Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Course Note: 7 Tipe Perilaku Nonverbal



Ada tujuh tipe perilaku nonverbal, antara lain ruang dan jarak (proxemics), sentuhan (haptics), waktu (chronemics), kinestika (kinesics), Artefak (artifacts), vokal dan bahasa (vocalics or paralanguage), dan lingkungan (environment).

1. Ruang dan Jarak (Proxemics/Distance)
Perbedaan budaya memiliki perbedaan level kenyamanan dalam proporsi ruang dan jarak. Misalnya seorang anak yang tumbuh dewasa dan mulai tidak banyak bergantung terhadap orang tuanya akan punya kebutuhan yang bernama ruang jarak. Ada juga budaya masyarakat yang menganggap laki-laki punya kebutuhan ruang jarak lebih besar dibanding perempuan, atau pun sebaliknya.
Proksemik adalah studi yang menelaah persepsi manusia atas ruang (pribadi dan sosial), cara manusia menggunakan ruang, dan pengaruh ruang dalam komunikasi. (Edward T. Hall). Edward membagi detail jarak berdasarkan kondisi sosial, antara lain ruang Intim (0-18 inci), Personal (18 inci - 4 kaki), Sosial (4-10 kaki), dan Publik (10 kaki - tak terbatas).

2. Sentuhan (Haptics/Touch)
Pada dasarnya haptic adalah segala bentuk komunikasi non-verbal yang melibatkan sentuhan. Berjabat tangan ketika Anda menyapa seseorang yang dipersonalisasi. Sentuhan dipercaya memiliki kekuatan tersendiri di dunia komunikasi. 
Sebuah studi menemukan fakta bahwa orang asing yang disentuh akan lebih tertarik untuk menengok ke arah kiri di deretan pertokoan ponsel (Klienke, 1997). Di tahun 1992, Hornick melalui studinya menemukan fakta bahwa pelayan makanan yang melakukan sentuhan menerima tips yang lebih besar. 

3. Menghargai waktu (chronemic/time)
Chronemics adalah bagian dari komunikasi nonverbal mengenai budaya suatu bangsa dalam penggunaan waktu. Seseorang bisa dihargai karena ketepatan waktunya, atau justru disisihkan karena kebiasaannya karena selalu datang terlambat.

4. Kinesika (Kinesics/Behavior)
Kinesika adalah interpretasi dari komunikasi gerak tubuh seperti ekspresi wajah dan gerakan, sikap nonverbal yang berkaitan dengan gerakatn dari bagian-bagian tubuh. Kinesika mencakup ekspresi wajah, kontak mata, bahasa tubuh, gesture, dan penampilan fisik.   

5. Artefak (Artifacts)
Objek material berfungsi sebagai ekstensi dari diri penggunanya, seperti pakaian, seragam, aksesoris, gaya berbusana, adalah hal-hal yang punya kekuatan untuk mempengaruhi orang lain.

6. Vokal (Volcalics/Paralanguage)
Penggunaan suara untuk berkomunikasi mencakup elemen-elemen seperti tinggi rendah nada, intonasi, jeda, keheningan, pace/kecepatan, tawa, teriakan, desahan, suara berat, suara nyaring, dll.

7. Lingkungan (Environment)
Cara lingkungan melingkari diri kita akan mendefinisikan siapa diri kita. Contohnya bagaimana cara seseorang mendekor rumahnya adalah bahasa nonverbal yang akan menceritakan banyak hal tentang pemilik rumah tersebut. Dalam dunia pemasaran, cara supermarket menempatkan suatu produk dalam rak akan mempengaruhi tinggi rendahnya angka penjualan produk tersebut. 

Fungsi Komunikasi Nonverbal

1. Pengulangan (Repeating)
Bahasa nonverbal bisa memperkuat bahasa verbal yang disampaikan. Misalnya gerakan anggukan bisa menjadi respon mengiyakan ketika lisan mengatakan iya secara verbal.

2. Pengganti Verbal (Substituting)
Bahasa nonverbal bisa menggantikan bahasa verbal, seperti mengganti kaya ïya"dengan anggukan.

3. Pelengkap (Complementing)
Penggunakaan sikap nonverbal bisa melengkapi dan memperkuat apa yang sudah disampaikan dalam kata-kata. Contohnya ketika seorang teman mengatakan "saya mohon maaf" dan di waktu yang sama ia mengekspresikan itu dengan wajah penyesalan.

4. Penggunaan aksen (Accenting)
Cara seseorang menggunakan penekanan dalam kata-kata tertentu dapat mengklarifikasi maksud tertentu. Misalnya kata "tidak" dapat diucapkan daam berbagai bentuk. Bisa dengan intonasi marah, sedih, gembira, senang, menggoda, dan sebagainya. 

5. Mengatur ritme (Regulating)
Sikap nonverbal dapat mengontrol arus perbincangan, dan dapat memberitahu kapan waktunya bicara dan kapan waktunya orang lain berhenti bicara. Misalnya ketika kita bercerita ke teman, salah satu dari kita  harus menahan perbincangan untuk memberi ruang ke lawan bicara untuk bicara.

6. Kontradiksi (Contradicting)
Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang berbeda dengan bahasa nonverbalnya, hal itu menunjukkan sebuah kontradiksi. Misalnya seseorang yang yang meminta maaf dengan wajah tersenyum.

7. Penipuan (Deceiving)
Seseorang bisa saja menggunakan bahasa nonverbal untuk mengelabui orang lain. Sebaliknya, kita bisa membaca apakah seseorang sedang menipu kita atau tidak berdasarkan bahasa nonverbalnya. Misalnya dari gerak kontak mata, ekspresi wajah, dan nada suara yang digunakan ketika berbicara. 

Komentar