Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Course Note: Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)


Di abad 21, hampir semua organisasi menyadari adanya obligasi untuk mendukung komunitas yang ada di sekitar mereka. Banyak perusahaan yang di era 60-80an yang merasa bangga dengan tanggung jawab sosial yang mereka lakukan ke komunitas tertentu.Perusahaan-perusahaan ini menyediakan bantuan di bidang kemiskinan, pendidikan, dan kebudayaan.
Mulai tahun 1990an, Tanggung Jawab Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) menjadi salah satu penopang yang dapat memaksimalkan profit. Program CSR yang dimiliki perusahaan bisa sangat beragam dari bentuk dan bidangnya, sebab setiap perusahaan punya pertimbangan tersendiri tentang objek/target penerima bantuan berdasarkan latar belakang pekerjaan, pendidikan, usia, gender, ras, kemampuan fisik, agama dan kepercayaan, atau karakteristik lainnya. Kebanyakan perusahaan hari ini mendonasikan beberapa persen dari keuntungan yang didapatkannya untuk organisasi nonprofit (NGO/NPO) seperti sekolah, rumah sakit, dan lembaga sosial.

Kunci Tanggung Jawab Perusahaan

  • Membantu mengelola air dan udara yang bersih
  • Menyediakan lapangan kerja untuk minoritas
  • Menegakan kebijakan untuk karyawan
  • Meningkatkan kualitas hidup karyawan secara umum
Ada banyak organisasi yang seara aktif mengajak para eksekutif dan karyawannya untuk turun tangan melakukan kerja sukarela di komunitas masyarakat tertentu. Hal ini dilakukan sebagai bentuk nyata menghadirkan perusahaan sebagai bagian dari masyarakat, juga sebagai bagian dari agen perubahan dalam sorotan yang lebih luas. 
Untuk bisa hidup berdampingan dengan komunitasnya, perusahaan harus:
  1. Mempertimbangkan apa yang komunitasnya ketahui dan pikirkan tentang perusahaan.
  2. Menginformasikan komunitas mengenai sudut pandang yang dimiliki perusahaan.
  3. Melakukan negosiasi atau mediasi antara perusahaan dengan komunitas.
Apa yang diharapkan masyarakat? 
Ada dua hal yang bisa dibentuk oleh kehadiran CSR. Pertama, hal yang terukur oleh materi (tangible) seperti upah, pajak, dan pekerjaan. Kedua, yang tidak terukur materi (intangible) seperti kontribusi positif terhadap tampilan masyarakat, partisipasi dalam fungsi sipil, pendidikan dan kegiatan sosial, stabilitas yang dibangun perusahaan di suatu area, dan rasa bangga yang dipupuk sebagai penduduk area tertentu.

Apa yang diharapkan perusahaan?
Pajak yang adil, kondisi hidup yang layak bagi para karyawan, tersedianya pasokan karyawan yang memadai, dan dukungan untuk bisnis dan produknya.

Tujuan Relasi Komunitas
  • Menyampaikan kepada komunitas tentang operasional yang dilakukan firma.
  • Mengoreksi kesalahpahaman, menjawab kritik, menghapus ketidakpuasan yang mungkin saja ada di kalangan masyarakat.
  • Mencapai opini menguntungkan dari masyarakat, khususnya ketika ada konflik buruh.
  • Menginformasikan karyawan dan keluarganya tentang kegiatan dan pengembangan perusahaan.
  • Mengabari masyarakat dan pemerintah setempat tentang kontribusi yang dilakukan firma kepada masyarakat dengan tujuan mendapat dukungan legislasi.
  • Mencari tahu apa yang masyarakat pikirkan tentang organisasi/perusahaan.
  • Membangun hubungan personal antara manajemen dengan para tokoh masyarakat.
  • Mendukung program kesehatan dan berkontribusi dalam bidang kebudayaan.
  • Menjalankan sebuah bisnis yang menguntungkan dengan alur tersedianya pekerjaan dan pembayaran.
  • Bekerja sama dengan bisnis setempat untuk meningkatkan kelas ekonomi dan kelas sosial. 
Hubungan Masyarakat Nonprofit
Organisasi nonprofit di mata masyarakat adalah juara dalam urusan tanggung jawab sosial di masyarakat. Mereka menyediakan layanan sosial, pendidikan, agama, dan kegiatan kebudayaan. Sektor nonprofit ini terdiri dari rumah sakit, sekolah, asosiasi perdagangan, serikat buruh, dan ikatan pengusaha. Nonprofit seringkali menumbuhkan kesadaran publik melalui advokasi media, termasuk protes, pawai demonstrasi, atau kampanye terselubung di internet.  
Menjalin relasi dengan organisasi nonprofit punya beberapa fungsi, antara lain:
  1. Memosisikan perusahaan untuk mencapai suatu identitas yang jelas dan berbeda.
  2. Mengembangkan suatu rencana promosi/pemasaran dengan cara menumbuhkan profil nonprofit, rasa hormat dan dukungan.
  3. Relasi advokasi dengan media untuk memenangkan misi dan sebab tertentu yang dikehendaki.
  4. Mendukung pendanaan dan prosesnya, seperti:
    • Megidentifikasi rencana kampanye dan tujuan-tujuan finansial
    • Mengatur dan mengelola temuan fakta
    • Merekrut pemimpin
    • Merencanakan dan mengimplementasikan aktivitas komunikasi yang kuat
    • Melakukan tinjauan dan evaluasi secara berkala

Komentar