Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Alasan paling logis tentang kenapa harus menulis



Tadi malam, saya menemukan sebuah blog yang ditulis mahasiswa Malaysia ketika kuliah di Maroko tahun 2002-2006 lepas. Awalnya baca satu judul, sampai akhirnya saya baca semuanya, bablas dari tengah malam sampai menjelang subuh. Di blog itu, ia menceritakan kehidupan sehari-harinya sebagai mahasiswa biasa, lalu mencalonkan diri jadi ketua organisasi, masa kampanye, terpilih, kegiatan sebagai ketua, kebijakan yang diambil, menyelenggarakan South East Asean Student (SEAS) Games yang hanya diikuti tiga negara: Malaysia, Indonesia, Thailand, masa-masa ujian, ketemu duta besar, acara makan-makan, sampai digambarkan bagaimana degdegannya menunggu pengumuman kelulusan dan acara wisuda. Di blog itu pula, ia sering menyebut nama-nama temannya yang juga ternyata punya blog. Saya pun menemukan dua blog lainnya yang kira-kira isinya serupa soal diari harian sebagai mahasiswa, yang isinya kadang saling meledek dan saling bercanda satu sama lain, termasuk mengulas kelakuan temannya di moment-moment tertentu.

Sayangnya, ketiga blog itu berhenti hampir berbarengan di tahun yang sama. Tidak terdeteksi bagaimana kehidupan mereka di tahun-tahun selanjutnya, tidak ada informasi ke link blog mana mereka berhijrah berbagi cerita.

Loncat ke tahun 2008, ternyata ada juga mahasiswa Indonesia yang menulis blog tentang kehidupannya sebagai mahasiswa di Mesir. Sayangnya tidak banyak konten yang mengisahkan kehidupan hariannya, hanya seputar ulasan materi kuliah dan kuliah. Hukum ini dan itu, pendapat ulama ini dan itu. Kecuali satu postingan yang membahas bagaimana rasanya melintasi malam sebelum wisuda. Di postingan satu itu, ia sangat hiperbolik menceritakan betapa butuh perjuangannya belajar di Azhar, sampai-sampai saya terkesan bahwa belajar di Azhar tak mungkin ada waktu buat selonjoran, apalagi rebahan. 

Kita tumbuh besar di era yang serba digital dengan akses informasi yang sangat mudah dijangkau. Dengan keterbatas teknologi tahun 2000-an saja, tiga orang blogger itu bisa mengabadikan begitu banyak hal tentang lingkungannya yang ketika saya membacanya hari ini, saya terpukau dengan detail-detail yang mereka ceritakan. Jika tidak ada catatan blog itu, mana saya tahu bahwa pada tahun 2005, mahasiswa Indonesia di Maroko hanya meraih tiga medali di acara SEAS Games. Pemerintah Maroko menaikkan harga bahan bakar dari 2 dirham menjadi 8 dirham, dan ternyata lagu Nancy Ajram sudah sangat populer di kalangan mahasiswa Asia kala itu, dibarengi dengan ketertarikan banyak mahasiswa untuk membaca karya-karyanya Al Manfaluty. Pertanyaannya, dari banyaknya masa yang terlewati saat itu, dan dari banyaknya orang-orang Indonesia yang belajar saat itu, apa yang sebenarnya mereka lakukan? Mereka ngapain aja kok sampai-sampai tidak ada laporan sejarahnya?

Saya jadi ingat Bu Finalia, guru Antropologi waktu saya SMA dulu. Bu Fina ini orangnya cantik, sering digoda murid-muridnya, dan itu pula yang jadi alasan kenapa nilai UN Antropologi saya paling jelek di Ijazah dibanding pelajaran yang lainnya. Gagal pokus! 

Bu Fina pernah beberapa kali membahas bahwa bahasa adalah kapsul sejarah. Bahkan ingat betul bahwa pernyataan itu menjadi soal ujian lebih dari satu kali. Waktu itu saya punya jawaban yang sesuai buku dan sok-sok-a prediksi aja. Tapi hari ini ketika telah menyadari bahwa bahasa mampu mengikat sejarah dengan cara yang efektif, saya berkali-kali menganggukkan kepala. Bahkan jika dirunut dari zaman entah apa, kehidupan masa Firaun bisa diketahui dan dibaca berkat tulisan hieroglif di dinding kuil, pelepah, batu, artefak, atau apapun. Ribuan hadis Rasul bisa bertahan periwayatannya berkat ulama menuliskannya dengan apik sehingga tidak hilang satu makna pun kepada kita sampai sekarang, dan berbagai hujjah lainnya.

Beberapa waktu lalu ketika saya pulang ke rumah dan membereskan buku-buku lama, saya menemukan buku diari waktu MTs. Ya, saya nulis diari sejak MTs. Saya baca dari halaman ke halaman, sambil ketawa sendiri tentunya. Ada titimangsa yang lengkap sampai ke jamnya. Saya jadi diingatkan lagi bahwa saya pernah praktik olah raga basket dan jatuh sampai gigi patah dan celana sobek, pernah juga dinasehatin teman suapaya baca yasin pagi-pagi dan berdoa supaya surat cinta segera dibalas, pernah kehabisan jatah makan, dan lain-lain. Malu, tapi lucu. Lalu saya pun segera menyembunyikan buku itu agar tidak ketahuan orang lain, sekalipun orang tua. MALU! 

Janganlah terlalu jauh ke buku diari masa sekolah, membaca tulisan sendiri di blog ini yang ditulis beberapa tahun lalu saja, saya suka ketawa sendiri dan terhibur sendiri. Karena ternyata, tulisan sendiri bisa mengingatkan banyak hal, banyak detail, bahkan banyak ilmu yang mulai pudar dalam ingatan. Lalu saya pun mengingat kembali memori-memori yang ada sekaligus seringkali menertawakan diri sendiri, kenapa ya waktu itu berpikiran gitu? Kenapa saya waktu itu aku dungu sekali? Ternyata aku pernah jadi Maba goblok juga ya?! 

Hari ini jam sembilan pagi, saya menulis paragraf ini dengan harapan semoga beberapa puluh tahun ke depan, blog ini masih ada dan masih bisa dibaca. Wahai Maul di tahun 2030, 2040, 2050, 2080, bacalah tulisan ini dengan baik! Kamu menulis ini dalam kondisi kepala penuh memori, belum sarapan pagi, besok harusnya ada kursus tapi kursusnya diundur, dompet mulai menipis, ada orderan Cutterme satu biji, dan hati yang sedang bahagia karena seseorang mengirim video nyanyi dengan tatapan yang bikin aku deg-deg-ser. Ouh, tegang yang membahagiakan ....

Di Masisir sendiri, ada banyak sekali mahasiswa hebat dan keren dan pintar dan  cantik dan tampan, tapi tidak banyak dari semua jenis manusia itu suka menulis. Sekeren apapun jabatan presiden PPMI atau ketua Wihdah atau aktivis Forum Dialog Masisir, selama pikiran dan kontribusi mereka tak direkam dalam tulisan, apa gunanya? Serajin apapun anak talaqi, anak RTM, anak Maquraa, anak Senat, atau anak-anak yang lain, selama mereka tidak menulis, apa yang mereka abadikan selain kenangan di kepalanya sendiri? Betul kata Pramoedya, "menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah", dan perkataannya sudah banyak terbukti.

Wahai Maul di tahun-tahun mendatang, sebenarnya menulis itu gampang, dan kamu pun tahu soal itu. Buktinya kamu bisa nulis status whatsapp kapan pun bahkan di WC sekalipun. Tidak berlaku alasan sibuk, yang ada hanya malas saja. Wahai Maul, duniamu bukan seperti status whatsapp yang akan lenyap dalam 24 jam, jadi menulislah yang bener! 

Oh ya, mantanku yang baik hati, aku masih menyimpan tulisan-tulisanmu dengan baik. Mungkin kamu sudah lupa, tapi berkat surat-surat dan tulisanmu yang masih ada di catatan facebook, aku jadi ingat kembali bahwa kamu pernah mengatakan sayang kepadaku. Apakah rasa sayang itu ada kadaluwarsanya, wahai mantanku? 

26 Desember, 2019.

Komentar