Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Review Novel 5 Titik 1 Koma by Kamal Ihsan

Muhammad Kamal Ihsan mengukuhkan identitas kepenulisannya dengan novel pembangun jiwa berjudul "Lima Titik Satu Koma". Novel ini punya potensi cerita yang menarik, namun sayangnya kurang greget dalam ekseskusi. Setelah khatam membaca novel ini, saya teringat dua hal: pertama bahwa karya sastra yang dijadikan media untuk dakwah punya resiko untuk menjadi perpaduan yang bagus, atau justru ada unsur yang terlupakan dari salah satu aspeknya, unsur sastranya atau unsur dakwahnya. Kedua, saya menyadari bahwa novel ini bukanlah novel satu dari sejenis, mengingat ada banyak novel pendahulunya yang berkiprah di genre serupa, di mana gambaran muslim/muslimah dihadirkan dalam sosok-sosok yang too good to be true. Faktanya, pasar untuk genre ini memang ada.

Tonton ulasan lengkapnya di: 

Komentar