Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Review Film Into the Night


Into the Night menjadi film seri pertama dari Belgia yang ikut terjun ke kolam Netflix dengan membawa satu genre paling diminati oleh pengguna platform tersebut: serial bencana. Serial tersebut dibuat oleh Jason George dan disutradarai Inti Calfat dan Dirk Verheye. Tayangan enam episode ini dimulai dengan suasana bandara Brussel International Airport malam hari yang cukup ramai oleh penumpang. Tiba-tiba seorang lelaki berseragam NATO bersenjata masuk ke dalam pesawat tujuan Moscow dan meminta pilot untuk segera menerbangkankan pesawatnya. Tak ada satu pun penumpang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebab premis sementara yang dihadirkan hanyalah berita bahwa sinar matahari dapat membunuh manusia. Pilihan mereka satu-satunya hayalah menjadi burung hantu malam, terus menjauh dari posisi matahari terbit. 

Talezio, seorang militer NATO tersebut, beranggapan bahwa membajak penerbangan adalah satu-satunya cara paling masuk akal untuk menyelamatkan hidupnya dari malapetaka matahari tersebut. Di bawah todongan senjatanya, sang pilot Mathieu yang sudah siap duduk di balik kemudi cockpit, degan terpaksa memutuskan untuk terbang bersama beberapa penumpang, dan meninggalkan penumpang lainnya beserta para kru kabin yang masih ada di darat.
 
Dari keseluruhan episode yang masing-masing berdurasi 30-40 menitan itu, kita disuguhi tak hanya plot cerita dan ketegangan dari bencana yang ada, tapi juga kehidupan pribadi para penumpang pesawat tersebut. Gambaran-gambaran ini menjadi alasan menarik ketika setiap karakter yang ada beradu argumen satu sama lain dalam memecahkan setiap masalah yang ada. Mulai dari ketidakhadiran co-pilot yang tertinggal di bandara, keterbatasan makanan dan bahan bakar, sampai ketidakpastian destinasi. 

Bukan hal yang mudah untuk mempertahankan ritme dan ketegangan, sekaligus punya tanggung jawab untuk memberi perhatian pada karakter setiap pemainnya. Serial ini tidak banyak menghadirkan kisah masa lalu setiap pemain, tidak pula banyak menyoroti soal bencana kosmik misterius yang se dang terjadi, tapi justru koneksi dan komunikasi antar penumpang lah yang sesungguhnya menjadi bagian menarik dari keseluruhan kisah. Kita memang dizinkan untuk menebak bagaimana akhir dari rangkaian bencana ini, seolah-olah memang akan ada harapan di ujung malam nanti, tapi prediksi penonton tersebut menjadi tidak begitu penting ketika tayangan proses menuju akhir itu jauh lebih menarik. Lebih-lebih Jason juga menaruh bumbu twist ending untuk setiap episode di serial ini, sehingga kita dibuat penasaran untuk segera menonton alur apa lagi yang akan terjadi setelahnya. 

Serial ini diadopsi dari sebuah novel karya Jacek Dukaj, seorang novelis berkebangsaan Polandia. Bisa dibilang, keenam episode tersebut berhasil mempertegas karakter beberapa pemainnya, namun beberapa pemain lainnya belum diceritakan. Penonton baru tahu dengan betul karakter Sylvie seorang gadis muda yang ingin bunuh diri, Mathieu sang pilot, Terenzio si tentara NATO, Ayaz si ketua gengster, Laura si perawat, Richard seorang pria yang tertipu kencang online, Jakub sang ayah baru, dan Zara seorang ibu yang baru menjual ginjalnya demi operasi anaknya, Dominik. Selebihnya masih ada beberapa aktor yang belum dikenal betul bagaimana karakternya, dan mungkin itulah yang akan menjadi alasan kenapa kita harus menantikan musim kedua dari serial ini. 


Komentar