ada seorang Ketua Kekeluargaan yang hendak memindahkan data warganya, dari kekeluargaan satu ke kekeluargaan lain. Dan meminta memindahkan data warga dari kekeluargaan lain ke kekeluargaan yang ia pimpin, Lalu saya minta surat keterangan pindah, sebagaimana yang disyaratkan PPMI dan semua kekeluargaan pada waktu itu. Si Ketua ini tidak punya surat tersebut, dan mengatakan "tidak perlu lah" dengan nada sedikit tinggi. "Saya ini ketua kekeluargaan!" katanya sedikit sombong. Padahal waktu itu, saya juga Ketua 2 di KPMJB. Pengen sombong juga deh bawaannya, pas tahu kalau jumlah warga dia gak sebanyak jumlah warga Bekasi dan Bogor di KPMJB. Lalu dengan SOP petugas Atdik yang harus bijak dan ramah, saya menjelaskan bagaimana pentingnya administrasi. Kekeluargaan bukan cuma komunitas ngumpul-ngumpul semata, tapi juga idealnya jadi tempat untuk belajar hal-hal "serius." 

Di saat itulah, saya merasa bahwa organisasi itu penting. Organisasi adalah wadah yang membantu kita untuk memahami banyak hal, mulai dari cara mengatur ego, mensistematiskan cara berpikir, memetakan masalah, memposisikan diri dalam struktur masyarakat, dan mengatur orang banyak yang isi hati dan kepalanya berbeda-beda. Kecuali jika tulisan yang Yahya maksud adalah menerjemahkan organisasi hanya sebagai tempat pelampiasan karena males kuliah, maka yang perlu disoroti bukan organisasinya, tapi sifat malesnya. Lain cerita jika si penulis mengkritisi kegiatan organisasi yang memakan waktu kuliah, atau mengantarkan aktivisnya terjerumus pada jurang rosib, tentu akan jadi hal lain yang akan membuat gagasan tulisannya lebih punya arah.

Jika butuh ide soal mengkritisi organisasi Masisir, coba cari tahu apa perannya Wihdah untuk Masisirwati yang katanya tiap tahun bayar lima pound per orang untuk kas. Apakah lima pound itu punya timbal balik yang bermanfaat? Kalaupun ada program daurah-daurah, apakah label "kerja sama PPMI-Wihdah" beneran kerja sama atau hanya nempel aja? Atau jika Wihdah adalah organisasi induknya akhwat semasisir, apakah suaranya terdengar cukup lantang untuk urusan-urusan yang akhwat juga terlibat banyak di Masisir, seperti pembagian musaadah atau urusan keamanan dan kondusivitas? Apakah Wihdah pernah mengambil peran untuk mengangkat isu-isu perempuan dalam ranah ilmiah yang menarik? Ada banyak hal yang bisa dikritisi secara lebih detail jika ingin mengangkat topik tentang organisasi. Termasuk salah satunya ketika ada banyak Masisir tidak ingin hadir ke acara organisasi ketika menjelang ujian karena alasan sibuk belajar, tapi Desember lalu, ketika cuaca sedang dingin-dinginnya dan hanya hitungan hari menjelang ujian, banyak juga tuh yang antri musaadah di PPMI. Lagi gak belajar ya? Atau idealismenya sudah dibutakan oleh beras dan daging ayam?

Jika ingin mengaitkan semua paragraf ini dalam kesatuan tema, saya berani bilang bahwa organisasi adalah tempat yang mempertemukan saya dengan orang-orang baik, dengan "buku-buku" yang beragam. Saya bertemu dengan banyak sekali "Utay", bertemu dengan banyak "Jaime" juga teman-teman seperti Yahya dan si penulis esai yang sedang berproses menuju kritikus yang matang. 

Oh ya, ini hari Jumat. Jumat berasal dari kata ja-ma'a yang artinya mengumpulkan atau menghimpun. Jika organisasi bisa menghimpun banyak kebaikan, apakah kita berdua bisa berkumpul dalam satu ikatan? #QuestionOfLife    
  
14 Maret 2019.

   

Komentar

  1. Waahhhhh... Bahasnya ga penting banget, applausee

    BalasHapus
  2. Acieee, kuduga Kang Maul belum baca 4 paragraf terakhir tulisannya Kak Ami 🤣

    BalasHapus

Posting Komentar