Ada cerita apa dua minggu di Pare?

Suatu pagi, anak-anak di penginapan tidak bisa mandi karena air tidak mengalir. Kebetulan saya adalah satu-satunya yang sudah mandi pagi itu. Kira-kira ada tiga puluh orang penghuni penginapan itu yang hari itu berangkat ke kelas tanpa mandi pagi. Usut punya usut, ternyata air mati bukan karena ada pemutusan aliran oleh pemerintah, tapi karena colokan jetpump-nya saya cabut dan saya ganti untuk nyolok dispenser. Saya gak tahu kalau colokan itu adalah colokan jetpump air satu penginapan. Bagian terparahnya adalah ada salah satu anak yang lagi buang air dan tiba-tiba airnya mati sebelum WC-nya di-flush. Anak-anak heboh sampai Pak Tara, rekan saya, harus ngakutin air pake ember dari kolam renang. Itulah salah satu dosa saya ketika jadi pembimbing anak-anak selama di Pare beberapa waktu lalu.    Pada 20 Mei lalu, saya membersamai anak-anak SMP tempat saya mengajar dalam sebuah program intensif bahasa Inggris di Pare, Kediri, selama dua pekan. Dua minggu tersebut punya banyak cerita dan &qu

Panduan membuat strategi komunikasi pemasaran


Beberapa hari sebelum pemberlakuan #dirumahaja karena pandemi korona, saya baru menyelesaikan program Humas di AUC. Kalau boleh sombong, saya bisa mejeng gelar Certified Professional Public Relations di bio sosmed. Itu pun kalau boleh, kalaupun enggak ya saya akan tetap sombong. Udah bakat sombong dari lahir, mau gimana lagi. Tadinya saya mengira program ini akan fokus bahas ilmu komunikasi, atau hal-hal yang ada kaitannya sama relationship. Siapa tahu kan ya penyebab jomblo ini adalah karena tidak tahu ilmu soal relationship, makanya saya ambil program ini. Eh ternyata, isinya lebih luas dari itu. Biar saya beri gambaran sekilas.

Hubungan Masyarakat/PR itu punya dua fungsi di sebuah organisasi atau perusahaan: fungsi internal dan eksternal. Di internal, ia akan banyak bersentuhan dengan pekerjaan Sumber Daya Manusia (Human Resources Development) seperti menyusun strategi gimana caranya meningkatkan kualitas karyawan biar mereka makin pinter dan makin becus kerja. Di eksternal, praktisi Humas akan banyak bersentuhan dengan Komunikasi Pemasaran (Marketing Communication/Marcom) seperti menyusun strategi gimana caranya membangun citra yang baik di masyarakat tentang produk/jasa yang kita miliki. Di sisi internal, Humas dan SDM adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Sementara di sisi eksternal, sisi mata uangnya berubah jadi Humas dan Marcom.

Karena banyak bersentuhan dengan komunikasi pemasaran, saya jadi banyak belajar soal strategi pemasaran. Prinsip dalam pemasaran itu sederhana: tidak ada yang namanya produk gak laku, yang ada adalah stategi pemasaran yang gagal. Karena itu, saya ingin berbagi catatan yang sudah saya dapatkan soal ini, dan bagaimana cara menerapkannya ke dalam bisnis yang sedang dijalani, khususnya oleh Masisir.

Langkah Pertama: Executive Summary

Di langkah pertama ini, kamu harus sudah menentukan jenis usaha apa yang akan atau sedang kamu jalani. Mungkin warung makan, jasa travel, aksesoris, cemilan, jasa terjemah, jasa bimbel, dll. Perlu dicatat dengan baik bahwa usaha kamu di bidang yang kamu jalani di zaman sekarang ini, hampir seratus persen bukanlah sesuatu yang baru di pasaran. Semua hal sudah ada, yang disebut baru hanyalah inovasinya. Dari jaman kapan tau orang sudah jualan ayam goreng, kamu bukan orang pertama yang bikin kue nastar, jasa travel sudah ada sejak lama, dan lain sebagainya. Karenanya di langkah pertama ini kamu harus memastikan punya satu dari tiga hal berikut dalam produk/jasa yang kamu miliki. Syukur-syukur kalau ada tiga-tiganya.
  1. Unik. Produk kamu harus beda dari yang lain. Kalau ada 10 rumah makan jualan ayam bakar, maka apa yang bikin beda dari ayam bakar di rumah makanmu? Ada 10 kompetitor penjual keripik, maka apa bedanya keripik kamu dibanding 10 keripik merk lain? Kata Pandji Pragiwaksono, sedikit lebih beda lebih baik dari pada sedikit lebih baik. Pokoknya harus beda biar mudah diinget orang.
  2. Penting. Ada produk/jasa yang sebenarnya tidak unik dan biasa saja, tapi ia punya nilai urgensitas yang dibutuhkan. Misalnya orang jualan beras dan minyak goreng. Gak perlu jadi beda pun, karena semua orang butuh beras dan minyak, pedagang itu akan tetap laku. Lalu gimana kalau produk kamu bukan produk dalam skala primer setiap orang? Ciptakan pasar seolah-olah hidup mereka gak lengkap tanpa produkmu. Belajar akan terasa hapa tanpa keripik Teh Biah, atau nonton bola akan lebih seru kalau nontonnya di Warung Mahmud.
  3. Menyentuh emosi. Jika produk kamu tidak punya keunikan dan tidak punya nilai penting yang dibutuhkan orang, kamu perlu mencari faktor lain yang bisa menarik hati pelanggan. Faktor itu adalah faktor emosi. Tukang tiket di mana-mana pasang harga yang sama, tapi karena Umar Ticketing punya pelayanan yang cepat dan ramah, orang bisa datang berkali-kali ke tukang tiket itu. Ada warung makan yang makanannya enak dan unik, tapi bisa saja kehilangan pelanggan karena orang yang sedang sangat lapar akan mencari warung makan yang pelayannya cepet. 
Saya akan beri contoh misalnya produk yang saya jual adalah Super Uduk Ricebowl, Nasi Uduk Kekinian.
  • Keunikan: tidak seperti nasi uduk pada umumnya, produk saya punya aneka topping dalam kemasan siap santap di mana saja. 
  • Nilai Urgensitas: setiap orang butuh sarapan, sarapan yang sehat bisa meningkatkan produktivitas dalam belajar/bekerja.
  • Nilai Emosional: pelayanan cepat tanggap, jasa delivery sampai depan pintu, kemasan menarik dengan kualitas desain wadah yang tidak receh-receh.

Langkah Kedua: Situational Analysis

Setelah punya gambaran umum tentang produk yang akan dipasarkan, kita perlu melakukan analisis produk dengan rumus SWOT, Strength (Kekuatan/Keunggulan), Weakness (Kelemahan/Kekurangan), Opportunity (Peluang/Kesempatan), dan Threat (Tantangan/Hambatan). Analisis Strength dan Weakness merupakan analisis internal produk, sementara Opportunity dan Threat merupakan analisis eksternal produk.

Super Uduk Ricebowl
Strength: 
  • Menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi (beras terbaik, santan terbaik, dsb.)
  • Tersedia aneka topping (omelet mozarella, daging ayam suir, ayam krispi barbekyu, onion ring, dll.)
  • Tersedia menu khusus vegetarian, diet karbo, dan uduk tanpa santan bagi yang alergi santan.
  • Pelayan online yang cepat tanggap dan responsif.
  • Layanan pesan antar sampai depan pintu.
  • Wadah kemasan berbahan dasar kertas sehingga lebih ramah lingkungan. 
Weakness:
  • Kemampuan terbatas hanya bisa membuat 50 box dalam sehari.
  • Jasa pesan antar hanya tersedia di area Hay Asyir.
  • Tidak punya tempat untuk makan di tempat, hanya delivery.
  • Belum punya sertifikasi Halal MUI dan BPOM Kemenkes.
  • Produk dan pelayanan hanya tersedia di jam 6-10 pagi.
  • Harga di atas rata-rata. 
Opportunity
  • Tidak banyak warung makan Masisir yang buka pagi-pagi.
  • Meningkatnya jumlah WNI yang tinggal di Cairo.
  • Gaya hidup sehat sedang trend dijadikan status/stories sosmed Masisir, sehingga produk Nasi Uduk yang kemasannya fotogenik akan menjadi kebutuhan.
Threat:
  • Adanya kompetitor yang menjual produk yang sama dengan harga yang lebih murah
  • Harga bahan-bahan yang meningkat seiring pertumbuhan inflasi dan nilai tukar.  
Setelah kita tahu pemetaan ini, kita tinggal menyoroti apa kelebihannya, sehingga kelebihan itulah yang perlu ditonjolkan dalam pengiklanan. Di poin kekurangan, cari solusi bagaimana mengatasi kekurangan itu. Poin-poin di opportunity akan bermanfaat untuk menentukan target pasar, dan Threat berfungsi untuk menentukan langkah-langkah antisipasi bilamana terjadi krisis atau permasalahan dengan eksternal.

Langkah Ketiga: Marketing Plan

Saatnya kita buat rencana pemasaran. Rencana pemasaran ini terdiri dari Goal (Tujuan Besar), Objectives (Visi, Tujuan Spesifik), Strategies (langkah-langkah untuk mencapai Objectives), dan  Return On Investment (ROI) (Nilai yang ingin dicapai dari target tujuan).

Yang perlu dicatat adalah strategi pemasaran ini harus SMART, alias Specific, Measurable (Terukur), Attainable/Achievable (memungkinkan untuk dicapai), Relevant (masuk akal, realistis, berasaskan hasil), dan Time Bound (ada batasan waktu). Buatlah minimal 3 Objectives, masing-masing punya 3 Strategies.

Anggap saja Super Uduk Ricebowl adalah pendatang baru di Masisir. Maka Goal yang ingin saya tetapkan adalah: Menjadi pelopor Nasi Uduk yang paling diminati di Masisir.

Objective I: Terjual 500 box di minggu pertama pemasaran. (Lihat target ini terukur angkanya, masuk akal, dan sangat mungkin dicapai)
  • Strategy 1: memposting iklan di Forum Jual Beli (FJB) Sosial Media sehari sekali.
  • Strategy 2: membuka stand di acara Masisir terdekat yang melibatkan masa banyak.
  • Strategi 3: memberi diskon 15% kepada 10 pembeli pertama setiap hari di minggu pertama pemasaran.
ROI: Meningkatkan penjualan.

Objective II: Mengambil alih pasar dari kompetitor dalam waktu 3 bulan.
  • Strategy 1: Meluncurkan produk Nasi Uduk yang kemasannya easy-going dan bisa dibawa ke mana saja, termasuk ke kampus.
  • Strategy 2: Endorse Masisir berpengaruh (aktivis organisasi, ketua kekeluargaan, ketua afiliasi, sesepuh/senior, pejabat KBRI, dll.) untuk memberikan testimoni di sosial media.
  • Strategy 3: Membuat fitur keanggotaan yang mengikat seperti Paket Catering selama satu bulan dengan harga khusus.
ROI: Mengukuhkan identitas agar mudah diingat pelanggan dan calon pelanggan.

Objective III: Mengenalkan Citra Branding yang positif di tahun pertama produksi.
  • Strategy 1: Membuat kebijakan 2,5% dari profit keuntungan disumbangkan untuk kegiatan amal.
  • Strategy 2: Memberikan pelatihan kelas profesional untuk meningkatkan kualitas dan kinerja karyawan (chef, pelayan pelanggan via telepon/sosmed, petugas delivery, dll.).
  • Strategy 3: Menjalin kemitraan dengan pelaku usaha travel, hotel/homestay, dan organisasi mahasiswa yang aktif melakukan kegiatan perkumpulan. 
ROI: Membangun kepercayaan publik.

Langkah Keempat: Release! 

Setelah semuanya dituliskan dengan detail, inilah saatnya melakukan aksi. Bikin produknya, bikin iklannya, iklankan! 

Kira-kira itu yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat. Jika ada yang mau ngobrol-ngobrol soal ini, jangan sungkan untuk menghubungi. Sesekali japri saya lah ya biar hape gak sepi-sepi amat. Masa dapet notif cuma dari grup doang. Sekalinya ada japrian, cuma dari Mandub Intif ngebroadcast info terkini. Yaelah~

10 April 2020. 


Komentar