Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Sulitnya Mengaku Salah


Saya suka greget sama orang yang susah banget ngakuin kesalahannya. Tinggal ngaku aja, udah, kelar itu urusan. Tapi gara-gara gengsi, ada banyak cara untuk menghindari urusan pengakuan itu. Bahkan jika disindir pun, ia pura-pura gak denger, matiin hape biar gak bisa dihubungi, kabur dari rumah selama beberapa hari, atau ngeles dan beralasan ini itu agar kesalahannya bisa dimaklumi dan dijadikan pengecualian. Apakah semua tindakan tidak mengakui kesalahan itu bisa bikin orang lain lupa akan kesalahannya? Tentu saja enggak. Malah kita jadi punya bahan gosip untuk diungkapkan suatu hari.

Lalu misalnya tiba-tiba lebaran datang, dan dikisahkanlah orang salah yang tak ngaku salah ini meminta maaf. Tidak spesifik minta maaf untuk yang mana, tapi minta maaf aja sebagai basa-basi lebaran. Mungkin dengan minta maaf secara umum, pikirnya, orang di momen lebaran akan lebih mudah memaafkan segala jenis kesalahan apapun. Apakah pikiran itu benar? Bisa ya untuk yang memaafkan, tapi tidak bagi yang punya salah. Kenapa salah? Jadi begini. 

Dengan tidak mengakui kesalahan, ada banyak akibat yang muncul yang barangkali tidak dipikirkan matang oleh si orang ngeselin itu. Pertama, orang-orang di lingkarannya akan berasumsi seberapa besar hati yang ia miliki. Kita semua pasti pernah salah kok, namanya manusia, ya kan. Mengaku salah tidak selalu berarti kalah kok, dan tidak hina juga. Orang-orang akan menghargai itu dan mengingat sebuah

Kedua, masalah yang terjadi tidak akan hilang atau dilupakan begitu saja, tapi justru berpotensi akan muncul lagi suatu hari. Lama-lama, gak ngaku salah bisa jadi kebiasaan yang dianggap biasa. Pelaku bisa jadi berpikir, selow aja lah, nanti juga orang-orang pada lupa. Coba deh perhatikan, ada berapa banyak kesalahan yang terjadi di lingkungan kita tapi tiba-tiba hilang gak jelas gimana akhirnya. Bukan hanya dalam masalah personal, tapi juga hal semacam ini terjadi di organisasi, di lembaga, bahkan juga negara. Dari urusan polisi salah tangkap yang gak mau ngaku salah nangkap, hakim salah mengadili tapi gak mengakui kekeliruannya, ketua organisasi salah kebijakan tapi ngeles beralasan biar dimaklumi, ketua acara gak bikin LPJ, sampai urusan orang piket masak telat bangun sampai orang satu rumah gak makan sahur. Seiring berjalannya waktu, kita mungkin akan lupa hal-hal nyebelin itu, seiring datangnya hal-hal nyebelin lainnya dalam hidup kita. Tapi bagi sebagian orang yang benar-benar ngerasain gimana perihnya luka yang orang lain sebabkan, persoalan menjadi lain. Apalagi kalau kesalahan itu diingat oleh memori perempuan, beuh udah kelar hidup lu diungkit sana sini. Perempuan tuh punya bakat mengingat semua kesalahan kita sekecil apapun, sekalipun kebaikan kita jauh lebih besar dari dosa ghibah mereka. 

Dalam hidup kita sejauh ini, pastilah kita pernah menemukan orang-orang yang berbuat baik dan kebaikannya masih kita ingat sampai hari ini, sekalipun pelaku kebaikan itu adalah orang asing yang tidak kita kenal sama sekali. Pasti pula kita pernah ketemu orang-orang yang berbuat tidak menyenangkan dan kelakuannya itu masih kita ingat sampai sekarang. Mungkin kita memang berusaha memaafkannya, tapi tindakan memaafkan itu jauh lebih sering sebagai upaya agar hati kita tidak merasa terbebani dengan kekecewaan dan rasa sakit berkelanjutan. Jika dengan mengalami dan memaafkan kesalaha orang itu akan menempa kita menjadi pribadi yang lebih kokoh, lalu pelajaran apa yang didapat oleh si pelaku? 

Lebaran kali ini, saya menunggu orang-orang yang pernah melakukan kesalahan atas kesadarannya untuk meminta maaf. Entah kenapa, saya ingin menunggu, meskipun nampak seperti pendendam yang tidak bijak. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah percakapan menarik dalam dialog film Bring Me Home. Kata salah satu aktornya bilang, "dendamku bukan ingin membalaskan apa yang pernah dilakukan padaku, menelantarkannya atau mengecewakannya, tapi ingin mengatakan padanya bahwa aku bisa tumbuh dewasa dengan diri sendiri, tanpa perlu persetujuan dan kebaikan darinya."

Kalimat itu terngiang-ngiang untuk alasan yang tak saya mengerti, tapi saya ingin mengatakannya entah pada siapa. 

1 Syawal 1441 / 25 Mei 2020.  


Komentar

  1. Realistik aja sih, memaafkan memang baik, tapi ya namanya manusia kalau dihadapkan sama orang-orang yang ngeselinnya sampai ubun-ubun mah pasti susah lupanya walaupun memang memaafkan.
    yang namanya hidup pastilah ada aja ketemu homan beraneka wujud kadang ada yang kek dajal saking jahatnya. Ada juga saking baiknya kek malaikat.
    Ya gitu deh.

    Eh btw congrats ya mang atas kemenangan lomba opininya, berhubung masih suasana lebaran mohon maaf lahir batin juga ya mang

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Hikmah sudah membaca tulisan ini, ternyata blog ini ada pengunjungnya juga hehe.....

      selamat lebaran juga, mohon maaf lahir batin.

      Hapus
  2. Selalu ditungguin update-an blognya mang

    BalasHapus

Posting Komentar